DOMPU – Di kaki megah Gunung Tambora, Desa Beringin Jaya, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, tengah merajut kisah sukses ekonomi yang inspiratif. Hamparan tebu yang membentang luas kini menjadi denyut nadi kehidupan, menggantikan kejayaan komoditas jambu mete yang sempat terpuruk akibat serangan hama dan gejolak pasar. Pergeseran strategis ini tidak hanya membawa perubahan signifikan pada pendapatan masyarakat, tetapi juga telah mengangkat harkat dan martabat warga, bahkan sampai memberangkatkan mereka ke tanah suci serta mengantarkan putra daerah ke kursi legislatif. Namun, di balik keberhasilan ini, tersembunyi sejumlah tantangan fundamental terkait infrastruktur dan dukungan kebijakan yang masih menuntut perhatian serius dari pemerintah. Pergeseran Paradigma Ekonomi: Dari Jambu Mete yang Pahit ke Manisnya Tebu Sebelum era tebu, perekonomian Desa Beringin Jaya sangat bergantung pada budidaya jambu mete. Selama bertahun-tahun, mete menjadi tulang punggung penghasilan utama bagi sebagian besar keluarga di wilayah tersebut. Namun, sekitar awal dekade 2020-an, sektor ini mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran yang mengkhawatirkan. Serangan hama yang masif, ditambah dengan fluktuasi harga pasar yang tidak menentu dan perubahan iklim yang memengaruhi produktivitas, secara perlahan menggerogoti keuntungan petani mete. Banyak petani mengalami kerugian signifikan, bahkan hingga jutaan rupiah per hektare, yang menyebabkan kesulitan ekonomi meluas dan bahkan memicu peningkatan angka pengangguran serta potensi konflik sosial. Dalam situasi yang genting tersebut, para petani dan pemerintah desa mulai mencari alternatif komoditas yang lebih resilien dan menjanjikan. Pilihan jatuh pada tebu, tanaman yang telah lama dikenal potensinya di beberapa wilayah Indonesia, terutama sebagai bahan baku gula. Keputusan ini didasari oleh beberapa pertimbangan strategis, antara lain karakteristik tebu yang lebih tahan terhadap hama tertentu dibandingkan mete, serta adanya permintaan pasar yang stabil dari pabrik gula di sekitar wilayah Dompu. Kepala Desa Beringin Jaya, Firman, menjelaskan bahwa proses transisi ini bukanlah hal yang mudah. Diperlukan edukasi, pendampingan, serta keberanian dari para petani untuk beralih dari komoditas yang sudah puluhan tahun mereka tekuni. “Kami melihat tebu sebagai jalan keluar dari krisis yang melanda petani mete. Perawatannya relatif lebih mudah dan potensi keuntungannya jauh lebih menjanjikan,” ujar Firman dalam sebuah wawancara. Sejak dimulainya program alih komoditas ini, secara bertahap lahan-lahan yang sebelumnya ditanami mete mulai beralih fungsi menjadi perkebunan tebu. Proses adaptasi membutuhkan waktu, namun dengan kerja keras dan dukungan awal, hasilnya mulai terlihat nyata dalam beberapa tahun terakhir. Indikator Kesejahteraan yang Meningkat: Dari Umrah hingga Pendidikan Tinggi Keberhasilan budidaya tebu di Beringin Jaya telah membawa dampak positif yang sangat signifikan terhadap taraf hidup masyarakat. Firman mengungkapkan bahwa pendapatan bersih petani tebu kini mampu mencapai Rp30 juta hingga Rp35 juta per hektare setiap musim panen. Angka ini jauh melampaui pendapatan dari jambu mete pada masa-masa sulitnya, memberikan stabilitas finansial yang belum pernah dirasakan sebelumnya oleh banyak keluarga. Salah satu inovasi penting yang turut menopang stabilitas ekonomi ini adalah sistem pembayaran langsung ke rekening petani (by name, by account). Sistem ini meminimalisir risiko penyelewengan, praktik rentenir, atau jeratan utang yang seringkali menghantui petani dalam sistem pembayaran konvensional. Dengan dana yang langsung masuk ke rekening pribadi, petani memiliki kendali penuh atas hasil kerja keras mereka, memungkinkan perencanaan keuangan yang lebih baik untuk kebutuhan keluarga dan investasi masa depan. Dampak dari peningkatan pendapatan ini pun meluas ke berbagai aspek kehidupan sosial dan keagamaan. “Setiap tahun, belasan hingga puluhan warga dari Beringin Jaya bisa menunaikan ibadah umrah. Ini adalah impian yang sebelumnya sulit terwujud bagi banyak orang,” tutur Firman, dengan bangga. Selain itu, peningkatan kesejahteraan juga membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi generasi muda. Jika sebelumnya banyak anak-anak terpaksa putus sekolah atau hanya mampu mengenyam pendidikan dasar, kini pendidikan anak-anak dapat terus berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi, menciptakan peluang masa depan yang lebih cerah bagi mereka. Tidak hanya itu, desa ini juga merasakan dampak positif dalam aspek ketenagakerjaan dan keamanan. Sektor tebu yang padat karya telah menyerap banyak tenaga kerja muda lokal, mengurangi angka pengangguran yang sebelumnya menjadi masalah serius. Dengan adanya pekerjaan dan penghasilan yang layak, angka kriminalitas di desa juga menunjukkan penurunan yang signifikan, menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tenteram bagi seluruh warga. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa pemberdayaan ekonomi berbasis pertanian mampu menjadi katalisator bagi pembangunan sosial yang holistik. Tantangan di Balik Manisnya Keuntungan: Infrastruktur dan Tata Kelola yang Mendesak Meskipun tebu telah membawa kemakmuran, petani di Beringin Jaya masih menghadapi sejumlah tantangan yang menggerus "manisnya" keuntungan. Salah satu kendala utama adalah minimnya dukungan infrastruktur, terutama akses jalan usaha tani. Jalan-jalan yang rusak parah, berlumpur saat hujan, dan berdebu saat kemarau, seringkali menghambat proses distribusi hasil panen. Truk pengangkut tebu kesulitan melintas, menyebabkan biaya operasional yang lebih tinggi bagi petani dan memperlambat waktu pengiriman ke pabrik gula. Kualitas tebu pun berisiko menurun jika terlalu lama tertahan di ladang. Selain infrastruktur, Firman juga melontarkan kritik keras terhadap pola distribusi bantuan bibit dan pupuk dari pemerintah yang dinilai sering tidak tepat sasaran atau hanya bersifat formalitas. “Banyak bantuan yang hanya ada di atas kertas atau sekadar untuk dokumentasi, namun realisasinya di lapangan jauh dari harapan. Petani yang seharusnya menerima justru tidak mendapatkannya, atau bibit yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan,” ungkap Firman, menyuarakan kekecewaan petani. Kondisi ini tidak hanya menghambat peningkatan produktivitas, tetapi juga menimbulkan rasa ketidakpercayaan di kalangan petani terhadap program-program pemerintah. Visi Dompu sebagai Lumbung Gula Nasional: Potensi Besar dan Hambatan Struktural Persoalan yang dihadapi di Beringin Jaya juga mencerminkan tantangan yang lebih besar di tingkat kecamatan dan kabupaten dalam mewujudkan visi Dompu sebagai kawasan tebu nasional. Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kecamatan Pekat, Mukhtar, mengungkapkan bahwa untuk mencapai status tersebut, diperlukan perluasan lahan kemitraan tebu secara signifikan. Saat ini, luas lahan kemitraan tebu di Dompu baru mencapai sekitar 3.200 hektare. Mukhtar menekankan bahwa untuk mengoptimalkan potensi dan memenuhi kebutuhan industri gula nasional, lahan kemitraan idealnya harus diperluas hingga 10.000 hingga 11.000 hektare. Perluasan ini akan menciptakan skala ekonomi yang lebih besar, menarik investasi, dan meningkatkan daya saing Dompu di kancah industri gula nasional. Namun, target ambisius ini dihadapkan pada sejumlah hambatan struktural yang memerlukan intervensi kebijakan yang serius. Mukhtar menyoroti tiga tantangan utama ke depan: Keterbatasan Alat Mesin Pertanian (Alsintan): Petani masih sangat kekurangan traktor pembajak, alat tanam, dan alat panen modern. Keterbatasan alsintan menyebabkan proses pengolahan lahan menjadi lambat, biaya tenaga kerja manual menjadi tinggi, dan efisiensi produksi rendah. Ini juga menjadi kendala besar bagi petani yang ingin memperluas lahan garapan mereka. Ketersediaan Bibit Unggul: Pasokan bibit tebu unggul yang memadai dan berkualitas masih menjadi masalah. Bibit yang tidak berkualitas atau tidak sesuai standar dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan kerentanan tanaman terhadap penyakit. Sulitnya Akses Kredit Perbankan: Petani pemula, khususnya, seringkali kesulitan mendapatkan akses ke lembaga keuangan formal seperti bank. Kendala seperti jaminan yang kurang memadai, prosedur yang rumit, dan persepsi risiko tinggi dari pihak bank, menghambat petani untuk mendapatkan modal kerja atau investasi untuk pembelian alsintan. Mukhtar menekankan pentingnya sinergi yang jujur dan transparan antara pemerintah, perusahaan (pabrik gula), dan desa. “Tanpa sinergi yang jujur dan komitmen bersama, potensi besar Dompu sebagai lumbung gula nasional akan layu di tengah jalan. Semua pihak harus duduk bersama, merumuskan solusi konkret, dan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab,” tegasnya. Dampak Lebih Luas dan Implikasi Kebijakan untuk Keberlanjutan Keberhasilan Desa Beringin Jaya dalam mengubah nasibnya melalui tebu bukan hanya kisah lokal, melainkan sebuah model yang dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki potensi pertanian serupa. Ini menunjukkan bahwa kekuatan lokal, yang didukung oleh komoditas yang tepat dan sistem pengelolaan yang efektif, mampu membawa perubahan ekonomi yang transformatif. Namun, untuk menjaga keberlanjutan dan memperluas dampak positif ini, kehadiran nyata negara menjadi krusial. Implikasi kebijakan yang perlu dipertimbangkan meliputi: Investasi Infrastruktur Prioritas: Pemerintah pusat dan daerah perlu mengalokasikan anggaran khusus untuk perbaikan dan pembangunan jalan usaha tani, serta fasilitas pendukung lainnya seperti irigasi yang memadai. Aksesibilitas yang baik adalah kunci untuk efisiensi rantai pasok dan daya saing produk pertanian. Reformasi Distribusi Bantuan: Mekanisme penyaluran bantuan bibit, pupuk, dan alsintan harus diperbaiki agar lebih tepat sasaran, transparan, dan akuntabel. Pendampingan teknis dari penyuluh pertanian juga perlu diperkuat untuk memastikan petani mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Fasilitasi Akses Permodalan: Pemerintah perlu bekerja sama dengan perbankan dan lembaga keuangan untuk menciptakan skema kredit khusus bagi petani tebu, dengan persyaratan yang lebih ringan dan prosedur yang lebih sederhana. Program subsidi bunga atau penjaminan kredit dapat menjadi solusi untuk mengurangi risiko bagi bank dan mempermudah petani mengakses modal. Pengembangan Kemitraan Industri: Mendorong kemitraan yang kuat antara petani, koperasi, dan pabrik gula. Perusahaan gula dapat berperan lebih aktif dalam penyediaan bibit unggul, pendampingan teknis, serta penjaminan pembelian hasil panen dengan harga yang stabil. Peningkatan Kapasitas Petani: Melalui pelatihan dan penyuluhan berkelanjutan mengenai praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP), penggunaan teknologi modern, dan manajemen keuangan, petani dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahanya. Status Dompu sebagai lumbung gula nasional bukan sekadar label, melainkan potensi ekonomi yang masif untuk mendukung ketahanan pangan dan energi nasional. Dengan total lahan potensial yang luas dan semangat juang petani seperti di Beringin Jaya, Dompu memiliki semua elemen untuk menjadi salah satu pilar utama industri gula Indonesia. Namun, realisasi penuh potensi ini sangat bergantung pada komitmen pemerintah untuk mengatasi hambatan struktural, membangun infrastruktur yang memadai, dan menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan pertanian tebu yang berkelanjutan. Masa depan "manis" kaki Tambora ada di tangan sinergi semua pihak, mewujudkan kesejahteraan yang merata dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Dompu. (rl) Post navigation Transformasi Kapal Polisi XXI-2014 Menjadi Perpustakaan Terapung: Menumbuhkan Kecintaan Maritim dan Lingkungan di Dompu Diversifikasi Pertanian di Kaki Tambora: Tebu Jadi Harapan Baru di Tengah Tantangan Infrastruktur Dompu