SELONG – Desa Pringgasela, Lombok Timur, kembali menjadi pusat perhatian dengan digelarnya perhelatan akbar Alunan Budaya Desa Pringgasela 2026, yang tahun ini menandai dekade kesepuluhnya. Acara pembukaan yang diselenggarakan dengan meriah pada hari ini, di sekitar Tugu Juang Pringgasela Raya atau yang lebih dikenal sebagai Tugu Mopra, secara resmi membuka rangkaian kegiatan yang telah dinanti-nantikan oleh masyarakat dan pegiat budaya. Salah satu agenda pembuka yang paling menarik perhatian adalah kegiatan jalan santai yang dilepas langsung oleh Wakil Bupati Lombok Timur, Edwin Hadiwijaya. Antusiasme masyarakat terlihat jelas dari jumlah peserta yang memadati area Tugu Mopra, menunjukkan semangat kebersamaan dalam merayakan warisan budaya yang dimiliki Pringgasela. Aprileasi Mendalam dari Pemerintah Daerah Dalam sambutannya, Wakil Bupati Edwin Hadiwijaya menyampaikan apresiasi yang tulus kepada seluruh masyarakat Pringgasela atas partisipasi aktif dan antusiasme mereka dalam menyukseskan Alunan Budaya. Beliau menekankan bahwa perhelatan ini bukan sekadar ajang seremonial, melainkan sebuah bukti nyata kekompakan dan dedikasi masyarakat Pringgasela dalam melestarikan adat dan budaya leluhur. "Pringgasela telah lama dikenal luas berkat keindahan kain tenunnya yang mendunia. Namun, Alunan Budaya ini membuktikan lebih dari itu. Pringgasela memiliki jiwa yang kuat dalam menjaga tradisi dan identitas budayanya," ujar Wabup Edwin. Ia menambahkan, "Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk terus mendukung setiap kegiatan positif yang berbasis kemasyarakatan seperti ini. Keberhasilan pembangunan di Lombok Timur sangat bergantung pada masyarakat yang sehat, rukun, dan optimis, dan warga Pringgasela adalah contoh nyata dari semangat tersebut." Lebih lanjut, Wabup Edwin menyoroti multi-manfaat dari kegiatan jalan santai yang menjadi bagian dari Alunan Budaya. Selain memberikan dampak positif bagi kesehatan jasmani, kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana perekat silaturahmi, memperkuat rasa kebersamaan, serta memelihara ikatan persaudaraan di antara seluruh elemen masyarakat. "Aktivitas fisik seperti jalan santai ini, apalagi jika dimeriahkan dengan berbagai kejutan seperti doorprize, akan membawa kebahagiaan tersendiri bagi seluruh peserta," tuturnya. Beliau juga mengimbau seluruh peserta untuk tetap menjaga ketertiban dan kebersihan di sepanjang rute yang dilalui, serta mengajak semua untuk menikmati momen kebersamaan dengan penuh suka cita. Tema "Srimananti": Harmoni Harapan dan Identitas Budaya Alunan Budaya Desa Pringgasela tahun 2026 mengusung tema yang sarat makna, yaitu "Srimananti". Pemilihan tema ini tidak terlepas dari filosofi mendalam yang ingin diangkat. "Srimananti" diharapkan dapat merepresentasikan harapan akan masa depan yang lebih baik, peran sentral perempuan dalam kehidupan masyarakat, serta mengukuhkan kembali identitas tenun khas Pringgasela yang telah berhasil menembus pasar internasional. Tema ini mencerminkan sebuah harapan akan kelangsungan dan kemajuan budaya, di mana perempuan Pringgasela, sebagai pewaris dan penggerak utama seni tenun, memiliki peran yang tak terpisahkan. Nama "Srimananti" sendiri bisa diartikan sebagai keberlanjutan yang mulia, sebuah harapan agar keindahan dan nilai-nilai budaya Pringgasela terus lestari dan berkembang. Kharisma Event Nusantara: Pengakuan Skala Nasional Keberadaan Alunan Budaya Desa Pringgasela dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) merupakan sebuah pengakuan atas kualitas dan potensi acara ini di kancah nasional. Masuknya Alunan Budaya ke dalam kalender KEN menandakan bahwa acara ini telah memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, baik dari segi penyelenggaraan, konten, maupun dampaknya terhadap pariwisata dan kebudayaan. Sebagai bagian dari KEN, rangkaian Alunan Budaya tahun ini dipastikan akan menyajikan berbagai atraksi seni dan budaya yang memukau. Keikutsertaan dalam KEN juga membuka peluang lebih besar untuk promosi dan pengembangan pariwisata, menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke Pringgasela dan menyaksikan langsung kekayaan budayanya. Sejarah dan Perkembangan Alunan Budaya Pringgasela Perhelatan Alunan Budaya Desa Pringgasela pertama kali digagas pada tahun 2017. Inisiatif ini lahir dari keinginan masyarakat dan para pegiat budaya Pringgasela untuk menciptakan sebuah wadah yang dapat merayakan, melestarikan, dan mempromosikan warisan budaya mereka yang kaya, terutama seni tenun tradisional yang telah menjadi denyut nadi perekonomian dan identitas desa. Pada dekade pertama ini, Alunan Budaya telah berkembang pesat dari sekadar acara lokal menjadi sebuah festival budaya yang disegani. Perkembangan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga pelaku usaha dan komunitas seni. Tahun 2017: Perhelatan perdana Alunan Budaya, fokus pada pengenalan dan pelestarian seni tenun Pringgasela. Tahun 2018-2020: Rangkaian kegiatan mulai diperluas dengan melibatkan seni pertunjukan tradisional, kuliner khas, dan workshop kerajinan. Tahun 2021-2022: Mengalami penyesuaian akibat pandemi COVID-19, namun tetap diupayakan untuk dilaksanakan dalam skala terbatas atau virtual, menekankan pada ketahanan budaya. Tahun 2023: Kembali diselenggarakan secara meriah, menandai kebangkitan pariwisata dan budaya pasca-pandemi, serta mulai mendapatkan perhatian lebih luas. Tahun 2024-2025: Upaya penguatan konsep dan branding, serta penjajakan untuk masuk dalam kalender event nasional. Tahun 2026: Dekade kesepuluh, menandai kematangan festival dengan tema "Srimananti" dan masuknya dalam Kharisma Event Nusantara (KEN), menunjukkan pengakuan dan potensi pengembangan yang lebih besar. Setiap tahun, Alunan Budaya dirancang untuk memberikan pengalaman yang otentik kepada pengunjung. Mulai dari menyaksikan langsung proses pembuatan kain tenun secara tradisional, mengikuti workshop menenun, menikmati pertunjukan tari dan musik sasak, hingga mencicipi berbagai hidangan khas Lombok. Tenun Pringgasela: Jantung Budaya dan Ekonomi Desa Seni tenun Pringgasela memiliki sejarah panjang yang terjalin erat dengan kehidupan masyarakat desa. Sejak dahulu, menenun bukan hanya sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga sebuah bentuk ekspresi seni dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Corak dan motif tenun Pringgasela memiliki filosofi tersendiri, seringkali terinspirasi dari alam, kepercayaan, dan nilai-nilai kehidupan. Kain tenun Pringgasela, dengan kualitasnya yang halus dan motifnya yang khas, telah mendapatkan pengakuan internasional. Keterkenalan ini tidak datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari kerja keras para pengrajin perempuan Pringgasela yang gigih menjaga kualitas dan terus berinovasi. Alunan Budaya menjadi panggung penting untuk memamerkan karya-karya terbaik mereka dan memperkenalkan keunikan tenun Pringgasela kepada khalayak yang lebih luas. Dalam konteks ekonomi, industri tenun memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan masyarakat Pringgasela. Banyak keluarga menggantungkan hidupnya pada usaha tenun ini. Oleh karena itu, setiap upaya pelestarian dan promosi seni tenun, termasuk melalui Alunan Budaya, memiliki dampak ekonomi yang langsung terasa bagi kesejahteraan masyarakat desa. Dampak dan Implikasi yang Lebih Luas Perhelatan Alunan Budaya Desa Pringgasela 2026, terutama dengan masuknya dalam KEN, diharapkan akan memberikan dampak positif yang lebih luas: Peningkatan Promosi Pariwisata: Masuknya Alunan Budaya ke dalam KEN akan meningkatkan visibilitasnya di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini berpotensi menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung ke Lombok Timur, khususnya Pringgasela, yang pada gilirannya akan meningkatkan perekonomian lokal melalui sektor pariwisata. Penguatan Identitas Budaya: Festival ini menjadi sarana efektif untuk menanamkan rasa bangga dan kecintaan terhadap budaya lokal pada generasi muda. Dengan semakin banyaknya anak muda yang terlibat dan tertarik pada seni tenun serta tradisi lainnya, kelestarian budaya Pringgasela akan lebih terjamin. Pemberdayaan Masyarakat: Alunan Budaya tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga platform untuk pemberdayaan. Para pengrajin tenun, pelaku seni, dan pedagang lokal memiliki kesempatan untuk menampilkan dan menjual produk serta karya mereka, membuka peluang ekonomi baru. Pengembangan Ekonomi Kreatif: Melalui festival ini, potensi ekonomi kreatif yang berbasis budaya dapat terus dikembangkan. Inovasi dalam desain tenun, pengembangan produk turunan, hingga penyelenggaraan acara yang menarik dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan nilai tambah produk budaya. Harmonisasi Sosial: Kegiatan seperti jalan santai, pertunjukan seni, dan berbagai lomba yang diselenggarakan dalam Alunan Budaya turut memperkuat ikatan sosial dan keharmonisan antarwarga. Momen kebersamaan ini penting untuk membangun masyarakat yang solid dan berdaya. Dengan dekade kesepuluh ini, Alunan Budaya Pringgasela tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi juga menatap masa depan dengan optimisme. Perpaduan antara tradisi yang kuat dan inovasi yang berkelanjutan, didukung oleh partisipasi aktif masyarakat dan pemerintah, menjadi kunci untuk memastikan bahwa warisan budaya Pringgasela akan terus bersinar dan memberikan manfaat bagi generasi kini dan mendatang. (***) Post navigation Bank NTB Syariah Perkuat Komitmen Lingkungan Melalui Aksi Penanaman Mangrove di Lombok Timur 58 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di Lombok Timur Diberhentikan Karena Berbagai Alasan