Universitas Mataram (Unram) secara resmi menambah jajaran pakar tertingginya dengan mengukuhkan enam Guru Besar Tetap dalam sebuah upacara akademik khidmat yang dipimpin langsung oleh Rektor Unram, Prof. Bambang Hari Kusumo (dalam konteks berita ini merujuk pada Prof. Sukardi sesuai sumber teks), pada Selasa, 28 April. Pengukuhan ini menandai langkah krusial bagi institusi pendidikan tinggi terbesar di Nusa Tenggara Barat tersebut dalam meningkatkan kualitas riset, pengajaran, dan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional, khususnya di wilayah kepulauan Indonesia Timur. Penambahan jumlah guru besar ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi sivitas akademika, tetapi juga menjadi sinyal kuat mengenai komitmen Unram untuk bertransformasi menjadi pusat keunggulan ilmiah yang relevan dengan tantangan zaman.

Dalam prosesi pengukuhan yang berlangsung di Gedung Auditorium Unram tersebut, enam ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu menyampaikan orasi ilmiah yang mencerminkan kedalaman kepakaran mereka masing-masing. Para guru besar baru ini mencakup bidang-bidang strategis yang sangat dibutuhkan oleh Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai dari pengelolaan sumber daya alam, teknik hidrologi, peternakan, sosiologi mikroba, hingga ekonomi lingkungan. Kehadiran mereka diharapkan mampu memperkecil kesenjangan antara teori akademik di ruang kelas dengan praktik nyata di lapangan yang seringkali menghadapi kompleksitas tinggi.

Profil dan Spektrum Keilmuan Guru Besar Baru

Keenam guru besar yang dikukuhkan berasal dari lima fakultas berbeda, menunjukkan distribusi keunggulan intelektual yang merata di lingkungan Universitas Mataram. Pertama adalah Prof. Dr. Ir. Markum, M.Sc., dari Fakultas Pertanian. Kepakarannya dalam bidang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan menjadi sangat relevan mengingat NTB merupakan provinsi yang sangat bergantung pada sektor agraria namun rentan terhadap degradasi lahan dan perubahan iklim. Riset Prof. Markum diharapkan dapat memberikan peta jalan bagi praktik pertanian berkelanjutan yang mampu menjaga keseimbangan ekosistem hutan dan lahan produktif.

Dari Fakultas Teknik, Unram mengukuhkan dua pakar sekaligus dalam bidang sumber daya air, yakni Prof. Ir. Yusron Saadi, S.T., M.Sc., Ph.D., dan Prof. Ir. Heri Sulistiyono, M.Eng., Ph.D. Fokus keduanya pada rekayasa sumber daya air dan hidrologi merupakan jawaban atas tantangan geografis NTB yang sering mengalami krisis air di musim kemarau dan ancaman banjir di musim hujan. Integrasi pemikiran kedua pakar ini diharapkan mampu melahirkan inovasi dalam manajemen bendungan, sistem irigasi modern, dan mitigasi bencana hidrometeorologi yang lebih efektif di wilayah kepulauan.

Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Lalu Ahmad Zaenuri, M.Rur.Sc., dari Fakultas Peternakan membawa kepakaran di bidang preservasi semen ruminansia kecil. Di tengah ambisi NTB untuk menjadi lumbung ternak nasional, inovasi dalam teknologi reproduksi ternak seperti yang dikembangkan Prof. Lalu Ahmad Zaenuri menjadi sangat vital. Preservasi semen yang efisien akan memungkinkan peningkatan kualitas genetik ternak lokal secara masif, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan para peternak rakyat.

Di bidang sains murni dan terapan, Prof. Dr. Faturrahman, M.Si., dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) memperkenalkan disiplin sosiologi mikroba. Bidang unik ini mempelajari interaksi antar mikroorganisme dan dampaknya terhadap lingkungan serta manusia. Pengetahuan ini memiliki aplikasi luas, mulai dari pengembangan pupuk hayati hingga penanganan limbah secara biologis. Terakhir, Prof. Diswandi, S.E., M.Sc., Ph.D., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, mengukuhkan diri sebagai pakar ekonomi sumber daya alam. Fokusnya pada ekonomi lingkungan berbasis pariwisata berkelanjutan sangat selaras dengan posisi NTB yang kini menjadi destinasi wisata super prioritas melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

Makna Strategis di Balik Gelar Guru Besar

Rektor Unram, Prof. Sukardi, dalam pidato pengukuhannya menekankan bahwa pencapaian gelar guru besar adalah puncak dari dedikasi intelektual seorang dosen, namun sekaligus merupakan awal dari tanggung jawab sosial yang lebih besar. Menurutnya, guru besar memiliki beban moral untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang mereka kuasai tidak hanya berhenti di jurnal-jurnal internasional yang sulit diakses masyarakat awam, tetapi harus mampu dihilirisasi menjadi kebijakan publik atau inovasi teknologi tepat guna.

"Guru besar harus menjadi penuntun arah, penjaga nilai, dan penggerak perubahan. Ilmu tidak boleh berhenti sebagai konsep, tetapi harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat," tegas Prof. Sukardi di hadapan rapat senat terbuka. Ia mengingatkan bahwa perguruan tinggi seringkali dikritik sebagai ‘menara gading’ yang asyik dengan dunianya sendiri sementara masyarakat di sekitarnya menghadapi berbagai persoalan ekonomi dan sosial. Dengan pengukuhan ini, ia berharap para profesor baru dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kampus dengan kebutuhan industri dan aspirasi rakyat.

Lebih lanjut, Rektor menggarisbawahi pentingnya "kegelisahan intelektual" sebagai motor penggerak inovasi. Ia berpesan agar para guru besar tidak cepat puas dengan gelar yang telah diraih. Sebaliknya, mereka harus terus bertanya, meneliti, dan mencari solusi atas fenomena-fenomena baru yang muncul, seperti dampak kecerdasan buatan terhadap lapangan kerja atau adaptasi masyarakat pesisir terhadap kenaikan permukaan air laut.

Guru Besar Tetap Unram Bertambah Menuju Episentrum Perubahan

Konteks Pembangunan Regional dan Nasional

Pengukuhan enam guru besar ini dilakukan pada saat yang sangat tepat, di mana Indonesia tengah berupaya mempercepat transformasi ekonomi melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dalam konteks lokal, Provinsi NTB sedang menghadapi tantangan besar dalam mengelola pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Kehadiran pakar ekonomi lingkungan seperti Prof. Diswandi, misalnya, dapat memberikan masukan kritis mengenai bagaimana mengukur keberhasilan pembangunan tidak hanya dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), tetapi juga dari kelestarian modal alam (natural capital).

Data menunjukkan bahwa sektor pertanian dan peternakan masih menjadi tulang punggung ekonomi sebagian besar penduduk NTB. Oleh karena itu, sinergi antara kepakaran Prof. Markum di bidang lingkungan dan Prof. Lalu Ahmad Zaenuri di bidang peternakan dapat menciptakan model pembangunan perdesaan yang tangguh. Selain itu, dengan kondisi iklim yang semakin tidak menentu, kontribusi Prof. Yusron Saadi dan Prof. Heri Sulistiyono dalam manajemen air menjadi instrumen krusial dalam menjaga ketahanan pangan daerah.

Pemerintah Provinsi NTB menyambut baik pengukuhan ini. Melalui pernyataan yang sering disampaikan dalam berbagai forum kerja sama antara pemerintah daerah dan universitas, diharapkan Unram dapat terus menjadi think tank utama bagi gubernur dan jajaran dinas terkait. Kolaborasi antara akademisi dan birokrasi diyakini akan menghasilkan kebijakan berbasis data (evidence-based policy) yang lebih akurat dan minim risiko kegagalan.

Analisis Implikasi bagi Universitas Mataram

Secara institusional, penambahan guru besar secara konsisten akan meningkatkan posisi Universitas Mataram dalam pemeringkatan perguruan tinggi nasional maupun internasional, seperti QS World University Rankings atau Times Higher Education. Jumlah guru besar merupakan salah satu indikator utama dalam penilaian kualitas sumber daya manusia dan produktivitas riset sebuah universitas.

Dengan bertambahnya guru besar, Unram memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan berbagai hibah riset kompetitif, baik dari dalam negeri melalui Kemendikbudristek dan BRIN, maupun dari lembaga donor internasional. Hal ini juga akan berdampak pada peningkatan kualitas program pascasarjana. Mahasiswa magister dan doktor akan mendapatkan bimbingan langsung dari para pakar yang telah diakui otoritas keilmuannya, yang pada gilirannya akan melahirkan lulusan-lulusan berkualitas tinggi yang siap bersaing di pasar kerja global.

Namun, tantangan besar tetap membayangi. Pengukuhan ini harus diikuti dengan penyediaan infrastruktur riset yang memadai dan iklim akademik yang kondusif. Universitas dituntut untuk terus memfasilitasi publikasi karya ilmiah para guru besar ini agar tetap produktif setelah meraih gelar tertinggi. Selain itu, aspek pengabdian kepada masyarakat harus diperkuat agar masyarakat di pelosok Lombok, Sumbawa, hingga pulau-pulau kecil di sekitarnya dapat merasakan dampak langsung dari keberadaan para pakar tersebut.

Menuju Masa Depan: Universitas sebagai Episentrum Perubahan

Sebagai penutup dalam rangkaian prosesi tersebut, Rektor menegaskan kembali visi Unram untuk menjadi episentrum perubahan. Kampus bukan sekadar tempat transfer ilmu dari dosen ke mahasiswa, melainkan laboratorium raksasa tempat nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan ilmu pengetahuan bertemu untuk membentuk masa depan peradaban.

Para guru besar yang baru dikukuhkan ini memikul mandat untuk membimbing dosen-dosen muda agar segera mengikuti jejak mereka. Regenerasi intelektual menjadi kunci agar Unram tidak mengalami kekosongan pakar di masa depan. Dengan semangat "kegelisahan intelektual" yang ditekankan oleh Prof. Sukardi, diharapkan muncul terobosan-terobosan baru dari bumi Gora yang mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia dan dunia.

Pengukuhan enam Guru Besar Tetap ini adalah bukti nyata bahwa di tengah keterbatasan geografis, Universitas Mataram mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia yang memiliki kepedulian lokal yang kuat. Langkah ini diharapkan menjadi katalisator bagi transformasi NTB dari wilayah yang berbasis komoditas mentah menjadi wilayah yang berbasis ekonomi pengetahuan (knowledge-based economy), di mana setiap keputusan pembangunan didasarkan pada pertimbangan ilmiah yang matang demi kesejahteraan generasi mendatang.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *