Desa Beringin Jaya, yang terletak di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, kini menjadi mercusuar harapan ekonomi baru bagi masyarakat di lereng megah Gunung Tambora. Hamparan perkebunan tebu yang menghijau telah menggantikan dominasi jambu mete yang sempat lesu, membawa angin segar kesejahteraan yang terasa hingga ke sendi-sendi kehidupan sosial, bahkan memampukan warga menunaikan ibadah umrah dan mendorong pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Namun, di balik kisah sukses lokal ini, tantangan infrastruktur yang memprihatinkan dan efektivitas dukungan pemerintah yang masih dipertanyakan, mengancam ambisi Dompu untuk menjadi salah satu lumbung gula nasional. Transisi Dramatis: Dari Jambu Mete Menuju Emas Hijau Tebu Pergeseran komoditas utama di Beringin Jaya bukanlah tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, jambu mete menjadi tulang punggung perekonomian lokal. Namun, dalam dekade terakhir, sektor ini menghadapi pukulan telak. Serangan hama yang masif, ditambah fluktuasi harga pasar yang tidak menentu, membuat petani jambu mete terpuruk dalam ketidakpastian ekonomi. Banyak lahan yang produktivitasnya menurun drastis, menyebabkan pendapatan petani merosot tajam dan mengikis daya beli masyarakat. Kondisi ini memicu kebutuhan mendesak akan diversifikasi pertanian yang lebih stabil dan menguntungkan. Dalam pencarian solusi, tebu muncul sebagai alternatif menjanjikan. Dengan dukungan iklim mikro di kaki Tambora yang ideal untuk budidaya tebu, serta potensi pasar yang besar mengingat defisit gula nasional, para petani mulai beralih. Proses transisi ini, yang diperkirakan terjadi secara signifikan dalam lima hingga tujuh tahun terakhir, melibatkan adaptasi pengetahuan dan keterampilan baru. Kepala Desa Beringin Jaya, Firman, mengungkapkan bahwa budidaya tebu memiliki daya tarik kuat karena perawatannya yang relatif lebih mudah dibandingkan jambu mete, namun menawarkan profitabilitas yang jauh lebih stabil dan substansial. Kemudahan perawatan ini mengurangi risiko kegagalan panen dan meminimalkan biaya operasional jangka panjang, faktor-faktor krusial bagi petani kecil. Kesejahteraan yang Terukur dan Dampak Sosial Positif Keberhasilan tebu sebagai komoditas utama telah secara langsung meningkatkan taraf hidup masyarakat Beringin Jaya. Data menunjukkan bahwa petani tebu di desa ini mampu meraih pendapatan bersih antara Rp30 juta hingga Rp35 juta per hektare setiap musim panen. Angka ini jauh melampaui pendapatan yang bisa diperoleh dari jambu mete pada masa-masa sulitnya. Kestabilan finansial ini diperkuat oleh sistem pembayaran langsung ke rekening petani (by name, by account) oleh perusahaan mitra. Mekanisme ini tidak hanya memastikan transparansi, tetapi juga meminimalisir risiko penipuan atau jeratan utang rentenir, yang seringkali menjadi momok bagi petani di daerah lain. Sistem pembayaran yang efisien ini memberikan petani kepastian dan kontrol penuh atas hasil jerih payah mereka. Dampak ekonomi ini merembet ke berbagai aspek sosial. Firman dengan bangga menyatakan, “Setiap tahun belasan hingga puluhan warga bisa umrah. Pendidikan anak-anak pun meningkat hingga jenjang perguruan tinggi.” Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan nyata dari kemampuan ekonomi warga untuk berinvestasi pada spiritualitas dan masa depan generasi penerus. Biaya pendidikan yang dulu menjadi beban berat kini lebih terjangkau, membuka akses bagi anak-anak desa untuk mengejar impian akademik mereka. Peningkatan pendidikan ini diperkirakan akan menciptakan sumber daya manusia yang lebih berkualitas di masa depan, mendorong inovasi dan pembangunan berkelanjutan di desa. Selain itu, geliat ekonomi tebu juga menciptakan lapangan kerja yang signifikan. Banyak pemuda desa yang kini terserap sebagai tenaga kerja di sektor pertanian tebu, baik sebagai buruh tanam, pemelihara, maupun pemanen. Penyerapan tenaga kerja muda ini secara langsung berkorelasi dengan menurunnya angka kriminalitas di desa. Ketika pemuda memiliki pekerjaan dan penghasilan yang layak, motivasi untuk terlibat dalam kegiatan negatif berkurang drastis, menciptakan lingkungan desa yang lebih aman dan kondusif. Ini adalah contoh konkret bagaimana pembangunan ekonomi yang inklusif dapat menjadi fondasi bagi stabilitas sosial. Tantangan Pahit di Balik Manisnya Panen: Infrastruktur dan Bantuan yang Mangkrak Meski cerita sukses Beringin Jaya begitu menginspirasi, petani tebu di sana masih menghadapi serangkaian tantangan yang terasa "pahit." Kendala utama yang terus menghantui adalah minimnya dukungan infrastruktur, khususnya akses jalan usaha tani. Jalan-jalan yang rusak parah dan berlumpur, terutama saat musim hujan, sering kali menghambat proses distribusi hasil panen. Truk-truk pengangkut tebu harus berjuang melewati medan yang sulit, memperlambat pengiriman ke pabrik, meningkatkan biaya transportasi, dan bahkan berpotensi merusak hasil panen. Firman menggarisbawahi bahwa kondisi jalan yang buruk ini tidak hanya merugikan petani secara finansial, tetapi juga menghabiskan waktu dan tenaga yang seharusnya bisa dialokasikan untuk aktivitas produktif lainnya. Selain masalah infrastruktur, Firman juga melayangkan kritik keras terhadap distribusi bantuan bibit dan pupuk dari pemerintah. Menurutnya, bantuan seringkali tidak tepat sasaran atau hanya sekadar menjadi formalitas dokumentasi tanpa realisasi nyata di lapangan. Pernyataan ini mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara perencanaan di tingkat atas dengan implementasi di tingkat petani. Bibit yang tidak sesuai jenis, jumlah yang tidak memadai, atau pupuk yang datang terlambat dari jadwal tanam, dapat secara signifikan mengurangi efektivitas bantuan. Praktik semacam ini tidak hanya merugikan petani tetapi juga mencederai kepercayaan mereka terhadap program pemerintah, menciptakan kesenjangan antara kebijakan dan kebutuhan riil di lapangan. Kehilangan kepercayaan ini dapat menghambat partisipasi petani dalam program-program pembangunan pertanian di masa mendatang. Ambisi Dompu sebagai Kawasan Tebu Nasional: Peluang dan Hambatan Visi untuk menjadikan Dompu sebagai kawasan tebu nasional adalah ambisi besar yang membutuhkan dukungan menyeluruh dari berbagai pihak. Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Pekat, Mukhtar, menjelaskan bahwa untuk mewujudkan cita-cita ini, diperlukan perluasan lahan kemitraan tebu secara signifikan. Dari luasan saat ini yang baru mencapai sekitar 3.200 hektare, Dompu membutuhkan ekspansi hingga 10.000-11.000 hektare. Target perluasan ini mencerminkan potensi lahan yang masih sangat luas di Dompu, khususnya di wilayah sekitar Tambora, yang cocok untuk budidaya tebu. Namun, pencapaian target ini tidak akan mudah tanpa penyelesaian masalah-masalah mendasar. Mukhtar mengidentifikasi beberapa tantangan utama yang harus diatasi ke depan. Pertama, keterbatasan alat mesin pertanian (alsintan) seperti traktor pembajak. Proses pengolahan lahan tebu membutuhkan alsintan yang memadai untuk efisiensi dan skala produksi yang besar. Tanpa alsintan yang cukup, petani masih bergantung pada metode tradisional yang memakan waktu dan tenaga, sehingga menghambat peningkatan produktivitas dan perluasan lahan. Kedua, ketersediaan bibit tebu unggul. Bibit berkualitas adalah fondasi bagi hasil panen yang optimal. Pasokan bibit yang terbatas atau kualitasnya yang meragukan dapat mengganggu rencana ekspansi dan menurunkan potensi keuntungan petani. Ketiga, sulitnya akses kredit perbankan bagi petani pemula. Bank seringkali enggan menyalurkan kredit kepada petani kecil atau pemula karena dianggap memiliki risiko tinggi, kurangnya jaminan, atau tidak memiliki rekam jejak keuangan yang kuat. Keterbatasan akses modal ini menjadi penghalang besar bagi petani yang ingin memulai atau mengembangkan usaha tebu mereka. Tantangan-tantangan ini menunjukkan bahwa meskipun potensi lahan dan semangat petani sangat besar, sistem pendukung di tingkat industri dan kebijakan masih memiliki banyak celah. Kegagalan dalam mengatasi masalah alsintan, bibit, dan kredit dapat menghambat laju pertumbuhan sektor tebu di Dompu, membuat ambisi "lumbung gula nasional" hanya menjadi mimpi di siang bolong. Urgensi Sinergi Multisektoral untuk Keberlanjutan Mukhtar menekankan perlunya sinergi yang "jujur" antara pemerintah, perusahaan mitra, dan desa. Kata "jujur" di sini menyiratkan kebutuhan akan transparansi, akuntabilitas, dan komitmen nyata dari semua pihak untuk bekerja sama demi kemajuan petani. Sinergi yang jujur berarti tidak ada lagi bantuan yang mangkrak, tidak ada lagi proyek infrastruktur yang setengah hati, dan tidak ada lagi kebijakan yang hanya menguntungkan satu pihak. Pemerintah harus berperan aktif dalam menyediakan infrastruktur dasar, memfasilitasi akses modal, dan memastikan distribusi bantuan yang efektif. Perusahaan mitra harus menjaga kemitraan yang adil, memberikan harga yang kompetitif, dan memastikan keberlanjutan pasokan bibit serta pendampingan teknis. Sementara itu, desa harus proaktif dalam mengidentifikasi kebutuhan petani dan menjadi jembatan komunikasi yang efektif dengan pihak lain. Keberhasilan Beringin Jaya adalah bukti nyata bahwa kekuatan lokal mampu membawa perubahan besar. Transformasi dari keterpurukan jambu mete ke kejayaan tebu adalah kisah ketahanan dan adaptasi yang patut dicontoh. Namun, keberlanjutan status Dompu sebagai lumbung gula nasional sangat bergantung pada kehadiran nyata negara. Perbaikan infrastruktur yang mendesak, seperti jalan usaha tani, harus menjadi prioritas utama. Kebijakan yang lebih berpihak pada petani, termasuk kemudahan akses kredit dan sistem distribusi bantuan yang transparan dan tepat sasaran, juga krusial. Selain itu, investasi dalam penelitian dan pengembangan bibit unggul serta mekanisasi pertanian modern akan meningkatkan daya saing dan produktivitas petani Dompu di tingkat nasional. Proyeksi Masa Depan dan Rekomendasi Kebijakan Jika tantangan-tantangan yang ada dapat diatasi secara komprehensif, masa depan sektor tebu di Dompu sangat cerah. Dengan perluasan lahan yang signifikan dan dukungan infrastruktur yang memadai, Dompu berpotensi besar untuk menjadi salah satu pilar utama dalam upaya Indonesia mencapai swasembada gula. Peningkatan produksi gula nasional akan mengurangi ketergantungan pada impor, menghemat devisa negara, dan memperkuat ketahanan pangan. Secara lokal, ini berarti lebih banyak lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan, dan penguatan ekonomi pedesaan yang berdampak positif pada pembangunan daerah secara keseluruhan. Untuk mewujudkan potensi ini, beberapa rekomendasi kebijakan dapat dipertimbangkan. Pertama, alokasi anggaran khusus untuk perbaikan dan pembangunan jalan usaha tani di sentra-sentra produksi tebu, dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat desa dalam perencanaan dan pengawasan. Kedua, revitalisasi sistem penyaluran bantuan pertanian dengan pendekatan berbasis data, memastikan setiap bantuan bibit dan pupuk sampai kepada petani yang berhak, tepat waktu, dan sesuai kebutuhan. Ketiga, fasilitasi skema kredit pertanian yang mudah diakses dan berjangka panjang bagi petani tebu, mungkin melalui program KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan skema khusus untuk komoditas tebu atau melalui lembaga keuangan mikro desa. Keempat, pembentukan pusat pelatihan dan pendampingan teknis pertanian tebu yang berkelanjutan, mengajarkan praktik-praktik budidaya terbaik, penggunaan alsintan, dan manajemen pascapanen. Kisah Beringin Jaya adalah mikrokosmos dari potensi besar pertanian Indonesia. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, serta komitmen untuk mengatasi hambatan struktural, Dompu bisa menjadi model keberhasilan pembangunan pertanian yang berkelanjutan, memanen "emas hijau" tebu untuk kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa. (rl) Post navigation Kapolda NTB Kunjungi Polres Dompu, Tegaskan Profesionalisme, Integritas, dan Pelayanan Prima Melalui Pakta Integritas dan Bakti Sosial Manisnya Tebu Mengubah Wajah Desa Pekat: Kisah Sukses Petani di Kaki Gunung Tambora dan Kebangkitan Ekonomi Dompu