Penyelenggaraan wisuda bersama ke-XIII tahun akademik 2025/2026 yang melibatkan tiga institusi pendidikan tinggi di bawah naungan Yayasan Maraqitta’limat menjadi momentum krusial bagi pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebanyak 460 lulusan dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Hamzar, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hamzar, serta Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Hamzar resmi dikukuhkan dalam prosesi khidmat yang berlangsung di Mataram pada Senin, 24 Agustus. Acara ini bukan sekadar seremoni akademik tahunan, melainkan representasi dari kontribusi berkelanjutan yayasan dalam menyediakan tenaga profesional di sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi syariah yang sangat dibutuhkan oleh daerah.

Kehadiran tokoh-tokoh penting dalam acara tersebut mempertegas legitimasi dan signifikansi acara ini bagi dunia pendidikan tinggi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara. Hadir secara langsung Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VIII, I Gusti Lanang Bagus Eratodi, yang memberikan pendampingan serta pengawasan terhadap standar mutu akademik. Selain itu, Asisten I Setda NTB, Fathul Gani, turut hadir mewakili Pemerintah Provinsi NTB, bersama jajaran civitas akademika, tamu undangan dari berbagai instansi, serta para orang tua dan wali wisudawan yang memadati ruang prosesi.

Rincian Demografi dan Distribusi Lulusan Berdasarkan Program Studi

Secara statistik, jumlah lulusan kali ini didominasi oleh bidang pendidikan dan kesehatan, mencerminkan fokus utama Yayasan Maraqitta’limat dalam menjawab tantangan layanan dasar di masyarakat. STIKES Hamzar menyumbangkan jumlah lulusan yang signifikan di sektor kesehatan. Tercatat sebanyak 108 lulusan berasal dari Program Studi (Prodi) S-1 Ilmu Keperawatan jalur reguler, ditambah 19 orang dari jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Sementara itu, dari Prodi S-1 Pendidikan Bidan, terdapat 40 lulusan jalur reguler dan 66 lulusan jalur RPL. Tingginya angka lulusan RPL menunjukkan komitmen institusi dalam memfasilitasi tenaga kesehatan yang sudah bekerja untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan mereka sesuai standar regulasi terbaru.

Di sektor pendidikan, STKIP Hamzar meluluskan total 215 wisudawan. Distribusinya mencakup 54 lulusan dari Prodi S-1 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan 161 lulusan dari Prodi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Angka ini sangat krusial mengingat kebutuhan akan tenaga pendidik profesional di tingkat dasar masih menjadi prioritas dalam peta jalan pendidikan di NTB. Sementara itu, STEI Hamzar meluluskan 12 mahasiswa dari Prodi S-1 Perbankan Syariah, sebuah bidang yang terus berkembang seiring dengan meningkatnya literasi keuangan syariah di Indonesia.

Pencapaian Akademik dan Daftar Lulusan Terbaik

Kualitas akademik para wisudawan tercermin dari raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang sangat kompetitif. Pada Prodi S-1 PGSD Angkatan XI, predikat lulusan terbaik pertama disandang oleh Muhtamar Zan dengan IPK 3,91, disusul oleh Ropi Herlina (IPK 3,90) di posisi kedua, dan Hartika (IPK 3,89) di posisi ketiga. Prestasi luar biasa juga ditunjukkan pada Prodi S-1 PAUD, di mana Andi Pasigar meraih IPK hampir sempurna yakni 3,97, diikuti oleh Afifatul Azqia (IPK 3,96) dan Susana Aulia (IPK 3,95).

Di sektor ekonomi, Pebrian berhasil menjadi yang terbaik di Prodi S-1 Perbankan Syariah dengan IPK 3,91. Saofa Sabila mengamankan posisi kedua dengan IPK 3,76, dan Supini berada di posisi ketiga dengan IPK 3,75. Sementara itu, di bidang kesehatan, STIKES Hamzar mencatatkan sejumlah nama dengan predikat pujian (cum laude). Pada jalur reguler S-1 Ilmu Keperawatan, Arsada Falatansa memimpin dengan IPK 3,71, disusul Fita Laudiana (IPK 3,66) dan Muhammad Febrian Hidayat (IPK 3,63). Untuk jalur RPL Keperawatan, Puspita Asriani mencatat IPK 3,86, diikuti Nur Afwi Adriana dan Zaenal Basri Palaguna yang keduanya meraih IPK 3,82.

Sektor kebidanan juga menunjukkan prestasi gemilang. Rizka Safiyaharni menjadi lulusan terbaik S-1 Pendidikan Bidan reguler dengan IPK 3,95, diikuti Bq. Rabiatul Adawiyah (IPK 3,83) dan Ziaratul Aini (IPK 3,70). Pada jalur RPL Kebidanan, Nurhasanah meraih IPK tertinggi 3,97, sementara Diah Rosalia Firdaus dan Wulan Dyah Putri Virgosari sama-sama meraih IPK 3,95.

Visi Strategis Yayasan Maraqitta’limat dalam Pendidikan Modern

Ketua Dewan Pembina Yayasan Maraqitta’limat NTB, TGH Hazmi Hamzar, dalam pidatonya memberikan penekanan khusus pada filosofi pendidikan yang melampaui sekadar perolehan ijazah. Beliau menegaskan bahwa wisuda adalah pintu gerbang pengabdian yang sesungguhnya. Di tengah dinamika pasar kerja global yang kian kompetitif, lulusan Hamzar didorong untuk tidak hanya bergantung pada keilmuan spesifik mereka, tetapi juga memperkaya diri dengan inovasi dan keterampilan tambahan (soft skills).

Hazmi Hamzar menekankan pentingnya kemampuan adaptasi. Menurutnya, dunia saat ini tidak lagi tersekat oleh satu bidang keahlian saja. Seorang perawat atau guru harus memiliki literasi digital dan kemampuan wirausaha agar dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. "Lulusan harus memiliki inovasi dan skill di luar yang ia geluti. Pada intinya harus bisa bermanfaat untuk keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara," tegasnya di hadapan para wisudawan. Pesan ini mencerminkan visi yayasan untuk mencetak lulusan yang fleksibel dan mampu menjadi agen perubahan di daerah masing-masing.

Lulusan Hamzar Dituntut Hadir Beri Solusi di Masyarakat

Senada dengan hal tersebut, Ketua Yayasan Maraqitta’limat, H. M. Fadlurrahman, S.Kom., M.Pd., menyoroti kompleksitas dunia pendidikan yang terus berubah. Beliau mengingatkan bahwa gelar sarjana hanyalah awal dari proses belajar sepanjang hayat (long-life learning). Fadlurrahman menekankan bahwa tantangan di lapangan, terutama bagi tenaga kesehatan dan pendidik, akan jauh lebih dinamis dibandingkan teori di ruang kelas. Beliau mengajak para lulusan untuk menjaga integritas dan nama baik almamater melalui karya nyata yang menyentuh langsung perbaikan derajat hidup masyarakat.

Konteks Latar Belakang: Peran Institusi Hamzar di NTB

Yayasan Maraqitta’limat memiliki sejarah panjang dalam kancah dakwah dan pendidikan di Nusa Tenggara Barat. Berdirinya perguruan tinggi Hamzar merupakan respons terhadap disparitas akses pendidikan tinggi di wilayah tersebut, khususnya bagi masyarakat di pedesaan dan kelompok ekonomi menengah ke bawah. Dengan menempatkan kampus di lokasi yang strategis, yayasan ini telah berhasil memutus rantai hambatan geografis bagi ribuan pemuda NTB untuk meraih pendidikan tinggi.

STIKES Hamzar, misalnya, telah menjadi salah satu pilar penyokong tenaga kesehatan di NTB. Keberadaan program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) di institusi ini sangat krusial dalam mendukung kebijakan pemerintah pusat terkait standarisasi tenaga perawat dan bidan minimal berpendidikan sarjana dan profesi. Dengan memberikan kesempatan bagi para praktisi kesehatan senior untuk menempuh pendidikan formal tanpa harus meninggalkan pekerjaan mereka sepenuhnya, STIKES Hamzar secara langsung berkontribusi pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan di puskesmas dan rumah sakit daerah.

Di sisi lain, STKIP Hamzar memainkan peran vital dalam mengisi kekurangan guru kelas di SD dan guru PAUD. Mengingat NTB masih berupaya meningkatkan skor Indeks Pembangunan Manusia (IPM), ketersediaan guru yang kompeten dan tersertifikasi menjadi prasyarat mutlak. Lulusan PGSD dan PAUD dari STKIP Hamzar diharapkan mampu membawa metode pembelajaran yang lebih modern dan inklusif ke pelosok desa.

Analisis Implikasi dan Dampak Ekonomi-Sosial

Pengukuhan 460 lulusan baru ini membawa implikasi signifikan terhadap ekonomi dan sosial di Nusa Tenggara Barat. Pertama, dari perspektif ketenagakerjaan, penambahan ratusan tenaga profesional di bidang kesehatan dapat mempercepat pencapaian target-target kesehatan daerah, seperti penurunan angka stunting dan perbaikan kesehatan ibu dan anak. Para bidan dan perawat lulusan Hamzar seringkali merupakan putra daerah yang memiliki pemahaman mendalam tentang budaya lokal, sehingga komunikasi terapeutik dengan pasien dapat berjalan lebih efektif.

Kedua, di sektor ekonomi, 12 lulusan Perbankan Syariah dari STEI Hamzar hadir di saat yang tepat ketika industri keuangan syariah di NTB sedang berkembang pesat, didukung oleh konversi Bank NTB menjadi Bank NTB Syariah. Tenaga kerja yang memahami prinsip-prinsip ekonomi Islam sangat dibutuhkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi halal di wilayah yang dikenal dengan sebutan "Wisata Halal" ini.

Ketiga, keberhasilan para wisudawan meraih IPK tinggi menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di perguruan tinggi swasta di NTB tidak kalah bersaing dengan perguruan tinggi negeri. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan lokal. Dukungan dari LLDikti Wilayah VIII juga memastikan bahwa proses akademik yang dijalani telah memenuhi standar nasional pendidikan tinggi, sehingga ijazah yang diperoleh memiliki akuntabilitas yang kuat di mata pemberi kerja.

Tantangan Masa Depan: Inovasi di Era Disrupsi

Meskipun seremoni wisuda ini menandai sebuah kesuksesan, tantangan besar telah menanti di depan mata. Era disrupsi teknologi menuntut para lulusan untuk terus memperbarui kompetensi mereka. Bagi lulusan keguruan, kemampuan mengelola pembelajaran berbasis teknologi (EdTech) menjadi keharusan. Bagi lulusan kesehatan, penguasaan terhadap telemedisin dan teknologi medis terbaru akan menjadi nilai tambah.

Yayasan Maraqitta’limat menyadari hal ini dengan terus berupaya melakukan pengembangan kurikulum yang relevan. Kehadiran Asisten I Setda NTB, Fathul Gani, dalam acara tersebut juga mengisyaratkan adanya sinergi antara pemerintah daerah dan pihak swasta dalam menyelaraskan output pendidikan dengan kebutuhan pembangunan daerah. Pemerintah Provinsi NTB sangat mengandalkan peran perguruan tinggi swasta seperti institusi Hamzar untuk membantu mencetak tenaga kerja siap pakai yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter moral yang kuat sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh yayasan.

Melalui wisuda bersama ke-XIII ini, Yayasan Maraqitta’limat kembali membuktikan eksistensinya sebagai motor penggerak pendidikan di NTB. Dengan total 460 lulusan yang siap diterjunkan ke masyarakat, harapan untuk melihat NTB yang lebih maju, sehat, dan cerdas kini berada di pundak para wisudawan tersebut. Almamater telah memberikan bekal, namun dedikasi dan konsistensi di lapanganlah yang akan menentukan seberapa besar perubahan yang mampu mereka ciptakan bagi bangsa.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *