Kawasan ruang publik Taman Teras Udayana, Kota Mataram, yang biasanya dipenuhi oleh warga yang melakukan aktivitas olahraga pagi dan bersantai, mendadak berubah menjadi mencekam pada Rabu pagi, 19 Agustus. Suasana riuh rendah aktivitas masyarakat seketika terhenti saat sesosok tubuh pria ditemukan tergeletak tak bernyawa di salah satu sudut trotoar kawasan tersebut. Penemuan mayat tanpa identitas ini memicu kegemparan luar biasa di kalangan pengunjung taman dan warga sekitar yang sedang memulai rutinitas harian mereka. Hingga saat ini, pihak kepolisian dari Polresta Mataram dan Polsek Ampenan masih terus melakukan penyelidikan mendalam guna mengungkap identitas korban serta penyebab pasti di balik kematian yang mengejutkan tersebut. Kejadian ini pertama kali terungkap ketika beberapa warga yang sedang melintas di area trotoar Taman Teras Udayana mencurigai posisi seorang pria yang tampak tertidur dalam posisi yang tidak wajar. Setelah didekati untuk memastikan kondisinya, warga mendapati bahwa pria tersebut sudah tidak bernapas dan tidak memberikan respons apa pun. Ketakutan segera menyebar, dan informasi ini dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut hingga akhirnya sampai ke telinga pihak berwajib melalui layanan darurat Call Center 110. Langkah cepat warga dalam melaporkan kejadian ini menjadi kunci awal bagi pihak kepolisian untuk segera mengamankan lokasi kejadian perkara (TKP). Kronologi Penemuan dan Tindakan Awal Kepolisian Berdasarkan keterangan dari pihak berwenang, laporan pertama mengenai penemuan mayat tersebut diterima oleh pusat komando kepolisian pada pagi hari. Menanggapi laporan tersebut, personel dari Polsek Ampenan segera dikerahkan ke lokasi untuk melakukan pengamanan awal. Mengingat lokasi penemuan berada di fasilitas umum yang sangat ramai, polisi segera memasang garis polisi guna mencegah warga mendekat dan merusak potensi bukti-bukti fisik yang ada di sekitar jenazah. Kanitreskrim Polsek Ampenan, Ipda Komang Gede Puja Artana, menyatakan bahwa koordinasi cepat dilakukan dengan Unit Identifikasi Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Mataram. "Begitu kami mendapat informasi tersebut melalui Call Center 110, personel Polsek Ampenan langsung menuju TKP. Kami juga segera melakukan koordinasi dengan Unit Identifikasi Sat Reskrim Polresta Mataram untuk prosedur olah TKP yang lebih mendalam," jelas Ipda Komang. Tim identifikasi yang tiba di lokasi segera melakukan serangkaian prosedur standar operasional (SOP) dalam menangani penemuan mayat di ruang publik. Pemeriksaan mencakup pengambilan foto posisi jenazah, pemeriksaan barang bawaan di sekitar korban, hingga pemeriksaan fisik luar secara sepintas. Dari hasil pengamatan awal, korban ditemukan dalam posisi miring menghadap ke arah barat. Polisi mencatat adanya sedikit bercak darah dan luka pada bagian mata sebelah kanan korban. Luka ini diduga kuat muncul akibat benturan keras dengan permukaan trotoar saat korban terjatuh dari posisi berdiri atau duduk. Hasil Olah TKP dan Kondisi Fisik Korban Kasatreskrim Polresta Mataram, AKP I Made Dharma Yulia Putra, memberikan konfirmasi mengenai jalannya proses olah TKP tersebut. Menurut AKP Dharma, tim identifikasi telah bekerja secara maksimal untuk mengumpulkan setiap petunjuk yang ada. Namun, tantangan utama yang dihadapi oleh penyidik di lapangan adalah nihilnya dokumen identitas pada tubuh korban. Tidak ditemukan Kartu Tanda Penduduk (KTP), dompet, maupun perangkat komunikasi seperti ponsel yang dapat merujuk pada jati diri pria tersebut. "Tadi tim identifikasi sudah melakukan olah TKP secara menyeluruh. Dari pemeriksaan awal di lokasi, pria tersebut diduga sebelumnya sedang beristirahat di trotoar kawasan Taman Teras Udayana. Ada dugaan bahwa pria ini mengalami kelelahan yang sangat hebat setelah melakukan aktivitas tertentu," ungkap AKP Dharma. Keberadaan luka di mata kanan korban menjadi salah satu poin yang diteliti, meskipun dugaan sementara mengarah pada kecelakaan fisik saat korban jatuh, bukan akibat tindak kekerasan oleh orang lain. Pria yang belum diketahui namanya tersebut diperkirakan berusia paruh baya. Polisi belum bisa memberikan deskripsi lebih detail mengenai ciri-ciri fisik khusus guna menghindari spekulasi di masyarakat sebelum hasil resmi dari tim medis keluar. Fokus utama kepolisian saat ini adalah mencocokkan ciri-ciri fisik korban dengan laporan orang hilang yang mungkin masuk ke polsek-polsek jajaran di wilayah hukum Polda NTB. Proses Evakuasi dan Pemeriksaan Medis Forensik Setelah proses olah TKP selesai dilakukan di lokasi kejadian, jenazah pria tersebut segera dievakuasi menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Evakuasi dilakukan dengan pengawalan ketat guna memastikan jenazah sampai di fasilitas medis untuk dilakukan visum et repertum. AKP I Made Dharma Yulia Putra menjelaskan bahwa pemeriksaan medis akan dilakukan oleh tim dokter dari Rumah Sakit Bhayangkara Mataram. "Jenazah sudah dibawa ke RSUP untuk dilakukan visum oleh tim dokter dari RS Bhayangkara. Kami masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan forensik, untuk mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebab kematian korban," tambahnya. Pemeriksaan visum ini sangat krusial karena akan menentukan apakah ada indikasi unsur pidana dalam kematian tersebut. Meskipun dugaan awal mengarah pada faktor kesehatan atau kelelahan, polisi tidak ingin gegabah dalam mengambil kesimpulan. Tim medis akan memeriksa organ-organ vital secara eksternal dan, jika diperlukan, melakukan autopsi apabila ditemukan kejanggalan pada hasil visum luar. Analisis Konteks Keamanan dan Kesehatan di Ruang Publik Penemuan mayat di ruang terbuka hijau seperti Taman Teras Udayana memberikan perspektif penting mengenai pengawasan keamanan dan fasilitas kesehatan darurat di Kota Mataram. Udayana merupakan paru-paru kota sekaligus pusat interaksi sosial bagi ribuan warga setiap minggunya. Kejadian tragis ini memicu diskusi mengenai pentingnya kehadiran petugas patroli secara rutin serta ketersediaan fasilitas pertolongan pertama (P3K) di kawasan-kawasan publik yang padat aktivitas. Secara medis, kematian mendadak di tempat umum sering kali dikaitkan dengan kondisi kardiovaskular atau kelelahan ekstrem (fatigue). Dalam cuaca yang fluktuatif atau kondisi fisik yang kurang prima, aktivitas fisik yang dipaksakan dapat memicu kegagalan fungsi jantung atau organ lainnya. Jika dugaan kepolisian mengenai "kelelahan" terbukti benar, maka kasus ini menambah daftar panjang insiden kesehatan darurat yang terjadi di fasilitas olahraga publik. Di sisi lain, masalah identitas "Mr. X" atau mayat tanpa identitas menyoroti pentingnya kepemilikan dan membawa identitas diri ke mana pun bepergian. Dalam banyak kasus serupa di Indonesia, kesulitan identifikasi sering kali menghambat proses pemulangan jenazah kepada keluarga. Polisi menghimbau kepada warga Mataram dan sekitarnya yang merasa kehilangan anggota keluarga dengan ciri-ciri pria paruh baya untuk segera melapor ke Mapolresta Mataram atau Polsek terdekat. Reaksi Masyarakat dan Dampak Sosial Kejadian ini sempat menyebabkan kemacetan singkat di jalur sekitar Jalan Udayana karena banyaknya pengendara yang melambatkan kendaraan untuk melihat proses evakuasi. Beberapa warga yang sering berolahraga di lokasi tersebut menyatakan keprihatinannya. Mereka berharap agar identitas korban segera terungkap sehingga keluarga yang ditinggalkan bisa memberikan penghormatan terakhir secara layak. Dampak psikologis dari penemuan mayat di tempat rekreasi juga menjadi perhatian. Pengelola taman dan pemerintah kota diharapkan dapat meningkatkan penerangan jalan dan pengawasan CCTV di titik-titik buta kawasan Udayana. Hal ini tidak hanya berguna untuk mencegah tindak kriminal, tetapi juga untuk membantu memantau kondisi warga yang mungkin membutuhkan bantuan medis darurat di area tersebut. Hingga berita ini diturunkan, kawasan Taman Teras Udayana telah kembali dibuka untuk umum setelah garis polisi dilepas pasca-evakuasi. Namun, suasana duka dan tanda tanya masih menyelimuti benak para pengunjung tetap taman tersebut. Langkah Penyelidikan Selanjutnya Kepolisian saat ini memfokuskan penyelidikan pada dua jalur utama. Pertama, jalur medis melalui hasil visum dari RS Bhayangkara untuk memastikan penyebab kematian (apakah karena sakit, kelelahan, atau faktor eksternal lainnya). Kedua, jalur identifikasi melalui pengecekan sidik jari yang akan dikonsultasikan dengan data kependudukan (Dukcapil) melalui alat pemindai biometrik milik Inafis Polri. "Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya atau spekulasi liar mengenai penyebab kematian korban. Berikan waktu kepada tim medis dan penyidik untuk bekerja. Kami akan segera menginformasikan perkembangan terbaru jika identitas korban sudah berhasil kami pastikan," tutup Ipda Komang Gede Puja Artana. Kasus ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat akan pentingnya kewaspadaan terhadap kondisi kesehatan diri sendiri saat beraktivitas di luar rumah, serta pentingnya sinergi antara warga dan kepolisian dalam menjaga keamanan lingkungan. Layanan Call Center 110 terbukti menjadi sarana efektif dalam pelaporan kejadian darurat, dan kepolisian berkomitmen untuk terus memberikan respon cepat terhadap setiap laporan yang masuk demi menjamin rasa aman di wilayah Kota Mataram. Post navigation Polda NTB Bongkar Sindikat Penggelapan dan Penadahan Sepeda Motor Lintas Kabupaten di Pulau Lombok Kasus Pembunuhan Mahasiswi Unram Dilimpahkan ke Jaksa