Lombok Barat – Sebuah inisiatif strategis dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat telah diluncurkan di Desa Batu Layar, Lombok Barat. Program kolaborasi antara Universitas Mataram (Unram) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) telah sukses menyelenggarakan Pembentukan Kader Keamanan Pangan Desa (KKPD) yang dilanjutkan dengan Pelatihan Keamanan Pangan. Kegiatan yang bertempat di Aula Kantor Desa Batu Layar ini menandai langkah penting dalam pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan sistem keamanan pangan yang berkelanjutan di tingkat desa, sekaligus memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya pangan yang aman dan sehat.

Latar Belakang dan Urgensi Keamanan Pangan di Pedesaan

Keamanan pangan merupakan pilar fundamental dalam menjaga kesehatan masyarakat dan mendorong pembangunan ekonomi. Di Indonesia, tantangan terkait keamanan pangan masih menjadi isu krusial, terutama di daerah pedesaan yang seringkali memiliki akses terbatas terhadap informasi dan fasilitas pengujian pangan. Menurut data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan berbagai studi, kasus keracunan pangan dan penyakit bawaan pangan (foodborne diseases) masih sering terjadi, sebagian besar disebabkan oleh praktik penanganan pangan yang tidak higienis, penggunaan bahan tambahan pangan yang tidak sesuai, serta kontaminasi mikroba atau bahan kimia berbahaya. Dampak dari kasus-kasus ini tidak hanya terbatas pada masalah kesehatan individual, tetapi juga berimbas pada produktivitas masyarakat, beban biaya pengobatan, dan bahkan reputasi produk lokal.

Masyarakat pedesaan, yang sebagian besar bergantung pada produksi pangan lokal dan pasar tradisional, sangat rentan terhadap risiko ini jika tidak memiliki pemahaman yang memadai tentang keamanan pangan. Keterbatasan sumber daya dan infrastruktur seringkali mempersulit upaya pengawasan pangan secara menyeluruh oleh pihak berwenang. Oleh karena itu, pendekatan berbasis komunitas, di mana masyarakat diberdayakan untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan pangan mereka sendiri, menjadi sangat relevan dan efektif. Inilah yang melatarbelakangi urgensi program pembentukan KKPD di Desa Batu Layar. BPOM sendiri memiliki program nasional yang masif seperti Gerakan Keamanan Pangan Desa yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mewujudkan keamanan pangan. Kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti Unram melalui KKNT adalah salah satu cara efektif untuk mencapai tujuan tersebut, menggabungkan penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu kesatuan.

Sinergi Tri Dharma: KKNT sebagai Jembatan Pemberdayaan

Universitas Mataram, sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di Nusa Tenggara Barat, memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) merupakan salah satu wujud nyata dari pengabdian ini, di mana mahasiswa terjun langsung ke masyarakat untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah guna memecahkan masalah-masalah riil yang dihadapi komunitas. Dalam konteks program ini, mahasiswa KKNT Unram bertindak sebagai fasilitator dan jembatan antara keilmuan yang ada di universitas dengan kebutuhan praktis masyarakat di Desa Batu Layar.

Kolaborasi dengan BPOM adalah kunci keberhasilan program ini. BPOM, dengan mandat dan keahliannya dalam pengawasan obat dan makanan, menyediakan materi pelatihan yang akurat, standar keamanan pangan yang relevan, serta dukungan teknis yang diperlukan. Sinergi ini memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada masyarakat dan kader adalah valid dan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Model KKNT memungkinkan transfer pengetahuan dan keterampilan dari akademisi dan praktisi kepada masyarakat secara langsung, menciptakan dampak yang lebih mendalam dan berkelanjutan dibandingkan dengan intervensi jangka pendek. Dengan demikian, program ini tidak hanya berfokus pada penyelesaian masalah sesaat, tetapi juga pada pembangunan kapasitas masyarakat agar mampu mengatasi tantangan keamanan pangan secara mandiri di masa depan.

Proses Pembentukan dan Pelatihan Kader Keamanan Pangan Desa (KKPD)

Program Kolaborasi Universitas Mataram dan BPOM Bentuk Kader Keamanan Pangan Desa melalui Pelatihan Keamanan Pangan di Batu Layar

Tahap awal dari program ini adalah pembentukan sepuluh Kader Keamanan Pangan Desa (KKPD) yang dilakukan melalui koordinasi erat dengan Pemerintah Desa Batu Layar. Proses seleksi kader ini didasarkan pada beberapa pertimbangan penting, antara lain: representasi dari berbagai unsur masyarakat (ibu rumah tangga, pelaku UMKM pangan, tokoh masyarakat, pemuda), komitmen terhadap kesehatan komunitas, serta kemauan untuk belajar dan berbagi informasi. Kader-kader yang terpilih ini dipersiapkan untuk menjadi "agen perubahan" dan ujung tombak dalam menyebarluaskan informasi serta edukasi mengenai keamanan pangan kepada seluruh lapisan masyarakat di Desa Batu Layar. Pembentukan kader ini merupakan langkah strategis yang didesain untuk menciptakan sistem keamanan pangan berbasis masyarakat yang dapat terus berjalan dan berkembang, bahkan setelah masa pelaksanaan KKNT berakhir. Konsep keberlanjutan menjadi esensi utama dari pembentukan KKPD ini.

Setelah proses pembentukan, seluruh KKPD mengikuti Pelatihan Keamanan Pangan yang dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi mereka sebagai edukator di desa. Materi pelatihan disampaikan secara komprehensif dan interaktif, meliputi:

  1. Prinsip-prinsip Dasar Keamanan Pangan: Pemahaman mengenai bahaya fisik, kimia, dan biologis dalam pangan, serta sumber-sumber kontaminasi yang umum terjadi.
  2. Penerapan Lima Kunci Keamanan Pangan WHO:
    • Jaga Kebersihan: Pentingnya mencuci tangan, membersihkan peralatan masak, dan menjaga kebersihan lingkungan.
    • Pisahkan Pangan Mentah dan Matang: Mencegah kontaminasi silang.
    • Masak dengan Sempurna: Memastikan suhu yang cukup untuk membunuh mikroba berbahaya.
    • Jaga Pangan pada Suhu Aman: Penyimpanan yang benar untuk mencegah pertumbuhan bakteri.
    • Gunakan Air dan Bahan Baku Aman: Memilih sumber air dan bahan pangan yang bersih dan berkualitas.
  3. Higiene dan Sanitasi Pangan: Praktik-praktik kebersihan personal bagi penjamah pangan, serta sanitasi lingkungan produksi dan penjualan pangan.
  4. Teknik Penyampaian Edukasi yang Efektif: Keterampilan komunikasi yang diperlukan untuk menyampaikan pesan-pesan keamanan pangan kepada masyarakat dengan cara yang mudah dipahami, menarik, dan persuasif. Ini termasuk penggunaan media visual, metode diskusi, dan simulasi.
  5. Identifikasi Risiko dan Penanganan Cepat: Kemampuan untuk mengenali tanda-tanda pangan yang tidak aman dan langkah-langkah darurat yang perlu diambil jika terjadi kasus keracunan pangan.

Melalui pelatihan yang mendalam ini, para kader dibekali pemahaman yang komprehensif, tidak hanya secara teoritis tetapi juga praktis, agar mampu menjalankan perannya secara optimal dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pangan yang aman, sehat, dan layak konsumsi. Mereka juga dibekali dengan modul dan materi pendukung yang dapat digunakan sebagai referensi dalam kegiatan penyuluhan mereka.

Peran Krusial KKPD dalam Menjamin Keberlanjutan Program

Keberadaan sepuluh KKPD ini diharapkan menjadi motor penggerak utama dalam membangun budaya sadar keamanan pangan di Desa Batu Layar. Fungsi dan tanggung jawab mereka jauh melampaui sekadar penyampaian informasi; mereka diharapkan menjadi fasilitator, pengawas awal, dan penghubung antara masyarakat dengan pemerintah desa serta pihak terkait lainnya. Secara lebih spesifik, peran krusial KKPD meliputi:

  1. Edukasi Berkelanjutan: Secara aktif memberikan penyuluhan dan sosialisasi keamanan pangan kepada keluarga, tetangga, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pangan, serta kelompok masyarakat lainnya. Mereka akan menjadi sumber informasi terpercaya di komunitas mereka sendiri.
  2. Pendampingan Pelaku UMKM Pangan: Membantu pelaku UMKM pangan lokal dalam menerapkan prinsip-prinsip keamanan pangan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, hingga pengemasan dan distribusi, sehingga produk yang dihasilkan aman dan berdaya saing.
  3. Identifikasi dan Pelaporan Risiko: Bertindak sebagai mata dan telinga di desa, mengidentifikasi potensi bahaya keamanan pangan (misalnya, kondisi higienis yang buruk di tempat penjualan makanan, penggunaan bahan yang tidak lazim) dan melaporkannya kepada pemerintah desa atau pihak berwenang terkait untuk tindakan lebih lanjut.
  4. Penggerak Partisipasi Masyarakat: Mengorganisir kegiatan-kegiatan komunitas yang berkaitan dengan keamanan pangan, seperti demo masak sehat, lomba kebersihan warung, atau kampanye cuci tangan.
  5. Mitra Pemerintah Desa: Bekerja sama dengan perangkat desa dalam merumuskan kebijakan lokal atau program-program yang mendukung keamanan pangan, serta membantu memantau implementasi program-program tersebut.

Untuk memastikan keberlanjutan program, telah dibahas mekanisme kerja sama antara KKPD dengan Pemerintah Desa Batu Layar. Pemerintah desa diharapkan memberikan dukungan fasilitas, anggaran terbatas, dan legitimasi bagi kegiatan para kader. Selain itu, Unram dan BPOM akan terus memberikan pendampingan dan evaluasi berkala untuk menjaga motivasi dan efektivitas para kader. Dengan adanya kader yang telah dibekali pengetahuan dan keterampilan, program keamanan pangan diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan KKNT selesai, melainkan terus berlanjut sebagai bagian integral dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan mewujudkan Desa Batu Layar sebagai desa yang mandiri dan sadar keamanan pangan.

Tanggapan dan Harapan dari Berbagai Pihak

Program ini mendapat sambutan positif dan antusias dari berbagai pihak. Dr. Ir. I Wayan Swastika, M.P., perwakilan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Mataram, dalam pernyataannya menyampaikan, "Kami sangat bangga dapat berkontribusi dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui program KKNT ini. Pembentukan KKPD adalah wujud nyata komitmen Unram dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kami berharap kader-kader ini akan menjadi agen perubahan yang efektif dan program ini dapat direplikasi di desa-desa lain di Lombok Barat."

Dari pihak BPOM, Ibu Dra. Ni Wayan Murdani, Apt., M.Kes., Kepala BPOM di Mataram, menegaskan, "Keamanan pangan adalah tanggung jawab kita bersama. Melalui kolaborasi dengan Unram dan pemerintah desa, kami dapat menjangkau masyarakat hingga ke tingkat tapak. Kader Keamanan Pangan Desa adalah aset berharga yang akan membantu BPOM dalam memperluas jangkauan edukasi dan pengawasan, memastikan masyarakat mengonsumsi pangan yang aman, bermutu, dan bergizi."

Program Kolaborasi Universitas Mataram dan BPOM Bentuk Kader Keamanan Pangan Desa melalui Pelatihan Keamanan Pangan di Batu Layar

Kepala Desa Batu Layar, Bapak H. Sayuti, S.Pd., juga mengungkapkan apresiasinya, "Kami sangat berterima kasih kepada Universitas Mataram dan BPOM atas inisiatif luar biasa ini. Kehadiran para kader keamanan pangan akan sangat membantu desa kami dalam mengatasi berbagai permasalahan terkait pangan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan warga kami. Kami berkomitmen untuk mendukung penuh kegiatan para kader dan menjadikan Desa Batu Layar sebagai percontohan desa sadar keamanan pangan."

Salah satu perwakilan Kader Keamanan Pangan Desa, Ibu Rohani, berbagi optimismenya, "Kami merasa terhormat dan termotivasi untuk mengemban amanah ini. Pelatihan yang kami terima sangat bermanfaat dan membuka wawasan kami. Kami siap untuk berbagi pengetahuan ini kepada seluruh masyarakat Desa Batu Layar, memastikan bahwa setiap keluarga dapat menikmati pangan yang aman dan sehat."

Implikasi Jangka Panjang dan Prospek Masa Depan

Program pembentukan dan pelatihan Kader Keamanan Pangan Desa di Batu Layar memiliki implikasi jangka panjang yang signifikan. Pertama, dari sisi kesehatan masyarakat, program ini diharapkan dapat menekan angka kejadian penyakit bawaan pangan, meningkatkan status gizi, dan secara umum meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan pengetahuan yang memadai, masyarakat akan lebih selektif dalam memilih dan mengolah pangan, mengurangi risiko paparan zat berbahaya.

Kedua, dari aspek ekonomi lokal, program ini berpotensi mendukung pengembangan UMKM pangan yang lebih higienis dan berkualitas. Produk pangan lokal yang dijamin keamanannya akan memiliki daya saing lebih tinggi, membuka peluang pasar yang lebih luas, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan masyarakat. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kerakyatan.

Ketiga, program ini merupakan model pemberdayaan masyarakat yang efektif dan berkelanjutan. Dengan adanya kader yang berasal dari masyarakat itu sendiri, program tidak hanya bersifat top-down, tetapi juga bottom-up, menjamin partisipasi aktif dan rasa kepemilikan dari warga. Model kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga pemerintah, dan pemerintah desa ini juga dapat menjadi percontohan (best practice) untuk direplikasi di desa-desa lain di Nusa Tenggara Barat atau bahkan di tingkat nasional, terutama dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya poin 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik) dan poin 2 (Tanpa Kelaparan).

Meskipun prospeknya cerah, tantangan tetap ada, seperti menjaga motivasi kader, memastikan ketersediaan sumber daya berkelanjutan, dan terus memperbarui pengetahuan kader seiring perkembangan ilmu pangan. Namun, dengan sinergi yang kuat antara Universitas Mataram, BPOM, Pemerintah Desa Batu Layar, dan komitmen tinggi dari masyarakat, program ini optimis mampu menciptakan kader-kader yang berkomitmen dalam menyebarluaskan budaya keamanan pangan secara berkelanjutan. Kolaborasi ini menjadi wujud nyata pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan sistem yang mampu menjaga keberlangsungan program keamanan pangan di Desa Batu Layar, demi masa depan yang lebih sehat dan sejahtera.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *