Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Mori Hanafi, menyerukan perbaikan fundamental terhadap kondisi jalan amblas yang terjadi di ruas Bypass Bandara Internasional Lombok (BIL)-Mandalika. Kerusakan parah yang berlokasi di kilometer 11, Desa Sukadana, Kecamatan Pujut, ini disinyalir Mori sebagai akibat dari kesalahan perancangan konstruksi yang dipicu oleh proses pembangunan yang tergesa-gesa dalam rangka mengejar pelaksanaan ajang balap MotoGP di Sirkuit Mandalika beberapa waktu lalu. Isu ini kini telah menjadi perhatian serius di tingkat pusat, dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI disebut-sebut telah memberikan atensi khusus terhadap permasalahan infrastruktur vital ini. Kerusakan Bypass BIL-Mandalika: Sorotan Anggota DPR RI Mori Hanafi, politisi dari Partai Nasdem, menegaskan bahwa permasalahan kerusakan Bypass BIL-Mandalika bukan hanya sebatas jalan yang amblas, melainkan juga mencakup kondisi lampu penerangan jalan umum (PJU) yang sering padam. Kedua isu krusial ini, menurutnya, telah masuk dalam agenda pembahasan intensif Komisi V DPR RI bersama Kemenhub. "Masalah bypass ini sudah menjadi atensi khusus Kemenhub. Mudah-mudahan sebelum MotoGP dimulai, perbaikannya sudah bisa dicicil secara bertahap sekitar 100 hingga 200 meter," ungkap Mori Hanafi saat ditemui di area Sirkuit Mandalika, Minggu (26/7). Ia menambahkan bahwa upaya perbaikan ini juga akan mencakup kelengkapan rambu-rambu lalu lintas serta penerangan jalan umum yang ada di sepanjang jalur bypass. Pernyataan Mori Hanafi mengindikasikan bahwa perbaikan yang sifatnya tambal sulam atau sementara, yang selama ini kerap dilakukan, tidak akan menyelesaikan akar masalah. Dari hasil diskusi internal Komisi V DPR RI, muncul dugaan kuat bahwa jalan pada rute strategis tersebut memang mengalami kesalahan konstruksi sejak awal perancangan. Tekanan waktu untuk menyelesaikan proyek demi gelaran MotoGP perdana diduga kuat telah memicu penurunan kualitas fisik jalan secara keseluruhan. "Dulu kan dikerjakan karena mengejar MotoGP. Selama ini sudah sering diperbaiki tapi sifatnya sementara atau tambal sulam. Perbaikan seperti ini tidak akan menyelesaikan akar masalah. Agar berumur panjang dan aman bagi pengendara, jalan itu idealnya dibongkar total. Karena kalau tidak dibongkar total dan dibangun kembali, maka pola tambal sulam ini akan terus berulang," tegasnya. Akar Masalah: Dugaan Kesalahan Desain dan Pembangunan Tergesa-gesa Analisis Mori Hanafi menggarisbawahi pentingnya melihat permasalahan ini dari perspektif jangka panjang. Kesalahan desain konstruksi, terutama pada jalan dengan karakteristik tanah yang mungkin labil atau memerlukan penanganan khusus, dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan serius sejak awal. Proyek-proyek infrastruktur besar, seperti Bypass BIL-Mandalika, yang menelan anggaran signifikan dan menjadi tulang punggung konektivitas, seharusnya dibangun dengan standar kualitas tertinggi dan melalui tahapan perencanaan yang matang. Tekanan untuk menyelesaikan proyek dalam waktu singkat, meskipun untuk tujuan mulia seperti menyukseskan event internasional, seringkali berisiko mengorbankan aspek kualitas dan durabilitas. Dalam konteks teknik sipil, kesalahan desain bisa beragam, mulai dari perhitungan beban yang kurang tepat, pemilihan material yang tidak sesuai dengan karakteristik lingkungan, hingga sistem drainase yang tidak memadai. Apabila kondisi geologis di kilometer 11 Desa Sukadana memang memerlukan perlakuan khusus, seperti perkuatan tanah atau struktur penahan, namun hal tersebut tidak diterapkan secara optimal karena keterbatasan waktu, maka kerusakan seperti amblasnya jalan menjadi konsekuensi logis yang dapat diprediksi. Pola perbaikan "tambal sulam" yang berulang selama ini hanya menjadi bukti bahwa solusi jangka pendek tidak efektif dalam mengatasi permasalahan struktural yang lebih dalam. Signifikansi Bypass BIL-Mandalika bagi Pariwisata dan Ekonomi Bypass BIL-Mandalika, dengan panjang sekitar 17 kilometer, merupakan urat nadi penghubung utama antara Bandara Internasional Lombok (BIL) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Jalan ini diresmikan pada Oktober 2021, dibangun dengan anggaran fantastis sekitar Rp 814 miliar, dan menjadi simbol komitmen pemerintah dalam mengembangkan Lombok sebagai destinasi pariwisata super prioritas. Keberadaan jalan ini memangkas waktu tempuh dari bandara menuju Mandalika secara signifikan, dari sekitar 30-40 menit menjadi hanya sekitar 15 menit, yang sangat krusial terutama untuk mobilitas wisatawan, logistik event, dan aksesibilitas bagi investor. Sejak pembangunannya, bypass ini telah memainkan peran vital dalam mendukung berbagai event internasional di Sirkuit Mandalika, termasuk MotoGP dan World Superbike (WSBK). Jalan ini bukan hanya sekadar jalur transportasi, tetapi juga etalase pertama bagi para pengunjung internasional yang tiba di Lombok. Kondisi infrastruktur yang prima di jalur ini sangat esensial untuk memberikan kesan positif dan menunjukkan kesiapan Lombok sebagai tuan rumah event kelas dunia serta destinasi pariwisata yang modern dan terkelola dengan baik. Dampak Kerusakan: Ancaman Keselamatan dan Citra Destinasi Kerusakan pada Bypass BIL-Mandalika membawa implikasi serius, baik dari segi keselamatan maupun citra daerah. Jalan yang amblas dan berlubang, ditambah dengan PJU yang padam di malam hari, menjadi ancaman nyata bagi keselamatan para pengguna jalan. Risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara yang belum familiar dengan medan atau dalam kondisi kecepatan tinggi di jalur bypass, meningkat drastis. Kejadian-kejadian seperti pecah ban, hilangnya kendali, hingga tabrakan dapat terjadi, menimbulkan korban jiwa atau luka serius. Selain itu, kerusakan infrastruktur strategis seperti ini juga berdampak negatif terhadap citra pariwisata Lombok, khususnya KEK Mandalika. Para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, serta delegasi event internasional, yang melintasi jalan rusak ini akan mendapatkan kesan buruk mengenai kualitas infrastruktur dan manajemen pembangunan di daerah tersebut. Hal ini dapat mempengaruhi persepsi investor dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi di KEK Mandalika yang sedang gencar dipromosikan. Dana miliaran rupiah yang telah digelontorkan untuk membangun jalan ini akan terasa sia-sia jika kualitasnya tidak terjaga dan terus-menerus memerlukan perbaikan. Kronologi dan Upaya Penanganan Sebelumnya Meskipun informasi detail mengenai kronologi kerusakan tidak disebutkan secara eksplisit dalam laporan awal, pernyataan Mori Hanafi yang menyebut "selama ini sudah sering diperbaiki tapi sifatnya sementara atau tambal sulam" mengindikasikan bahwa masalah kerusakan jalan ini bukan hal baru. Kemungkinan besar, kerusakan mulai muncul tidak lama setelah bypass dioperasikan secara penuh, atau setelah dilewati oleh beban lalu lintas yang intensif, terutama saat event-event besar. Upaya perbaikan yang bersifat temporer menunjukkan adanya respons dari pihak berwenang, namun pendekatan tersebut terbukti tidak efektif karena permasalahan strukturalnya belum tersentuh. Pendekatan tambal sulam, meskipun dapat memberikan solusi cepat untuk sementara, tidak menyelesaikan akar penyebab amblasnya jalan, sehingga kerusakan akan terus berulang di titik yang sama atau bahkan meluas ke area lain. Hal ini menguatkan argumentasi Mori Hanafi tentang perlunya pembongkaran total dan pembangunan kembali dengan desain yang lebih kokoh dan sesuai standar. Tanggapan Pemerintah: Komitmen Pusat dan Apresiasi Daerah Komitmen Kemenhub untuk memberikan "atensi khusus" terhadap masalah ini menunjukkan adanya pengakuan dari pemerintah pusat mengenai urgensi perbaikan. DPR RI bersama Kemenhub dilaporkan sedang mengupayakan alokasi anggaran khusus untuk pembongkaran dan rekonstruksi jalan. Termasuk untuk perbaikan lampu PJU di sepanjang Bypass BIL-Mandalika yang kerap padam, juga masuk dalam prioritas pembahasan. Meskipun waktu menuju gelaran internasional semakin dekat, Mori Hanafi optimistis perbaikan bertahap dapat dimulai dalam dua bulan ke depan. "Insyaallah bisa sebelum MotoGP. Jadi kita cicil perbaikannya demi kenyamanan dan keselamatan bersama," tutupnya. Dari sisi pemerintah daerah, Wakil Bupati Lombok Tengah, HM Nursiah, mengapresiasi langkah wakil rakyat yang telah menjadikan permasalahan Bypass BIL-Mandalika ini sebagai atensi. Mengingat statusnya sebagai jalan negara, tanggung jawab perbaikan memang sepenuhnya berada di tangan pemerintah pusat. "Kami berterima kasih kepada DPR RI telah menyampaikan kebutuhan di kementerian. Kalau memang benar akan segera dilakukan perbaikan, maka itu kewenangan pusat. Kita dari pemda nanti akan koordinasi, termasuk menjaga agar aman dan tentunya pelaksanaan pekerjaan bisa lebih sukses," terang HM Nursiah. Peran pemerintah daerah dalam hal ini akan lebih fokus pada koordinasi, pengawasan, dan memastikan kelancaran proses perbaikan di lapangan, serta menjaga keamanan area kerja. Menuju Solusi Permanen: Rekonstruksi Total dan Pengawasan Ketat Usulan pembongkaran total dan rekonstruksi bukan sekadar opsi, melainkan kebutuhan mendesak untuk memastikan Bypass BIL-Mandalika dapat berfungsi optimal dalam jangka panjang. Proses rekonstruksi ini memerlukan perencanaan ulang yang cermat, studi geoteknik yang mendalam, pemilihan material yang tepat, dan penerapan standar konstruksi yang ketat. Keterlibatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), yang memiliki keahlian teknis dalam pembangunan jalan, juga akan sangat krusial dalam tahap ini, berkoordinasi dengan Kemenhub dan DPR RI. Pengawasan kualitas selama proses rekonstruksi harus diperketat untuk menghindari terulangnya kesalahan yang sama. Hal ini mencakup pengawasan mulai dari tahap desain, pemilihan kontraktor, pelaksanaan pekerjaan, hingga tahap akhir dan pemeliharaan. Transparansi dalam penggunaan anggaran juga menjadi kunci untuk memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar menghasilkan infrastruktur yang berkualitas dan berdaya tahan. Pelajaran dari Proyek Infrastruktur "Kejar Tayang" Kasus kerusakan Bypass BIL-Mandalika ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi proyek-proyek infrastruktur besar lainnya di Indonesia. Tekanan untuk menyelesaikan proyek dalam waktu singkat, meskipun seringkali didorong oleh target pembangunan atau event penting, tidak boleh mengorbankan kualitas dan standar teknis. Prioritas utama harus selalu pada aspek keselamatan, durabilitas, dan fungsionalitas jangka panjang. Pemerintah perlu memperkuat mekanisme perencanaan, pengawasan, dan evaluasi proyek infrastruktur, terutama yang memiliki tenggat waktu ketat. Perlu ada ruang yang cukup untuk studi kelayakan yang komprehensif, desain yang matang, dan pelaksanaan yang tidak terburu-buru. Selain itu, akuntabilitas kontraktor dan konsultan pengawas juga harus ditingkatkan, dengan sanksi tegas jika terbukti terjadi kelalaian atau pelanggaran standar yang mengakibatkan kerugian negara dan membahayakan publik. Dengan adanya atensi serius dari DPR RI dan Kemenhub, serta dukungan dari pemerintah daerah, diharapkan perbaikan Bypass BIL-Mandalika dapat segera terealisasi dengan solusi yang permanen. Jalur vital ini harus kembali menjadi infrastruktur kebanggaan yang mendukung penuh kemajuan pariwisata dan ekonomi Lombok, serta memberikan kenyamanan dan keamanan maksimal bagi seluruh pengguna jalan. Post navigation Persidangan Mega Korupsi Pengadaan Armada Sampah Lombok Tengah Dimulai, Empat Tersangka Segera Diadili Skandal Dugaan Pelecehan Seksual Guncang SPPG Praya: Kepala Satuan Diduga Lecehkan Bawahan, Tuntutan Keadilan Mencuat Pasca Video Mediasi Viral