PRAYA – Pullman Lombok Mandalika, salah satu resor terkemuka di destinasi pariwisata super prioritas Mandalika, mempertegas komitmennya terhadap praktik pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan melalui peluncuran dan implementasi program inovatif "Waste to Wealth." Program ini secara spesifik berfokus pada kegiatan pembelajaran dan pelatihan intensif mengenai produksi Pupuk Organik Cair (POC) serta strategi efektif untuk mengurangi sampah organik. Inisiatif transformatif ini merupakan buah kolaborasi strategis antara tim Suamandalika dari Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Periode 2 Tahun 2026 Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan Bank Sampah Putri Nyale yang berlokasi di Desa Kuta, Mandalika. Tujuannya jelas, yakni untuk mendorong dan mengimplementasikan model ekonomi sirkular yang dapat diaplikasikan secara nyata dan berkelanjutan di tingkat komunitas, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomis dan ekologis. Kolaborasi Tiga Pilar: Akademisi, Industri Pariwisata, dan Komunitas Lokal Program "Waste to Wealth" di Pullman Lombok Mandalika bukan sekadar inisiatif internal resor, melainkan sebuah ekosistem kolaborasi yang melibatkan tiga pilar penting: sektor industri pariwisata, institusi akademis, dan komunitas lokal. Keterlibatan tim KKN-PPM UGM Suamandalika membawa dimensi keilmuan dan metodologi riset yang kuat, memastikan bahwa proses pelatihan dan produksi POC didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah terbaik. KKN-PPM sendiri adalah program pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi oleh UGM, bertujuan untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di bangku kuliah untuk memecahkan masalah riil di masyarakat, sekaligus memberdayakan komunitas. Melalui program ini, mahasiswa UGM memiliki kesempatan untuk terlibat langsung dalam upaya mitigasi masalah lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Kuta. Di sisi lain, Bank Sampah Putri Nyale, sebagai representasi komunitas lokal, memegang peranan krusial dalam memastikan keberlanjutan dan adopsi praktik ini di tingkat akar rumput. Bank Sampah telah lama menjadi garda terdepan dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas di Indonesia, dengan tujuan mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomis. Keterlibatan mereka dalam program ini tidak hanya memperkuat kapasitas internal Bank Sampah dalam mengelola sampah organik, tetapi juga membuka peluang baru untuk pengembangan produk dan peningkatan pendapatan bagi anggotanya. Ryan Rinaldy, Marketing Communications Manager Pullman Lombok Merujani Mandalika Beach Resort, menegaskan bahwa sinergi ini adalah kunci keberhasilan program. "Melalui sesi mentoring yang komprehensif, tim Suamandalika secara mendalam mempelajari seluruh alur pengolahan sisa makanan organik. Proses ini dimulai dari tahapan pemilahan bahan baku yang teliti, pencampuran sesuai standar operasional yang telah ditetapkan, proses fermentasi dalam wadah tertutup yang terkontrol, hingga tahapan quality control yang ketat, dan terakhir adalah aplikasi POC pada area garden dan landscape resor kami," ungkap Ryan Rinaldy pada Jumat (31/7) lalu, merujuk pada tanggal pelaksanaan program. Ia juga menambahkan, "Pelatihan ini secara khusus menekankan pentingnya kebersihan menyeluruh dalam setiap tahapan proses, penerapan standar keselamatan kerja yang tinggi, serta konsistensi kualitas hasil produk pupuk organik cair yang dihasilkan." Penekanan pada aspek-aspek ini menunjukkan keseriusan Pullman Mandalika dalam menciptakan produk yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga berkualitas tinggi. Detil Program dan Proses Produksi Pupuk Organik Cair (POC) Program "Waste to Wealth" dirancang dengan pendekatan yang holistik, mencakup aspek teknis, operasional, hingga kelembagaan. Rangkaian program dimulai dengan fase kritis yaitu pemilahan dan persiapan. Pada tahapan ini, upaya maksimal dilakukan untuk mengurangi kontaminasi. Bahan organik harus dipisahkan secara cermat dari material non-organik seperti plastik, tulang besar, logam, atau material lain yang tidak dapat terurai. Ketepatan dalam pemilahan ini adalah fondasi keberhasilan seluruh proses. Tanpa pemilahan yang baik, kualitas POC yang dihasilkan akan terganggu dan bahkan dapat merusak proses fermentasi. Setelah pemilahan, dilanjutkan dengan fase fermentasi dan Quality Control (QC). Pada fase ini, peserta pelatihan mempelajari secara mendalam teknik pencampuran bahan organik dengan mikroorganisme efektif (EM4 atau sejenisnya) dan air dengan proporsi yang tepat. Campuran ini kemudian ditempatkan dalam wadah tertutup kedap udara untuk memulai proses fermentasi anaerobik. Selama proses fermentasi, kontrol kualitas menjadi sangat penting. Tim memantau berbagai parameter seperti warna, aroma, dan tekstur POC yang sedang terbentuk. Pemeriksaan rutin juga dilakukan untuk mendeteksi potensi kontaminasi yang dapat menghambat atau merusak kualitas pupuk. Fermentasi yang berhasil akan menghasilkan POC berwarna cokelat gelap, berbau khas fermentasi yang segar, dan bebas dari bau busuk. Tahap akhir adalah aplikasi dan pembelajaran, yang sekaligus mendorong replikasi praktik ini di komunitas. POC yang telah matang kemudian diaplikasikan pada area garden dan landscape resor. Selama periode aplikasi, tim secara cermat mengamati efeknya pada pertumbuhan tanaman, kesehatan tanah, dan vigor keseluruhan vegetasi. Evaluasi hasil ini menjadi umpan balik penting untuk terus menyempurnakan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ada. "Observasi penggunaan POC pada taman, evaluasi hasil, dan diskusi mengenai SOP yang dapat diadaptasi oleh komunitas menjadi bagian integral dari program ini," jelas Ryan Rinaldy, menekankan aspek transfer pengetahuan dan pemberdayaan. Manfaat Ekonomi dan Lingkungan yang Terukur Dampak dari program "Waste to Wealth" telah menunjukkan hasil yang signifikan dan terukur dalam berbagai aspek. Berdasarkan pencatatan internal resor, program ini berhasil menghasilkan volume POC yang substansial, mencapai 3.187,5 liter. Angka ini mencerminkan kapasitas produksi yang tidak main-main dan potensi besar untuk pemanfaatan berkelanjutan. Lebih penting lagi, program ini telah berhasil mengolah sekitar 50% dari total sampah makanan organik yang dihasilkan dari operasional harian Pullman Lombok Mandalika. Mengingat bahwa sektor perhotelan seringkali menjadi penyumbang signifikan sampah makanan, pengurangan separuh dari volume sampah organik ini adalah pencapaian luar biasa yang secara langsung mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA). POC yang dihasilkan sepenuhnya dimanfaatkan untuk perawatan taman dan landscape resor. Ini berarti resor tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia eksternal yang seringkali mahal dan berpotensi merusak lingkungan. Penghematan biaya pembelian pupuk eksternal ini merupakan salah satu manfaat ekonomi langsung dari program ini. Lebih jauh, penggunaan pupuk organik juga berkontribusi pada peningkatan kesehatan tanah, memperbaiki struktur tanah, dan meningkatkan kapasitas retensi air, yang pada gilirannya mengurangi kebutuhan akan irigasi berlebihan. Ini adalah contoh nyata efisiensi sumber daya yang terintegrasi. Secara lebih luas, program ini membuka ruang pembelajaran yang berharga, memfasilitasi transfer pengetahuan dan teknologi dari para ahli kepada tim resor dan anggota komunitas Bank Sampah Putri Nyale. Hal ini menciptakan lingkaran positif di mana pengetahuan yang diperoleh tidak hanya diterapkan tetapi juga dikembangkan dan disebarkan, menciptakan efek domino pemberdayaan. Aspek Kelembagaan dan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Keberhasilan program "Waste to Wealth" juga tidak terlepas dari struktur kelembagaan dan pembagian peran yang jelas di dalam resor. Program ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai departemen, menciptakan sinergi lintas fungsi yang esensial. Departemen Kitchen dan Stewarding memiliki peran utama dalam pemilahan awal sisa makanan organik, memastikan bahwa hanya bahan yang sesuai yang masuk ke dalam sistem pengolahan. Presisi pada tahap ini sangat penting untuk menjaga kualitas POC. Departemen Engineering bertanggung jawab atas aspek teknis proses pengolahan, termasuk pemeliharaan peralatan, pengaturan wadah fermentasi, dan pemantauan kondisi lingkungan yang optimal untuk fermentasi. Sementara itu, tim Landscape memegang peran krusial dalam aplikasi POC pada tanaman dan memantau secara langsung manfaat serta dampaknya terhadap pertumbuhan dan kesehatan vegetasi di seluruh area resor. Pembagian tugas ini memastikan bahwa setiap tahapan proses dikelola oleh pihak yang memiliki keahlian relevan, sekaligus menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama terhadap program keberlanjutan. Visi Jangka Panjang dan Replikasi Komunitas Program "Waste to Wealth" di Pullman Lombok Mandalika tidak hanya berorientasi pada pencapaian internal, tetapi juga memiliki visi jangka panjang untuk menjadi model praktik terbaik yang dapat direplikasi. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari kegiatan ini diharapkan menjadi dasar yang kuat untuk penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) sederhana yang dapat dengan mudah diadopsi dan diimplementasikan oleh Bank Sampah Putri Nyale. Dengan SOP yang jelas dan teruji, komunitas akan memiliki panduan praktis untuk mengelola sampah organiknya secara lebih mandiri, aman, dan menghasilkan nilai tambah. "Melalui program ‘Waste to Wealth’, Pullman Lombok Mandalika bersama Suamandalika KKN-PPM UGM berhasil mengintegrasikan pengurangan sampah, efisiensi sumber daya, edukasi, dan kolaborasi lokal ke dalam praktik operasional berkelanjutan," tutur Ryan Rinaldy. Ia menambahkan, "Pengetahuan dari kegiatan ini diharapkan menjadi dasar penyusunan SOP sederhana bagi Bank Sampah Putri Nyale serta mendukung pengelolaan sampah organik yang lebih mandiri, aman, dan bernilai bagi lingkungan sekitar." Potensi replikasi ini sangat besar, mengingat tantangan pengelolaan sampah organik adalah isu universal di banyak desa dan kota di Indonesia. Dengan Bank Sampah Putri Nyale sebagai pionir dan contoh, program serupa dapat diperluas ke komunitas lain di Mandalika dan sekitarnya, menciptakan jaringan pengelolaan sampah organik yang lebih luas dan terintegrasi. Hal ini juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan praktik berkelanjutan di destinasi pariwisata. Mandalika sebagai Destinasi Pariwisata Berkelanjutan Inisiatif seperti "Waste to Wealth" sangat relevan dan krusial bagi pengembangan Mandalika sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) di Indonesia. Dengan status tersebut, Mandalika tidak hanya dituntut untuk menawarkan keindahan alam dan fasilitas pariwisata kelas dunia, tetapi juga harus menunjukkan komitmen yang kuat terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial. Sampah, terutama sampah organik dari sektor pariwisata (hotel, restoran, kafe), merupakan salah satu tantangan terbesar bagi keberlanjutan destinasi. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), komposisi sampah di Indonesia didominasi oleh sampah organik, yang mencapai sekitar 60% dari total sampah. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik dapat menyebabkan berbagai masalah lingkungan, mulai dari pencemaran tanah dan air, emisi gas metana (gas rumah kaca yang kuat) dari penimbunan sampah, hingga masalah kesehatan masyarakat. Program seperti "Waste to Wealth" secara langsung mengatasi permasalahan ini, menjadikan Mandalika contoh nyata bagaimana sektor pariwisata dapat berkontribusi positif terhadap lingkungan. Lebih dari itu, keberhasilan program ini juga dapat meningkatkan citra Mandalika di mata wisatawan internasional yang semakin peduli terhadap isu keberlanjutan. Wisatawan modern cenderung memilih destinasi dan akomodasi yang memiliki jejak lingkungan yang bertanggung jawab. Dengan Pullman Lombok Mandalika memimpin dalam inisiatif hijau, hal ini dapat menarik segmen pasar pariwisata yang lebih premium dan sadar lingkungan, memberikan keunggulan kompetitif bagi destinasi secara keseluruhan. Tantangan dan Peluang ke Depan Meskipun program "Waste to Wealth" telah menunjukkan keberhasilan yang signifikan, tantangan ke depan tentu tetap ada. Konsistensi dalam pemilahan sampah organik, memastikan pasokan bahan baku yang memadai dan berkualitas, serta menjaga motivasi dan partisipasi aktif dari seluruh pihak yang terlibat merupakan beberapa aspek yang perlu terus diperhatikan. Selain itu, pengembangan pasar untuk pupuk organik cair di tingkat komunitas juga dapat menjadi peluang sekaligus tantangan. Apakah Bank Sampah Putri Nyale dapat mengembangkan model bisnis untuk menjual POC yang dihasilkan kepada petani lokal atau rumah tangga? Ini adalah pertanyaan yang memerlukan eksplorasi lebih lanjut. Namun, peluang yang terbuka jauh lebih besar. Program ini dapat menjadi katalisator bagi inovasi lebih lanjut dalam pengelolaan sampah di Mandalika. Misalnya, potensi pengembangan produk turunan lain dari sampah organik, seperti kompos padat, biogas, atau bahkan budidaya maggot (lalat tentara hitam) untuk pakan ternak. Kolaborasi antara sektor pariwisata, akademisi, dan komunitas dapat diperluas untuk mencakup inisiatif keberlanjutan lainnya, seperti konservasi air, energi terbarukan, atau dukungan terhadap produk lokal. Sinergi untuk Lingkungan dan Kemandirian Komunitas Keseluruhan program "Waste to Wealth" di Pullman Lombok Mandalika adalah cerminan dari filosofi bahwa bisnis dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan lingkungan dan sosial. Dengan mengintegrasikan praktik pengurangan sampah, efisiensi sumber daya, edukasi, dan kolaborasi lokal ke dalam operasionalnya, Pullman Lombok Mandalika tidak hanya memenuhi tanggung jawab korporatnya, tetapi juga menjadi agen perubahan yang positif. Sinergi antara resor, universitas, dan komunitas lokal ini merupakan model yang patut dicontoh. Ini menunjukkan bahwa dengan kemauan, inovasi, dan kolaborasi yang kuat, tantangan lingkungan yang kompleks dapat diubah menjadi peluang untuk menciptakan nilai, memberdayakan komunitas, dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan bagi Mandalika dan Indonesia. Post navigation Pelecehan Seksual Tujuh Anak di Lombok Tengah: Pelaku Ditahan, Polisi Soroti Modus Iming-Iming Uang dan Pentingnya Perlindungan Anak