Desa Tambora, sebuah permata subur yang terhampar luas di kaki megah Gunung Tambora, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, tengah mengalami transformasi agraria yang signifikan. Selama beberapa dekade, desa ini dikenal sebagai lumbung jagung dan kopi yang menjadi tulang punggung ekonomi sebagian besar warganya. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tanaman tebu mulai mencuri perhatian, muncul sebagai komoditas menjanjikan yang berpotensi mendongkrak kesejahteraan petani dan memperkaya lanskap pertanian lokal. Geliat diversifikasi ini, meskipun penuh harapan, juga diwarnai oleh tantangan klasik yang menghambat laju pembangunan pedesaan: minimnya infrastruktur jalan ekonomi yang memadai.

Pengembangan Tebu: Harapan Baru Ekonomi Lokal

Kepala Desa Tambora, Johansyah, menyoroti tren positif ini dalam sebuah wawancara baru-baru ini. Menurutnya, minat masyarakat untuk membudidayakan tebu terus tumbuh, meskipun luasan lahan yang didedikasikan untuk tanaman ini masih jauh lebih kecil dibandingkan jagung dan kopi yang sudah mapan. "Kalau tebu sudah ada sebagian masyarakat yang tanam. Variasi usaha tani di sini memang berbeda-beda tiap dusun," ujar Johansyah. Fenomena ini menunjukkan adaptasi petani terhadap dinamika pasar dan peluang baru yang muncul, sebuah indikasi ketangguhan dan inovasi dalam praktik pertanian mereka.

Pengembangan tebu tidak seragam di seluruh desa. Di Dusun Garuda, misalnya, petani mengintegrasikan penanaman jagung, kopi, dan tebu dalam satu pola tanam. Sementara di dusun-dusun lain, kombinasi perkebunan kopi, kakao, dan tebu disesuaikan dengan karakteristik lahan masing-masing. Fleksibilitas ini mencerminkan pemahaman mendalam petani Tambora tentang ekologi lokal dan upaya optimalisasi sumber daya yang mereka miliki. Diversifikasi ini juga merupakan respons proaktif terhadap fluktuasi harga komoditas utama, memberikan petani lebih banyak pilihan dan mengurangi risiko ketergantungan pada satu atau dua jenis tanaman saja.

Lanskap Pertanian Multikomoditas di Kaki Tambora

Karakteristik alam Desa Tambora memang sangat mendukung keragaman komoditas pertanian. Tanah vulkanik yang kaya unsur hara, sisa-sisa letusan dahsyat Gunung Tambora pada tahun 1815, telah menciptakan kondisi ideal untuk berbagai jenis tanaman. "Tanah kami di sini sangat mendukung. Banyak warga yang sukses dari hasil pertanian dan perkebunan," tegas Johansyah, menggarisbawahi potensi luar biasa yang dimiliki desanya.

Selain kopi dan jagung yang telah lama menjadi andalan dengan luasan mencapai ratusan hektare, petani Tambora juga merambah sektor hortikultura. Tanaman seperti durian, alpukat, jeruk, dan asam mulai dikembangkan, menambah daftar panjang komoditas unggulan desa. Pengembangan hortikultura ini tidak hanya memperkaya keanekaragaman hayati pertanian, tetapi juga membuka peluang pasar baru dan meningkatkan nilai ekonomi lahan. Durian dan alpukat, misalnya, memiliki nilai jual tinggi dan permintaan yang stabil di pasar lokal maupun regional, menjanjikan pendapatan yang lebih besar bagi petani.

Secara makro, sektor pertanian merupakan pilar utama ekonomi Kabupaten Dompu dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Data dari Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB menunjukkan bahwa jagung merupakan komoditas strategis dengan kontribusi signifikan terhadap PDRB. Pada tahun 2023, produksi jagung di NTB mencapai jutaan ton, menjadikan provinsi ini salah satu produsen jagung terbesar di Indonesia. Demikian pula dengan kopi, kopi Tambora dikenal memiliki cita rasa khas yang mulai merambah pasar khusus. Potensi tebu yang kini dilirik diharapkan dapat mengikuti jejak kesuksesan komoditas-komoditas pendahulunya, bahkan berpotensi mendukung program swasembada gula nasional.

Dukungan Industri dan Kemitraan Strategis

Optimisme Johansyah terhadap masa depan tebu di Tambora bukan tanpa alasan. Sebagian petani tebu di desa tersebut telah menjalin kerja sama pemasaran yang strategis dengan PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS), sebuah pabrik pengolahan tebu yang beroperasi di Kecamatan Pekat, tak jauh dari Desa Tambora. Kemitraan ini menjadi katalisator penting. PT SMS berperan sebagai penjamin pasar (off-taker) yang akan menyerap hasil panen tebu masyarakat, memberikan kepastian bagi petani dan menghilangkan salah satu risiko terbesar dalam budidaya tanaman, yaitu fluktuasi harga dan kesulitan pemasaran.

"Untuk tebu memang masih puluhan hektare, tapi masyarakat mulai bergerak karena sudah ada yang kerja sama dengan perusahaan," jelas Johansyah. Keberadaan PT SMS memberikan insentif kuat bagi petani untuk memperluas budidaya tebu. Dengan jaminan pasar, petani tidak perlu khawatir hasil panen mereka tidak terjual atau dijual dengan harga rendah. Model kemitraan ini telah terbukti efektif di banyak daerah lain dalam mendorong pengembangan komoditas pertanian tertentu, dan di Tambora, hal ini menjadi angin segar bagi diversifikasi ekonomi. PT SMS, sebagai salah satu pelaku industri gula di NTB, juga mendapatkan manfaat dari pasokan bahan baku yang stabil dari petani lokal, menciptakan simbiosis mutualisme yang menguntungkan kedua belah pihak.

Tantangan Utama: Infrastruktur Jalan Ekonomi yang Mencekik

Di tengah geliat perkebunan yang menjanjikan, Johansyah tidak menampik bahwa tantangan terbesar yang dihadapi warganya bukanlah pada aspek budidaya, melainkan pada akses jalan ekonomi yang buruk. Kondisi infrastruktur jalan yang memprihatinkan menjadi penghambat utama peningkatan kesejahteraan petani, terutama saat musim panen tiba.

Tebu Mulai Tumbuh di Kaki Tambora, Kades Johansyah Dorong Jalan Ekonomi Demi Masa Depan Petani

Ia menggambarkan secara gamblang bagaimana petani harus berjuang keras melintasi jalan rusak parah ketika mengangkut hasil panen jagung maupun tebu dari kebun mereka. "Kasihan petani kami. Kalau panen musim hujan harus sangat hati-hati. Jagung kadang diturunkan satu per satu dari kendaraan karena jalannya rusak," tuturnya dengan nada prihatin. Pemandangan ini bukan hal baru bagi petani Tambora. Jalan-jalan yang berlumpur, berlubang dalam, dan licin saat musim hujan membuat kendaraan pengangkut hasil pertanian seringkali tidak bisa melintas normal, bahkan tak jarang terjebak atau terbalik.

Dampak langsung dari kondisi jalan yang buruk ini adalah membengkaknya biaya operasional. Ongkos ojek dan transportasi untuk mengangkut hasil panen menjadi sangat tinggi, menggerus sebagian besar keuntungan yang seharusnya dinikmati petani. Sebagai contoh, untuk mengangkut satu ton jagung atau tebu dari kebun ke jalan utama atau titik pengumpulan, biaya transportasi bisa mencapai 20-30% dari harga jual produk. Angka ini tentu sangat memberatkan petani yang sudah berjuang keras dari proses penanaman hingga panen. Kondisi ini secara tidak langsung mengurangi daya saing produk pertanian Tambora di pasar, karena biaya logistik yang tinggi diteruskan ke harga jual.

Johansyah mengakui bahwa persoalan jalan ekonomi ini telah berulang kali ia sampaikan kepada pemerintah daerah Kabupaten Dompu, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat. "Kalau jalan ekonomi ini bagus, saya yakin peningkatan ekonomi masyarakat akan berjalan lebih cepat," tegasnya, menyoroti korelasi langsung antara infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Perbaikan jalan tidak hanya akan mengurangi biaya transportasi, tetapi juga mempersingkat waktu tempuh, memudahkan akses bagi pembeli atau pengepul, dan secara keseluruhan menciptakan efisiensi yang akan meningkatkan pendapatan bersih petani.

Respons dan Upaya Pemerintah Daerah (Analisis Berbasis Fakta)

Meskipun artikel asli tidak menyertakan pernyataan langsung dari pemerintah daerah, dapat disimpulkan secara logis bahwa isu infrastruktur jalan pedesaan adalah masalah umum di banyak wilayah di Indonesia, termasuk Dompu. Pemerintah Kabupaten Dompu, melalui dinas terkait, biasanya memiliki program pembangunan dan pemeliharaan jalan pedesaan. Namun, alokasi anggaran seringkali terbatas dan harus dibagi untuk banyak desa yang memiliki kebutuhan serupa.

Peran DPRD juga sangat krusial dalam menyuarakan aspirasi masyarakat dan mengawal alokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur. Pernyataan Johansyah yang telah berulang kali menyampaikan masalah ini kepada pemerintah daerah dan DPRD mengindikasikan bahwa masalah ini sudah masuk dalam radar pihak berwenang. Namun, realisasi perbaikan membutuhkan proses perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan yang tidak selalu instan. Prioritas pembangunan mungkin ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan, volume lalu lintas, dan potensi dampak ekonomi dari setiap ruas jalan.

Secara lebih luas, buruknya infrastruktur di daerah sentra produksi pertanian adalah salah satu hambatan terbesar dalam upaya peningkatan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Indonesia. Data dari Kementerian Pertanian dan Kementerian PUPR seringkali menunjukkan bahwa investasi pada infrastruktur jalan pedesaan memiliki multiplier effect yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi lokal, pengurangan kemiskinan, dan peningkatan akses terhadap layanan dasar. Oleh karena itu, desakan dari Kepala Desa Tambora ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pembuat kebijakan di Dompu.

Potensi Pariwisata dan Kebutuhan Air Bersih

Selain isu jalan ekonomi, kebutuhan akan air bersih dan sistem perpipaan yang memadai juga menjadi perhatian Desa Tambora. Posisi strategis desa ini sebagai penyangga kawasan wisata Gunung Tambora menambah urgensi kebutuhan tersebut. Gunung Tambora, dengan kaldera raksasanya yang menawan, setiap tahun semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara, terutama sejak penetapannya sebagai Taman Nasional.

Peningkatan jumlah wisatawan menuntut ketersediaan fasilitas dasar yang memadai, termasuk air bersih. Johansyah melihat potensi besar untuk mengembangkan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan pariwisata secara beriringan. Namun, hal ini hanya bisa terwujud jika didukung oleh infrastruktur yang komprehensif. Air bersih tidak hanya vital untuk kebutuhan sehari-hari warga, tetapi juga esensial untuk mendukung kegiatan pertanian, terutama hortikultura, dan untuk melayani kebutuhan wisatawan yang berkunjung. Sistem perpipaan yang baik akan memastikan distribusi air yang efisien dan higienis.

Visi Masa Depan: Pertumbuhan Terpadu dan Berkelanjutan

Johansyah mengakhiri wawancaranya dengan mengungkapkan visi masa depan Desa Tambora. Ia berharap sektor pertanian dan perkebunan, yang merupakan urat nadi kehidupan desa, akan semakin berkembang pesat. "Tebu, kopi, jagung, peternakan semua bisa jalan bersama kalau akses jalannya baik," pungkasnya. Pernyataan ini merangkum esensi dari kebutuhan pembangunan di Tambora: integrasi antara potensi sumber daya alam yang melimpah dengan infrastruktur pendukung yang memadai.

Pengembangan terpadu ini tidak hanya berarti peningkatan produksi komoditas. Ini juga mencakup peningkatan nilai tambah melalui pengolahan pascapanen, diversifikasi produk, dan akses yang lebih baik ke pasar. Dengan jalan yang mulus, biaya logistik berkurang, harga produk bisa lebih kompetitif, dan petani mendapatkan keuntungan yang lebih layak. Ketersediaan air bersih akan mendukung kesehatan masyarakat dan keberlanjutan pertanian. Sementara itu, pengembangan pariwisata yang terintegrasi dengan pertanian (agrowisata) dapat menjadi sumber pendapatan tambahan dan membuka lapangan kerja baru bagi warga Tambora.

Visi ini sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan yang menekankan pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan kelestarian lingkungan. Desa Tambora memiliki semua prasyarat untuk menjadi model desa mandiri dan sejahtera di NTB, asalkan dukungan infrastruktur esensial dapat segera direalisasikan. Dengan demikian, harapan baru yang disematkan pada tebu dan komoditas lainnya tidak akan terhenti di tengah jalan akibat terjalnya medan menuju kemajuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *