GIRI MENANG – Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB) menggelar rangkaian kegiatan bantuan sosial (bansos) yang ekstensif bagi masyarakat pesisir di wilayah Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, pada Kamis, 25 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan bagian integral dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-80 Polri yang mengusung tema sentral “Polri Untuk Masyarakat”, menegaskan komitmen institusi dalam mengabdi dan peduli terhadap kesejahteraan warga. Inisiatif strategis ini tidak hanya bertujuan untuk meringankan beban ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat sinergi dan kepercayaan publik terhadap korps Bhayangkara, khususnya di daerah-daerah maritim yang seringkali memiliki tantangan unik. Kronologi Pelaksanaan dan Sebaran Bantuan Pelaksanaan penyaluran bantuan sosial ini dirancang secara sistematis untuk menjangkau dua titik krusial di wilayah Sekotong Barat. Dimulai pada pukul 09.00 WITA, tim Ditpolairud Polda NTB tiba di Dusun Telagak Lupi, Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Di lokasi pertama ini, sejumlah paket bantuan diserahkan langsung kepada warga penerima yang telah teridentifikasi membutuhkan. Proses penyerahan berlangsung dengan tertib dan lancar, mencerminkan koordinasi yang baik antara personel Polri dan perangkat desa setempat. Setelah merampungkan distribusi di Dusun Telagak Lupi, rombongan Ditpolairud melanjutkan perjalanan ke lokasi kedua, yaitu Dusun Pengawisan, yang juga berada di Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Penyaluran bantuan di Dusun Pengawisan dimulai sekitar pukul 11.00 WITA. Efisiensi dalam pergerakan dan distribusi menunjukkan kesiapan tim dalam melaksanakan misi kemanusiaan ini. Total, sebanyak 100 paket sembako yang berisi kebutuhan pokok esensial seperti beras, minyak goreng, gula, dan mie instan disalurkan. Selain itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap warga dengan kebutuhan khusus, satu unit kursi roda juga diserahkan kepada salah satu penerima yang sangat membutuhkan, memberikan dampak langsung pada peningkatan kualitas hidup dan mobilitas individu tersebut. Bantuan tersebut diterima secara langsung oleh warga setempat, yang mayoritas merupakan nelayan dan pekerja sektor informal di pesisir. Penyerahan bantuan ini bukan sekadar transaksi fisik, melainkan simbol kepedulian dan pengabdian Polri kepada masyarakat, khususnya komunitas pesisir yang seringkali rentan terhadap fluktuasi ekonomi dan dampak perubahan iklim. Misi Ditpolairud dan Tema HUT Polri Direktur Polisi Perairan dan Udara (Dirpolairud) Polda NTB, Kombes Pol Boyke F.S. Samola, S.I.K., M.H., dalam keterangannya, menegaskan bahwa kegiatan bantuan sosial ini merupakan refleksi nyata dari tema HUT Ke-80 Polri, yakni “Polri Untuk Masyarakat”. Tema ini menggarisbawahi esensi tugas Polri yang tidak hanya terbatas pada penegakan hukum dan pemeliharaan keamanan, tetapi juga meliputi aspek sosial-kemanusiaan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. “Melalui kegiatan bantuan sosial ini, kami ingin menunjukkan bahwa Polri senantiasa hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga memberikan perhatian dan kepedulian kepada warga yang membutuhkan,” ujar Kombes Pol Boyke F.S. Samola. Beliau menambahkan bahwa inisiatif ini diharapkan dapat memberikan manfaat konkret bagi penerima dan pada saat yang sama mempererat jalinan silaturahmi serta hubungan baik antara institusi Polri dengan seluruh elemen masyarakat. Lebih lanjut, Kombes Pol Boyke F.S. Samola menggarisbawahi bahwa momentum peringatan HUT Ke-80 Polri di tahun 2026 ini menjadi dorongan kuat bagi seluruh personel untuk terus mengedepankan pelayanan, pengayoman, dan perlindungan kepada masyarakat. Pelayanan yang humanis dan profesional menjadi landasan utama dalam setiap tindakan, memastikan bahwa kehadiran Polri dirasakan sebagai penolong, pelindung, dan sahabat masyarakat. Peran Ditpolairud sendiri sangat strategis dalam konteks NTB sebagai provinsi kepulauan, dengan fokus pada pengamanan wilayah perairan, pencegahan kejahatan maritim, penanggulangan bencana di laut, serta pembinaan masyarakat pesisir. Konteks Latar Belakang: Polri dan Pengabdian Sosial Sejarah Polri mencatat bahwa sejak kelahirannya pada 1 Juli 1946 (yang akan mencapai usia 80 tahun pada 2026), institusi ini tidak hanya berperan sebagai alat negara dalam menjaga ketertiban, tetapi juga sebagai bagian integral dari masyarakat yang turut serta dalam pembangunan dan kesejahteraan sosial. Berbagai program bakti sosial, pengabdian masyarakat, dan kegiatan kemanusiaan telah menjadi agenda rutin Polri, terutama dalam menyambut hari jadinya. Program bansos ini bukan fenomena baru. Sepanjang sejarahnya, Polri telah secara konsisten meluncurkan berbagai inisiatif sosial, mulai dari donor darah, pembangunan fasilitas umum, rehabilitasi rumah tidak layak huni, hingga distribusi bantuan bagi korban bencana alam. Kehadiran Ditpolairud dalam kegiatan sosial ini juga selaras dengan mandat mereka yang mencakup pembinaan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil. Masyarakat pesisir di Indonesia, termasuk di Sekotong, Lombok Barat, seringkali menghadapi tantangan multidimensional seperti kemiskinan struktural, keterbatasan akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta dampak perubahan iklim yang mengancam mata pencaharian utama mereka sebagai nelayan. Menurut data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Badan Pusat Statistik (BPS), meskipun sektor kelautan dan perikanan memiliki potensi besar, banyak komunitas nelayan tradisional masih berada di bawah garis kemiskinan. Keterbatasan modal, teknologi, dan akses pasar menjadi kendala utama. Dalam konteks ini, bantuan sembako tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar sesaat, tetapi juga dapat memberikan sedikit ruang bernapas bagi keluarga untuk mengalokasikan sumber daya mereka ke kebutuhan lain yang lebih mendesak. Sementara itu, bantuan kursi roda secara spesifik menargetkan individu dengan disabilitas, memastikan mereka mendapatkan dukungan untuk mobilitas dan partisipasi sosial yang lebih baik. Dampak dan Implikasi yang Lebih Luas Respon dari masyarakat penerima bantuan sangat positif. Mereka menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang tulus kepada Ditpolairud Polda NTB atas kepedulian yang telah ditunjukkan. Banyak yang berharap kegiatan sosial semacam ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, terutama di daerah-daerah terpencil dan pesisir yang minim perhatian. Apresiasi ini mengindikasikan bahwa program bansos ini berhasil membangun jembatan emosional antara Polri dan masyarakat, menumbuhkan rasa percaya dan dukungan timbal balik. Dari perspektif yang lebih luas, kegiatan seperti ini memiliki beberapa implikasi penting: Peningkatan Kepercayaan Publik: Dengan terlibat langsung dalam kegiatan sosial yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, Polri dapat meningkatkan citra positif dan kepercayaan publik. Ini krusial untuk membangun kemitraan yang kuat dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Masyarakat yang merasa diperhatikan cenderung lebih kooperatif dengan aparat penegak hukum. Mendukung Ketahanan Sosial: Bantuan sembako secara langsung berkontribusi pada ketahanan pangan keluarga, mengurangi kerentanan terhadap krisis ekonomi. Sementara bantuan alat bantu disabilitas meningkatkan kualitas hidup individu. Ini adalah bagian dari upaya kolektif untuk membangun ketahanan sosial di tingkat komunitas. Sinergi Antar-Lembaga: Meskipun kegiatan ini diprakarsai oleh Polri, dampaknya dapat memicu atau melengkapi program-program pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat lainnya. Potensi kolaborasi di masa depan antara Ditpolairud, pemerintah daerah, dan pihak swasta dalam program pemberdayaan masyarakat pesisir menjadi lebih terbuka. Relevansi Polri di Era Modern: Di tengah tuntutan reformasi dan modernisasi, Polri terus beradaptasi dengan peran yang lebih holistik. Kegiatan sosial ini menunjukkan bahwa Polri tidak hanya fokus pada aspek represif atau penegakan hukum semata, tetapi juga pada aspek preventif dan humanis, sesuai dengan semangat Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan) yang diusung institusi. Peran Ditpolairud dalam Pembangunan Maritim: Kehadiran Ditpolairud di Sekotong menegaskan peran strategis mereka dalam mendukung pembangunan maritim Indonesia. Selain menjaga keamanan laut, mereka juga berperan dalam pembinaan SDM dan kesejahteraan masyarakat yang hidup bergantung pada laut. Ini sejalan dengan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Selama seluruh rangkaian kegiatan bantuan sosial berlangsung, situasi di kedua lokasi terpantau aman, tertib, dan lancar. Tidak ada insiden yang mengganggu jalannya distribusi, menunjukkan profesionalisme personel dan kerjasama yang baik dari masyarakat. Kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata pengabdian Polri kepada masyarakat dalam menyambut HUT Ke-80 Polri Tahun 2026, sebuah momentum untuk merefleksikan delapan dekade pengabdian dan menegaskan kembali komitmen untuk terus melayani, mengayomi, dan melindungi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Inisiatif semacam ini diharapkan dapat menjadi model bagi kegiatan serupa di seluruh wilayah nusantara, memperkuat ikatan antara aparat keamanan dan rakyat yang mereka layani. Post navigation Perpustakaan Desa Sandik Raih Juara 1 Lomba Tingkat Kabupaten, Siap Melaju ke Kancah Provinsi NTB 2026: Merajut Asa Literasi dari Batulayar Empat Kerabat Divonis 8 Bulan 7 Hari Penjara dalam Kasus Penyembunyian Jenazah Brigadir Esco Faska Rely: JPU Ajukan Banding