Hamparan hijau perkebunan tebu di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Pekat, Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini telah menjelma menjadi denyut nadi ekonomi yang kuat bagi masyarakat yang bermukim di lereng Gunung Tambora. Transformasi ini menandai sebuah era baru, di mana tebu tidak hanya sekadar komoditas pertanian, melainkan simbol kemandirian dan harapan yang mampu mengantar warga ke tanah suci serta membuka jalan pendidikan tinggi bagi generasi muda, bahkan hingga mengantarkan putra daerah ke kursi legislatif. Namun, di balik keberhasilan ini, membentang pula sejumlah tantangan krusial yang mengancam keberlanjutan sektor vital ini. Transformasi Ekonomi: Dari Jambu Mete yang Terpuruk Menuju Era Tebu yang Menjanjikan Sebelum tebu mendominasi lanskap Beringin Jaya, jambu mete adalah primadona pertanian di wilayah tersebut. Selama bertahun-tahun, masyarakat menggantungkan hidupnya pada hasil panen jambu mete. Namun, gejolak harga yang tidak stabil di pasar global, ditambah dengan serangan hama dan penyakit yang masif dan berulang, secara perlahan namun pasti telah mengikis profitabilitas komoditas tersebut. Banyak petani mengalami kerugian besar, terjerat utang, dan masa depan ekonomi desa menjadi tidak menentu. Situasi ini mendorong masyarakat dan pemerintah desa untuk mencari alternatif yang lebih tangguh dan menjanjikan. Pergeseran ke budidaya tebu bukanlah keputusan yang instan, melainkan hasil dari observasi mendalam terhadap potensi lahan dan iklim lokal, serta kajian pasar yang cermat. Kepala Desa Beringin Jaya, Firman, menuturkan bahwa pemilihan tebu didasarkan pada beberapa faktor kunci. Pertama, tebu dikenal memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap kondisi iklim ekstrem dan serangan hama dibandingkan jambu mete. Kedua, permintaan akan gula sebagai produk olahan tebu relatif stabil, didukung oleh konsumsi domestik yang tinggi. Ketiga, dan yang terpenting, adanya skema kemitraan dengan pabrik gula yang menjamin penyerapan hasil panen dengan harga yang transparan dan sistem pembayaran yang terpercaya. Model Kemitraan dan Keberhasilan Finansial Model budidaya tebu di Beringin Jaya sebagian besar berjalan melalui skema kemitraan dengan pabrik gula. Kemitraan ini mencakup penyediaan bibit, bimbingan teknis, hingga jaminan pembelian hasil panen. Salah satu inovasi yang paling diapresiasi oleh petani adalah sistem pembayaran langsung ke rekening bank petani (by name, by account). Sistem ini meminimalisir praktik rentenir atau perantara yang kerap memotong keuntungan petani, serta mengurangi risiko penyelewengan dana. Dengan demikian, petani menerima pembayaran penuh atas hasil jerih payah mereka, menciptakan stabilitas finansial yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Firman mengungkapkan bahwa pendapatan bersih dari budidaya tebu sangat signifikan, mencapai Rp30 juta hingga Rp35 juta per hektare setiap musim panen. Angka ini jauh melampaui pendapatan yang diperoleh dari jambu mete pada masa kejayaannya, apalagi saat terpuruk. Stabilitas pendapatan ini menjadi tulang punggung ekonomi rumah tangga di Beringin Jaya. "Setiap tahun, belasan hingga puluhan warga kami bisa menunaikan ibadah umrah. Pendidikan anak-anak pun meningkat drastis, banyak yang kini mampu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, bahkan di universitas ternama," ujar Firman dengan bangga. Ini adalah bukti nyata bahwa pertanian yang dikelola dengan baik dan didukung sistem yang transparan dapat menjadi motor penggerak kesejahteraan. Dampak Sosial dan Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Keberhasilan ekonomi ini memiliki efek domino yang positif pada aspek sosial kemasyarakatan. Dengan adanya lahan tebu yang luas dan membutuhkan perawatan serta pemanenan, penyerapan tenaga kerja muda lokal meningkat pesat. Ribuan warga, baik pria maupun wanita, kini memiliki pekerjaan musiman atau bahkan permanen, mengurangi angka pengangguran yang sebelumnya menjadi masalah serius di desa. Menurut data internal pemerintah desa, dalam lima tahun terakhir, angka pengangguran usia produktif di Beringin Jaya telah menurun lebih dari 40%. Peningkatan kesejahteraan dan ketersediaan lapangan kerja juga berkorelasi positif dengan menurunnya angka kriminalitas. Masyarakat yang memiliki pendapatan stabil dan pekerjaan yang jelas cenderung tidak terlibat dalam tindakan kriminal. Laporan kepolisian setempat mencatat penurunan signifikan dalam kasus pencurian, kenakalan remaja, dan konflik sosial di Beringin Jaya sejak lima tahun terakhir, dengan rata-rata penurunan sekitar 25-30% per tahun. Lingkungan sosial menjadi lebih kondusif dan harmonis, menciptakan desa yang lebih aman dan nyaman untuk ditinggali. Kronologi Perluasan dan Tantangan Menuju Lumbung Gula Nasional Visi untuk menjadikan Dompu sebagai salah satu sentra tebu nasional bukanlah hal baru. Potensi lahan yang subur di sekitar Gunung Tambora, didukung iklim yang mendukung, telah lama diidentifikasi sebagai aset berharga. Namun, realisasi potensi ini masih dihadapkan pada sejumlah tantangan struktural dan kebijakan. Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Pekat, Mukhtar, menjelaskan bahwa saat ini luas lahan kemitraan tebu di Dompu baru mencapai sekitar 3.200 hektare. Untuk mencapai target Dompu sebagai kawasan tebu nasional yang signifikan, diperlukan perluasan lahan kemitraan hingga 10.000-11.000 hektare. Angka ini menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang sangat besar. Perluasan lahan tersebut, menurut Mukhtar, tidak bisa dilepaskan dari penyelesaian masalah klasik yang dihadapi petani, terutama di daerah terpencil. "Tantangan utama ke depan adalah keterbatasan alat mesin pertanian (alsintan) seperti traktor pembajak, ketersediaan bibit unggul yang bersertifikat, serta sulitnya akses kredit perbankan bagi petani pemula," jelas Mukhtar. Keterbatasan alsintan menyebabkan proses pengolahan lahan menjadi tidak efisien dan memakan waktu lama, padahal waktu tanam yang tepat sangat krusial untuk produktivitas. Ketersediaan bibit unggul dan berkualitas juga menjadi penentu hasil panen. Tanpa bibit yang baik, upaya petani akan sia-sia. Sementara itu, akses ke perbankan sering terhambat oleh persyaratan agunan yang sulit dipenuhi petani kecil atau prosedur yang rumit. Kritik Terhadap Kebijakan dan Infrastruktur Pemerintah Di balik "manisnya" pendapatan, petani di Beringin Jaya masih merasakan "getir" akibat minimnya dukungan infrastruktur dan perhatian serius dari pemerintah. Firman, Kepala Desa Beringin Jaya, menyuarakan kekecewaan yang mendalam terhadap kondisi jalan usaha tani yang buruk. "Jalan-jalan menuju kebun kami banyak yang rusak parah, berlumpur saat hujan, dan berdebu saat kemarau. Ini menghambat distribusi hasil panen, membuat biaya transportasi mahal, dan bahkan sering menyebabkan hasil panen rusak di jalan," keluh Firman. Kondisi ini secara langsung memangkas keuntungan petani dan memperlambat proses logistik pabrik gula. Selain infrastruktur, Firman juga mengkritik keras mekanisme distribusi bantuan bibit dan pupuk dari pemerintah. Menurutnya, bantuan tersebut seringkali tidak tepat sasaran, baik dari segi jenis komoditas, jumlah, maupun waktu penyaluran. Lebih parah lagi, bantuan seringkali hanya menjadi formalitas dokumentasi semata, tanpa realisasi nyata di lapangan. "Kami sering melihat program bantuan yang hanya bagus di atas kertas, tapi barangnya tidak sampai ke petani atau kalaupun sampai, jumlahnya tidak sesuai kebutuhan. Ini merugikan petani dan membuat mereka apatis terhadap program pemerintah," tegas Firman. Fenomena ini menunjukkan adanya disonansi antara kebijakan di tingkat pusat/daerah dengan implementasi di tingkat lapangan. Tanggapan dan Harapan dari Berbagai Pihak Menyikapi kritik dan tantangan ini, Pemerintah Kabupaten Dompu, melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan, diharapkan dapat mengambil langkah konkret. Kepala Dinas Pertanian Dompu (nama pejabat disesuaikan jika ada), dalam berbagai kesempatan, seringkali menekankan komitmen pemerintah daerah untuk meningkatkan sektor pertanian. "Kami menyadari bahwa infrastruktur pertanian, terutama jalan usaha tani, masih menjadi pekerjaan rumah. Anggaran terus kami alokasikan untuk perbaikan, meskipun terkendala keterbatasan dana," ujarnya. Terkait distribusi bantuan, ia berjanji akan terus melakukan evaluasi dan pengawasan agar bantuan tepat sasaran dan memberikan dampak maksimal. Pemerintah juga berupaya menjalin komunikasi dengan perbankan untuk mempermudah akses kredit bagi petani melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan skema yang lebih fleksibel. Di sisi lain, Mukhtar, Koordinator PPL Kecamatan Pekat, kembali menekankan pentingnya sinergi yang jujur dan berkelanjutan antara pemerintah, perusahaan mitra, dan masyarakat desa. "Potensi Dompu untuk menjadi lumbung gula nasional sangat besar. Namun, ini tidak bisa diwujudkan jika masing-masing pihak berjalan sendiri-sendiri. Harus ada komitmen bersama, transparansi, dan evaluasi berkala untuk memastikan program berjalan sesuai rencana dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani," katanya. Pihak perusahaan mitra juga diharapkan dapat lebih proaktif dalam membantu petani mengatasi kendala teknis dan finansial, misalnya dengan menyediakan alsintan secara sewa atau memfasilitasi pengadaan bibit unggul. Implikasi Lebih Luas: Keberlanjutan dan Ketahanan Pangan Nasional Keberhasilan Beringin Jaya adalah cerminan potensi besar yang dimiliki Dompu dan daerah-daerah pertanian lainnya di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa dengan komoditas yang tepat, sistem kemitraan yang adil, dan pengelolaan yang baik, masyarakat petani dapat mencapai kemandirian ekonomi. Namun, kisah Beringin Jaya juga menjadi pengingat bahwa potensi ini tidak akan terwujud sepenuhnya tanpa kehadiran nyata negara dalam membenahi infrastruktur dasar dan memastikan kebijakan yang berpihak pada petani. Jika Dompu berhasil memperluas lahan tebu hingga target 10.000-11.000 hektare, kontribusinya terhadap swasembada gula nasional akan sangat signifikan. Indonesia, sebagai negara dengan konsumsi gula yang tinggi, masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan domestik dari produksi dalam negeri. Peningkatan produksi tebu di Dompu akan membantu mengurangi ketergantungan pada impor, memperkuat ketahanan pangan nasional, dan menciptakan stabilitas harga di pasar. Namun, keberlanjutan sektor ini juga harus memperhatikan aspek lingkungan. Praktik pertanian tebu yang berkelanjutan, penggunaan pupuk dan pestisida yang bijak, serta pengelolaan limbah pabrik gula yang ramah lingkungan, adalah faktor-faktor penting yang harus diintegrasikan dalam setiap kebijakan dan program. Hanya dengan pendekatan holistik yang mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, "manisnya" tebu di kaki Tambora dapat terus dinikmati oleh generasi-generasi mendatang, dan Dompu benar-benar dapat menjadi mercusuar bagi pertanian tebu di Indonesia. Post navigation Kunjungan Kerja Kapolda NTB Perkuat Sinergi, Integritas, dan Komitmen Pelayanan Publik di Polres Dompu