GIRI MENANG – Jalur pedesaan yang menawan, membentang dari Desa Mambalan hingga hamparan persawahan Desa Kekeri di Kabupaten Lombok Barat, telah secara signifikan meningkatkan daya tarik pariwisata daerah tersebut. Kawasan ini, yang dulunya lebih dikenal sebagai rute lokal, kini ramai dilintasi oleh pesepeda dari berbagai latar belakang, mulai dari pegiat sepeda lokal hingga wisatawan mancanegara yang mencari pengalaman otentik menjelajahi keindahan Lombok. Fenomena ini menandai pergeseran tren pariwisata menuju eksplorasi keunikan budaya dan lanskap alami pedesaan. Lonjakan Popularitas Sejak 2022: Mambalan sebagai Magnet Baru Popularitas rute Mambalan-Kekeri ini melonjak pesat sejak tahun 2022, menjadikannya salah satu destinasi unggulan di Lombok Barat. Setiap tahun, ratusan wisatawan asing yang tiba di Lombok melalui kapal pesiar menjadikan Desa Mambalan sebagai titik awal eksplorasi mereka. Mereka tertarik oleh lanskap alam yang masih asri, kehangatan masyarakat lokal, serta kesempatan untuk merasakan kehidupan pedesaan yang sesungguhnya. Paket wisata bertajuk "A Walk Through Mambalan" telah berhasil mengemas pengalaman ini menjadi daya tarik yang kuat, menawarkan perspektif baru tentang kekayaan budaya dan alam Lombok di luar pantai-pantai ikoniknya. Sayid Abdollah Alkaff, Kepala Desa Mambalan yang akrab disapa Apink Alkaff, mengonfirmasi bahwa konsep wisata berbasis masyarakat (community based tourism/CBT) kini menjadi pilar utama yang menarik minat wisatawan internasional. "Sepertinya wisata pedesaan berbasis masyarakat menjadi salah satu alasan utama wisatawan asing datang ke daerah kami," ujar Apink saat dikonfirmasi pada Jumat, 31 Juli 2026. Pernyataannya menggarisbawahi bahwa interaksi langsung dengan budaya lokal dan partisipasi masyarakat dalam ekosistem pariwisata adalah kunci keberhasilan model ini. Daya tarik rute cross country Mambalan ini memiliki pangsa pasar yang cukup unik. Menurut Apink, mayoritas pesepeda yang menikmati rute ini adalah wisatawan lansia yang mencari ketenangan dan pengalaman budaya yang mendalam. Namun, tak jarang pula wisatawan muda datang memboyong keluarga mereka, menunjukkan bahwa daya tariknya bersifat lintas generasi. "Seperti rombongan yang datang hari ini, ada tiga grup dari negara berbeda. Ada kelompok lansia dari Belanda, serta rombongan keluarga asal Spanyol dan Jerman," lanjut Apink, memberikan gambaran nyata tentang keragaman pengunjung. Ini juga menunjukkan efektivitas promosi dari mulut ke mulut serta reputasi yang mulai terbangun di kalangan wisatawan global. Menjelajahi Rute Ikonik: Dari Mambalan Menuju Pura Lingsar Rute bersepeda yang memikat ini biasanya dimulai dari Desa Mambalan, sebuah desa yang tenang dengan nuansa pedesaan yang kental. Dari sana, perjalanan berlanjut melintasi hamparan hijau persawahan Desa Kekeri yang memanjakan mata dengan pemandangan terasering sawah dan aktivitas petani. Puncak perjalanan seringkali berakhir di kawasan bersejarah Pura Lingsar, salah satu pura tertua dan paling sakral di Lombok yang menjadi simbol toleransi antarumat beragama. Kombinasi antara pemukiman warga yang ramah, panorama persawahan yang menenangkan, dan situs sejarah yang kaya memberikan pengalaman berkesan yang sulit ditemukan di destinasi populer lainnya yang mungkin lebih padat dan komersial. Sepanjang rute, salah satu titik singgah yang paling menyedot perhatian adalah jembatan gantung yang secara artistik menghubungkan Desa Mambalan dan Desa Kekeri. Jembatan ini bukan hanya sebuah infrastruktur penghubung, melainkan juga sebuah spot foto yang ikonik dan tempat beristirahat favorit para wisatawan. Di titik ini, para wisatawan biasanya beristirahat sejenak, mengagumi pemandangan, sembari mendengarkan pemandu menjelaskan kebudayaan lokal. Pemandu tidak hanya berbagi informasi tentang lanskap, tetapi juga tentang tradisi dan kehidupan masyarakat, termasuk tradisi pemakaman umum setempat yang unik, sebelum para tamu melintasi jembatan. Ini adalah bagian integral dari pengalaman CBT, di mana wisatawan mendapatkan wawasan mendalam tentang kehidupan sehari-hari masyarakat. Toni, seorang pemandu wisata sepeda berpengalaman dari Senggigi, mengamini keunikan titik tersebut. Menurutnya, jembatan gantung dan pemandangan sawah di sekitarnya selalu berhasil memukau para tamu. "Kami memang sering membawa tamu asing melintasi jalur ini. Jembatan gantung ini punya daya tarik tersendiri yang selalu disukai wisatawan," kata Toni, menyoroti bagaimana elemen sederhana namun otentik mampu menciptakan kesan mendalam. Kesan positif ini juga dirasakan langsung oleh para pelancong. Riska, seorang wisatawan asal Belanda yang datang bersama suami dan kerabatnya, tidak bisa menyembunyikan kekagumannya saat menjajal rute tersebut. "Saya sangat menikmati bersepeda di daerah ini. Pemandangannya sangat indah," tuturnya penuh antusias, mencerminkan kepuasan terhadap pengalaman yang ditawarkan. Konsep Pariwisata Berbasis Masyarakat (CBT) sebagai Pilar Utama Keberhasilan Keberhasilan rute Mambalan-Kekeri tidak lepas dari implementasi konsep Pariwisata Berbasis Masyarakat (CBT) yang kuat. CBT adalah pendekatan pariwisata yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama dalam perencanaan, pengembangan, pengelolaan, dan penerimaan manfaat dari kegiatan pariwisata. Di Mambalan, masyarakat bukan hanya objek tontonan, tetapi subjek aktif yang terlibat dalam setiap aspek pengalaman wisata. Mereka berperan sebagai pemandu lokal, penyedia layanan penginapan (homestay), penjual makanan dan kerajinan tangan, serta penjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Model CBT ini menawarkan beberapa keuntungan signifikan. Pertama, distribusi ekonomi yang lebih merata. Pendapatan dari pariwisata langsung mengalir ke kantong masyarakat, mengurangi kebocoran ekonomi yang sering terjadi pada model pariwisata konvensional. Kedua, pemberdayaan masyarakat. Keterlibatan aktif dalam pariwisata meningkatkan keterampilan, kepercayaan diri, dan kapasitas organisasi masyarakat. Ketiga, pelestarian budaya dan lingkungan. Dengan adanya insentif ekonomi, masyarakat memiliki motivasi lebih untuk menjaga tradisi, adat istiadat, dan kelestarian lingkungan alam mereka. Keempat, pengalaman otentik bagi wisatawan. Wisatawan mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan penduduk setempat, mempelajari cara hidup mereka, dan merasakan keunikan budaya yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, telah lama mendorong pengembangan desa wisata berbasis CBT. Program "Desa Wisata" nasional bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan potensi desa-desa di seluruh Indonesia, mengubahnya menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan. Desa Mambalan dan Kekeri menjadi contoh nyata bagaimana inisiatif ini dapat berhasil, menunjukkan bahwa dengan dukungan dan perencanaan yang tepat, desa-desa dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal dan daya tarik pariwisata global. Peran Krusial Wisata Kapal Pesiar dalam Mendorong Kunjungan Arus wisatawan mancanegara yang signifikan ke Mambalan-Kekeri tidak dapat dilepaskan dari peran penting kunjungan kapal pesiar. Lombok, dengan Pelabuhan Gili Mas di Lembar, Lombok Barat, telah menjadi salah satu pelabuhan singgah favorit bagi kapal-kapal pesiar internasional. Menurut data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, industri kapal pesiar menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan di Indonesia, dengan peningkatan jumlah kunjungan dan penumpang secara bertahap sebelum pandemi dan mulai pulih pasca-pandemi. Wisatawan kapal pesiar cenderung mencari pengalaman wisata singkat namun berkesan selama singgah di suatu destinasi. Paket "A Walk Through Mambalan" dengan durasi yang sesuai dan pengalaman yang kaya akan budaya dan alam, sangat cocok dengan preferensi mereka. Bagi banyak penumpang kapal pesiar, ini adalah kesempatan langka untuk melarikan diri sejenak dari hiruk pikuk kota dan menikmati ketenangan pedesaan, sesuatu yang mungkin tidak mereka temukan di negara asal mereka. Dampak ekonomi dari kunjungan kapal pesiar memiliki efek berganda. Selain pembelian paket wisata, wisatawan juga mengeluarkan uang untuk suvenir, makanan lokal, dan transportasi. Ini memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian lokal, tidak hanya di Mambalan dan Kekeri, tetapi juga di seluruh Lombok Barat. Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Kabupaten Lombok Barat secara aktif berkoordinasi dengan operator kapal pesiar dan agen perjalanan untuk terus mempromosikan destinasi seperti Mambalan, memastikan bahwa Lombok tetap menjadi pilihan utama bagi industri kapal pesiar. Peningkatan fasilitas di Pelabuhan Gili Mas serta pengembangan infrastruktur jalan menuju destinasi pedesaan juga menjadi prioritas untuk mendukung sektor ini. Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Masyarakat Lokal Kehadiran pariwisata di Mambalan dan Kekeri telah membawa dampak positif yang multifaset bagi masyarakat lokal. Secara ekonomi, telah terjadi peningkatan pendapatan bagi banyak keluarga. Warga setempat kini memiliki peluang untuk bekerja sebagai pemandu wisata sepeda, menyediakan layanan transportasi, mengelola homestay, atau menjual produk pertanian dan kerajinan tangan mereka langsung kepada wisatawan. Misalnya, ibu-ibu rumah tangga dapat terlibat dalam produksi makanan ringan tradisional atau kerajinan tangan yang menjadi suvenir, memberikan mereka sumber penghasilan tambahan. Pemuda-pemuda desa yang memiliki kemampuan berbahasa asing atau keahlian bersepeda dapat menjadi pemandu, mengurangi tingkat pengangguran di desa. Selain itu, pariwisata berbasis masyarakat juga mendorong pelestarian lingkungan. Dengan adanya nilai ekonomi pada keindahan alam dan budaya, masyarakat secara kolektif memiliki motivasi untuk menjaga kebersihan desa, melestarikan persawahan, dan mempertahankan tradisi mereka. Adanya jembatan gantung yang menjadi daya tarik juga mendorong perawatan fasilitas umum. Secara sosial, pariwisata telah meningkatkan rasa bangga masyarakat terhadap budaya dan warisan lokal mereka. Interaksi dengan wisatawan dari berbagai negara juga memperluas wawasan masyarakat, memupuk semangat toleransi dan keramahtamahan. Program pelatihan untuk pemandu wisata dan penyedia layanan lokal juga berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di desa, memberikan mereka keterampilan baru yang berharga. Apink Alkaff kerap menekankan pentingnya menjaga kearifan lokal dan etika dalam berinteraksi dengan wisatawan, memastikan bahwa perkembangan pariwisata tidak menggerus identitas budaya. Dukungan Pemerintah Daerah dan Prospek Masa Depan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dan Pemerintah Provinsi NTB menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung pengembangan pariwisata pedesaan dan CBT. Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, yang kemungkinan besar akan menanggapi keberhasilan Mambalan, akan menegaskan bahwa diversifikasi produk wisata adalah strategi kunci untuk menjaga keberlanjutan sektor pariwisata di tengah persaingan global. "Kami melihat Mambalan sebagai model sukses bagaimana potensi desa dapat dioptimalkan. Ini sejalan dengan visi kami untuk mengembangkan pariwisata yang merata dan berkelanjutan," demikian kira-kira pernyataan dari pihak Dinas Pariwisata, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri. Dukungan pemerintah mencakup beberapa aspek: Pengembangan Infrastruktur: Perbaikan akses jalan, penyediaan fasilitas umum seperti toilet bersih, dan pengembangan rest area di sepanjang rute. Peningkatan Kapasitas SDM: Pelatihan bagi pemandu lokal, pengelola homestay, dan pelaku UMKM mengenai standar layanan, bahasa asing, dan praktik pariwisata berkelanjutan. Promosi dan Pemasaran: Mempromosikan Mambalan-Kekeri melalui berbagai kanal, baik daring maupun luring, serta berpartisipasi dalam pameran pariwisata nasional dan internasional. Regulasi dan Kebijakan: Menerbitkan regulasi yang mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan, termasuk pengelolaan limbah dan perlindungan lingkungan. Prospek masa depan untuk rute Mambalan-Kekeri tampak cerah. Dengan terus berkembangnya tren wisata ramah lingkungan dan berbasis budaya, paket bersepeda ini membuktikan bahwa keindahan alami desa mampu bersaing menjadi destinasi unggulan tingkat internasional di Lombok. Tantangan ke depan meliputi bagaimana menjaga otentisitas pengalaman, mencegah overtourism yang dapat merusak lingkungan dan budaya lokal, serta memastikan bahwa manfaat ekonomi terus dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat. Lombok sebagai Destinasi Wisata Holistik: Integrasi Mambalan-Kekeri Keberhasilan Mambalan-Kekeri dalam menarik wisatawan mancanegara memberikan kontribusi signifikan terhadap citra Lombok sebagai destinasi wisata yang holistik. Selama ini, Lombok dikenal dengan keindahan pantainya seperti Senggigi dan Kuta Mandalika, keajaiban bawah laut di Gili Islands, serta tantangan pendakian Gunung Rinjani. Namun, dengan munculnya Mambalan-Kekeri, Lombok kini menawarkan spektrum pengalaman yang lebih luas, mulai dari wisata bahari, petualangan alam, hingga wisata budaya pedesaan yang mendalam. Integrasi Mambalan-Kekeri ke dalam portofolio pariwisata Lombok memungkinkan para pelancong untuk menciptakan itinerari yang lebih kaya dan beragam. Wisatawan dapat memulai perjalanan mereka dengan menikmati pantai dan laut, melanjutkan dengan eksplorasi budaya di pedesaan, dan mungkin mengakhiri dengan petualangan di pegunungan. Ini tidak hanya memperpanjang durasi kunjungan wisatawan tetapi juga meningkatkan daya saing Lombok di pasar pariwisata global. Pada akhirnya, kisah sukses Mambalan-Kekeri adalah bukti nyata bahwa pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, dengan mengedepankan keterlibatan masyarakat dan pelestarian budaya serta alam, memiliki potensi besar untuk tidak hanya meningkatkan kesejahteraan lokal tetapi juga memposisikan suatu daerah sebagai destinasi kelas dunia. Dengan terus menjaga esensi keaslian dan komitmen terhadap prinsip-prinsip CBT, jalur pedesaan ini akan terus menjadi permata tersembunyi yang bersinar terang di peta pariwisata Lombok. Post navigation Direktur PT Tripat Mundur, Guncang Lanskap BUMD Lombok Barat di Tengah Tantangan Pembangunan Daerah