Desa Beringin Jaya, Kecamatan Pekat, Dompu, Nusa Tenggara Barat, kini menapaki babak baru dalam sejarah perekonomiannya. Hamparan perkebunan tebu yang menghijau di kaki Gunung Tambora telah menjelma menjadi tulang punggung kesejahteraan masyarakat, menggantikan komoditas jambu mete yang sempat terpuruk. Transformasi ini bukan sekadar perubahan jenis tanaman, melainkan sebuah revolusi ekonomi mikro yang membawa dampak signifikan, mulai dari peningkatan taraf hidup hingga perbaikan kualitas sumber daya manusia, meskipun diiringi oleh tantangan struktural yang mendalam terkait infrastruktur dan dukungan kebijakan pemerintah. Kebangkitan Ekonomi di Bawah Bayang-Bayang Tambora Dalam beberapa tahun terakhir, Beringin Jaya telah menyaksikan pergeseran drastis dalam lanskap pertaniannya. Jambu mete, yang dulunya menjadi andalan, mulai ditinggalkan akibat serangan hama yang masif dan fluktuasi harga yang tidak menentu. Kondisi ini sempat membawa masyarakat pada titik kesulitan ekonomi. Namun, berkat inisiatif dan ketekunan lokal, tebu muncul sebagai solusi menjanjikan. Komoditas ini tidak hanya menawarkan ketahanan terhadap hama yang lebih baik, tetapi juga menjanjikan keuntungan finansial yang stabil dan signifikan, mengubah paradigma pertanian di desa tersebut. Kepala Desa Beringin Jaya, Firman, dengan bangga mengungkapkan bahwa antusiasme warga terhadap budidaya tebu sangat tinggi. Salah satu faktor pendorong utamanya adalah kemudahan perawatan relatif dibandingkan dengan komoditas lain. Dengan siklus tanam yang teratur dan permintaan pasar yang cenderung stabil, petani tebu di Beringin Jaya mampu meraih pendapatan bersih yang menggiurkan, berkisar antara Rp30 juta hingga Rp35 juta per hektare setiap musim panen. Angka ini jauh melampaui rata-rata pendapatan petani di banyak daerah lain, memberikan fondasi ekonomi yang kuat bagi rumah tangga. Keunggulan lain dari sistem budidaya tebu di Beringin Jaya adalah mekanisme pembayaran hasil panen yang transparan dan efisien. Sistem pembayaran langsung ke rekening petani (by name, by account) telah meminimalisir praktik-praktik rentenir dan jeratan utang yang kerap membelit petani. Ini memastikan bahwa keuntungan yang diperoleh langsung dinikmati oleh petani, tanpa potongan atau perantara yang tidak perlu. Dampaknya sangat terasa dalam peningkatan kualitas hidup. "Setiap tahun belasan hingga puluhan warga bisa umrah. Pendidikan anak-anak pun meningkat hingga jenjang perguruan tinggi," tutur Firman, menggambarkan betapa tebu telah menjadi katalis bagi mobilitas sosial dan spiritual di desa tersebut. Lebih dari sekadar keuntungan materi, budidaya tebu juga membawa dampak positif yang luas pada sektor sosial. Penyerapan tenaga kerja muda, khususnya pada saat musim tanam dan panen, secara signifikan mengurangi angka pengangguran di desa. Dengan adanya aktivitas ekonomi yang produktif dan pendapatan yang memadai, angka kriminalitas di Beringin Jaya juga dilaporkan menurun, menciptakan lingkungan masyarakat yang lebih aman dan harmonis. Ini adalah bukti nyata bahwa pembangunan ekonomi berbasis pertanian dapat menjadi fondasi bagi stabilitas sosial. Kronologi Pergeseran Komoditas dan Tantangan Berkelanjutan Perjalanan Beringin Jaya menuju sentra tebu nasional tidak terjadi dalam semalam. Transformasi ini merupakan hasil dari serangkaian keputusan dan adaptasi yang panjang. Awalnya, sebagian besar lahan pertanian di desa ini didominasi oleh jambu mete. Pada era 2000-an, jambu mete sempat menjadi primadona dengan harga jual yang menguntungkan. Namun, sekitar tahun 2010-an, serangan hama dan penyakit yang parah, ditambah dengan fluktuasi harga global, membuat budidaya jambu mete menjadi tidak lagi ekonomis. Banyak petani mengalami kerugian besar, dan lahan-lahan jambu mete pun terbengkalai. Melihat kondisi tersebut, pemerintah daerah dan beberapa inisiator lokal mulai melirik tebu sebagai alternatif. Potensi lahan yang subur di kaki Tambora, ditambah dengan iklim yang mendukung, dianggap ideal untuk budidaya tebu. Pada awalnya, proyek percontohan dilakukan dengan dukungan dari perusahaan gula yang beroperasi di wilayah Dompu. Hasil panen awal yang menjanjikan, ditambah dengan kemudahan perawatan dan sistem kemitraan yang transparan, secara bertahap meyakinkan para petani untuk beralih. Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, tebu berhasil mendominasi lahan pertanian di Beringin Jaya, mengukuhkan posisinya sebagai komoditas utama. Namun, di balik "manisnya" pendapatan, petani tebu di Beringin Jaya masih mencecap rasa getir akibat minimnya dukungan infrastruktur dan perhatian pemerintah. Firman menyoroti kondisi akses jalan usaha tani yang sangat buruk. Jalan-jalan tanah yang rusak dan berlumpur, terutama saat musim hujan, seringkali menghambat distribusi hasil panen. Truk-truk pengangkut tebu kesulitan melintas, menyebabkan biaya logistik membengkak, waktu tempuh lebih lama, dan bahkan potensi kerusakan tebu yang menurunkan kualitas dan harga jual. "Ini adalah masalah klasik yang sudah bertahun-tahun kami hadapi, namun belum ada solusi konkret," keluh Firman. Selain infrastruktur, Firman juga mengkritik keras distribusi bantuan bibit dan pupuk dari pemerintah yang dinilai sering tidak tepat sasaran atau sekadar menjadi formalitas dokumentasi tanpa realisasi nyata di lapangan. Banyak petani yang seharusnya berhak menerima bantuan justru tidak mendapatkannya, sementara bantuan seringkali diberikan kepada pihak yang tidak sesuai atau dalam jumlah yang tidak memadai. Ini tidak hanya menghambat peningkatan produktivitas, tetapi juga menimbulkan rasa ketidakpercayaan petani terhadap program-program pemerintah. Tantangan Industri dan Ambisi Nasional Persoalan yang dihadapi Beringin Jaya tidak terlepas dari tantangan yang lebih luas di tingkat kecamatan dan bahkan nasional. Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kecamatan Pekat, Mukhtar, menegaskan bahwa untuk mendukung ambisi Dompu sebagai kawasan tebu nasional dan berkontribusi pada swasembada gula Indonesia, diperlukan perluasan lahan kemitraan secara signifikan. Dari posisi saat ini yang baru mencapai 3.200 hektare, Dompu perlu memperluas areal tanam hingga 10.000-11.000 hektare. Target ini sangat ambisius dan membutuhkan upaya kolektif dari berbagai pihak. Menurut Mukhtar, tantangan utama ke depan dalam mencapai target tersebut adalah keterbatasan alat mesin pertanian (alsintan), khususnya traktor pembajak yang vital untuk persiapan lahan. Keterbatasan alsintan menyebabkan proses pengolahan tanah menjadi lambat dan kurang efisien, menghambat perluasan areal tanam dan penanaman tepat waktu. Selain itu, ketersediaan bibit unggul yang berkualitas dan bersertifikat juga masih menjadi kendala. Bibit yang kurang berkualitas dapat menurunkan produktivitas dan rentan terhadap penyakit. Masalah lain yang tak kalah krusial adalah sulitnya akses kredit perbankan bagi petani pemula atau mereka yang ingin memperluas usahanya. Bank seringkali mensyaratkan jaminan yang sulit dipenuhi oleh petani kecil, atau proses birokrasi yang rumit dan memakan waktu. Akibatnya, banyak petani yang terpaksa mengandalkan pinjaman dari pihak swasta dengan bunga tinggi, yang pada akhirnya mengurangi keuntungan mereka. Mukhtar menekankan perlunya sinergi yang jujur dan transparan antara pemerintah daerah, perusahaan gula mitra, dan desa. "Potensi besar ini tidak boleh layu di tengah jalan hanya karena kurangnya koordinasi dan komitmen," ujarnya. Sinergi yang baik akan memastikan bahwa kebijakan dan program yang dirancang benar-benar sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan, dan implementasinya berjalan efektif. Data Pendukung dan Konteks Nasional Industri gula nasional menghadapi tantangan besar dalam mencapai swasembada. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa kebutuhan gula nasional mencapai sekitar 5,7 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 2,2 juta ton. Kekurangan ini dipenuhi melalui impor, yang tentunya membebani neraca perdagangan dan menciptakan ketergantungan pada pasar global. Dompu, dengan potensi lahan dan iklim yang mendukung, diyakini dapat menjadi salah satu lumbung gula yang strategis untuk mengurangi defisit ini. Peningkatan produktivitas tebu tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada penggunaan bibit unggul, pemupukan yang tepat, dan teknologi pertanian modern. Rata-rata produktivitas tebu nasional masih berkisar 60-70 ton per hektare, sementara beberapa negara produsen tebu maju bisa mencapai lebih dari 100 ton per hektare. Peningkatan infrastruktur, seperti irigasi yang memadai dan akses jalan yang baik, juga esensial untuk mendukung efisiensi produksi dan distribusi. Pemerintah melalui berbagai program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan bantuan alsintan telah mencoba mendukung petani. Namun, seperti yang disoroti oleh Kepala Desa Firman, implementasi di lapangan seringkali belum optimal. Skema kemitraan dengan pabrik gula juga penting untuk menjamin pasar bagi petani dan memberikan kepastian harga. Namun, skema ini harus adil dan transparan agar tidak merugikan petani. Dampak dan Implikasi yang Lebih Luas Keberhasilan Desa Beringin Jaya dalam memanfaatkan tebu sebagai motor penggerak ekonomi adalah contoh nyata dari kekuatan lokal yang mampu membawa perubahan besar. Kisah ini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa dalam pengembangan komoditas pertanian. Namun, keberlanjutan status Dompu sebagai lumbung gula nasional dan kontribusinya terhadap swasembada gula Indonesia sangat bergantung pada kehadiran nyata negara. Implikasi dari situasi ini sangat luas. Secara ekonomi, peningkatan produksi tebu di Dompu dapat mengurangi ketergantungan impor gula nasional, menstabilkan harga di pasar domestik, dan meningkatkan pendapatan petani secara berkelanjutan. Secara sosial, kesejahteraan yang meningkat akan menciptakan masyarakat yang lebih berdaya, mengurangi urbanisasi paksa, dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Secara lingkungan, budidaya tebu yang berkelanjutan dengan praktik pertanian yang baik dapat menjaga kesuburan tanah dan konservasi air di wilayah kaki Gunung Tambora. Namun, semua potensi ini dapat terhambat jika masalah infrastruktur dasar, seperti jalan usaha tani yang layak, tidak segera diatasi. Ketiadaan akses jalan yang memadai adalah penghambat utama efisiensi rantai pasok. Demikian pula, reformasi dalam sistem distribusi bantuan pertanian dan peningkatan akses permodalan bagi petani adalah kunci untuk memastikan bahwa program-program pemerintah benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan dan memberikan dampak maksimal. Diperlukan sebuah pendekatan holistik yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan swasta, dan masyarakat petani. Pemerintah harus mempercepat pembangunan dan perbaikan infrastruktur pertanian, menyediakan alsintan yang memadai melalui skema yang terjangkau, serta mempermudah akses kredit perbankan. Perusahaan gula mitra juga harus memastikan skema kemitraan yang adil dan transparan, serta memberikan pendampingan teknis yang berkelanjutan kepada petani. Sementara itu, masyarakat petani perlu terus meningkatkan kapasitas dan menerapkan praktik pertanian terbaik untuk mencapai produktivitas optimal. Tanpa sinergi yang kuat dan komitmen nyata dari semua pihak, potensi besar yang dimiliki Dompu dan Desa Beringin Jaya dalam sektor tebu berisiko tidak terwujud sepenuhnya. Kisah manisnya tebu di kaki Tambora harus terus berlanjut, bukan hanya sebagai cerita sukses lokal, tetapi juga sebagai pilar penting dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional. Dengan dukungan yang tepat, Dompu dapat menjadi model keberhasilan pertanian yang berkelanjutan dan inklusif. Post navigation Masa Depan Manis Dompu: Melangkah Menjadi Sentra Produksi Gula Nasional dengan Dukungan Kebijakan dan Kemitraan Strategis Revolusi Hijau di Kaki Tambora: Tebu Mengubah Nasib Ekonomi Petani Soritatanga dan Kecamatan Pekat, Dompu