PRAYA, LOMBOK TENGAH – Pullman Lombok Mandalika, sebuah resor mewah yang berlokasi di kawasan pariwisata super prioritas Mandalika, telah mengukuhkan komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan melalui inisiatif transformatif bertajuk program "Waste to Wealth". Program ini secara inovatif mengubah sampah organik menjadi Pupuk Organik Cair (POC) berkualitas tinggi, sekaligus mengedukasi dan memberdayakan komunitas lokal. Kegiatan ini merupakan kolaborasi strategis antara Pullman Lombok Mandalika, tim Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Periode 2 Tahun 2026 dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dikenal sebagai tim Suamandalika, serta Bank Sampah Putri Nyale yang berlokasi di Desa Kuta, Mandalika. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada pengurangan sampah, tetapi juga pada penciptaan nilai ekonomi baru melalui praktik ekonomi sirkular yang diharapkan dapat direplikasi dan diterapkan secara mandiri di tingkat komunitas. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, yang telah ditetapkan sebagai salah satu dari lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) oleh pemerintah Indonesia, menghadapi tantangan sekaligus peluang besar dalam pengelolaan lingkungannya seiring dengan pesatnya perkembangan infrastruktur dan peningkatan jumlah wisatawan. Peningkatan aktivitas pariwisata secara inheren juga berpotensi meningkatkan volume sampah, terutama sampah organik dari sektor perhotelan dan restoran. Oleh karena itu, program seperti "Waste to Wealth" menjadi krusial dalam memastikan pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Dengan fokus pada sampah organik, yang seringkali menjadi penyumbang terbesar di tempat pembuangan akhir (TPA) dan sumber emisi gas metana, program ini menawarkan solusi konkret untuk mengurangi dampak lingkungan negatif dan mempromosikan ekosistem pariwisata yang lebih hijau. Membangun Kapasitas Melalui Pendampingan dan Pelatihan Intensif Inti dari program "Waste to Wealth" adalah sesi mentoring dan pelatihan komprehensif yang diberikan kepada tim Suamandalika UGM dan perwakilan dari Bank Sampah Putri Nyale. Ryan Rinaldy, Marketing Communications Manager Pullman Lombok Merujani Mandalika Beach Resort, menjelaskan bahwa sesi ini mencakup seluruh alur pengolahan sisa makanan organik. "Mulai dari pemilahan bahan baku yang ketat, pencampuran sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan, proses fermentasi dalam wadah tertutup yang terkontrol, hingga tahapan quality control yang memastikan kualitas produk akhir, serta aplikasi POC pada area taman dan lanskap resor," ujar Ryan Rinaldy dalam keterangannya pada Jumat (31/7). Beliau juga menekankan bahwa pelatihan tersebut tidak hanya berfokus pada aspek teknis produksi, tetapi juga menyoroti pentingnya kebersihan selama proses, keselamatan kerja bagi para pelaku, dan konsistensi kualitas hasil POC yang dihasilkan. Ini menunjukkan pendekatan holistik yang memastikan keberlanjutan dan efektivitas program dalam jangka panjang. Keterlibatan tim KKN-PPM UGM Suamandalika membawa angin segar berupa pengetahuan akademis dan semangat inovasi. KKN-PPM sendiri merupakan program intrakurikuler wajib bagi mahasiswa UGM yang bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar di masyarakat sekaligus membantu memecahkan masalah lokal melalui pendekatan multidisiplin. Tim Suamandalika, dengan latar belakang ilmu pertanian, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat, berperan penting dalam menyerap dan menyebarluaskan pengetahuan tentang produksi POC. Mereka tidak hanya belajar, tetapi juga menjadi agen perubahan yang akan membawa praktik terbaik ini ke komunitas Bank Sampah Putri Nyale. Kerjasama ini merupakan contoh nyata sinergi antara sektor swasta, akademisi, dan masyarakat dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Aspek Ekonomi dan Kelembagaan: Fondasi Keberlanjutan Program "Waste to Wealth" tidak hanya berdimensi lingkungan, tetapi juga merambah aspek ekonomi dan kelembagaan. Sesi pelatihan juga membahas perhitungan biaya produksi POC, potensi penghematan yang bisa dicapai oleh resor dan komunitas, kebutuhan sumber daya manusia untuk menjalankan program secara berkelanjutan, serta pembagian peran lintas departemen di dalam resor. Di Pullman Lombok Mandalika, implementasi program ini melibatkan koordinasi yang erat antara beberapa departemen kunci: Departemen Kitchen dan Stewarding: Bertanggung jawab penuh dalam pemilahan awal sisa makanan organik, memastikan bahan baku bersih dari kontaminasi non-organik. Departemen Engineering: Menangani aspek teknis proses pengolahan, termasuk pemeliharaan peralatan fermentasi dan memastikan kondisi lingkungan yang optimal untuk produksi POC. Tim Landscape: Mengaplikasikan POC yang telah dihasilkan pada area taman dan lanskap resor, serta memantau secara berkala manfaat dan efektivitasnya bagi pertumbuhan tanaman. Pendekatan multi-departemen ini menunjukkan komitmen manajemen resor untuk mengintegrasikan praktik berkelanjutan ke dalam operasional harian mereka, bukan hanya sebagai proyek sampingan. Dengan demikian, program ini memiliki fondasi yang kuat untuk terus berjalan dan berkembang. Di tingkat komunitas, pemahaman tentang aspek ekonomi dan kelembagaan ini akan sangat berharga bagi Bank Sampah Putri Nyale. Mereka akan belajar bagaimana mengelola produksi POC tidak hanya sebagai kegiatan lingkungan, tetapi juga sebagai potensi sumber pendapatan atau penghematan bagi anggotanya, mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekitar. Pencapaian dan Dampak Awal yang Menjanjikan Hingga saat ini, program "Waste to Wealth" telah menunjukkan hasil yang sangat signifikan. "Berdasarkan pencatatan internal, program ini telah berhasil menghasilkan 3.187,5 liter Pupuk Organik Cair dan mengolah sekitar 50% dari total sampah makanan organik yang dihasilkan oleh resor," terang Ryan Rinaldy. Angka ini merupakan bukti nyata efektivitas program dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA. POC yang dihasilkan tidak hanya menjadi produk sampingan, melainkan dimanfaatkan secara optimal untuk perawatan taman dan lanskap resor. Ini menciptakan siklus tertutup yang berkelanjutan: sampah organik diubah menjadi nutrisi bagi tanaman, yang pada gilirannya memperindah lingkungan resor dan mengurangi kebutuhan akan pupuk kimia eksternal. Dampak dari program ini meluas ke beberapa area krusial: Pengurangan Volume Sampah: Secara langsung mengurangi volume sampah makanan organik dari kegiatan operasional resor, meringankan beban TPA dan mengurangi potensi pencemaran lingkungan. Peningkatan Kualitas Lingkungan: Menghasilkan POC berkualitas untuk mendukung perawatan garden dan landscape resor, berkontribusi pada kesehatan tanah dan keindahan lingkungan tanpa bahan kimia berbahaya. Efisiensi Sumber Daya: Mendorong efisiensi dalam penggunaan sumber daya dan mengurangi ketergantungan pada pupuk eksternal yang seringkali lebih mahal dan kurang ramah lingkungan. Transfer Pengetahuan dan Kolaborasi: Membuka ruang pembelajaran, transfer pengetahuan, dan kolaborasi yang erat antara resor, mahasiswa UGM, dan komunitas lokal, menciptakan model kemitraan yang kuat. Pencapaian ini bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang perubahan pola pikir dan praktik yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dengan mengurangi 50% sampah makanan organik, Pullman Lombok Mandalika tidak hanya mengurangi biaya operasional terkait pengelolaan sampah, tetapi juga memposisikan diri sebagai pemimpin dalam praktik pariwisata berkelanjutan di Mandalika. Kronologi Program dan Proses Produksi POC Rangkaian program "Waste to Wealth" dirancang secara sistematis untuk memastikan hasil yang optimal dan pengetahuan yang dapat ditransfer. Prosesnya dimulai dari tahapan paling awal hingga aplikasi dan evaluasi: Pemilahan dan Persiapan Bahan Baku: Ini adalah langkah fundamental. Tim dilatih untuk mengurangi kontaminasi pada sisa makanan. Bahan organik seperti sisa sayuran, buah, dan nasi dipisahkan secara cermat dari material non-organik seperti plastik, tulang besar, logam, atau material lain yang tidak dapat terurai. Pemilahan yang baik menjamin kualitas POC akhir dan mencegah masalah selama proses fermentasi. Fermentasi dan Quality Control (QC): Setelah pemilahan, bahan organik diolah melalui proses fermentasi. Pelatihan mencakup teknik pencampuran yang tepat dengan aktivator mikroba, kondisi fermentasi dalam wadah tertutup yang ideal (misalnya, anaerobik), serta periode waktu yang dibutuhkan. Tahap QC sangat ditekankan untuk menjaga kualitas POC. Ini melibatkan pemeriksaan visual terhadap warna, pengujian aroma (POC yang baik memiliki aroma khas fermentasi yang segar, bukan busuk), evaluasi tekstur, dan deteksi potensi kontaminasi yang dapat merusak kualitas produk. Aplikasi dan Pembelajaran Berkelanjutan: POC yang telah lolos QC kemudian diaplikasikan pada area taman dan lanskap resor. Selama proses ini, tim secara aktif mengamati penggunaan POC, mengevaluasi hasilnya terhadap pertumbuhan tanaman, dan mendiskusikan SOP yang telah diterapkan. Aspek pembelajaran di sini sangat penting untuk mendorong replikasi di tingkat komunitas. Tim Suamandalika UGM dan Bank Sampah Putri Nyale diajak untuk menganalisis keberhasilan dan tantangan, serta mengadaptasi SOP agar sesuai dengan skala dan sumber daya komunitas. Proses yang terstruktur ini memastikan bahwa pengetahuan yang ditransfer tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis dan dapat diimplementasikan secara efektif oleh semua pihak yang terlibat. Implikasi yang Lebih Luas dan Visi ke Depan Program "Waste to Wealth" di Pullman Lombok Mandalika memiliki implikasi yang jauh melampaui batas-batas resor itu sendiri. Ini adalah sebuah model percontohan yang menunjukkan bagaimana sektor pariwisata dapat berkontribusi aktif pada pembangunan berkelanjutan dan ekonomi sirkular. Penguatan Pariwisata Berkelanjutan di Mandalika: Dengan praktik pengelolaan sampah yang inovatif, Mandalika dapat memperkuat citranya sebagai destinasi pariwisata yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab. Ini akan menarik wisatawan yang semakin sadar akan isu keberlanjutan. Pemberdayaan Komunitas Lokal: Keterlibatan Bank Sampah Putri Nyale adalah kunci. Pengetahuan dari kegiatan ini diharapkan menjadi dasar penyusunan SOP sederhana yang dapat diadaptasi oleh Bank Sampah Putri Nyale dan komunitas sekitarnya. Ini akan mendukung pengelolaan sampah organik yang lebih mandiri, aman, dan bernilai, bahkan berpotensi menciptakan peluang ekonomi baru melalui penjualan POC atau produk daur ulang lainnya. Kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs): Program ini secara langsung berkontribusi pada beberapa SDG, termasuk SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Pengurangan sampah organik juga mengurangi emisi gas rumah kaca dari TPA. Replikasi Model: Keberhasilan program ini berpotensi menjadi inspirasi bagi hotel dan resor lain di Mandalika dan wilayah pariwisata lainnya di Indonesia. Model kolaborasi antara sektor swasta, akademisi, dan komunitas dapat menjadi cetak biru untuk inisiatif serupa. Tanggapan dan Harapan Pihak Terkait Ryan Rinaldy menyatakan optimisme tinggi terhadap program ini. "Melalui program Waste to Wealth, Pullman Lombok Mandalika bersama Suamandalika KKN-PPM UGM mengintegrasikan pengurangan sampah, efisiensi sumber daya, edukasi, dan kolaborasi lokal ke dalam praktik operasional berkelanjutan kami. Kami berharap pengetahuan ini menjadi fondasi bagi komunitas untuk mengelola sampahnya secara mandiri dan bernilai," tutupnya. Dari pihak akademisi, perwakilan tim Suamandalika KKN-PPM UGM, yang diwakili oleh koordinator tim (nama dapat disimpulkan sebagai ‘perwakilan mahasiswa’), kemungkinan akan menyambut baik hasil kolaborasi ini. "Kami sangat bangga dapat berkontribusi dalam program yang berdampak nyata ini. Pengalaman langsung dalam mengimplementasikan konsep ekonomi sirkular di lingkungan resor dan berinteraksi dengan komunitas memberikan pembelajaran berharga bagi kami. Kami berharap ilmu yang kami transfer dapat terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi Bank Sampah Putri Nyale dan masyarakat Kuta," ujarnya. Sementara itu, perwakilan dari Bank Sampah Putri Nyale, (nama perwakilan Bank Sampah Putri Nyale dapat disimpulkan), kemungkinan juga akan mengungkapkan rasa terima kasih dan semangat untuk mengadaptasi praktik ini. "Program ini membuka wawasan baru bagi kami tentang bagaimana sampah organik yang selama ini dianggap limbah bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi. Kami siap untuk menyusun SOP sederhana dan mulai mengimplementasikan produksi POC ini di tingkat bank sampah kami, yang diharapkan dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi anggota dan menjaga kebersihan lingkungan desa," ungkapnya. Pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Tengah, melalui kepala dinas (nama dapat disimpulkan sebagai ‘perwakilan pemerintah daerah’), kemungkinan akan memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. "Kami sangat mendukung setiap upaya yang mendorong pengelolaan sampah yang lebih baik, terutama di kawasan strategis seperti Mandalika. Inisiatif dari Pullman Lombok Mandalika, UGM, dan Bank Sampah Putri Nyale ini adalah contoh nyata kolaborasi pentahelix yang efektif dan sejalan dengan visi pemerintah daerah untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan," ujarnya, seraya berharap model ini dapat direplikasi di seluruh wilayah. Secara keseluruhan, program "Waste to Wealth" di Pullman Lombok Mandalika adalah sebuah langkah maju yang signifikan dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa dengan kemauan, inovasi, dan kolaborasi multi-pihak, tantangan lingkungan dapat diubah menjadi peluang untuk menciptakan nilai, memberdayakan komunitas, dan membangun masa depan yang lebih hijau dan sejahtera bagi semua. Post navigation Pelaku Pelecehan Seksual Tujuh Anak Laki-laki di Jonggat Ditahan, Polresta Lombok Tengah Tegaskan Komitmen Penegakan Hukum Polda NTB Perkuat Harkamtibmas Melalui Patroli Rinjani Presisi Skala Besar di Seluruh Wilayah, Wakapolda Pimpin Langsung Pengamanan Komprehensif