NUSA TENGGARA BARAT – Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan kinerja yang impresif pada triwulan pertama tahun 2026, dengan mencatat pertumbuhan sebesar 13,64 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan signifikan ini terutama didorong oleh performa kuat dari sektor pertambangan dan pertanian, yang terus menunjukkan tren positif sejak awal tahun. Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mengkonfirmasi dominasi sektor-sektor ini dalam menopang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB. Sektor Pertanian dan Pertambangan Menjadi Tulang Punggung Ekonomi NTB Berdasarkan analisis Badan Pusat Statistik, sektor pertanian masih kokoh menduduki posisi sebagai kontributor terbesar terhadap PDRB NTB, dengan pangsa mencapai 22,04 persen. Posisi ini menunjukkan peran vital sektor agrikultur dalam perekonomian daerah, tidak hanya dari segi nilai tambah, tetapi juga dari sisi penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Mengikuti di belakang sektor pertanian, sektor pertambangan menempati peringkat kedua dengan kontribusi sebesar 16,64 persen. Kinerja ekspor yang kuat dari sektor ini, terutama didorong oleh relaksasi izin ekspor konsentrat tembaga, menjadi faktor pendorong utama. Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, merinci lebih lanjut enam sektor utama yang menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I-2026. "Pangsa sektoral terbesar ekonomi NTB berasal dari pertanian sebesar 22,04 persen, pertambangan 16,64 persen, perdagangan 14,42 persen, konstruksi 9,29 persen, industri pengolahan 6,94 persen, dan transportasi 5,30 persen," jelas Hario K. Pamungkas dalam keterangannya kepada awak media. Ia menegaskan bahwa sektor pertanian tidak hanya memberikan kontribusi ekonomi yang besar, tetapi juga memiliki dampak sosial yang signifikan, terutama dalam penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan bagi sebagian besar penduduk NTB. Detail Kinerja Sektor Pertanian: Panen Raya dan Dukungan Kebijakan Peningkatan kinerja sektor pertanian pada triwulan I-2026 sangat terlihat dari lonjakan luas panen dan produksi tanaman pangan utama, khususnya padi dan jagung. Subsektor tanaman padi mengalami peningkatan luas panen yang mencengangkan sebesar 75,06 persen (yoy), yang berdampak langsung pada peningkatan produksi gabah kering giling (GKG) sebesar 73,93 persen. Fenomena serupa juga terjadi pada komoditas jagung, di mana luas panen tercatat tumbuh 95,46 persen (yoy), dan produksi jagung pipil kering melonjak 92,86 persen (yoy). Hario K. Pamungkas mengaitkan peningkatan produktivitas pertanian ini dengan sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai efektif. Salah satu kebijakan yang paling berpengaruh adalah penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp 6.500 per kilogram. Kebijakan ini memberikan kepastian harga bagi petani, sehingga mendorong mereka untuk meningkatkan produksi. "Kebijakan pemerintah terkait Harga Pembelian Pemerintah (HPP) memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani," ujar Hario. Selain HPP gabah, harga pembelian jagung pipil kering yang tetap kompetitif juga turut berkontribusi dalam menjaga tingkat kesejahteraan petani di NTB. Kondisi kesejahteraan petani ini tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) NTB yang secara konsisten berada di atas angka 100. Angka NTP di atas 100 mengindikasikan bahwa daya beli petani lebih tinggi dibandingkan dengan biaya hidup mereka, yang merupakan indikator positif bagi sektor pertanian. Lebih lanjut, Hario juga menyoroti peran penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi pada triwulan sebelumnya. Penurunan biaya produksi ini secara langsung mendukung peningkatan kinerja produksi padi, yang pada gilirannya memperkuat kinerja lapangan usaha pertanian secara keseluruhan. "Selanjutnya, penurunan HET pupuk subsidi pada triwulan sebelumnya mendukung kinerja produksi padi yang kemudian mendorong kinerja lapangan usaha pertanian," tambahnya. Sektor Pertambangan: Momentum Ekspor dan Relaksasi Kebijakan Selain sektor pertanian, sektor pertambangan juga menjadi kontributor penting bagi pertumbuhan ekonomi NTB. Kinerja ekspor yang kuat dari sektor ini terus berlanjut, didukung oleh relaksasi izin ekspor konsentrat tembaga yang berlaku hingga April 2026. Relaksasi ini memungkinkan peningkatan volume dan nilai ekspor, memberikan dorongan signifikan bagi PDRB NTB. Perlu dicatat bahwa sektor pertambangan di NTB memiliki potensi besar, terutama dengan adanya sumber daya mineral seperti tembaga, emas, dan perak. Kinerja ekspor yang baik tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga memberikan multiplier effect pada sektor-sektor terkait, seperti transportasi dan jasa penunjang pertambangan. Namun, penting juga untuk terus memperhatikan aspek keberlanjutan dan dampak lingkungan dari aktivitas pertambangan agar pertumbuhan ekonomi yang dicapai dapat berjalan selaras dengan kelestarian alam. Konsumsi Pemerintah dan Rumah Tangga: Pendorong Pertumbuhan Tambahan Di samping sektor-sektor primer seperti pertanian dan pertambangan, pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I-2026 juga diperkuat oleh peningkatan konsumsi, baik dari sisi pemerintah maupun rumah tangga. Peningkatan realisasi pembayaran gaji ke-14 atau Tunjangan Hari Raya (THR) bagi aparatur sipil negara (ASN) memberikan suntikan dana segar yang mendorong belanja pemerintah. Momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Ramadhan dan Idul Fitri turut memicu peningkatan konsumsi masyarakat. Permintaan terhadap berbagai barang dan jasa mengalami lonjakan selama periode tersebut, yang secara langsung berkontribusi pada pertumbuhan PDRB. "Ekonomi NTB pada triwulan I-2026 juga didorong oleh konsumsi pemerintah yang meningkat karena realisasi gaji ke-14 untuk pegawai pemerintah. Konsumsi rumah tangga juga tetap menguat karena momentum HBKN Ramadhan dan Idul Fitri," pungkas Hario K. Pamungkas. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi NTB bersifat multifaset, tidak hanya bergantung pada sektor-sektor unggulan, tetapi juga didukung oleh aktivitas ekonomi yang merata di berbagai sektor. Implikasi dan Prospek Ekonomi NTB Pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 13,64 persen pada triwulan I-2026 merupakan capaian yang sangat positif dan melampaui ekspektasi banyak pihak. Angka ini mengindikasikan ketahanan ekonomi NTB dalam menghadapi berbagai tantangan, serta efektivitas berbagai kebijakan yang telah diluncurkan oleh pemerintah daerah dan pusat. Ke depan, prospek ekonomi NTB diperkirakan akan tetap cerah, meskipun tantangan global seperti volatilitas harga komoditas dan ketidakpastian geopolitik perlu tetap diwaspadai. Diversifikasi ekonomi, peningkatan nilai tambah produk pertanian, pengembangan sektor pariwisata yang berkelanjutan, serta optimalisasi potensi sumber daya alam secara bertanggung jawab akan menjadi kunci untuk mempertahankan momentum pertumbuhan positif ini. Penguatan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat akan terus menjadi faktor penentu dalam mencapai pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter dan sistem pembayaran, serta memberikan saran kebijakan kepada pemerintah, juga akan sangat krusial dalam mendukung realisasi potensi ekonomi NTB. Latar Belakang Pertumbuhan Ekonomi NTB Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang terletak di Pulau Lombok dan sebagian Pulau Sumbawa, memiliki struktur ekonomi yang cenderung didominasi oleh sektor pertanian dan pertambangan. Selama bertahun-tahun, pemerintah NTB telah berupaya melakukan diversifikasi ekonomi, namun sektor pertanian, terutama padi dan jagung, tetap menjadi penopang utama mata pencaharian sebagian besar penduduk. Sektor pariwisata, dengan keindahan alamnya seperti Gunung Rinjani dan pantai-pantai eksotis, juga terus dikembangkan sebagai sumber pendapatan daerah yang penting. Pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I-2026 ini dapat dilihat sebagai kelanjutan dari upaya pemulihan dan penguatan ekonomi pasca-pandemi COVID-19. Kebijakan-kebijakan yang berfokus pada peningkatan produksi pertanian, stabilitas harga komoditas, serta stimulus konsumsi domestik terbukti memberikan hasil yang positif. Data historis menunjukkan bahwa NTB pernah mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, namun juga menghadapi tantangan seperti kerentanan terhadap perubahan iklim yang mempengaruhi sektor pertanian, serta fluktuasi harga komoditas di pasar internasional. Oleh karena itu, pencapaian pertumbuhan 13,64 persen ini menjadi momentum penting untuk terus memperkuat fondasi ekonomi daerah agar lebih resilien dan berkelanjutan di masa depan. Pernyataan Tambahan dari BI NTB Dalam kesempatan yang sama, Hario K. Pamungkas juga menyampaikan komitmen Bank Indonesia untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. "Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan ekonomi NTB dan siap memberikan dukungan kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa BI juga terus berupaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat dan mendorong digitalisasi ekonomi untuk mendukung efisiensi transaksi dan inklusi keuangan. Peningkatan investasi di sektor-sektor produktif, pengembangan sumber daya manusia, serta perbaikan infrastruktur juga menjadi perhatian penting untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dicapai dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat NTB. Dengan potensi sumber daya alam dan pariwisata yang dimiliki, NTB memiliki peluang besar untuk terus tumbuh dan berkembang menjadi salah satu provinsi yang memiliki perekonomian kuat di Indonesia. Secara keseluruhan, angka pertumbuhan 13,64 persen pada triwulan I-2026 memberikan gambaran positif tentang dinamika ekonomi NTB. Keberhasilan ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan melalui strategi yang terukur dan berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan aspek pemerataan dan kesejahteraan masyarakat. Post navigation Panduan Komprehensif Memilih Laptop Ideal untuk Menunjang Mobilitas Tinggi dan Produktivitas Tanpa Batas PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Sambelia Gelar Aksi Donor Darah Sukses, Kumpulkan 41 Kantong Darah dalam Rangka Hari Buruh Internasional