Universitas Mataram (Unram) secara resmi menambah jajaran pakar tertingginya melalui pengukuhan enam Guru Besar Tetap dalam sebuah prosesi Sidang Senat Terbuka yang khidmat. Acara yang berlangsung di Ruang Sidang Senat Gedung Rektorat Universitas Mataram ini menandai babak baru bagi penguatan sumber daya manusia di institusi pendidikan tinggi terbesar di Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut. Langkah ini dipandang sebagai momentum krusial bagi Unram dalam upayanya bertransformasi menjadi universitas berbasis riset yang berdaya saing internasional, sekaligus menjawab berbagai tantangan pembangunan di tingkat regional maupun nasional. Kehadiran enam guru besar baru ini mencakup spektrum keilmuan yang sangat luas, mulai dari sektor primer seperti pertanian dan peternakan, hingga sektor strategis seperti teknik komputer, hukum administrasi negara, dan ekonomi Islam. Keberagaman disiplin ilmu ini menunjukkan komitmen Unram untuk hadir secara komprehensif dalam setiap lini persoalan yang dihadapi masyarakat. Rektor Universitas Mataram, Prof. Dr. Sukardi, M.Pd., memimpin langsung jalannya sidang senat tersebut dengan didampingi oleh para anggota senat universitas, pimpinan fakultas, serta tamu undangan terbatas. Profil dan Bidang Keahlian Enam Guru Besar Baru Adapun keenam akademisi yang menerima gelar akademik tertinggi tersebut adalah para pakar yang telah lama berkecimpung dalam dunia riset dan pengabdian. Pertama adalah Prof. Dr. Ir. I Gst. Made Kusnarta, M.APP.Sc. dari Fakultas Pertanian. Beliau dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Konservasi Tanah dan Reklamasi. Bidang keahlian ini dinilai sangat relevan dengan kondisi geografis NTB yang memiliki lahan kering cukup luas, di mana teknik konservasi dan reklamasi tanah menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan produktivitas pangan. Kedua, Prof. Dr. Ir. Muhamad Siddik, M.S., yang juga berasal dari Fakultas Pertanian namun berfokus pada bidang Ekonomi Pertanian. Keahliannya diharapkan mampu memberikan analisis tajam mengenai efisiensi rantai pasok pangan dan peningkatan kesejahteraan petani di tengah fluktuasi harga komoditas global. Ketiga, Prof. Dr. Muaidy Yasin, M.S. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang dikukuhkan dalam bidang Ekonomi Islam. Mengingat Lombok telah ditetapkan sebagai destinasi wisata halal dunia, kepakaran Prof. Muaidy menjadi sangat strategis dalam memperkuat fondasi ekonomi syariah di wilayah tersebut. Keempat, di bidang teknologi, Unram mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Misbahuddin, S.T., M.T., IPU sebagai guru besar dalam bidang Teknik Komputer. Di era transformasi digital dan Revolusi Industri 4.0, peran teknik komputer sangat vital dalam membangun infrastruktur digital dan keamanan siber. Kelima, dari ranah hukum dan tata kelola, terdapat Prof. Dr. H. Kaharudin, S.H., M.H. yang ahli di bidang Administrasi Negara. Kepakarannya diharapkan dapat memberikan kontribusi pada perbaikan birokrasi dan tata kelola pemerintahan di daerah. Terakhir, Prof. drh. Made Sriasih, M.Agr.Sc., Ph.D. dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Sains Veteriner. Sebagai akademisi dari Fakultas Peternakan, peran Prof. Made Sriasih sangat penting dalam mendukung program swasembada daging dan peningkatan kesehatan hewan ternak, yang merupakan salah satu sektor unggulan ekonomi di Nusa Tenggara Barat. Esensi Jabatan Guru Besar dalam Ekosistem Akademik Dalam sambutannya, Rektor Universitas Mataram, Prof. Dr. Sukardi, M.Pd., menyampaikan pesan mendalam mengenai makna di balik gelar guru besar. Beliau menegaskan bahwa pencapaian ini bukanlah garis akhir dari sebuah karier akademik, melainkan sebuah gerbang menuju tanggung jawab yang lebih besar. Menurutnya, seorang guru besar memikul beban moral untuk terus memproduksi pengetahuan yang bermanfaat dan menjadi rujukan bagi kebijakan publik. “Jabatan guru besar bukan sekadar simbol prestise atau puncak dari perjalanan panjang seorang dosen. Sebaliknya, ini adalah titik awal di mana seorang akademisi dituntut untuk lebih banyak memberi, lebih banyak membimbing, dan lebih banyak berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” ujar Prof. Sukardi. Beliau juga menekankan pentingnya peran guru besar sebagai mentor bagi para dosen muda dan mahasiswa pascasarjana. Transfer pengetahuan dan pengalaman dari guru besar kepada generasi di bawahnya menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan kualitas akademik di Unram. Lebih lanjut, Rektor menyoroti bahwa kekuatan sebuah universitas tidak hanya diukur dari banyaknya gelar yang diraih staf pengajarnya, tetapi dari sejauh mana gelar tersebut berdampak pada penguatan institusi. Beliau memberikan analogi bahwa guru besar yang hebat adalah mereka yang mampu membangun sistem sehingga universitas tetap kuat meskipun suatu saat mereka telah purna tugas. Hal ini berkaitan erat dengan pembangunan budaya riset dan kolaborasi internasional yang harus dipelopori oleh para guru besar. Konteks Latar Belakang dan Urgensi Pengukuhan Pengukuhan ini dilakukan di tengah upaya pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk meningkatkan jumlah profesor di Indonesia yang secara rasio masih tertinggal dibandingkan negara-negara maju. Bagi Universitas Mataram, penambahan guru besar secara konsisten merupakan bagian dari Rencana Strategis (Renstra) untuk mencapai akreditasi unggul dan meningkatkan peringkat di tingkat nasional maupun internasional (World Class University). Secara historis, Unram terus berupaya mempercepat proses usulan jabatan fungsional dosen ke jenjang tertinggi. Hal ini dilakukan dengan memberikan insentif publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi serta memfasilitasi penelitian kolaboratif. Keberhasilan enam dosen ini meraih gelar profesor menunjukkan bahwa iklim akademik di Unram semakin kondusif bagi pengembangan karier dosen. Selain aspek internal kampus, pengukuhan ini juga memiliki konteks sosial-ekonomi yang kuat bagi wilayah NTB. Sebagai provinsi yang sedang berkembang dengan proyek-proyek strategis nasional seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, NTB membutuhkan masukan berbasis data dan sains dari para pakar. Para guru besar baru ini diharapkan dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan yang berbasis ilmu pengetahuan (evidence-based policy). Analisis Implikasi bagi Pembangunan Daerah dan Nasional Kehadiran para pakar baru di Universitas Mataram membawa implikasi luas terhadap beberapa sektor kunci. Dalam sektor pertanian dan peternakan, kepakaran Prof. Made Kusnarta dan Prof. Made Sriasih dapat bersinergi untuk menciptakan model pertanian terpadu (integrated farming) yang ramah lingkungan dan efisien secara ekonomi. Mengingat tantangan perubahan iklim yang mulai berdampak pada pola tanam di NTB, riset mengenai konservasi tanah menjadi krusial untuk mencegah degradasi lahan. Di sisi lain, bidang Ekonomi Islam yang ditekuni Prof. Muaidy Yasin memberikan peluang besar bagi pengembangan industri keuangan syariah dan sertifikasi halal di NTB. Hal ini sejalan dengan visi daerah untuk menjadi pusat ekonomi syariah di Indonesia Timur. Sementara itu, di bidang teknologi informasi, keberadaan Prof. Misbahuddin diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi teknologi tepat guna yang dapat membantu digitalisasi UMKM di pelosok desa. Dari perspektif hukum dan administrasi negara, Prof. Kaharudin memiliki peran besar dalam mengawal jalannya otonomi daerah. Pemikiran-pemikiran beliau mengenai administrasi negara sangat dibutuhkan untuk meminimalisir malpraktik birokrasi dan meningkatkan kualitas pelayanan publik di tingkat kabupaten/kota di NTB. Secara keseluruhan, penambahan guru besar ini memperkuat posisi Unram sebagai "Think Tank" atau wadah pemikir bagi pembangunan daerah. Harapan Terhadap Kontribusi di Ruang Publik Rektor Prof. Sukardi juga mendorong agar para guru besar tidak hanya "mengurung diri" di dalam laboratorium atau ruang kelas. Beliau meminta mereka untuk aktif hadir di ruang publik, memberikan edukasi kepada masyarakat melalui media massa, serta terlibat dalam diskusi-diskusi strategis mengenai persoalan bangsa. Di tengah maraknya informasi yang tidak akurat atau hoaks, kehadiran akademisi yang kompeten di ruang publik menjadi sangat penting untuk memberikan pencerahan yang objektif dan berbasis data. Pengukuhan ini juga diharapkan menjadi pemantik semangat bagi dosen-dosen lain di lingkungan Universitas Mataram yang saat ini sedang menempuh studi doktoral maupun yang sedang dalam proses pengusulan jabatan fungsional. Dengan bertambahnya jumlah guru besar, rasio antara profesor dengan mahasiswa di Unram akan semakin ideal, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan supervisi riset mahasiswa. Menuju Ekosistem Akademik yang Berkelanjutan Sebagai penutup dari rangkaian acara pengukuhan tersebut, ditekankan bahwa keberlanjutan ekosistem akademik di Unram bergantung pada kolaborasi lintas disiplin. Enam guru besar dari latar belakang yang berbeda ini didorong untuk menciptakan riset multidisiplin. Misalnya, kolaborasi antara pakar teknik komputer dengan pakar ekonomi pertanian untuk menciptakan sistem pertanian pintar (smart farming) berbasis Internet of Things (IoT). Universitas Mataram berkomitmen untuk terus mendukung setiap dosen dalam mencapai puncak karier akademiknya. Dengan bertambahnya kekuatan di jajaran Guru Besar Tetap, Unram optimis dapat memberikan kontribusi yang lebih nyata dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui penyediaan sumber daya manusia yang unggul, inovasi yang aplikatif, dan pengabdian masyarakat yang berdampak luas. Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah janji bakti dari para cendekiawan untuk kemajuan bangsa dan negara. Post navigation TK Avicenna Institute Songak Borong Juara Lomba Gerak Jalan PAUD dalam Peringatan HUT RI ke-81 di Kecamatan Sakra Lombok Timur