Dunia pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Barat kembali mencatatkan tinta emas melalui pencapaian signifikan yang diraih oleh Universitas Gunung Rinjani (UGR). Sebanyak 14 dosen dari berbagai program studi di universitas tersebut dinyatakan lolos seleksi dan berhak menerima pendanaan untuk program penelitian serta pengabdian kepada masyarakat dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia untuk tahun anggaran 2026. Keputusan ini mempertegas posisi UGR sebagai salah satu perguruan tinggi swasta yang kompetitif di tingkat nasional, khususnya dalam menjalankan pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pengumuman resmi mengenai penerima pendanaan ini tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek dengan Nomor: 94/DST/C/AL.04.02/2026. Keberhasilan ini disambut dengan antusiasme besar oleh seluruh sivitas akademika UGR, mengingat persaingan untuk mendapatkan dana hibah dari kementerian sangatlah ketat, yang melibatkan ribuan proposal dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh Indonesia. Rektor Universitas Gunung Rinjani, Dr. Basri Mulyani, dalam keterangannya pada Senin, 13 April 2026, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari kerja keras kolektif dan komitmen universitas dalam meningkatkan kapasitas intelektual para dosennya. Menurutnya, perolehan hibah ini bukan sekadar masalah nominal pendanaan, melainkan sebuah pengakuan terhadap kualitas metodologi, relevansi topik, dan potensi dampak yang ditawarkan oleh para peneliti UGR. "Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya dan selamat kepada 14 dosen yang telah berhasil melewati proses seleksi yang sangat rigid ini. Keberhasilan ini mencakup berbagai skema, mulai dari penelitian fundamental, penelitian dosen pemula, hingga program pemberdayaan masyarakat yang berbasis pada inovasi nusantara. Ini adalah bukti nyata bahwa daya saing dosen kita terus merangkak naik dan mampu berbicara banyak di level nasional," ujar Dr. Basri Mulyani di Mataram. Rincian Penerima Hibah dan Skema Penelitian Pencapaian tahun ini terbagi ke dalam dua klaster besar, yakni sepuluh judul penelitian dan empat judul pengabdian kepada masyarakat. Pada kategori penelitian, fokus UGR terlihat sangat beragam, mulai dari penguatan teori dasar hingga riset aplikatif yang bertujuan memecahkan masalah praktis. Dalam skema Penelitian Fundamental Reguler, yang merupakan salah satu skema bergengsi karena menuntut kedalaman teoretis dan kebaruan ilmu pengetahuan, dua nama dosen UGR berhasil mencatatkan namanya, yakni Ari Saputra dan Reni Endang Prasetyowati. Penelitian fundamental diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan jangka panjang yang nantinya dapat dikembangkan menjadi riset terapan atau hilirisasi produk. Sementara itu, pada skema Penelitian Dosen Pemula (PDP), UGR menunjukkan regenerasi peneliti yang sangat sehat dengan meloloskan sembilan nama. Skema ini sangat krusial bagi pengembangan karier akademik dosen muda serta peningkatan skor SINTA (Science and Technology Index) institusi. Para dosen yang berhasil meraih pendanaan PDP tersebut adalah Muslihuddin Aini, M. Zainuddin, Sulaiman, Rizal Ahmadi, Muhammar Alay Idrus, Handri Jurya Pahmi, Hidayatul Amri, Nadia Adawi Hiyatunnisa, dan Ria Ashari. Keberagaman latar belakang keilmuan para dosen ini mencerminkan komitmen UGR dalam melakukan riset multidisipliner. Transformasi Sosial Melalui Pengabdian Masyarakat Selain keunggulan di bidang riset, Universitas Gunung Rinjani juga memperkuat perannya dalam pemberdayaan masyarakat. Empat program pengabdian yang lolos didanai oleh Kemendiktisaintek tahun ini diarahkan pada solusi nyata atas permasalahan di pedesaan dan sektor kemitraan. Pada skema Pemberdayaan Desa Binaan, Abdul Majid Junaidi dipercaya untuk menjalankan program yang dirancang untuk meningkatkan kemandirian desa melalui intervensi teknologi atau manajemen kelembagaan. Program ini diharapkan dapat menjadi model bagi desa-desa lain di wilayah Lombok dalam mengelola potensi lokal secara berkelanjutan. Reni Endang Prasetyowati, yang juga memenangkan hibah penelitian fundamental, kembali mencatatkan namanya dalam skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat. Hal ini menunjukkan produktivitas luar biasa dalam menjalankan dua fungsi Tri Dharma sekaligus. Selain itu, pada skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula, pendanaan diberikan kepada Muhamad Sarlan, yang fokus pada inisiasi program pemberdayaan di tingkat komunitas akar rumput. "Program pengabdian ini memiliki misi penting untuk mempercepat hilirisasi hasil riset. Kami tidak ingin hasil penelitian hanya berhenti dalam bentuk laporan atau jurnal ilmiah yang tersimpan di perpustakaan, tetapi harus benar-benar turun ke lapangan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Nusa Tenggara Barat," tegas Dr. Basri Mulyani. Analisis Signifikansi dan Dampak Institusional Keberhasilan meraih 14 hibah dalam satu tahun anggaran merupakan lonjakan signifikan bagi Universitas Gunung Rinjani. Secara institusional, hal ini memberikan dampak positif pada beberapa aspek strategis. Pertama, peningkatan peringkat klasterisasi perguruan tinggi. Kemendiktisaintek menggunakan performa riset dan pengabdian sebagai parameter utama dalam menentukan peringkat universitas di Indonesia. Dengan banyaknya proposal yang lolos, UGR berpotensi naik kelas ke klaster yang lebih tinggi. Kedua, peningkatan akreditasi program studi dan institusi. Dalam instrumen akreditasi LAM (Lembaga Akreditasi Mandiri) maupun BAN-PT, keterlibatan dosen dalam penelitian yang didanai secara eksternal memiliki bobot nilai yang sangat tinggi. Hal ini akan mempermudah program-program studi di UGR untuk meraih predikat "Unggul". Ketiga, pengembangan karier dosen. Pendanaan ini memungkinkan para dosen untuk melakukan pengumpulan data yang lebih komprehensif, berkolaborasi dengan peneliti luar, dan mempublikasikan hasil riset mereka di jurnal internasional bereputasi. Secara otomatis, hal ini akan mempercepat proses kenaikan jabatan fungsional dosen, dari Asisten Ahli menuju Lektor, Lektor Kepala, hingga Guru Besar. Konteks Latar Belakang dan Tantangan Riset Nasional Pencapaian UGR ini terjadi di tengah transformasi besar kebijakan riset di Indonesia. Pemerintah melalui Kemendiktisaintek kini lebih menekankan pada riset yang memiliki dampak ekonomi dan sosial langsung, yang dikenal dengan semangat "Hilirisasi Riset Prioritas" dan "Inovasi Nusantara". Tantangan bagi perguruan tinggi swasta (PTS) di daerah seperti NTB seringkali terletak pada keterbatasan infrastruktur laboratorium dan akses literasi. Namun, keberhasilan 14 dosen UGR membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) di internal kampus, kendala geografis dan fasilitas dapat diatasi melalui kualitas usulan riset yang kompetitif. Proses seleksi yang dimulai sejak akhir tahun sebelumnya melibatkan tahap sinkronisasi data di pangkalan data pendidikan tinggi (PDDikti), pemeriksaan rekam jejak peneliti, hingga review substansi oleh dua hingga tiga reviewer independen. Lolosnya proposal-proposal dari UGR menandakan bahwa para dosen telah mampu menyesuaikan diri dengan standar penulisan ilmiah dan fokus riset nasional yang ditetapkan pemerintah. Harapan dan Rencana Strategis Masa Depan Ke depan, Universitas Gunung Rinjani menargetkan peningkatan jumlah proposal yang dikirimkan serta memperluas jangkauan kerja sama. Dr. Basri Mulyani menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, baik dengan pemerintah daerah maupun sektor industri, untuk mendukung keberlanjutan program riset yang telah didanai. "Capaian di tahun 2026 ini harus menjadi pemantik semangat. Kami ingin budaya meneliti dan mengabdi menjadi napas utama setiap dosen di UGR. Kami juga terus mendorong agar hasil-hasil riset ini nantinya mendapatkan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan dipatenkan, sehingga memiliki nilai ekonomi tinggi," tambahnya. Selain itu, universitas berencana untuk memperkuat internal peer-review di tingkat fakultas agar kualitas proposal yang diajukan pada tahun-tahun mendatang semakin meningkat. Dengan semakin banyaknya dosen yang terlibat dalam program strategis nasional, UGR optimistis dapat berkontribusi lebih besar dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 melalui penyediaan solusi-solusi berbasis riset atas tantangan lokal di Nusa Tenggara Barat. Keberhasilan 14 dosen UGR ini bukan hanya kemenangan bagi institusi, tetapi juga merupakan kabar baik bagi pembangunan daerah. Dengan riset yang menyasar pada pemberdayaan desa dan inovasi nusantara, diharapkan ada lompatan kesejahteraan bagi masyarakat yang menjadi objek maupun subjek dari pengabdian yang dilakukan oleh para akademisi ini. Universitas Gunung Rinjani kini berdiri tegak sebagai pilar intelektual yang aktif berkontribusi dalam pembangunan bangsa melalui jalur riset dan teknologi. Post navigation Universitas Mataram Perkuat Ekosistem Sains Melalui Seleksi ONMIPA 2026 Guna Mencetak Generasi Berdaya Saing Global di Era Industri 5.0 46 Siswa SMAN 1 Mataram Diterima Kampus Ternama Jalur SNBP