Dusun Aik Ampat, sebuah permata tersembunyi di Desa Pekat, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, kini memancarkan aura kemakmuran yang mencolok. Deretan rumah permanen berarsitektur modern, kokoh dengan dinding batu, berdiri megah di sepanjang jalan, berbanding terbalik dengan citra pedesaan tradisional. Di halaman-halaman yang tertata rapi, beragam kendaraan roda empat terparkir, menjadi simbol nyata dari peningkatan taraf hidup. Pemandangan ini, yang mungkin sekilas tidak lazim untuk sebuah kawasan pertanian di lereng gunung, sesungguhnya adalah manifestasi konkret dari manisnya buah komoditas tebu yang telah merevolusi tatanan sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Transformasi Ekonomi di Kaki Tambora Selama beberapa dekade, lanskap ekonomi Desa Pekat didominasi oleh pertanian jagung, sebuah komoditas yang meskipun vital, kerap kali dihadapkan pada tantangan fluktuasi harga, biaya operasional tinggi, dan kerentanan terhadap perubahan iklim. Namun, dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, sebuah gelombang perubahan besar telah melanda Pekat. Komoditas tebu, yang sebelumnya mungkin dianggap sebagai alternatif, kini telah menjadi primadona utama, mengubah total wajah desa dari pusat jagung menjadi salah satu episentrum perkebunan tebu paling progresif di Kabupaten Dompu. Setiap pagi, jalan-jalan usaha tani di Pekat hidup dengan hiruk pikuk aktivitas. Truk-truk pengangkut yang mengular, sarat dengan muatan tebu segar, hilir mudik menuju pabrik pengolahan. Di kejauhan, hamparan tebu hijau membentang luas, menutupi sebagian besar lahan pertanian yang kini menjadi tumpuan harapan baru bagi ribuan keluarga. Keberhasilan ini tidak datang secara kebetulan, melainkan hasil dari kombinasi faktor-faktor strategis, ketekunan petani, dan dukungan infrastruktur yang memadai. Keunggulan Komparatif Tebu: Sebuah Kalkulasi Bisnis yang Menggiurkan Kepala Desa Pekat, Sahlan, dengan bangga menceritakan lonjakan tren budidaya tebu yang telah memberikan dampak ekonomi masif. "Sebelumnya, mayoritas warga sangat bergantung pada komoditas jagung. Namun, kalkulasi bisnis yang lebih menjanjikan membuat para petani berbondong-bondong melirik tebu," ungkap Sahlan. Pergeseran ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan keputusan pragmatis yang didasarkan pada keunggulan komparatif tebu dibandingkan jagung. Salah satu daya tarik utama tebu adalah sistem panen berulang yang dikenal sebagai Ratoon Cane atau keprasan. Berbeda dengan jagung yang menuntut modal besar untuk pembelian benih baru dan pengolahan tanah setiap musim tanam, tebu cukup ditanam sekali dan dapat dipanen berkali-kali dari satu rumpun yang sama. Umumnya, satu kali tanam tebu dapat menghasilkan dua hingga tiga kali panen keprasan, bahkan di beberapa kasus bisa lebih. Ini berarti, petani dapat memangkas biaya produksi secara signifikan, terutama pada pos pengadaan benih dan persiapan lahan, yang bisa mencapai 30-40% dari total biaya awal. Selain efisiensi panen, biaya perawatan tanaman tebu juga jauh lebih rendah. Karakteristik tanaman tebu yang relatif tangguh menjadikannya lebih tahan terhadap fluktuasi cuaca ekstrem, seperti kekeringan ringan atau curah hujan tinggi, dibandingkan jagung yang lebih sensitif. Tebu tidak membutuhkan perawatan seintensif jagung, yang seringkali memerlukan pemupukan dan pengendalian hama penyakit yang lebih rumit dan mahal. "Petani melihat sendiri manfaatnya di lapangan. Tebu cukup sekali tanam, lalu bisa dipanen beberapa kali. Efisiensi inilah yang sebenarnya membuat roda ekonomi masyarakat melesat," tegas Sahlan, menggambarkan bagaimana keuntungan ini secara langsung meningkatkan pendapatan bersih petani. Sebuah studi komparatif menunjukkan bahwa pendapatan per hektar dari tebu bisa dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan jagung dalam siklus tanam yang sama, dengan margin keuntungan yang jauh lebih stabil. Dusun Aik Ampat: Epitome Keberhasilan Perubahan paling radikal dan nyata terlihat jelas di Dusun Aik Ampat. Sekitar 99 persen kepala keluarga di dusun ini kini menggantungkan hidupnya secara penuh sebagai petani tebu. Dusun ini menyimpan cerita historis yang kuat, yang menambah kedalaman narasi keberhasilan ini. Mayoritas warganya merupakan keturunan perantau asal daerah Aik Ampat di Pulau Lombok yang datang puluhan tahun silam, mencari penghidupan baru di tanah Sumbawa. Mereka adalah pionir yang berjuang membuka lahan di tengah keterbatasan, dengan modal minim dan hanya mengandalkan semangat juang. Memasuki generasi ketiga, keturunan perantau ini kini memetik hasil manis dari kerja keras dan visi jangka panjang para pendahulu mereka. Bangunan rumah sederhana dari kayu dan bambu yang menjadi saksi bisu perjuangan masa lalu, kini telah berganti menjadi rumah-rumah batu yang permanen, modern, dan dilengkapi fasilitas layak. Ini bukan sekadar perubahan fisik, melainkan simbol peningkatan kualitas hidup yang komprehensif, mencakup akses pendidikan yang lebih baik, kesehatan, dan kemampuan untuk berinvestasi pada masa depan keluarga. Peran Vital Infrastruktur Air: DAM Ombo Tonda sebagai Urat Nadi Keberhasilan budidaya tebu di Desa Pekat tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan infrastruktur air yang memadai. Keberadaan DAM Ombo Tonda menjadi urat nadi utama pertanian di Desa Pekat, memastikan pasokan air yang stabil sepanjang tahun. Tebu, meskipun tangguh, tetap membutuhkan irigasi yang cukup, terutama pada fase pertumbuhan awal. DAM Ombo Tonda, dengan kapasitas tampung dan jaringan irigasi primer serta sekunder yang luas, memungkinkan para petani tetap produktif mengelola lahan tanpa perlu cemas akan ancaman kekeringan, sebuah momok klasik bagi petani di wilayah kering. Pasokan air yang terjamin ini menjadi faktor krusial dalam menopang panen tebu yang berkelanjutan, bahkan memungkinkan penanaman di luar musim hujan, yang semakin memaksimalkan potensi pendapatan petani. Tanpa keberadaan DAM Ombo Tonda, skala dan keberlanjutan perkebunan tebu di Pekat mungkin tidak akan mencapai tingkat seperti sekarang. Ini menegaskan pentingnya investasi pemerintah dalam infrastruktur dasar untuk mendukung sektor pertanian. Diversifikasi dan Visi Masa Depan yang Berkelanjutan Meski tebu tengah menjadi primadona dan pendorong utama ekonomi, Desa Pekat tidak serta merta meninggalkan komoditas lama. Desa ini nyatanya masih memegang predikat sebagai produsen jagung terbesar di tingkat Kecamatan Pekat, menunjukkan strategi diversifikasi yang cerdas. Di samping itu, petani juga mengombinasikan lahan mereka untuk menanam padi, tembakau, sayur-sayuran, hingga tanaman hortikultura. Pendekatan ini mencerminkan kebijaksanaan lokal untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus mencari sumber pendapatan tambahan, serta mengurangi risiko ketergantungan pada satu komoditas saja. Pemerintah Desa Pekat kini melangkah lebih jauh dengan memanfaatkan momentum kesejahteraan ini untuk memperkenalkan program diversifikasi pangan yang lebih ambisius. Warga mulai didorong menanam pohon buah-buahan produktif bernilai jual tinggi seperti durian, manggis, dan rambutan di lahan-lahan mereka. Program ini bukan hanya tentang menambah variasi hasil pertanian, tetapi juga tentang menciptakan nilai tambah jangka panjang dan membuka potensi pasar baru. "Kalau sekarang orang mengenal Pekat karena tebu dan jagungnya, ke depan kami bermimpi dan sedang menyiapkan desa ini agar dikenal juga sebagai daerah penghasil buah-buahan bernilai jual tinggi," tutur Sahlan optimis, memproyeksikan Desa Pekat sebagai destinasi agrowisata dan pusat produksi buah-buahan premium di masa depan. Tantangan Infrastruktur dan Harapan Kemitraan Korporasi Di balik cerita sukses ini, tantangan tetap ada. Salah satu yang terbesar adalah pemeliharaan jalan logistik dan pembangunan fasilitas pendukung. Dengan menyusutnya anggaran dana desa, Pemdes Pekat menghadapi kendala dalam membiayai proyek-proyek vital. Tahun lalu, Pemdes Pekat berhasil membuka empat ruas jalan usaha tani baru demi mempermudah jalur distribusi panen tebu menuju jalan utama. Ini adalah langkah maju yang signifikan, memangkas waktu dan biaya transportasi bagi petani. Namun, pengerjaan fasilitas pendukung krusial seperti gorong-gorong dan jembatan penghubung kecil masih terhambat dana. Padahal, gorong-gorong dan jembatan ini sangat penting untuk memastikan kelancaran arus transportasi, terutama saat musim hujan, serta mencegah kerusakan jalan dan kecelakaan. "Kami membutuhkan dukungan lebih lanjut untuk memastikan infrastruktur pendukung ini terbangun dengan baik. Jalan yang baik adalah tulang punggung ekonomi pertanian kami," ujar Sahlan, menyoroti urgensi masalah ini. Terkait hal ini, Sahlan berharap ada intervensi dan kepedulian berkelanjutan dari pihak korporasi, khususnya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS), perusahaan produsen gula yang beroperasi di wilayah tersebut. PT SMS, sebagai pembeli utama hasil panen tebu dari petani Pekat, memiliki kepentingan langsung dalam kelancaran pasokan. Kemitraan strategis ini diharapkan dapat menjadi solusi konkret untuk mengatasi keterbatasan anggaran desa. Sejauh ini, hubungan kemitraan bisnis antara petani, perusahaan, pemerintah daerah, dan para wakil rakyat diakui berjalan dengan sangat harmonis, menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan. Dampak Regional: Pekat sebagai Episentrum Baru Tebu Dompu Manisnya keuntungan tebu di Desa Pekat kini mulai memicu efek domino yang meluas ke wilayah sekitarnya. Sejumlah desa lain di Kecamatan Pekat kini dilaporkan mulai masif mengadopsi budidaya tebu sebagai alternatif komoditas unggulan baru, mengikuti jejak sukses Desa Pekat. Beberapa desa yang kini ikut tumbuh menjadi basis hijau perkebunan tebu di antaranya adalah Desa Nangamiro, Desa Calabai, Desa Sorinomo, Desa Doropeti, Desa Kadindi Barat & Kadindi Timur, serta Desa Beringin Jaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan model pertanian tebu di Pekat telah terbukti dan direplikasi. Didukung dengan karakteristik ketersediaan lahan luas di Pulau Sumbawa serta pengembangan jaringan irigasi yang terus diperluas oleh pemerintah dan pihak terkait, Kecamatan Pekat kini resmi bertransformasi menjadi salah satu episentrum pertumbuhan industri tebu paling progresif di Kabupaten Dompu. Pertumbuhan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di sektor hulu hingga hilir, dari penanaman, pemanenan, transportasi, hingga pengolahan. Keberhasilan Desa Pekat dan sekitarnya mempertegas satu teori ekonomi pedesaan yang fundamental: ketika sektor pertanian hulu digarap dengan tepat, didukung oleh inovasi, infrastruktur memadai, dan kemitraan strategis, maka kesejahteraan masyarakat di hilir akan tumbuh bersamanya. Kisah Desa Pekat adalah bukti nyata bahwa dengan perencanaan yang matang dan implementasi yang efektif, sebuah komunitas pedesaan dapat mencapai kemakmuran yang signifikan, bahkan di tengah tantangan ekonomi global, sekaligus menjadi model inspiratif bagi daerah lain di Indonesia. Post navigation Manisnya Tebu di Kaki Tambora: Transformasi Ekonomi Beringin Jaya Menuju Lumbung Gula Nasional, Namun Terganjal Infrastruktur dan Dukungan Pemerintah Percepatan Diversifikasi Pertanian di Kaki Tambora: Tebu Jadi Harapan Baru di Tengah Tantangan Infrastruktur