MATARAM – Kebuntuan yang melingkupi Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) XIII Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai memantik gelombang keresahan di kalangan sejumlah pengurus cabang olahraga (cabor). Situasi ini kian memanas dengan belum terpilihnya Ketua Umum KONI NTB untuk periode kepengurusan selanjutnya, serta rencana KONI Pusat untuk mengambil alih kepengurusan melalui pembentukan tim caretaker. Para pengurus cabor menyuarakan kekhawatiran serius mengenai independensi proses pemilihan ketua KONI NTB mendatang, dan mendesak KONI Pusat untuk benar-benar menjaga netralitas serta menghindari segala bentuk intervensi dalam Musyawarah Olahraga Provinsi yang akan diselenggarakan oleh tim caretaker. Situasi ini menjadi sorotan utama, mengingat NTB bersama Nusa Tenggara Timur (NTT) dipercaya menjadi tuan rumah bersama Pekan Olahraga Nasional (PON) pada tahun 2026. Momentum krusial ini menuntut kepemimpinan KONI NTB yang kuat, independen, dan memiliki legitimasi penuh untuk mengawal persiapan olahraga daerah ke kancah nasional. Latar Belakang dan Kronologi Kebuntuan Musorprov KONI NTB Musorprov XIII KONI NTB yang seharusnya menjadi ajang penentuan kepemimpinan organisasi olahraga di provinsi tersebut, justru terjebak dalam kebuntuan. Hingga berita ini diturunkan, pemilihan Ketua Umum KONI NTB periode berikutnya belum terselesaikan. Ketidakjelasan proses ini menimbulkan spekulasi dan kekhawatiran di kalangan pemangku kepentingan olahraga NTB. Sebagai respons terhadap kebuntuan tersebut, KONI Pusat mengambil langkah untuk mengambil alih kepengurusan KONI NTB sementara. Hal ini akan dilakukan melalui pembentukan tim caretaker. Tim ini bertugas untuk menjalankan roda organisasi dan memastikan proses pemilihan ketua definitif dapat terlaksana. Namun, pembentukan tim caretaker ini bukannya tanpa kekhawatiran. Sejumlah pengurus cabor khawatir bahwa kehadiran tim caretaker dari KONI Pusat dapat memunculkan potensi intervensi dalam proses pemilihan, yang berujung pada terpilihnya ketua yang tidak sepenuhnya independen atau tidak mewakili aspirasi seluruh pemangku kepentingan olahraga NTB. Tuntutan Netralitas dan Independensi dari Pengurus Cabang Olahraga Menyikapi potensi intervensi tersebut, Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) NTB, Karina De Vega, menyampaikan secara tegas harapannya agar KONI Pusat dapat menempatkan diri secara netral. "KONI NTB saat ini telah diambil alih KONI Pusat. Dalam waktu dekat, KONI Pusat juga akan membentuk tim caretaker untuk menjalankan roda organisasi hingga terpilihnya ketua definitif," ujar Karina De Vega. Ia menekankan pentingnya netralitas KONI Pusat dalam proses ini. "Harapan kami KONI Pusat bisa menempatkan diri secara netral tanpa intervensi dari manapun, agar tidak menguntungkan pihak siapapun," tegas Karina, dalam pernyataannya pada Rabu (2/9). Proses Pemilihan yang Transparan dan Akuntabel Lebih lanjut, Karina De Vega menggarisbawahi bahwa seluruh tahapan dalam proses pemilihan harus senantiasa mengacu pada peraturan yang berlaku. Hal ini termasuk dalam penentuan status calon yang dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS). Jika terdapat calon yang dinyatakan TMS karena tidak memenuhi persyaratan, proses tersebut harus dijalankan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh pemangku kepentingan. "KONI Pusat harus tetap dengan aturan yang ada. Kalau misalnya calon itu TMS karena tidak lengkapnya sejumlah syarat, maka harus transparan," tandasnya. Keterbukaan dalam setiap proses menjadi kunci untuk membangun kepercayaan publik dan memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik bagi olahraga NTB. Independensi Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) Selain proses pemilihan secara umum, Karina De Vega juga menyoroti pentingnya independensi Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) yang akan dibentuk oleh KONI Pusat. TPP diharapkan benar-benar bebas dari keberpihakan terhadap calon atau kelompok tertentu. "Kemudian nantinya, jika TPP yang ditetapkan oleh KONI Pusat nanti harus benar-benar independen. Tanpa berpihak kepada siapapun," ujarnya. Independensi TPP sangat krusial untuk memastikan bahwa hanya calon-calon yang memenuhi kualifikasi dan memiliki visi yang jelas untuk memajukan olahraga NTB yang akan lolos seleksi. Hal ini penting agar ketua KONI NTB yang terpilih nantinya benar-benar memiliki legitimasi yang kuat dan mampu membawa semangat sportivitas yang tinggi. "Harapannya supaya mendapat ketua yang menjunjung tinggi sportivitas. Karena kita insan olahraga, menjunjung sportivitas," katanya. Kritik Terhadap Dinamika Musorprov Sebelumnya Karina De Vega juga tidak segan mengkritik beberapa dinamika yang terjadi dalam Musorprov XIII KONI NTB sebelumnya. Salah satu poin yang disorot adalah penggunaan atribut atau rompi dengan warna tertentu oleh pihak yang diduga sebagai pengusung salah satu calon. Menurutnya, penggunaan atribut semacam itu justru menimbulkan kesan adanya pengelompokan dalam forum olahraga yang seharusnya mengedepankan persatuan dan kesatuan. "Yang kami sesalkan, seperti di Musorprov XIII 2026 kemarin, mereka sudah memakai warna tertentu dengan menggunakan rompi. Itu seakan mereka sudah memisahkan diri. Padahal dia sebagai calon TMS," ungkapnya, menyayangkan adanya indikasi polarisasi sejak dini. Melanjutkan Pondasi Pembinaan Olahraga NTB Lebih dari sekadar proses pemilihan, Karina De Vega juga mengingatkan agar kepengurusan KONI NTB yang baru dapat melanjutkan estafet pembinaan olahraga yang telah dibangun oleh kepengurusan sebelumnya. Ia mengakui bahwa kepengurusan sebelumnya telah meletakkan fondasi yang kuat dalam pembinaan olahraga NTB, termasuk dalam mengawal proses hingga NTB bersama NTT ditetapkan sebagai tuan rumah PON. "Kami rasa ketua baru nanti bisa melanjutkan yang sudah baik. Ini yang kita harapkan," jelasnya, menunjukkan adanya harapan agar keberlanjutan program-program yang positif tidak terputus. Menjunjung Tinggi Sportivitas dan Menghindari Kepentingan Kelompok Oleh karena itu, ia berharap proses Musorprov nantinya dapat berlangsung secara fair dan bebas dari kepentingan kekuasaan maupun kelompok tertentu. "Kami tekankan tidak ada intervensi di Musorprov nanti. Baiknya kita berkompetisi dengan fair," tegas Karina. Ia memberikan peringatan keras bahwa jika proses pemilihan justru diwarnai oleh intervensi dan arogansi kekuasaan, hal tersebut dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap masa depan olahraga NTB. Terlebih lagi, NTB memiliki tanggung jawab yang sangat besar sebagai salah satu tuan rumah PON 2026. "Kalau terjadi intervensi dan semacamnya seperti demikian, mau dibawa ke mana olahraga NTB yang akan jadi tuan rumah PON?" tandasnya, menyuarakan kekhawatiran yang sama di benak banyak pegiat olahraga. Menuju Kepemimpinan yang Demokratis dan Transparan Karina De Vega menyerukan agar seluruh pihak yang terlibat dalam proses ini dapat mengedepankan kepentingan olahraga NTB di atas segala kepentingan pribadi atau kelompok. Menurutnya, kepemimpinan KONI ke depan harus lahir dari proses yang demokratis, transparan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. "Jangan memakai arogansi kekuasaan," pungkasnya, sebagai penutup seruannya untuk sebuah proses pemilihan yang bersih dan bermartabat. Implikasi dan Dampak Lebih Luas Situasi kebuntuan dan kekhawatiran akan intervensi dalam pemilihan Ketua KONI NTB ini memiliki implikasi yang luas, terutama dalam konteks persiapan NTB sebagai tuan rumah PON 2026. Kualitas kepemimpinan KONI NTB akan sangat menentukan efektivitas koordinasi dengan pemerintah daerah, federasi olahraga nasional, serta lembaga terkait lainnya dalam memastikan kesiapan infrastruktur, atlet, dan penyelenggaraan acara yang sukses. Jika proses pemilihan tidak berjalan dengan baik dan menghasilkan kepemimpinan yang lemah atau tidak memiliki legitimasi, hal ini dapat menghambat progres persiapan PON. Keraguan publik terhadap independensi proses pemilihan juga dapat merusak citra olahraga NTB dan mengurangi kepercayaan investor serta sponsor yang berpotensi mendukung penyelenggaraan PON. Oleh karena itu, desakan dari pengurus cabor untuk menjaga netralitas dan independensi KONI Pusat dalam menangani Musorprov XIII KONI NTB menjadi sangat relevan dan krusial. Keputusan yang diambil oleh KONI Pusat dalam beberapa waktu ke depan akan sangat menentukan arah masa depan olahraga NTB, khususnya dalam menghadapi tanggung jawab besar sebagai tuan rumah PON. Dialog yang konstruktif, transparansi penuh, dan komitmen terhadap aturan main yang adil adalah kunci untuk keluar dari kebuntuan ini dan memastikan lahirnya kepemimpinan yang kuat dan visioner bagi KONI NTB. Post navigation KPK Periksa Direktur Operasional PT AMGM, Dadi Rahman, dalam Kasus Dugaan Korupsi Bupati Lombok Barat Nonaktif Polemik TPA Regional Kebon Kongok Memanas: Pemprov NTB Berjanji Tuntaskan Kompensasi, Warga Tuntut Realisasi Penuh