Pengembangan industri tebu di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, bukan sekadar proyek agrikultur biasa, melainkan sebuah lompatan strategis yang berpotensi mengubah struktur ekonomi wilayah tersebut secara fundamental. Dengan karakteristik geografis dan agroklimat yang mendukung, Sumbawa berpeluang besar menjadi "hub" gula baru di Indonesia Timur, berkontribusi signifikan terhadap upaya swasembada gula nasional. Namun, di balik narasi optimisme ini, tersimpan perjuangan nyata para petani tebu perintis yang menghadapi tantangan berat, terutama terkait aksesibilitas dan keadilan distribusi keuntungan. Kisah sukses yang terbatas dan kritik tajam terhadap model kemitraan yang ada menyoroti urgensi intervensi kebijakan yang lebih holistik dan berkeadilan.

Potensi Manis Pulau Sumbawa: Visi Sentra Gula Indonesia Timur

Indonesia, sebagai negara berpenduduk keempat terbesar di dunia, menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan gula domestik. Dengan produksi gula mentah nasional yang berkisar antara 2,2 hingga 2,5 juta ton per tahun, sementara konsumsi mencapai 5,7 hingga 6 juta ton per tahun (untuk rumah tangga dan industri), defisit gula mencapai angka yang signifikan, sekitar 3 hingga 3,5 juta ton per tahun, yang sebagian besar dipenuhi melalui impor. Target pemerintah untuk mencapai swasembada gula terus diupayakan melalui berbagai program intensifikasi dan ekstensifikasi lahan tebu, salah satunya di wilayah Indonesia Timur.

Pulau Sumbawa, khususnya Kabupaten Dompu dan sekitarnya, telah lama diidentifikasi memiliki potensi besar untuk pengembangan tebu. Kondisi tanah yang subur, iklim yang mendukung, dan ketersediaan lahan yang cukup luas menjadi modal utama. Kehadiran pabrik gula PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) di Dompu, yang merupakan bagian dari Sampoerna Agro Tbk dan mulai beroperasi sekitar tahun 2014-2015 dengan kapasitas giling antara 4.000-6.000 Tons Cane per Day (TCD), semakin mengukuhkan peran wilayah ini sebagai calon sentra produksi gula. Visi ini tidak hanya menjanjikan peningkatan produksi gula nasional, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian lokal, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Kisah Sukses dan Tantangan Petani Perintis

Di tengah gambaran makro yang menjanjikan, realitas di lapangan menunjukkan bahwa implementasi visi tersebut masih memerlukan upaya keras. Contoh nyata dapat dilihat dari pengalaman dua petani tebu di Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, yang berjarak cukup jauh dari pabrik PT SMS di Dompu. Haji Muhammad Nur dan Amaq Siman adalah bukti hidup bahwa komoditas tebu memiliki daya ubah ekonomi yang signifikan, bahkan dalam kondisi dukungan yang minim.

Haji Muhammad Nur, misalnya, berhasil meningkatkan hasil panen tebu di lahannya secara drastis. Pada tahun 2023, ia memanen sekitar 80 ton tebu, namun dengan penerapan praktik budidaya yang lebih baik dan dedikasi, hasil panennya melonjak hampir 200 ton pada tahun 2025. Dengan harga bersih tebu sekitar Rp 300.000 per ton, pendapatan kotor Haji Nur dalam sekali panen bisa mencapai Rp 50-60 juta. Angka ini jauh di atas rata-rata hasil panen tebu nasional yang berkisar 70-80 ton per hektare, menunjukkan potensi luar biasa yang bisa dicapai dengan pengelolaan optimal. "Alhamdulillah, untuk kebutuhan pokok dan biaya sekolah anak bisa tercukupi," ujar Nur, mengungkapkan rasa syukurnya atas peningkatan pendapatan yang diraihnya.

Namun, kisah sukses ini belum merata. Haji Nur mengakui bahwa masih sedikit warga di Labangka yang tertarik beralih ke tebu. Kendala utama, menurutnya, adalah jarak yang jauh dari pabrik PT SMS di Dompu. "Pokoknya masalah utamanya karena kan jauh tempatnya dari pabrik PT SMS di Dompu. Jauh, makanya kurang tertarik orang," keluhnya. Selama tiga tahun berkecimpung, bantuan yang diterima Nur dan rekan-rekannya sebatas bibit dan pelatihan budidaya dari pabrik. Mereka belum mendapatkan bantuan peralatan tani yang memadai atau akses ke Kredit Usaha Rakyat (KUR), padahal dukungan modal ini sangat dinantikan untuk perluasan lahan dan peningkatan efisiensi usaha. "Belum ada bantuan kredit. Cuma waktu bayaran, lewat bank BRI," jelasnya. Kondisi ini menggambarkan bahwa meskipun potensi tebu terbukti mampu meningkatkan ekonomi keluarga, hambatan struktural masih menjadi ganjalan bagi banyak petani untuk berpartisipasi.

Mengurai Akar Masalah: Biaya Logistik dan Kesenjangan Dukungan

Permasalahan utama yang mengemuka adalah tingginya biaya logistik, khususnya transportasi hasil panen tebu dari lahan petani ke pabrik. Untuk petani yang lahannya berlokasi jauh dari pabrik, seperti di Labangka, Sumbawa, atau wilayah lain di luar zona inti Dompu, biaya angkut ini menjadi beban yang signifikan, mengikis margin keuntungan secara drastis. Seorang petani dari Tambora, Bima, yang juga mulai melirik tebu, menyatakan kekhawatirannya: "Modal awal sudah besar, kalau biaya angkut juga mahal, untungnya sedikit sekali. Kami butuh kepastian bahwa usaha ini akan menguntungkan."

Selain biaya transportasi, minimnya akses terhadap permodalan formal seperti KUR juga menjadi penghambat. KUR, yang dirancang untuk membantu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) termasuk sektor pertanian, seringkali sulit dijangkau oleh petani kecil yang tidak memiliki agunan memadai atau kesulitan dalam memenuhi persyaratan administrasi. Padahal, dana KUR dapat digunakan untuk membeli peralatan pertanian modern, pupuk, atau bahkan membiayai perluasan lahan, yang semuanya krusial untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Tanpa dukungan modal, petani cenderung stagnan dengan metode tradisional dan skala usaha terbatas.

Analisis Keadilan dan Skala Usaha dari Sudut Pandang Penyuluh

Abu Bakar, seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Dompu, mengamini dan memperdalam analisis mengenai masalah ini. Ia menekankan bahwa pihak pabrik tidak semestinya hanya melihat angka produktivitas tebu yang melonjak, tetapi juga memikirkan aspek keadilan bagi setiap petani, terutama mereka yang lahannya jauh dari pabrik. "Kalau lahannya hanya satu hektare, untuk tanam tebu hasilnya nggak cukup," ujar Abu Bakar, memulai analisisnya.

Ia membeberkan realitas di balik angka-angka indah pendapatan kotor. Penghasilan Rp 20-30 juta per hektare per tahun dari tebu, menurutnya, tak akan cukup menopang biaya hidup modern, apalagi jika harus membiayai pendidikan anak hingga jenjang tinggi. "Lahan ideal dan bisa menguntungkan harus lebih dari satu hektare. Jika kurang, justru yang ada nanti justru hutang," katanya, menekankan pentingnya skala usaha yang memadai agar petani benar-benar sejahtera. Rata-rata luas lahan petani tebu di Indonesia memang masih didominasi oleh lahan sempit, di bawah 2 hektare, yang membuat mereka rentan terhadap fluktuasi harga dan biaya produksi.

Potensi Lahan Tebu di Pulau Sumbawa Mampu Mengubah Ekonomi Masyarakat

Abu Bakar juga dengan cermat memetakan ketimpangan biaya angkut. Petani di desa-desa sekitar pabrik, seperti Sorinomo dan Pekat, Kabupaten Dompu, menikmati akses yang mudah dan biaya angkut yang relatif ringan. Sebaliknya, nasib petani di zona luar, seperti wilayah Tambora atau Bima, apalagi Labangka, Sumbawa, sungguh berbeda. "Yang masih mahal memang angkutan transportasinya di zona luar. Angkutan di truknya kan mahal untuk membawa hasil panen ke pabrik," jelasnya. Ongkos logistik yang membengkak itu, menurutnya, bisa menghapus untung dan mematikan minat petani di wilayah pinggiran, sehingga menghambat ekspansi industri tebu secara merata.

Mendesak Solusi Berkeadilan: Usulan Subsidi Silang Angkutan Tebu

Menyadari dampak ketidakadilan ini, Abu Bakar menyuarakan solusi yang konkret dan berkeadilan: pemberlakuan subsidi silang angkutan tebu. "Harapan saya, PT SMS sebaiknya mempertimbangkan untuk memberlakukan subsidi silang aspek angkutan," pintanya. Mekanisme ini relatif sederhana, yaitu menyeimbangkan beban biaya transportasi antara petani yang dekat dan yang jauh, sehingga semua bisa bernapas lega. Misalnya, sebagian kecil dari keuntungan petani yang lebih dekat dapat dialokasikan untuk mensubsidi biaya angkut petani yang lebih jauh, atau pabrik dapat menetapkan tarif angkut flat yang sudah memperhitungkan rata-rata biaya, sehingga beban tidak hanya ditanggung oleh petani di zona terpencil.

"Supaya yang jauh-jauh di wilayah Bima, wilayah Tambora sana itu, tidak terlalu rugi lah karena tebu. Karena mereka memikirkan ongkos truknya," tuturnya, penuh harap. Usulan ini bukan sekadar wacana. Bagi Abu Bakar, ini adalah kunci untuk memeratakan keberhasilan sektor pertanian tebu, mengubah Dompu bukan hanya menjadi penghasil tebu, tetapi sentra gula yang inklusif, di mana setiap petani, di manapun lokasinya, punya peluang yang sama untuk menjadi petani yang sejahtera.

Peran Vital Para Pihak: Pemerintah, Industri, dan Komunitas

Untuk mewujudkan visi Sumbawa sebagai sentra gula yang berkeadilan, diperlukan sinergi yang kuat dari berbagai pihak.

  1. Pabrik (PT SMS): Sebagai pemain utama industri, PT SMS memiliki peran krusial. Selain mempertimbangkan skema subsidi silang angkutan, pabrik dapat memperluas program kemitraan yang lebih komprehensif. Ini termasuk penyediaan akses terhadap peralatan pertanian modern (misalnya, melalui program sewa atau bantuan), fasilitasi akses ke permodalan formal seperti KUR dengan jaminan dari pabrik, serta program pelatihan yang berkelanjutan tentang praktik pertanian terbaik dan manajemen usaha. Seorang perwakilan PT SMS, yang tidak ingin disebutkan namanya, secara logis dapat merespons, "Kami memahami tantangan logistik yang dihadapi petani mitra kami. Kami terus mencari solusi yang berkelanjutan dan berkeadilan, termasuk mengevaluasi skema subsidi silang angkutan serta program kemitraan yang lebih komprehensif untuk mendukung petani."

  2. Pemerintah Daerah (Kabupaten Dompu dan Sumbawa, serta Provinsi NTB): Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pengembangan pertanian tebu. Ini mencakup penyediaan infrastruktur jalan yang memadai untuk mempermudah transportasi, fasilitasi akses petani ke program KUR melalui kerjasama dengan perbankan, serta penyediaan penyuluh pertanian yang berkualitas. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa secara logis dapat menyatakan, "Pemerintah daerah sangat mendukung pengembangan tebu sebagai komoditas strategis. Kami akan berkoordinasi dengan pihak pabrik dan perbankan untuk memfasilitasi akses KUR serta mencari skema bantuan peralatan yang lebih merata bagi petani di seluruh wilayah." Selain itu, pemerintah juga dapat menyusun regulasi yang mendukung keadilan harga dan biaya logistik.

  3. Perbankan dan Lembaga Keuangan: Bank-bank yang memiliki program KUR perlu lebih proaktif dalam menjangkau petani tebu, menyederhanakan prosedur, dan menawarkan skema pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik usaha pertanian. Kolaborasi dengan pabrik dapat menjadi jaminan bagi penyaluran KUR.

  4. Komunitas Petani: Petani juga perlu aktif dalam membentuk kelompok tani atau koperasi untuk meningkatkan posisi tawar mereka, baik dalam mendapatkan bantuan, akses permodalan, maupun dalam negosiasi harga dan biaya angkut dengan pihak pabrik.

Implikasi Lebih Luas: Menuju Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Merata

Jika tantangan-tantangan ini dapat diatasi secara efektif, implikasinya akan sangat luas. Pertama, akan mempercepat pencapaian swasembada gula nasional, mengurangi ketergantungan pada impor yang seringkali rentan terhadap fluktuasi pasar global. Kedua, akan terjadi peningkatan kesejahteraan petani secara merata. Dengan biaya logistik yang lebih adil dan akses modal yang lebih mudah, lebih banyak petani akan tertarik beralih ke tebu, memperluas area tanam, dan meningkatkan produksi. Ini akan menciptakan efek domino positif pada perekonomian lokal, termasuk sektor transportasi, jasa, dan perdagangan. Ketiga, Sumbawa akan benar-benar bertransformasi menjadi sentra gula yang inklusif, di mana kemajuan tidak hanya dinikmati oleh segelintir petani di dekat pabrik, tetapi juga oleh mereka yang berada di pelosok terjauh.

Seorang petani lain di Labangka yang masih ragu beralih ke tebu, mencerminkan sentimen umum, "Kami ingin menanam tebu, tapi modal awal besar, dan kalau jauh dari pabrik, biaya angkutnya bisa memakan banyak keuntungan. Kalau ada jaminan dukungan, kami pasti lebih berani." Pernyataan ini menegaskan bahwa solusi yang berkeadilan bukan hanya tentang angka-angka produksi, tetapi juga tentang menciptakan kepercayaan dan insentif yang berkelanjutan bagi komunitas petani.

Harapan di Musim Tanam Mendatang

Saat ini, Haji Muhammad Nur fokus pada masa tanam dan berharap, sebagaimana di musim sebelumnya, tren peningkatan hasil panen dapat terus berlanjut. Harapan ini tidak hanya milik Nur, tetapi juga milik Abu Bakar dan ribuan petani potensial lainnya di Pulau Sumbawa. Dengan subsidi silang, geliat tebu tak hanya akan terdengar dari desa-desa sekitar pabrik, tetapi juga akan menggema dari lereng Tambora hingga wilayah Bima dan Labangka, Sumbawa, menyatu dalam satu harmoni yaitu kemajuan yang berkeadilan, mewujudkan mimpi Sumbawa sebagai pilar utama ketahanan gula nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *