Industri fintech peer-to-peer lending atau pinjaman daring (Pindar) di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan signifikan, seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan akses pendanaan yang lebih mudah dan cepat. Namun, di balik pesatnya perkembangan ini, muncul pula tantangan krusial terkait pemahaman dan penggunaan layanan Pindar secara bijak dan bertanggung jawab. Menyadari hal ini, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) secara aktif menggelar program literasi keuangan bertajuk “Pindar Mengajar” dan Media Roadshow di berbagai kota, termasuk di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), guna memperkuat pemahaman publik, terutama generasi muda, terhadap ekosistem Pindar yang legal dan terawasi.

Pertumbuhan Industri Pindar dan Tantangan Literasi

Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026 mencatat bahwa outstanding pendanaan Pindar telah mencapai Rp105,14 triliun, menunjukkan pertumbuhan sebesar 25,88% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy). Dari sisi pengguna, angka tersebut juga impresif, dengan total 26,91 juta rekening aktif terdata pada periode yang sama. Kepala OJK Provinsi NTB, Rudi Sulstyo, dalam sambutannya pada acara Pindar Mengajar di Universitas Mataram, menekankan pentingnya edukasi di tengah pertumbuhan pesat ini.

“Pindar sama dengan lembaga jasa keuangan lain yang menawarkan layanan pinjaman namun dengan kemudahan akses karena teknologi digital. Semua layanan keuangan ada risiko dan manfaatnya, sehingga masyarakat harus paham bukan hanya cara menggunakannya, namun adanya risiko dalam setiap keputusan pinjaman,” ujar Rudi Sulstyo. Ia menambahkan bahwa meskipun Pindar telah berhasil menjangkau segmen masyarakat yang unbankable dan underserved hingga ke pelosok Indonesia, peningkatan literasi keuangan harus selalu menyertai perluasan inklusi. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan peningkatan tingkat inklusi fintech lending menjadi 5,19%, naik dari 4,40% pada tahun sebelumnya, namun ini masih membutuhkan dorongan literasi yang lebih masif.

Pindar Mengajar dan Media Roadshow: Komitmen AFPI untuk Ekosistem Finansial yang Sehat

Menjawab tantangan literasi dan untuk memastikan praktik lending yang bertanggung jawab, perlindungan konsumen, serta penguatan kepercayaan publik terhadap Pindar yang berizin dan diawasi OJK, AFPI menyelenggarakan rangkaian kegiatan Pindar Mengajar dan Media Roadshow di Mataram pada 26-27 Agustus 2026. Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen industri untuk mendorong praktik yang etis dan aman.

Salah satu kegiatan utama adalah talk show bertema “Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi” yang diadakan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mataram. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa dan akademisi, yang menjadi target utama edukasi literasi keuangan digital. Selain itu, AFPI juga melakukan kunjungan ke Radar Lombok, salah satu media terkemuka di NTB, sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman media daerah terhadap industri Pindar yang legal.

Partisipasi aktif dari anggota platform Pindar seperti PT Artha Dana Teknologi (Indodana), PT Kredit Utama Fintech Indonesia (Rupiah Cepat), dan PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami) menunjukkan kontribusi nyata industri dalam mendukung peningkatan literasi keuangan masyarakat. Sejumlah besar penyelenggara fintech lending yang telah terdaftar dan berizin OJK turut hadir dalam daftar yang disebutkan, mencakup berbagai nama besar di industri ini seperti Boost, Tokomodal, Modalku, KTA Kilat, Kredit Pintar, Finmas, KlikA2C, Akseleran, Ammana, PinjamanGO, KoinP2P, Pohondana, Mekar, Amartha, Esta Kapital, KreditPro, FINTAG, Dompet Kilat, Crowdo, Danamas, JULO, Pinjamin, DanaKredi, OVO Finansial, PinjamModal, Alami, AwanTunai, Danakini, Singa, Danamerdeka, Easycash, Pinjamyuk, Finplus, Uangme, PinjamDuit, Dana Syariah, Batumbu, Cashcepat, klikUMKM, Pinjam Gampang, Cicil, Lumbungdana, KrediOne, Kredinesia, Pintek, ModalRakyat, Solusiku, Cairin, Danaku, Klik Kami, Duha Syariah, Invoila, Sanders One Stop Solution, DanaBagus, UKU, Kredito, AdaPundi, Lentera Dana Nusantara, Modal Nasional, Komunal, Restock.ID, Avantee, Gradana, Danacita, Pijar, Ivoji, Indofund.id, iGrow, Danai.id, DUMI, Lahan SIKAM, Gazwa.id, KrediFazz, KreditOK, Aktivaku, Danain, Indosaku, Edufund, GandengTangan, Papitupi Syariah, BantuSaku, danabijak, AdaModal, SamaKita, KawanCicil, KlikCair, Ethis, Samir, Uatas, Asetku, serta Findaya. Keberagaman platform ini menegaskan luasnya cakupan industri Pindar dan pentingnya pemahaman yang komprehensif.

AFPI Dorong Literasi Keuangan dengan Pindar Mengajar & Media Roadshow di Mataram

Fokus pada Generasi Muda: Mahasiswa sebagai Agen Perubahan

Direktur Eksekutif AFPI, Yasmine Meylia Sembiring, menegaskan bahwa fase pertumbuhan industri Pindar saat ini harus diiringi dengan penguatan kualitas dan literasi. “Pindar Mengajar merupakan program peningkatan literasi keuangan, khususnya di kalangan generasi muda,” jelasnya. Ia menekankan bahwa kemudahan akses Pindar harus dibarengi dengan pemahaman yang baik mengenai fungsinya sebagai instrumen keuangan. Penting untuk selalu mengakses layanan Pindar melalui penyelenggara yang legal dan diawasi OJK, serta melakukan pertimbangan matang terhadap kebutuhan dan kemampuan membayar sebelum mengajukan pinjaman.

Mahasiswa, sebagai segmen yang seringkali rentan terhadap godaan pinjaman daring, menjadi fokus utama dalam program ini. Mereka dibekali pemahaman mendalam mengenai pengelolaan keuangan pribadi yang bijak dan pemanfaatan layanan Pindar secara bertanggung jawab. Materi edukasi juga mencakup cara membedakan antara Pindar yang legal dan praktik pinjaman online ilegal yang meresahkan masyarakat.

“Kami memilih perguruan tinggi karena ketika mahasiswa sudah mendapat iterasi maka akan menyampaikan kembali ke lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat, sehingga Pindar Mengajar ini merupakan program training for trainers,” ujar Yasmine, menggambarkan strategi AFPI dalam memperluas jangkauan edukasi. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna yang cerdas, tetapi juga menjadi agen perubahan yang menyebarkan literasi keuangan yang sehat kepada lingkungan mereka.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mataram, Ihsan Ro’is, menyambut baik inisiatif AFPI. Ia menyatakan bahwa penguasaan literasi keuangan digital, yang berkembang pesat, adalah kompetensi krusial bagi mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja dan usaha yang dinamis. “Kegiatan seperti Pindar Mengajar menjadi sangat relevan untuk diikuti mahasiswa. Penggunaan teknologi digital harus dilakukan secara bijak dan efektif, terlebih ketika berkaitan dengan pengelolaan keuangan,” katanya.

Dengan pemahaman yang tepat, mahasiswa diharapkan mampu mengambil keputusan finansial yang bijak untuk diri sendiri, serta berperan aktif menyebarkan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan yang sehat, pentingnya pinjaman yang bertanggung jawab, dan kewaspadaan terhadap praktik pinjaman online ilegal kepada komunitas mereka.

Perluasan Jangkauan dan Kolaborasi Jangka Panjang

Ke depan, AFPI berkomitmen untuk terus memperluas program literasi keuangan ke berbagai daerah di Indonesia. Upaya ini merupakan bagian integral dari strategi AFPI dalam membangun ekosistem keuangan digital yang sehat, transparan, dan senantiasa mengedepankan perlindungan konsumen.

Melalui program Media Roadshow, AFPI berupaya memperkuat pemahaman para jurnalis di daerah mengenai industri Pindar yang berizin dan diawasi OJK. Tujuannya adalah mendorong penyebaran informasi yang akurat dan edukatif kepada masyarakat luas, membangun kolaborasi jangka panjang antara industri Pindar dan media dalam upaya perlindungan konsumen, serta meningkatkan kewaspadaan publik terhadap praktik pinjaman online ilegal yang semakin marak. Dengan edukasi yang terus-menerus dan kolaborasi yang solid, diharapkan masyarakat Indonesia dapat memanfaatkan layanan Pindar secara optimal dan aman, berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi digital yang inklusif dan bertanggung jawab.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *