DOMPU, Nusa Tenggara Barat – Di tengah hamparan lahan subur yang membentang luas di kaki megahnya Gunung Tambora, Desa Tambora di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi saksi bisu geliat pertanian yang tak pernah padam. Dikenal sebagai lumbung pangan lokal dengan komoditas utama jagung dan kopi yang telah lama menjadi penopang ekonomi, kini desa tersebut tengah menatap harapan baru melalui diversifikasi tanaman tebu. Namun, di balik optimisme akan potensi besar ini, tersimpan jeritan panjang dari para petani terkait infrastruktur jalan ekonomi yang rusak parah, menghambat laju roda perekonomian dan mengikis keuntungan mereka. Warisan Kesuburan di Kaki Tambora: Dari Jagung, Kopi, hingga Tebu Karakteristik geografis Desa Tambora yang berada persis di lereng Gunung Tambora memberikan anugerah kesuburan tanah yang luar biasa. Erupsi dahsyat Gunung Tambora pada tahun 1815, meskipun membawa bencana, juga meninggalkan deposit abu vulkanik kaya mineral yang selama dua abad terakhir telah menyuburkan tanah di sekitarnya. Kondisi alam ini menjadikan Tambora ideal untuk berbagai jenis tanaman pertanian dan perkebunan, sebuah berkah yang dimanfaatkan secara turun-temurun oleh warganya. Selama bertahun-tahun, jagung dan kopi telah menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Desa Tambora. Data dari Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB menunjukkan bahwa jagung merupakan salah satu komoditas strategis provinsi ini, bahkan menempatkan NTB sebagai salah satu produsen jagung terbesar secara nasional. Ribuan hektare lahan di Dompu, termasuk di Tambora, didominasi oleh tanaman jagung, yang panennya menjadi penentu stabilitas ekonomi petani. Demikian pula dengan kopi, yang tumbuh subur di dataran tinggi Tambora, menghasilkan biji kopi berkualitas dengan cita rasa khas yang mulai dikenal pasar. Luas lahan jagung dan kopi di Desa Tambora sendiri dilaporkan telah mencapai ratusan hektare, mencerminkan dominasi kedua komoditas ini. Namun, beberapa waktu belakangan, angin perubahan mulai berhembus. Tanaman tebu mulai dilirik sebagai komoditas menjanjikan yang berpotensi menjadi harapan baru bagi sektor perkebunan masyarakat. Kepala Desa Tambora, Johansyah, menegaskan bahwa pengembangan tebu telah dimulai di beberapa dusun di wilayahnya. "Kalau tebu sudah ada sebagian masyarakat yang tanam. Variasi usaha tani di sini memang berbeda-beda tiap dusun," ujar Johansyah, mengindikasikan adanya pergeseran strategi pertanian yang adaptif. Meskipun luas lahan tebu saat ini masih berada di kisaran puluhan hektare, jauh di bawah jagung dan kopi, minat warga untuk memperluas budidaya tebu terus tumbuh. Minat ini bukan tanpa alasan. Kehadiran pabrik pengolahan tebu PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) di Kecamatan Pekat, yang relatif dekat dengan Desa Tambora, memberikan kepastian pasar yang sangat dibutuhkan petani. Sebagian petani tebu di Tambora bahkan telah menjalin kerja sama pemasaran langsung dengan perusahaan tersebut. Kerja sama ini memastikan penyerapan hasil panen dengan harga yang relatif stabil, sebuah insentif besar yang mendorong petani untuk beralih atau menambah komoditas tebu. PT SMS sendiri merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mencapai swasembada gula nasional, yang secara tidak langsung memberikan dorongan bagi petani lokal untuk menanam tebu. Kemitraan ini menciptakan ekosistem saling menguntungkan: petani mendapatkan jaminan pasar, sementara pabrik mendapatkan pasokan bahan baku yang konsisten. Diversifikasi Usaha Tani: Membangun Ketahanan Ekonomi Berkelanjutan Strategi diversifikasi pertanian yang diterapkan oleh masyarakat Desa Tambora menunjukkan tingkat adaptasi dan kreativitas yang tinggi dalam menghadapi dinamika pasar dan kondisi lingkungan. Di Dusun Garuda, misalnya, petani mengombinasikan budidaya jagung, kopi, dan tebu secara bersamaan. Sementara di dusun lainnya, masyarakat memilih mengombinasikan perkebunan kopi, kakao, hingga tebu, disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi lahan masing-masing. Pendekatan ini adalah cerminan dari prinsip ketahanan ekonomi, di mana ketergantungan pada satu komoditas dikurangi untuk meminimalkan risiko fluktuasi harga atau kegagalan panen. Selain komoditas perkebunan utama, Johansyah juga menyoroti potensi besar tanaman hortikultura di Desa Tambora. Dengan dukungan tanah yang sangat subur, berbagai jenis buah-buahan seperti durian, alpukat, jeruk, hingga asam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi petani. "Tanah kami di sini sangat mendukung. Banyak warga yang sukses dari hasil pertanian dan perkebunan," katanya, menegaskan keberhasilan petani dalam memanfaatkan anugerah alam ini. Pengembangan hortikultura tidak hanya memperkaya jenis tanaman budidaya, tetapi juga membuka peluang pasar baru, baik untuk konsumsi lokal maupun distribusi ke wilayah lain. Diversifikasi ini memiliki implikasi positif yang luas. Secara ekonomi, diversifikasi usaha tani membantu menciptakan stabilitas pendapatan bagi petani. Ketika harga salah satu komoditas jatuh, pendapatan dari komoditas lain dapat menopang. Ini juga membuka lebih banyak lapangan kerja di sektor pertanian dan perkebunan, mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga panen dan pasca-panen. Secara ekologis, praktik diversifikasi yang tepat dapat meningkatkan kesehatan tanah dan keanekaragaman hayati, menjadikannya lebih lestari. Bagi Desa Tambora, diversifikasi adalah kunci untuk membangun ketahanan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan di masa depan. Akses Jalan Ekonomi: Urat Nadi yang Tersumbat dan Beban Berat Petani Di tengah geliat optimisme akan potensi pertanian yang melimpah dan upaya diversifikasi yang menjanjikan, terdapat satu tantangan krusial yang terus-menerus membayangi dan bahkan mengikis keuntungan petani: kondisi jalan ekonomi yang buruk. Johansyah mengakui bahwa persoalan utama yang dihadapi warganya bukanlah pada budidaya atau kesuburan tanah, melainkan pada akses infrastruktur yang tidak memadai, khususnya jalan. Kondisi jalan di Desa Tambora, terutama menuju sentra-sentra produksi pertanian, digambarkan sangat memprihatinkan. Jalan-jalan tersebut didominasi oleh kerusakan, berlubang, berbatu, dan sulit dilalui, terutama saat musim panen tiba. Johansyah menggambarkan bagaimana petani harus "berjibaku" melewati jalan rusak ketika mengangkut hasil panen jagung maupun tebu dari kebun. "Kasihan petani kami. Kalau panen musim hujan harus sangat hati-hati. Jagung kadang diturunkan satu per satu dari kendaraan karena jalannya rusak," tuturnya, memberikan gambaran nyata akan kesulitan yang dihadapi. Dampak dari buruknya kondisi jalan ini sangat signifikan terhadap biaya operasional petani. Ongkos ojek dan transportasi untuk mengangkut hasil panen membengkak drastis. Sebuah studi oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menunjukkan bahwa kondisi jalan yang buruk dapat meningkatkan biaya operasional kendaraan hingga 30-50%, belum termasuk risiko kerusakan kendaraan dan kerugian akibat hasil panen yang rusak dalam perjalanan. Di Tambora, ini berarti sebagian besar keuntungan yang seharusnya dinikmati petani akhirnya habis untuk biaya distribusi. Ini adalah ironi yang menyakitkan: tanah subur menghasilkan panen melimpah, tetapi keuntungan tergerus oleh infrastruktur yang lumpuh. Lebih lanjut, saat musim hujan, kondisi jalan semakin sulit karena kendaraan sering tidak bisa melintas normal, bahkan terkadang terisolasi. Ini tidak hanya menghambat pengangkutan hasil panen, tetapi juga akses petani ke pasar, fasilitas kesehatan, atau pendidikan. Frustrasi di kalangan petani pun tak terhindarkan. Kerja keras mereka di ladang seolah tidak sebanding dengan hasil bersih yang diterima, yang banyak terkuras oleh "pajak tak resmi" berupa biaya transportasi yang mahal dan risiko kerusakan barang. Desakan Pembangunan dan Visi Integrasi Sektor Menyadari krusialnya masalah ini, Kepala Desa Johansyah tidak tinggal diam. Ia mengaku sudah berulang kali menyampaikan persoalan jalan ekonomi ini kepada pemerintah daerah Kabupaten Dompu hingga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat. Desakannya bukan tanpa dasar; jalan yang baik adalah prasyarat mutlak bagi percepatan pertumbuhan ekonomi di wilayah pertanian. "Kalau jalan ekonomi ini bagus, saya yakin peningkatan ekonomi masyarakat akan berjalan lebih cepat," tegasnya, menunjukkan keyakinan akan potensi transformatif infrastruktur. Pembangunan jalan ekonomi di Desa Tambora tidak hanya akan mengurangi biaya logistik dan meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga akan membuka akses yang lebih luas bagi investasi dan pengembangan sektor lainnya. Dengan jalan yang mulus, distribusi pupuk, bibit, dan peralatan pertanian akan lebih efisien. Demikian pula, akses bagi pembeli atau pengusaha yang ingin berinvestasi di sektor pertanian Tambora akan menjadi lebih mudah. Selain jalan, kebutuhan akan infrastruktur dasar lainnya seperti air bersih dan perpipaan juga menjadi perhatian serius bagi pemerintah desa. Ketersediaan air bersih yang memadai adalah hak dasar masyarakat dan penting untuk kesehatan serta produktivitas sehari-hari. Terlebih lagi, Desa Tambora berada di kawasan strategis sebagai penyangga wisata Gunung Tambora yang setiap tahun mulai ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Infrastruktur air bersih yang baik akan mendukung kebutuhan warga dan juga sektor pariwisata yang mulai menggeliat. Johansyah memiliki visi yang komprehensif untuk Desa Tambora. Menurutnya, potensi pertanian, perkebunan, peternakan, dan pariwisata di Tambora sebenarnya bisa berkembang secara beriringan dan saling mendukung apabila didukung oleh infrastruktur yang memadai. Misalnya, produk-produk pertanian dan perkebunan lokal dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan, atau petani dapat mengintegrasikan usaha mereka dengan penginapan atau kuliner bagi pengunjung. "Harapan kami ke depan tentu sektor pertanian dan perkebunan semakin berkembang. Tebu, kopi, jagung, peternakan semua bisa jalan bersama kalau akses jalannya baik," pungkasnya, menegaskan pentingnya pendekatan pembangunan yang terintegrasi dan holistik. Masa Depan Tambora: Antara Potensi Besar dan Kebutuhan Realisasi Infrastruktur Masa depan Desa Tambora menyimpan potensi yang luar biasa. Dengan tanah yang subur warisan Gunung Tambora, semangat petani yang gigih dalam diversifikasi komoditas seperti tebu, kopi, dan jagung, serta potensi hortikultura yang belum sepenuhnya tergali, Tambora memiliki semua modal untuk menjadi pusat ekonomi pertanian yang maju. Ditambah lagi dengan posisinya sebagai gerbang wisata Gunung Tambora, desa ini berada di persimpangan yang memungkinkan sinergi antara pertanian, peternakan, dan pariwisata. Namun, realisasi potensi besar ini sangat bergantung pada komitmen dan tindakan nyata dari pemerintah daerah dan pusat dalam mengatasi hambatan infrastruktur yang fundamental. Jalan yang rusak bukan hanya sekadar masalah teknis, tetapi juga cerminan dari terhambatnya kesejahteraan dan keadilan ekonomi bagi masyarakat petani. Investasi dalam infrastruktur jalan, air bersih, dan fasilitas dasar lainnya harus menjadi prioritas utama. Sumber daya seperti Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), hingga Dana Desa dapat dialokasikan secara efektif untuk proyek-proyek ini. Pemerintah Kabupaten Dompu dan DPRD memiliki tanggung jawab besar untuk menanggapi desakan Kepala Desa Tambora dan suara hati para petani. Perencanaan pembangunan yang inklusif, melibatkan partisipasi masyarakat, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup adalah kunci. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, Desa Tambora tidak hanya akan menjadi lumbung pangan yang tangguh, tetapi juga destinasi wisata yang menarik, yang pada akhirnya akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi seluruh warganya. Kisah Tambora adalah pengingat bahwa potensi alam dan semangat manusia akan mencapai puncaknya hanya jika didukung oleh fondasi infrastruktur yang kokoh. Post navigation Asa Manis di Kaki Tambora: Potret Kejayaan dan Keluh Kesah Petani Tebu Beringin Jaya Revolusi Manis di Kaki Tambora: Desa Soritatanga Beralih ke Tebu, Angkat Ekonomi Warga dari Jurang Krisis Jagung