SELONG – Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) kembali dilanda musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peristiwa tragis ini terjadi di wilayah Maletan, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, yang terdeteksi pertama kali pada Jumat sore, 7 Agustus 2026. Titik api muncul di area perbatasan antara kawasan inti TNGR dan lahan perkebunan masyarakat, tepatnya di arah Bukit Tiga. Kejadian ini memicu respons cepat dari petugas gabungan yang berjuang keras memadamkan api hingga dini hari.

Kronologi Deteksi dan Penanganan Awal

Laporan mengenai munculnya titik api pertama kali diterima oleh Balai TN Gunung Rinjani dari warga setempat pada pukul 16.48 Wita. Lokasi yang teridentifikasi berada di batas kawasan inti taman nasional dan lahan perkebunan masyarakat. Astekita Ardi, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TN Gunung Rinjani, mengonfirmasi kebenaran laporan tersebut. "Benar, kami menerima laporan dari masyarakat sekitar pukul 16.48 Wita. Ada titik hotspot di batas kawasan, antara kawasan inti dan kebun masyarakat di wilayah Maletan, arah Bukit Tiga," ujar Astekita.

Menindaklanjuti laporan darurat tersebut, tim reaksi cepat yang terdiri dari petugas Resort TNGR, masyarakat setempat, dan siswa Pendidikan Keterampilan dan Kejuruan (PKL) dari Sekolah Menengah Kejuruan Kehutanan (SKMA) segera dikerahkan menuju lokasi untuk melakukan pemadaman awal. Sebanyak 15 personel terlibat dalam upaya penanganan pertama ini.

Namun, kondisi medan yang curam dan sulit dijangkau, ditambah dengan datangnya malam yang semakin gelap, membuat personel di lapangan terpaksa ditarik mundur demi mengutamakan keselamatan. Meskipun demikian, pemantauan intensif terhadap titik api terus dilakukan dari posko penjagaan.

Penguatan Tim Gabungan dan Operasi Pemadaman Intensif

Untuk memperkuat upaya pemadaman dan memastikan api dapat dikendalikan, personel tambahan dari Manggala Agni (petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan) serta petugas dari Mataram segera dikerahkan ke lokasi. Skala penanganan pun ditingkatkan dengan melibatkan unsur kepolisian dan militer.

Kapolres Lombok Timur, AKBP Ariakta Gagah Nugraha, turun langsung ke lokasi untuk memimpin operasi pengendalian dan pemadaman karhutla. Ia menginstruksikan pembentukan tim gabungan yang melibatkan berbagai unsur terkait. "Operasi melibatkan tim gabungan dari berbagai unsur, yakni personel Polsek Sembalun, Koramil 1615/10 Sembalun, petugas BTNGR, Damkarmat Sembalun, Manggala Agni, siswa PKL SKMA, serta masyarakat setempat," ungkap Ariakta.

Perjuangan pemadaman berlangsung sepanjang malam. Seluruh personel yang terlibat menunjukkan dedikasi dan kekompakan yang luar biasa dalam menghadapi situasi yang menantang. AKBP Ariakta Gagah Nugraha menyampaikan apresiasinya yang tulus kepada semua pihak yang telah bekerja keras. "Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerja keras, dedikasi, dan kekompakan seluruh tim gabungan di lapangan yang bertaruh waktu hingga dini hari demi menjinakkan api," ujarnya.

Antisipasi dan Peningkatan Kesiapan

Menyikapi insiden kebakaran ini, Kapolres Lombok Timur menekankan pentingnya peningkatan kesiapan dan kelengkapan sarana pemadaman di kawasan TNGR. Hal ini merupakan langkah antisipasi krusial untuk menghadapi potensi karhutla di masa mendatang, terutama mengingat kondisi geografis dan iklim yang rentan. "Ke depan, kesiapan dan kelengkapan sarana pemadaman yang memadai dari pihak BTNGR harus terus ditingkatkan sebagai langkah antisipasi agar kita selalu siap jika sewaktu-waktu Karhutla kembali terjadi," tegas Ariakta.

Hasil Operasi dan Tindak Lanjut

Seluruh rangkaian operasi pengendalian karhutla berhasil dinyatakan selesai dalam keadaan aman dan lancar pada pukul 03.15 Wita. Hingga Sabtu pagi, titik api di kawasan TNGR Sembalun dilaporkan telah padam sepenuhnya.

Meskipun api utama telah berhasil dipadamkan, petugas gabungan dijadwalkan untuk melakukan mopping up atau pendinginan area mulai pukul 08.00 Wita. Tindakan ini bertujuan untuk memastikan tidak ada sisa bara api yang dapat menyala kembali dan memicu kebakaran susulan.

Investigasi Penyebab Kebakaran

Mengenai penyebab pasti kebakaran, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan mendalam. Hingga berita ini diturunkan, belum dapat dipastikan apakah kebakaran tersebut dipicu oleh aktivitas manusia atau faktor alam. Astekita Ardi menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang panas serta banyaknya rumput kering di lokasi menjadi faktor yang sangat mendukung penyebaran api. "Untuk penyebabnya kita belum bisa memastikan, apakah karena aktivitas manusia atau faktor alam. Mengingat cuaca panas dan bahan bakar seperti rumput kering sangat banyak di lokasi. Saat ini kami fokus pada upaya pemadaman terlebih dahulu," tandasnya.

Kawasan Rinjani Kembali Terbakar

Latar Belakang dan Konteks Karhutla di TNGR

Taman Nasional Gunung Rinjani merupakan salah satu ekosistem terpenting di Indonesia, tidak hanya sebagai habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna endemik, tetapi juga sebagai sumber air vital bagi wilayah sekitarnya dan destinasi wisata alam yang mendunia. Kawasan ini memiliki kontur geografis yang cukup menantang dengan lereng yang curam, hutan tropis yang lebat, serta padang savana yang luas di beberapa area, seperti di Sembalun.

Musim kemarau, terutama di wilayah NTB, seringkali diwarnai dengan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kondisi angin kencang dan vegetasi yang kering menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api ketika terjadi titik api. Karhutla di TNGR bukan kali pertama terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai pihak telah berulang kali mengingatkan pentingnya kewaspadaan dan pencegahan, terutama saat memasuki musim kemarau.

Aktivitas manusia, baik yang disengaja maupun tidak, seringkali menjadi pemicu awal terjadinya kebakaran. Hal ini bisa meliputi pembukaan lahan dengan cara membakar, puntung rokok yang dibuang sembarangan, atau bahkan api unggun yang tidak dipadamkan dengan benar oleh pendaki. Di sisi lain, faktor alam seperti sambaran petir saat musim kemarau juga dapat memicu kebakaran, meskipun kejadian ini cenderung lebih jarang.

Implikasi dan Dampak Kebakaran

Dampak dari karhutla di kawasan TNGR sangat luas dan signifikan. Secara ekologis, kebakaran dapat menghancurkan habitat satwa liar, memusnahkan tumbuhan langka, serta merusak keanekaragaman hayati yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Hilangnya tutupan hutan juga dapat memicu erosi tanah, longsor, dan perubahan tata air.

Bagi pariwisata, kebakaran di kawasan TNGR dapat berdampak negatif pada citra destinasi dan berpotensi menyebabkan penutupan jalur pendakian untuk sementara waktu, yang tentu merugikan perekonomian masyarakat sekitar yang bergantung pada sektor pariwisata.

Secara sosial dan ekonomi, kebakaran dapat mengancam mata pencaharian masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan, terutama mereka yang bergantung pada hasil hutan non-kayu atau lahan pertanian yang berdekatan dengan kawasan taman nasional. Kerugian materiil juga bisa timbul akibat rusaknya infrastruktur pendukung atau lahan perkebunan masyarakat.

Oleh karena itu, penanganan karhutla yang cepat dan efektif, serta upaya pencegahan yang berkelanjutan, menjadi prioritas utama bagi semua pihak yang berkepentingan untuk menjaga kelestarian alam dan keberlanjutan ekosistem TNGR.

Data Pendukung dan Upaya Pencegahan

Data historis menunjukkan bahwa karhutla di kawasan TNGR rentan terjadi terutama pada periode bulan Juli hingga Oktober, yang merupakan puncak musim kemarau di wilayah tersebut. Luas area yang terbakar dapat bervariasi setiap tahunnya, tergantung pada intensitas musim kemarau dan tingkat kewaspadaan masyarakat serta petugas.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Balai TN Gunung Rinjani bersama dengan berbagai instansi terkait secara rutin melaksanakan patroli rutin, sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya karhutla dan larangan membakar hutan, serta membentuk kelompok masyarakat peduli api. Pelatihan simulasi pemadaman kebakaran juga sering dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan tim.

Peran serta aktif dari masyarakat adalah kunci utama dalam upaya pencegahan. Kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan larangan membakar lahan harus terus ditanamkan agar kejadian seperti di Maletan, Sembalun, tidak terulang kembali di masa mendatang.

Artikel ini ditulis ulang dengan menggabungkan informasi dari sumber asli dan memperkaya konteks, kronologi, serta implikasi yang lebih luas dari peristiwa kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *