Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) secara aktif mendorong para petani lokal untuk mengambil peran strategis dalam memenuhi kebutuhan program Mastery-Based Growth (MBG) yang kini berkembang menjadi salah satu offtaker utama di sektor pertanian daerah. Upaya ini difokuskan pada penguatan rantai pasok yang efisien dan jaminan kualitas produk yang konsisten, sebagai fondasi penting untuk mendukung keberlanjutan program yang memiliki cakupan komoditas sangat luas. Ketua DPD HKTI NTB, H. Willgo Zainar, menegaskan bahwa kebutuhan MBG tidak hanya terbatas pada satu atau dua jenis komoditas, melainkan mencakup spektrum yang sangat beragam, meliputi hasil pertanian primer, peternakan, perikanan, hingga perkebunan. "Kebutuhan MBG meliputi beras, sayur, buah, daging, telur, hingga ikan. Karena itu, rantai pasok harus terbentuk dalam satu ekosistem yang terintegrasi," ujar Willgo dalam keterangannya pada Selasa (31/3). Ia menekankan bahwa ekosistem yang dibangun harus mampu memberikan kepastian suplai yang berkelanjutan, stabilitas harga, dan mutu produk yang terjamin. Hal ini sangat krusial mengingat sifat kebutuhan program MBG yang bersifat rutin dan memerlukan pemenuhan secara frekuentif, bahkan bisa mencapai lima hingga enam hari dalam sepekan. "Kebutuhan ini bersifat harian, sehingga pasokan harus stabil dan berkelanjutan," tegasnya. Potensi Ekonomi Triliunan Rupiah dan Penguatan Rantai Pasok Besarnya skala kebutuhan program MBG berpotensi besar untuk mendorong perputaran ekonomi di NTB, bahkan diprediksi dapat mencapai angka triliunan rupiah setiap tahunnya. Nilai ekonomi ini tidak hanya mencakup pengadaan bahan pangan pokok dan turunanannya, tetapi juga penyerapan tenaga kerja di berbagai lini sektor terkait, mulai dari produksi hulu hingga distribusi hilir. Menyadari potensi besar ini, HKTI NTB memposisikan diri sebagai advokat utama bagi para petani. Organisasi ini berkomitmen untuk mendampingi dan memastikan petani mampu memenuhi standar kuantitas dan kualitas yang ditetapkan oleh program MBG. Upaya koordinasi yang intensif dengan pengurus HKTI di tingkat kabupaten dan kota terus diperkuat guna memetakan dan memastikan kesiapan seluruh petani di daerah. Lebih lanjut, Willgo Zainar secara eksplisit mendorong para petani, peternak, dan pelaku usaha pertanian lainnya untuk secara proaktif membangun ekosistem pemasok yang kokoh demi memenuhi kebutuhan dapur MBG di NTB. "Kami mendorong agar kebutuhan MBG dapat dipasok semaksimal mungkin dari produksi lokal," ujarnya. Peran Kunci Pemerintah Daerah dan Investasi Strategis Selain peran aktif dari HKTI dan para petani, keterlibatan pemerintah daerah, khususnya melalui dinas pertanian dan para penyuluh lapangan, dinilai menjadi faktor krusial yang tidak dapat diabaikan. Dukungan pemerintah daerah sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas produksi petani secara menyeluruh, memastikan bahwa standar yang ditetapkan oleh program MBG dapat terpenuhi secara optimal di lapangan. Pendampingan teknis, penyuluhan berkelanjutan, serta fasilitasi akses terhadap teknologi pertanian modern akan menjadi kunci keberhasilan dalam meningkatkan daya saing produk lokal. Willgo Zainar juga menyoroti pentingnya investasi yang masuk ke sektor peternakan di NTB, khususnya dalam produksi daging ayam dan telur. Ia melihat investasi ini sebagai peluang emas untuk memperkuat kemandirian pangan daerah. Selama ini, sebagian besar kebutuhan protein hewani, seperti daging ayam dan telur, masih harus dipasok dari luar daerah. "Selama ini sebagian kebutuhan masih dipasok dari luar daerah. Dengan adanya investasi ini, kita harapkan NTB bisa mandiri, minimal untuk memenuhi kebutuhan sendiri," ucapnya optimis. Penguatan produksi lokal ini tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar, tetapi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat di sektor peternakan. Komitmen Bersama untuk Kesejahteraan Petani HKTI NTB, bersama dengan seluruh pemangku kepentingan terkait, termasuk pemerintah daerah, pelaku usaha, dan tentu saja para petani, telah menyatakan komitmen yang kuat untuk mengawal seluruh rantai pasok. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa kebutuhan program MBG dapat dipenuhi secara maksimal oleh produk-produk lokal NTB. Upaya kolektif ini diharapkan tidak hanya mampu menjaga stabilitas pasokan pangan bagi program tersebut, tetapi juga secara signifikan meningkatkan kesejahteraan para petani. "Petani harus menjadi garda terdepan. Ini momentum yang sangat baik untuk memperkuat peran dan kesejahteraan mereka melalui pasar lokal," pungkas Willgo Zainar. Peran petani sebagai garda terdepan dalam penyediaan pangan lokal dipandang sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan status ekonomi dan sosial mereka, membuka akses pasar yang lebih luas, dan memperkuat posisi tawar mereka di tengah dinamika perekonomian daerah. Latar Belakang dan Konteks Program MBG Program Mastery-Based Growth (MBG) merupakan sebuah inisiatif yang memiliki fokus pada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi di berbagai sektor, termasuk pertanian. Dalam konteks NTB, program ini diidentifikasi sebagai salah satu offtaker potensial yang dapat menyerap hasil pertanian dalam skala besar dan berkelanjutan. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada ketersediaan pasokan yang stabil dan berkualitas dari para petani lokal. Pengembangan program MBG di NTB tidak lepas dari upaya pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan melibatkan petani lokal secara langsung sebagai pemasok utama, program ini diharapkan dapat menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi perekonomian daerah, mulai dari peningkatan pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan ketahanan pangan. Tantangan dan Peluang ke Depan Meskipun potensi yang ditawarkan oleh program MBG sangat besar, terdapat pula sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah memastikan konsistensi kualitas produk. Petani perlu dibekali dengan pengetahuan dan teknologi yang memadai untuk dapat menghasilkan produk yang memenuhi standar kualitas internasional, terutama dalam hal keamanan pangan dan kesegaran. Selain itu, penguatan infrastruktur pendukung seperti sarana penyimpanan, transportasi, dan logistik juga menjadi krusial. Ketersediaan infrastruktur yang memadai akan meminimalkan kerugian pasca-panen dan memastikan produk sampai ke tangan konsumen dalam kondisi optimal. Di sisi lain, peluang yang terbuka sangat luas. Dengan keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan program MBG, para petani NTB akan memiliki akses ke pasar yang stabil dan terjamin. Hal ini dapat menjadi batu loncatan untuk mengembangkan sayap ke pasar-pasar lain, baik domestik maupun internasional. Kolaborasi antara HKTI, pemerintah daerah, akademisi, dan sektor swasta akan menjadi kunci untuk memaksimalkan peluang ini dan mewujudkan NTB yang lebih berdaya saing dalam sektor pertanian. Analisis Dampak Ekonomi dan Sosial Keterlibatan petani lokal dalam program MBG diperkirakan akan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap ekonomi dan sosial masyarakat NTB. Dampak Ekonomi: Peningkatan Pendapatan Petani: Dengan adanya offtaker yang pasti seperti MBG, petani memiliki jaminan pasar untuk hasil produksinya, sehingga dapat meningkatkan pendapatan secara stabil. Perputaran Uang yang Signifikan: Penyerapan produk pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan dalam skala besar akan mendorong perputaran uang di tingkat lokal hingga triliunan rupiah, yang akan mengalir ke berbagai sektor ekonomi pendukung. Penciptaan Lapangan Kerja: Kebutuhan akan tenaga kerja di setiap lini rantai pasok, mulai dari produksi, pengolahan, hingga distribusi, akan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat NTB. Pengurangan Defisit Perdagangan Antardaerah: Dengan meningkatnya produksi lokal, ketergantungan pada pasokan dari luar daerah akan berkurang, sehingga berpotensi mengurangi defisit perdagangan antardaerah. Dampak Sosial: Peningkatan Kesejahteraan Petani: Selain pendapatan, peningkatan kesejahteraan juga mencakup akses yang lebih baik terhadap teknologi, pengetahuan, dan modal usaha. Penguatan Ketahanan Pangan: Kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan akan meningkatkan ketahanan pangan daerah, terutama dalam menghadapi fluktuasi pasokan global. Peningkatan Kualitas Hidup: Ketersediaan pangan yang berkualitas dan terjangkau akan berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat NTB secara umum. Penguatan Identitas Lokal: Pemanfaatan produk-produk lokal dalam program berskala besar dapat turut melestarikan dan mempromosikan kekayaan agrikultur NTB. Secara keseluruhan, inisiatif HKTI NTB untuk mendorong petani lokal berperan aktif dalam program MBG merupakan langkah strategis yang memiliki potensi besar untuk mentransformasi sektor pertanian NTB menjadi lebih kuat, mandiri, dan sejahtera. Dengan kolaborasi yang solid dan komitmen bersama, NTB dapat menjadi contoh keberhasilan dalam membangun rantai pasok yang efisien dan berorientasi pada pemberdayaan petani lokal. Post navigation Pertamina Tegaskan Tidak Ada Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi per 1 April 2026, Bantah Hoax yang Beredar di Media Sosial PLN UIW NTB Perkuat Komitmen Berkelanjutan Pasca-Idulfitri Melalui Program Sosial YBM