Prestasi gemilang di kancah internasional kembali ditorehkan oleh talenta muda Indonesia, kali ini datang dari ranah pendidikan kedokteran di Nusa Tenggara Barat. Tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR) sukses mengamankan posisi Juara II dalam ajang bergengsi World Innovation for Sustainability Essay Competition (WISEC) 2026. Kompetisi berskala global ini diselenggarakan oleh lembaga Cakap Riset yang berkolaborasi dengan Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), dengan tujuan menjaring ide-ide inovatif dari pemuda dunia untuk mendukung keberlanjutan masa depan.

Tim yang mengharumkan nama UNIZAR ini dipimpin oleh Ayom Pandu Prakoso, seorang alumni SMAN 1 Mataram, didampingi oleh dua anggota tim berbakat lainnya, yakni Diah Primadewi yang merupakan alumni MAN 2 Mataram, dan Sifa Salsabila Pratama, alumni SMAN 6 Mataram. Keberhasilan mereka dalam ajang ini tidak hanya menjadi pembuktian kualitas akademik mahasiswa lokal di kancah internasional, tetapi juga memberikan solusi konkret terhadap isu sosial yang sangat krusial di wilayah Nusa Tenggara Barat, yakni tingginya angka pernikahan dini.

Inovasi Y-CLIC: Jawaban Atas Krisis Sosial di Nusa Tenggara Barat

Dalam kompetisi yang mengusung tema besar "From Local Ideas to Global Impact: Empowering Youth as Innovation Catalysts for a Sustainable Future," tim FK UNIZAR mempresentasikan sebuah gagasan orisinal yang diberi nama Y-CLIC. Nama tersebut merupakan akronim dari Youth Community Learning & Certification Model To Prevent Early Marriage Through Contextual Life Skills Education. Model ini dirancang sebagai sistem pembelajaran berbasis komunitas yang terstruktur untuk memberikan edukasi kecakapan hidup secara kontekstual kepada para remaja.

Gagasan ini muncul dari keprihatinan mendalam terhadap data pernikahan dini di Nusa Tenggara Barat (NTB). Berdasarkan data historis dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) NTB, provinsi ini secara konsisten berada di jajaran wilayah dengan angka dispensasi nikah yang cukup tinggi di Indonesia. Faktor ekonomi, budaya, dan rendahnya pemahaman mengenai kesehatan reproduksi seringkali menjadi pemicu utama fenomena ini.

Y-CLIC hadir dengan pendekatan yang berbeda dari penyuluhan konvensional. Program ini mengintegrasikan pendidikan kesehatan dengan pengembangan keterampilan hidup (life skills). Melalui model ini, remaja tidak hanya diajarkan tentang risiko medis dari pernikahan di usia anak, seperti ancaman stunting pada keturunan atau risiko kematian ibu, tetapi juga dibekali dengan kemampuan pengambilan keputusan, komunikasi asertif, dan literasi finansial dasar. Komponen "Certification" atau sertifikasi dalam model ini bertujuan untuk memberikan rekognisi resmi bagi remaja yang telah menyelesaikan modul pembelajaran, sehingga meningkatkan kepercayaan diri dan nilai tawar mereka di lingkungan sosial maupun profesional di masa depan.

Kronologi Perjalanan Menuju Podium Internasional

Perjalanan tim FK UNIZAR menuju kemenangan di WISEC 2026 dimulai sejak awal tahun. Pada Februari 2026, dorongan awal datang dari salah satu dosen FK UNIZAR, Ayu Anulus, SST., M.K.M., yang melihat potensi besar dalam gagasan yang dimiliki oleh Ayom dan rekan-rekannya. Mengingat kompetisi ini dilakukan dalam bahasa Inggris secara penuh, tim kemudian mendapatkan bimbingan intensif dari drg. Sabrina Intan Zoraya, M.K.M., yang memiliki kompetensi luas dalam penulisan ilmiah internasional dan kesehatan masyarakat.

Proses bimbingan dilakukan secara berkala di lingkungan kampus, mencakup tahap pencarian literatur, penyusunan scientific paper, hingga simulasi presentasi. Tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah bagaimana menerjemahkan isu lokal yang sangat spesifik ke dalam kerangka berpikir global yang sesuai dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs). Mereka harus memastikan bahwa solusi yang ditawarkan tidak hanya relevan untuk masyarakat NTB, tetapi juga memiliki potensi untuk diadaptasi oleh wilayah lain di dunia yang menghadapi tantangan serupa.

Memasuki bulan Mei 2026, kompetisi memasuki tahap seleksi ketat. WISEC 2026 diselenggarakan secara hybrid untuk mengakomodasi peserta dari berbagai negara. Babak seleksi daring dilaksanakan pada 16–17 Mei 2026 melalui platform Zoom Meeting. Dalam tahap ini, tim harus bersaing dengan ratusan peserta dari berbagai tingkatan, mulai dari mahasiswa perguruan tinggi ternama hingga pelajar sekolah menengah yang memiliki inovasi canggih. Keuletan tim FK UNIZAR membuahkan hasil saat mereka diumumkan masuk ke dalam jajaran 20 tim terbaik yang berhak maju ke babak finalis.

Puncak acara dijadwalkan berlangsung secara luring di Yogyakarta pada 27–28 Juni 2026. Dalam sesi presentasi final, para juri yang terdiri dari pakar keberlanjutan dan akademisi internasional memberikan apresiasi tinggi terhadap kedalaman riset dan aplikabilitas model Y-CLIC yang diajukan oleh Ayom dan timnya.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNIZAR Raih Juara II Internasional di Ajang WISEC 2026 Angkat Isu Pernikahan Dini di NTB

Reaksi dan Harapan dari Para Pemenang

Ketua tim, Ayom Pandu Prakoso, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari kerja keras kolektif dan dukungan penuh dari institusi. Dalam wawancara di Ruang Sekretariat Fakultas Kedokteran UNIZAR, Ayom menekankan bahwa motivasi utama mereka bukan sekadar meraih trofi, melainkan menyuarakan isu-isu mendesak dari daerah asal mereka di forum dunia.

"Alhamdulillah, kami sangat bersyukur. Ini bukan hanya soal prestasi, tetapi bagaimana kami bisa membawa permasalahan nyata di NTB ke forum internasional dan menawarkan solusi yang relevan. Kami harus membagi waktu dengan sangat ketat antara jadwal perkuliahan kedokteran yang padat dan persiapan lomba. Dukungan dosen pembimbing dan Fakultas Kedokteran UNIZAR sangat krusial dalam perjalanan ini," ujar Ayom.

Sifa Salsabila Pratama menambahkan bahwa program Y-CLIC yang mereka gagas sangat selaras dengan program pemerintah seperti Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). Ia berharap inovasi ini dapat disinergikan dengan kebijakan publik untuk menekan angka pernikahan dini secara signifikan. Fokus pada kesehatan remaja dan pendidikan kontekstual menjadi pilar utama yang mereka tawarkan untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.

Senada dengan rekan-rekannya, Diah Primadewi menyoroti pentingnya kolaborasi antara akademisi dan praktisi di lapangan. Menurutnya, draf scientific paper yang mereka susun telah melalui proses validasi ide yang matang bersama dosen pembimbing, sehingga siap untuk diuji coba dalam skala pilot di masyarakat.

Analisis Implikasi: Dampak Inovasi Terhadap Keberlanjutan Daerah

Keberhasilan mahasiswa FK UNIZAR di WISEC 2026 memiliki implikasi yang luas, baik bagi institusi maupun bagi upaya penanganan isu sosial di Nusa Tenggara Barat. Secara akademis, prestasi ini memperkokoh posisi UNIZAR sebagai perguruan tinggi swasta pionir di wilayah timur Indonesia, khususnya dalam bidang kedokteran. Kemampuan mahasiswa untuk bersaing di level internasional menunjukkan bahwa kurikulum dan pola pembinaan di UNIZAR mampu mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kemampuan inovasi yang tinggi.

Dari sisi kesehatan masyarakat, model Y-CLIC menawarkan strategi preventif yang berkelanjutan. Pernikahan dini merupakan akar dari berbagai masalah kesehatan jangka panjang. Ibu yang melahirkan di usia remaja memiliki risiko komplikasi persalinan yang lebih tinggi, sementara anak yang dilahirkan memiliki risiko stunting yang jauh lebih besar akibat ketidaksiapan nutrisi dan pola asuh. Dengan mengedukasi remaja melalui pendekatan komunitas, Y-CLIC berpotensi memutus rantai kemiskinan dan rendahnya kualitas kesehatan yang seringkali mengikuti fenomena pernikahan usia anak.

Selain itu, kemenangan ini menjadi bukti bahwa pemuda dapat menjadi katalisator perubahan (innovation catalysts). Dalam konteks SDGs, inovasi ini mendukung beberapa poin penting, antara lain:

  1. SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Mengurangi angka kematian ibu dan bayi melalui pencegahan kehamilan remaja.
  2. SDG 4 (Pendidikan Berkualitas): Memberikan akses pendidikan keterampilan hidup yang seringkali tidak terakomodasi dalam kurikulum formal.
  3. SDG 5 (Kesetaraan Gender): Memberdayakan remaja perempuan untuk memiliki kontrol atas masa depan dan pilihan hidup mereka sendiri.

Komitmen UNIZAR dalam Mencetak Generasi Unggul

Pihak universitas menyatakan kebanggaannya atas pencapaian ini. Sebagai kampus yang mengusung nilai-nilai Islam Rahmatan lil ‘alamin, UNIZAR terus berupaya menciptakan lingkungan akademik yang menyeimbangkan antara penguasaan ilmu pengetahuan (IPTEK) dengan nilai-nilai iman dan amal. Prestasi di WISEC 2026 dianggap sebagai implementasi nyata dari visi tersebut, di mana ilmu kedokteran digunakan untuk kemaslahatan masyarakat luas.

Ke depannya, pihak fakultas dan universitas berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan inovasi mahasiswa agar tidak berhenti di atas kertas atau sekadar kompetisi. Ada harapan besar bahwa model Y-CLIC dapat diimplementasikan sebagai proyek percontohan di beberapa desa di NTB, bekerja sama dengan pemerintah daerah dan organisasi non-pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang perlindungan anak dan perempuan.

Dengan keberhasilan ini, mahasiswa FK UNIZAR telah membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan menjadi penghalang untuk berprestasi di panggung dunia. Mereka telah menunjukkan bahwa gagasan lokal, jika dikemas dengan riset yang kuat dan narasi yang tepat, mampu memberikan dampak global yang signifikan bagi masa depan yang lebih berkelanjutan. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa di Indonesia untuk terus berinovasi dan berani membawa solusi atas permasalahan bangsa ke tingkat internasional.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *