SELONG – Senin malam, 27 April 2026, menjadi saksi bisu dari peristiwa tragis yang mengguncang Kabupaten Lombok Timur. Sebuah insiden kebakaran hebat dilaporkan melanda Pasar Pringgabaya, sebuah fasilitas publik vital yang berlokasi di Desa Pringgabaya, Kecamatan Pringgabaya. Api, yang mulai berkobar sekitar pukul 19.50 WITA, dengan cepat melalap bangunan pasar, meninggalkan jejak kehancuran yang signifikan dan menimbulkan kerugian materiil yang diperkirakan mencapai angka fantastis. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) segera merilis laporan resmi mengenai kejadian ini. Berdasarkan investigasi awal yang dilakukan oleh tim di lapangan, penyebab utama kebakaran diduga kuat adalah korsleting listrik. Arus pendek listrik ini menjadi pemicu awal yang memungkinkan api menjalar dengan cepat dan ganas, merusak satu kompleks fasilitas umum pasar yang menjadi denyut nadi perekonomian masyarakat setempat. Kronologi Peristiwa yang Mengerikan Peristiwa nahas ini bermula pada Senin malam, ketika aktivitas di Pasar Pringgabaya mulai mereda. Sekitar pukul 19.50 WITA, laporan pertama mengenai adanya kobaran api mulai terdengar. Dalam hitungan menit, api terlihat membesar dan membubung tinggi ke angkasa, menarik perhatian warga sekitar dan petugas pemadam kebakaran. Tim pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Lombok Timur menjadi garda terdepan dalam upaya pemadaman. Menyadari skala api yang semakin membesar dan potensi penyebarannya yang cepat, seluruh armada pemadam kebakaran milik dinas tersebut segera dikerahkan ke lokasi. Namun, besarnya api dan material bangunan pasar yang mudah terbakar membuat upaya pemadaman awal menjadi sangat menantang. Menyadari situasi darurat ini, bantuan dari instansi lain pun segera berdatangan. Dinas Damkarmat Kabupaten Lombok Tengah, Unit Pelaksana Teknis (UPT) SAR Lombok Timur, BPBD Lombok Timur, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) turut mengerahkan personel dan peralatan mereka. Sinergi lintas instansi ini menjadi kunci penting dalam upaya mengendalikan dan memadamkan api yang mengganas. Proses pemadaman berlangsung selama berjam-jam. Tim pemadam bekerja tanpa kenal lelah, berjuang melawan kobaran api yang membahayakan. Di tengah upaya heroik ini, beberapa personel tim penanganan dilaporkan mengalami luka-luka ringan akibat medan kerja yang berbahaya dan terpapar panas tinggi. Selain itu, satu orang dilaporkan pingsan di lokasi kejadian, diduga akibat menghirup asap dalam jumlah banyak atau kelelahan. Akhirnya, setelah perjuangan panjang yang melibatkan puluhan personel dan belasan unit kendaraan pemadam, api berhasil dikendalikan dan dipadamkan sepenuhnya. Meskipun api telah padam, asap masih mengepul dari sisa-sisa bangunan yang terbakar, menandakan skala kerusakan yang begitu parah. Dampak dan Kerugian yang Mencekam Insiden kebakaran Pasar Pringgabaya ini tidak hanya meninggalkan luka fisik pada bangunan, tetapi juga luka ekonomi dan psikologis bagi masyarakat Lombok Timur. Kerugian materiil diperkirakan mencapai angka yang sangat besar, yaitu Rp 5.000.000.000 (lima miliar rupiah). Angka ini mencakup nilai bangunan pasar yang rusak berat, lapak-lapak pedagang, barang dagangan, serta infrastruktur pendukung lainnya. Pasar Pringgabaya merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi terpenting di wilayah tersebut, menjadi tempat bagi ratusan pedagang untuk mencari nafkah. Kehilangan pasar ini berarti hilangnya sumber pendapatan utama bagi banyak keluarga. Para pedagang, yang sebagian besar merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kini dihadapkan pada kenyataan pahit harus membangun kembali mata pencaharian mereka dari nol. Selain kerugian fisik dan ekonomi, insiden ini juga menimbulkan korban. Laporan tim medis menyebutkan adanya satu orang yang pingsan di lokasi kejadian dan tiga orang anggota tim penanganan yang mengalami luka-luka saat bertugas. Situasi ini menegaskan betapa berbahayanya pekerjaan pemadam kebakaran dan betapa pentingnya keselamatan dalam setiap operasi penyelamatan. Respons dan Himbauan dari Pihak Berwenang Menyikapi kejadian ini, BPBD Provinsi NTB terus berupaya memastikan penanganan pasca-kebakaran berjalan lancar. Koordinasi intensif dilakukan dengan pemerintah tingkat kecamatan dan desa untuk melakukan pendataan dampak secara menyeluruh, baik dari segi jumlah pedagang yang terdampak, kerugian aset, maupun kebutuhan mendesak lainnya. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB, Sadimin, ST., MT, dalam laporan resminya tidak hanya menyampaikan keprihatinan atas musibah ini, tetapi juga menyerukan peningkatan kewaspadaan di seluruh wilayah NTB. Ia menekankan pentingnya pencegahan kebakaran sebagai langkah antisipasi yang paling efektif. "Kami meminta masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di musim-musim tertentu yang cenderung kering. Pastikan instalasi listrik di rumah dan tempat usaha dalam kondisi aman dan terawat. Jangan pernah meninggalkan sumber api tanpa pengawasan, seperti kompor atau puntung rokok. Hindari juga kebiasaan membakar sampah di dekat pemukiman atau area yang mudah terbakar," ujar Sadimin. Ia menambahkan bahwa jika terjadi keadaan darurat, sekecil apapun, masyarakat diharapkan untuk tidak panik dan segera melaporkan kepada petugas pemadam kebakaran atau BPBD setempat. "Respons cepat dari masyarakat dan petugas adalah kunci untuk meminimalisir dampak kerugian," tegasnya. Konteks Latar Belakang dan Implikasi Lebih Luas Pasar Pringgabaya, sebagai salah satu pasar tradisional terbesar di Lombok Timur, memiliki peran strategis dalam rantai pasok produk pertanian dan perikanan di wilayah tersebut. Keberadaannya tidak hanya menjadi pusat jual beli, tetapi juga menjadi tempat berkumpulnya masyarakat, bertukarnya informasi, dan berlangsungnya berbagai kegiatan sosial. Insiden kebakaran ini tentu akan menimbulkan dampak domino yang cukup signifikan. Selain kerugian langsung bagi para pedagang dan pemerintah daerah, hal ini juga berpotensi mengganggu ketersediaan pasokan barang dan fluktuasi harga di pasar-pasar lain di sekitarnya. Pemulihan pasca-kebakaran akan membutuhkan waktu, sumber daya, dan dukungan yang besar dari berbagai pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun sektor swasta. Peristiwa ini juga menjadi pengingat akan pentingnya standar keamanan dan pemeliharaan fasilitas publik. Evaluasi terhadap sistem kelistrikan, ketersediaan alat pemadam kebakaran yang memadai, serta pelatihan rutin bagi para pengelola pasar dan pedagang mengenai mitigasi bencana kebakaran, perlu menjadi agenda prioritas. Pemerintah daerah diharapkan dapat segera merancang skema bantuan dan pemulihan bagi para pedagang yang terdampak. Hal ini bisa berupa bantuan modal usaha, penyediaan tempat penampungan sementara, atau program relokasi pedagang ke lokasi yang lebih aman dan representatif. Kejadian di Pasar Pringgabaya ini juga seharusnya mendorong refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan di NTB untuk terus memperkuat kapasitas dalam menghadapi bencana. Peningkatan anggaran untuk peralatan pemadam kebakaran, pelatihan personel, dan kampanye kesadaran publik mengenai pencegahan kebakaran menjadi investasi jangka panjang yang sangat krusial. Dengan kerugian yang begitu besar, insiden ini menjadi catatan kelam dalam sejarah pembangunan Lombok Timur. Namun, di balik musibah ini, diharapkan muncul semangat gotong royong dan kebersamaan untuk membangun kembali Pasar Pringgabaya menjadi lebih baik, lebih aman, dan lebih tangguh di masa depan. (**/RL) Post navigation Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg di Lombok Timur: Antrean Panjang dan Harga Melambung di Tengah Klaim Stok Aman Puluhan Pendemo Tuntut Pencopotan Kadis Perdagangan Lombok Timur Akibat Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kilogram