MATARAM – Peningkatan literasi keuangan menjadi prioritas strategis dalam upaya menciptakan masyarakat yang cakap finansial, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi layanan pinjaman digital. Menyadari urgensi ini, Education Fair 2026 yang diselenggarakan oleh Tribun Lombok berkolaborasi dengan KrediOne di Gramedia Mataram menghadirkan forum edukatif yang dirancang khusus untuk menyasar generasi muda dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Nusa Tenggara Barat (NTB). Fokus utama acara ini adalah membangun pemahaman mendalam mengenai pengelolaan keuangan yang sehat, khususnya dalam menghadapi maraknya tawaran pinjaman daring (pindar) dan potensi jebakan pinjaman online ilegal. Memperkuat Benteng Finansial Generasi Muda Melalui Edukasi Kritis Acara ini menjadi platform penting untuk membekali peserta dengan pengetahuan fundamental dalam mengelola keuangan pribadi dan bisnis. Sesi talkshow yang menjadi inti dari Education Fair 2026 menghadirkan narasumber kompeten yang memberikan perspektif komprehensif. Yudi Tri Widodo, Analis Pengawasan Market Conduct, Edukasi, Pelindungan Konsumen, Keuangan Daerah, dan Layanan Manajemen Strategis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB, hadir untuk memberikan pandangan dari sisi regulator. Bersamanya, Oclif Ronald Elgin Mantik, Head of Finance, Accounting & Tax KrediOne, berbagi wawasan praktis dari industri fintech. Kedua narasumber sepakat bahwa edukasi literasi keuangan memegang peranan krusial dalam membentengi generasi muda dari ancaman praktik pinjaman online ilegal yang kerapkali menjerat dengan bunga selangit dan praktik penagihan yang tidak manusiawi. Potensi kerugian finansial dan psikologis yang timbul akibat pinjaman ilegal ini dapat berakibat fatal bagi masa depan individu dan keluarganya. Oleh karena itu, pemahaman yang kuat mengenai cara kerja layanan keuangan digital, risiko yang melekat, serta pentingnya verifikasi legalitas menjadi kunci utama. Membedah Legalitas Pinjaman Daring: Kunci Menghindari Jebakan Finansial Oclif Ronald Elgin Mantik dari KrediOne secara tegas menekankan bahwa literasi keuangan adalah fondasi tak tergantikan untuk membangun masa depan finansial yang kokoh dan berkelanjutan. Ia menyoroti pentingnya kemampuan masyarakat, terutama kaum muda, untuk secara jeli membedakan antara layanan pinjaman daring yang telah mendapatkan izin dan diawasi secara resmi oleh OJK, dengan pinjaman online ilegal yang beroperasi di luar koridor hukum. “Pemahaman terhadap legalitas penyelenggara menjadi kunci utama. Masyarakat harus proaktif memastikan bahwa setiap layanan pinjaman daring yang mereka gunakan telah terdaftar dan berizin resmi dari OJK. Hal ini krusial untuk menghindari jerat praktik bunga yang eksesif dan berbagai biaya tersembunyi yang seringkali tidak rasional dan memberatkan,” ujar Oclif dalam paparannya pada Sabtu, 11 April 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi perlunya sikap kritis dan kehati-hatian dalam memilih penyedia layanan keuangan digital. Potensi NTB dalam Ekosistem Pinjaman Daring: Peluang dan Tantangan Literasi Dalam konteks regional, Oclif mengungkapkan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan dalam adopsi layanan pinjaman daring yang disalurkan melalui KrediOne. Data menunjukkan bahwa secara nasional, NTB berada pada peringkat ke-18 dalam hal penyaluran pinjaman, dan menduduki posisi keempat di kawasan Indonesia Timur. Hal ini menandakan adanya kebutuhan dan potensi pasar yang cukup besar di wilayah tersebut. Lebih lanjut, Oclif menyoroti fakta menarik bahwa sekitar 30 persen dari total pembiayaan yang disalurkan KrediOne di NTB dialokasikan untuk sektor produktif, yang berarti dimanfaatkan untuk pengembangan dan ekspansi usaha. Ini menunjukkan bahwa layanan pinjaman daring, jika digunakan secara bijak, dapat menjadi instrumen yang efektif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan pemberdayaan UMKM. Meskipun demikian, Oclif tidak menampik bahwa tantangan literasi keuangan di NTB masih menjadi area yang memerlukan perhatian serius. Meskipun tingkat keberhasilan pembayaran (TKB) di NTB dilaporkan mencapai angka yang sangat baik, yaitu 98 persen, KrediOne tetap memandang perlunya penguatan pemahaman masyarakat mengenai kewajiban finansial. Penguatan ini penting untuk memitigasi risiko jangka panjang yang dapat timbul akibat kelalaian dalam pengelolaan keuangan. “Kegagalan dalam memenuhi kewajiban pembayaran utang, sekecil apapun, tidak hanya akan berdampak pada kondisi finansial jangka pendek. Lebih jauh lagi, catatan buruk ini akan tercatat dalam sistem pelaporan kredit nasional, seperti Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) atau yang populer dikenal sebagai BI Checking. Riwayat kredit yang buruk ini dapat secara signifikan membatasi akses seseorang terhadap pembiayaan di masa depan, baik dari lembaga keuangan formal maupun non-formal,” jelas Oclif. Pernyataan ini memberikan peringatan keras tentang konsekuensi jangka panjang dari ketidakdisiplinan finansial. Prinsip "Bijak Meminjam": Pilar Pengelolaan Keuangan Berkelanjutan dari KrediOne Sebagai bagian integral dari strategi edukatifnya, KrediOne secara konsisten mengedepankan tiga prinsip utama yang dikenal sebagai "Bijak Meminjam". Pendekatan ini dirancang untuk membimbing individu, khususnya generasi muda, dalam mengambil keputusan finansial yang bertanggung jawab. Memahami Kebutuhan Secara Proporsional dan Memprioritaskan Tujuan Produktif: Prinsip pertama menekankan pentingnya melakukan refleksi mendalam terhadap kebutuhan finansial. Pinjaman seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang esensial dan mendesak, serta diprioritaskan untuk tujuan-tujuan yang dapat menghasilkan keuntungan atau meningkatkan kapasitas produktif, seperti modal usaha, investasi pendidikan, atau pengembangan keterampilan. Menghindari pinjaman untuk konsumsi impulsif atau gaya hidup yang tidak berkelanjutan adalah kunci. Memastikan Platform yang Digunakan Terdaftar dan Berizin OJK: Prinsip kedua menggarisbawahi vitalnya verifikasi legalitas penyedia layanan. Pengguna harus secara aktif mencari informasi dan memastikan bahwa platform pinjaman daring yang akan digunakan telah mendapatkan izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal ini dapat dilakukan dengan mengunjungi situs web resmi OJK atau melalui aplikasi resmi OJK. Penggunaan platform ilegal berisiko tinggi terhadap penipuan, praktik bunga tidak wajar, dan pelanggaran privasi. Menjaga Disiplin dalam Memenuhi Kewajiban Pembayaran Secara Tepat Waktu: Prinsip ketiga menekankan pentingnya kedisiplinan dalam mengelola arus kas dan memastikan pembayaran cicilan dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. Keterlambatan pembayaran dapat menimbulkan denda, bunga tambahan, dan yang terpenting, merusak reputasi kredit yang akan menyulitkan akses pembiayaan di kemudian hari. Membuat anggaran bulanan dan menyisihkan dana untuk pembayaran cicilan secara rutin adalah praktik yang disarankan. Penerapan ketiga prinsip ini diharapkan dapat membentuk kebiasaan finansial yang sehat dan rasional di kalangan generasi muda NTB. Kolaborasi Media dan Industri Fintech: Membangun Ekosistem Keuangan yang Inklusif Melalui kolaborasi strategis antara Tribun Lombok sebagai media terkemuka di NTB dan KrediOne sebagai pemain industri fintech, Education Fair 2026 tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pengambilan keputusan finansial yang rasional dan bertanggung jawab. Harapannya, generasi muda NTB dapat menjadi agen perubahan yang mampu mengelola keuangan mereka secara optimal, baik dalam konteks kehidupan pribadi maupun profesional. Inisiatif ini lebih dari sekadar sebuah kegiatan edukatif. Ia menegaskan peran vital kolaborasi antara media massa dan industri fintech dalam menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklusif, sehat, dan berkelanjutan di seluruh penjuru Indonesia, khususnya di NTB. Media memiliki kekuatan untuk menyebarkan informasi yang akurat dan terpercaya, sementara industri fintech dapat menyediakan solusi finansial yang inovatif dan terjangkau. Sinergi keduanya menjadi kunci untuk memberdayakan masyarakat. #BijakMeminjam: Menginspirasi Kesadaran Finansial Melalui Kreativitas Selain forum talkshow dan edukasi langsung, KrediOne juga turut menginisiasi sebuah kompetisi yang menarik minat generasi muda, yaitu lomba video kreatif dengan tema #BijakMeminjam. Lomba ini dirancang sebagai wadah ekspresi bagi generasi muda untuk menunjukkan pemahaman mereka tentang pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak. Melalui pendekatan yang kreatif dan partisipatif, kompetisi ini diharapkan dapat mendorong tumbuhnya kesadaran finansial secara massal, di mana para peserta tidak hanya belajar, tetapi juga menjadi agen promosi literasi keuangan di kalangan teman sebaya mereka. Kompetisi video kreatif ini menjadi bukti komitmen KrediOne untuk tidak hanya memberikan layanan, tetapi juga berkontribusi aktif dalam membangun budaya finansial yang positif. Dengan menggabungkan edukasi formal dan kampanye kreatif, Education Fair 2026 dan inisiatif #BijakMeminjam diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang yang signifikan terhadap kesejahteraan finansial masyarakat NTB. Peristiwa ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara berbagai pihak dapat menciptakan solusi inovatif untuk tantangan sosial yang kompleks. Post navigation Operasi Pasar LPG 3 Kg Digelar di Lombok Timur untuk Pastikan Stok Aman dan Harga Sesuai HET Kenaikan Tarif Tiket Pesawat Domestik 13 Persen Berpotensi Gembosi Target Wisatawan NTB 2026