DOMPU – Program Jamban Keluarga yang diinisiasi oleh PT Sumbawa Timur Mining (STM) telah memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat di Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu. Sejak pertama kali diluncurkan secara bertahap pada tahun 2017, program ini berhasil menjangkau 2.472 penerima manfaat di delapan desa, dengan total pembangunan 618 unit jamban keluarga. Investasi yang telah digelontorkan untuk program vital ini mencapai sekitar Rp4,3 miliar, menunjukkan komitmen kuat perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan dan sanitasi masyarakat sekitar wilayah operasionalnya. Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga secara fundamental mendukung upaya pemerintah daerah dalam mewujudkan wilayah yang terbebas dari praktik buang air besar sembarangan (BABS), atau yang secara global dikenal sebagai Open Defecation Free (ODF). Inisiatif ini selaras dengan agenda nasional dan global untuk mencapai sanitasi yang layak dan berkelanjutan bagi semua. Urgensi Sanitasi dan Tantangan di Kabupaten Dompu Masalah sanitasi yang buruk merupakan salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang paling mendesak di banyak wilayah di Indonesia, termasuk Kabupaten Dompu. Praktik buang air besar sembarangan (BABS) tidak hanya merendahkan martabat manusia tetapi juga menjadi pemicu utama penyebaran berbagai penyakit menular seperti diare, kolera, disentri, tipes, dan bahkan stunting pada anak-anak. Kontaminasi air dan lingkungan akibat BABS dapat menciptakan lingkaran setan kemiskinan dan penyakit yang sulit diputus. Menurut data Profil Kesehatan Kabupaten Dompu tahun 2024, kondisi sanitasi di Kecamatan Hu’u masih memerlukan perhatian serius. Sebanyak 1.443 kepala keluarga, atau sekitar 29,9 persen dari total keluarga di kecamatan tersebut, belum memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak. Angka ini mencerminkan bahwa hampir sepertiga penduduk masih rentan terhadap risiko kesehatan yang timbul dari lingkungan yang tidak higienis. Kondisi ini seringkali mendorong warga untuk menggunakan sungai, semak-semak, atau tempat terbuka lainnya untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Selain ancaman penyakit, minimnya akses sanitasi juga berdampak pada kurangnya privasi, keamanan, dan kenyamanan, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan lansia. Secara nasional, pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai target ODF di seluruh wilayah. Komitmen ini tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 6 mengenai Air Bersih dan Sanitasi. Oleh karena itu, partisipasi aktif dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta seperti PT STM, menjadi krusial dalam mengakselerasi pencapaian target tersebut. Kronologi dan Evolusi Program Jamban Keluarga PT STM Program Jamban Keluarga PT STM bukanlah inisiatif dadakan, melainkan sebuah program yang dirancang secara bertahap dan berkelanjutan. Program ini dimulai pada tahun 2017 sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan Program Partisipasi Desa (PPD) yang lebih luas. 2017 – Tahap Awal dan Penjajakan Kebutuhan: Pada fase awal, PT STM melakukan survei dan identifikasi kebutuhan sanitasi di desa-desa sekitar wilayah proyek Hu’u. Pendekatan partisipatif melalui musyawarah dengan masyarakat dan pemerintah desa menjadi kunci untuk memastikan program sesuai dengan prioritas dan kondisi lokal. Desa-desa dengan tingkat BABS tertinggi dan jumlah keluarga rentan yang signifikan menjadi target utama. Fokus awal adalah pada pembangunan unit-unit jamban yang sederhana namun fungsional, dengan tujuan untuk mengedukasi dan membiasakan masyarakat dengan praktik sanitasi yang lebih baik. 2018-2022 – Pengembangan dan Peningkatan Skala: Melihat respons positif dari masyarakat dan urgensi masalah sanitasi, PT STM secara progresif meningkatkan skala program. Jumlah unit jamban yang dibangun bertambah setiap tahunnya. Pada periode ini, mekanisme pelaksanaan program mulai distandarisasi, termasuk kriteria penerima manfaat yang lebih terarah pada kelompok rentan seperti warga lanjut usia, perempuan kepala keluarga, keluarga yatim, dan keluarga prasejahtera. Total investasi mulai menunjukkan angka yang substansial seiring dengan perluasan cakupan desa. 2023-2025 – Puncak Implementasi dan Dampak Terukur: Program mencapai puncaknya dengan pembangunan ratusan unit jamban setiap tahun. Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Dompu tahun 2025 menunjukkan bahwa jumlah penerima manfaat program ini setara dengan sekitar 11,15 persen dari total penduduk Kecamatan Hu’u. Angka ini mencerminkan cakupan yang luas dan dampak yang mulai terasa dalam upaya percepatan status ODF di kecamatan tersebut. Pada tahun 2025 pula, salah satu penerima manfaat, Juhra, menerima bantuan jamban yang sangat ia butuhkan. Ini menunjukkan bahwa program terus berlanjut hingga tahun-tahun terkini dengan menyasar individu-individu yang paling membutuhkan. 2026 – Rekapitulasi dan Evaluasi Berkelanjutan: Hingga saat artikel ini dipublikasikan, total 618 unit jamban telah dibangun dengan nilai program mencapai sekitar Rp4,3 miliar. Ini adalah hasil kumulatif dari upaya bertahap sejak 2017. PT STM terus melakukan evaluasi terhadap efektivitas program, memastikan keberlanjutan manfaat, dan mengidentifikasi area-area yang masih memerlukan intervensi. Mekanisme Pelaksanaan dan Kriteria Penerima Manfaat yang Inklusif Program Jamban Keluarga PT STM dirancang dengan pendekatan yang inklusif dan transparan, menjadikannya bagian integral dari Program Partisipasi Desa (PPD) perusahaan. PPD adalah kerangka kerja yang memungkinkan masyarakat untuk secara aktif mengusulkan program-program berdasarkan kebutuhan riil di desa mereka, mencakup berbagai bidang seperti kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan infrastruktur. Dalam konteks Program Jamban Keluarga, proses seleksi penerima manfaat dilakukan dengan cermat untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Kriteria prioritas diberikan kepada kelompok-kelompok yang paling rentan dan paling sulit mengakses fasilitas sanitasi layak secara mandiri: Warga Lanjut Usia (Lansia): Keterbatasan fisik dan ekonomi seringkali membuat lansia kesulitan membangun atau mengakses jamban yang layak. Perempuan Kepala Keluarga: Perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga seringkali memiliki keterbatasan finansial dan waktu, serta sangat membutuhkan privasi dan keamanan sanitasi. Keluarga Yatim: Anak-anak yatim atau yang hidup dalam keluarga yatim piatu seringkali berada dalam kondisi ekonomi yang rentan dan membutuhkan dukungan. Keluarga Prasejahtera: Keluarga dengan pendapatan rendah atau tidak tetap yang tidak mampu mengalokasikan dana untuk pembangunan jamban. Pendekatan ini memastikan bahwa program tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga memberdayakan komunitas dan meningkatkan rasa kepemilikan. Dengan melibatkan keluarga penerima manfaat dalam proses persiapan, seperti menyiapkan sumber air dan menggali lubang pembuangan, program ini menumbuhkan semangat gotong royong dan keberlanjutan. Pembangunan fisik jamban sendiri dilaksanakan oleh mitra kerja PT STM yang memiliki keahlian di bidang konstruksi, memastikan kualitas dan standar yang baik. Studi Kasus: Transformasi Kehidupan Juhra dan Dampak Nyata Kisah Juhra (50), seorang perempuan kepala keluarga dari Desa Rasabou, Kecamatan Hu’u, adalah potret nyata dari dampak transformatif Program Jamban Keluarga PT STM. Hidupnya adalah perjuangan tiada henti setelah suaminya meninggal dunia. Sebagai tulang punggung keluarga, Juhra harus bekerja serabutan sebagai buruh tani, pemetik daun tembakau, pengasuh bayi, hingga asisten rumah tangga. Penghasilannya yang tidak menentu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dan biaya pendidikan anak-anaknya. Dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas, membangun jamban yang layak adalah kemewahan yang tidak mampu ia impikan. Sebelum menerima bantuan dari PT STM, Juhra dan keluarganya harus bergantung pada Sungai Daha atau menumpang di kamar mandi milik tetangga. Situasi ini tidak hanya merepotkan tetapi juga penuh risiko, terutama bagi Juhra yang pernah harus menggendong ayahnya yang tidak mampu berjalan menuju sungai, bahkan di malam hari atau saat jalanan licin. Ketiadaan fasilitas sanitasi pribadi merenggut privasi, keamanan, dan martabat keluarganya. Pada tahun 2025, titik terang datang. Sebuah fasilitas sanitasi layak berukuran sekitar 1,5 meter persegi dibangun di samping rumah Juhra, berkat Program Jamban Keluarga PT STM. Pembangunan ini melibatkan mitra kerja STM, dengan Juhra dan keluarganya turut berpartisipasi dalam menyiapkan sumber air dan menggali lubang pembuangan, menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap fasilitas baru mereka. "Saya luar biasa senang setelah sekian lama harus menumpang ke rumah tetangga dan pergi ke sungai untuk buang hajat. Bantuan ini benar-benar kami butuhkan. Semoga STM terus maju dan berkembang sehingga dapat memperluas manfaat program," ujar Juhra dengan mata berbinar, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam. Kisah Juhra bukan hanya tentang sebuah jamban, tetapi tentang pemulihan martabat, keamanan, dan kenyamanan hidup bagi keluarganya. Ini adalah cerminan dari dampak positif yang dirasakan oleh ratusan keluarga rentan lainnya di Kecamatan Hu’u. Tanggapan Pihak Terkait dan Implikasi Lebih Luas Program Jamban Keluarga ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat. Community Relations Manager PT STM, Ulya Defretes, menegaskan bahwa program ini adalah wujud nyata dukungan perusahaan terhadap upaya Pemerintah Kabupaten Dompu dalam menghapuskan praktik buang air besar sembarangan atau "Zero BABS" di Kecamatan Hu’u. Pernyataan ini menggarisbawahi sinergi antara sektor swasta dan pemerintah dalam mencapai tujuan pembangunan bersama. Pemerintah Kabupaten Dompu sendiri secara logis menyambut baik inisiatif PT STM ini. Partisipasi perusahaan dalam program-program sanitasi membantu meringankan beban anggaran pemerintah dan mempercepat pencapaian target ODF. Program seperti ini menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dapat menjadi kekuatan pendorong yang signifikan dalam pembangunan daerah, khususnya di sektor-sektor krusial seperti kesehatan dan sanitasi. Dari perspektif masyarakat, program ini memberikan lebih dari sekadar fasilitas fisik. Ketersediaan jamban membuat keluarga penerima manfaat tidak lagi bergantung pada sungai atau fasilitas milik orang lain. Ini memberikan keamanan, kenyamanan, privasi, dan akses sanitasi yang jauh lebih layak. Dampak tidak langsungnya sangat luas, mulai dari peningkatan kesehatan keluarga, pengurangan angka penyakit diare, peningkatan kualitas lingkungan, hingga potensi peningkatan produktivitas karena anggota keluarga lebih sehat dan dapat beraktivitas tanpa terganggu masalah kesehatan akibat sanitasi buruk. Selain mendukung Kecamatan Hu’u menuju status ODF, program ini juga berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak. Kontribusi sektor swasta dalam memenuhi target SDGs merupakan indikator praktik bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. PT STM, melalui program ini, tidak hanya berinvestasi pada infrastruktur, tetapi juga pada modal sosial dan kesehatan masyarakat, yang pada gilirannya akan menciptakan lingkungan yang lebih stabil dan sejahtera di sekitar wilayah proyek Hu’u. Keberlanjutan dan Harapan Masa Depan Keberlanjutan program sanitasi sangatlah penting. Selain pembangunan fisik, PT STM diharapkan dapat terus mendukung program-program edukasi kebersihan dan kesehatan lingkungan di masyarakat. Pemahaman tentang pentingnya mencuci tangan pakai sabun, pengelolaan sampah rumah tangga, dan pemeliharaan jamban menjadi kunci agar manfaat program dapat bertahan lama. Program Jamban Keluarga PT STM dapat menjadi model bagi perusahaan lain yang beroperasi di wilayah serupa untuk turut berkontribusi dalam pembangunan sanitasi di Indonesia. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil adalah kunci untuk mengatasi tantangan sanitasi yang masih membayangi jutaan penduduk Indonesia. Dengan investasi yang berkelanjutan dan pendekatan yang partisipatif, cita-cita Indonesia bebas BABS dan memiliki akses sanitasi layak bagi semua dapat segera terwujud. PT Sumbawa Timur Mining telah menunjukkan langkah nyata menuju arah tersebut, membuktikan bahwa komitmen korporasi dapat menjadi motor penggerak perubahan positif bagi kesejahteraan masyarakat. Post navigation Bank NTB Syariah Menghadapi Somasi Nasabah Terkait Transparansi Pembiayaan, Tegaskan Komitmen pada Prinsip Syariah dan GCG