Pelantikan Prof. Sukardi sebagai Rektor Universitas Mataram (Unram) periode 2026-2030 menandai babak baru bagi institusi pendidikan tinggi terbesar di Nusa Tenggara Barat (NTB). Upacara pelantikan yang berlangsung khidmat di Gedung Graha Dikti Saintek, Lantai 2, Gedung D, Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Jakarta, pada Selasa (10/3), dihadiri oleh berbagai tokoh penting nasional dan daerah. Prof. Sukardi secara resmi mengemban amanah menggantikan Prof. Bambang Hari Kusumo, membawa ekspektasi besar dari berbagai kalangan untuk membawa Unram bertransformasi menjadi universitas kelas dunia yang tetap berpijak pada kebutuhan lokal masyarakat Bumi Gora. Hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hardian Irfani, yang memberikan apresiasi sekaligus catatan strategis bagi kepemimpinan baru di Unram. Kehadiran tokoh legislatif asal NTB ini menegaskan betapa strategisnya posisi Unram dalam peta pembangunan sumber daya manusia (SDM) nasional, khususnya di wilayah Indonesia Timur. Pelantikan ini juga disaksikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Fauzan, serta jajaran pimpinan senat dan dekanat Universitas Mataram. Komitmen Menjaga Netralitas Akademik dan Intelektualitas Salah satu poin krusial yang ditekankan oleh Lalu Hardian Irfani dalam momentum pelantikan ini adalah pentingnya menjaga integritas kampus dari pengaruh politik praktis. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Unram memiliki marwah sebagai benteng intelektualitas yang harus steril dari kepentingan politik elektoral maupun tarikan kelompok kepentingan tertentu. Menurut Lalu Hardian, Rektor baru memiliki tugas berat untuk memastikan bahwa seluruh sivitas akademika fokus pada pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian masyarakat. "Kami ucapkan selamat kepada Prof. Sukardi. Semoga ke depan Unram bisa bersinergi dengan seluruh pemangku kebijakan dan seluruh golongan kelompok masyarakat dalam rangka peningkatan SDM di NTB," ujar Lalu Hardian Irfani. Ketua DPW PKB NTB tersebut menegaskan bahwa kampus harus dikembalikan pada fungsi asalnya sebagai pusat riset dan inovasi. Di tengah dinamika politik nasional yang sering kali masuk ke ranah akademis, Unram diharapkan mampu berdiri tegak sebagai institusi yang objektif dan independen. Penegasan mengenai bebasnya kampus dari politik praktis bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, tantangan netralitas ASN dan akademisi di lingkungan universitas sering menjadi sorotan, terutama menjelang pesta demokrasi. Dengan kepemimpinan Prof. Sukardi, diharapkan Unram dapat memberikan teladan bagaimana sebuah institusi pendidikan tinggi mampu berkontribusi bagi bangsa tanpa harus terjebak dalam pusaran politik praktis yang berpotensi memecah belah keharmonisan internal kampus. Sinergi Strategis dengan Pemerintah Daerah dan Pembangunan NTB Sebagai universitas negeri tertua dan terbesar di NTB, Universitas Mataram memikul tanggung jawab moral untuk menjadi motor penggerak pembangunan di daerah. Lalu Hardian Irfani menyoroti bahwa Unram tidak boleh menjadi "menara gading" yang terputus dari realitas sosial dan ekonomi masyarakat sekitarnya. Sebaliknya, Unram harus mampu menjadi inkubator riset dan inovasi yang memberikan solusi nyata bagi permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Provinsi NTB maupun Pemerintah Kabupaten/Kota se-NTB. Data menunjukkan bahwa Provinsi NTB terus berupaya meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada tahun-tahun mendatang, tantangan seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas kesehatan, hingga hilirisasi produk pertanian dan pertambangan menjadi agenda utama daerah. Di sinilah peran Unram sangat dibutuhkan. Melalui riset-riset terapan, Unram diharapkan mampu memberikan rekomendasi berbasis data kepada pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan. Sinergi ini, menurut Lalu Hardian, adalah sebuah kewajiban. Unram memiliki pakar di berbagai bidang, mulai dari pertanian, peternakan, teknik, hingga kedokteran dan ekonomi. Jika potensi intelektual ini dipadukan dengan kebijakan anggaran dan eksekusi dari pemerintah daerah, maka lompatan kemajuan bagi masyarakat NTB akan lebih cepat tercapai. Universitas Mataram harus hadir di tengah masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang tematik dan riset yang berorientasi pada pemberdayaan potensi lokal. Rekonsiliasi Internal dan Stabilitas Organisasi Transisi kepemimpinan di sebuah universitas besar sering kali menyisakan dinamika internal. Menyadari hal tersebut, Lalu Hardian Irfani memberikan pesan khusus mengenai pengisian jabatan struktural di bawah rektor, mulai dari Wakil Rektor I hingga IV, serta posisi-posisi strategis lainnya. Ia menekankan pentingnya prinsip inklusivitas dan meritokrasi dalam menyusun kabinet kerja Prof. Sukardi. "Betul tidak boleh ada oposisi dan kelompok-kelompok. Semua harus guyub dan bersatu untuk memajukan Unram," tegas mantan anggota DPRD NTB tersebut. Stabilitas internal dianggap sebagai fondasi utama bagi Rektor untuk menjalankan visi dan misinya. Jika terjadi friksi di dalam birokrasi kampus, maka program-program strategis untuk meningkatkan akreditasi internasional dan kualitas lulusan akan terhambat. Prof. Sukardi diharapkan mampu merangkul semua faksi dan kepentingan di dalam Unram untuk bergerak searah. Pengisian jabatan pembantu rektor harus didasarkan pada kompetensi dan integritas, bukan sekadar balas budi politik kampus. Dengan suasana kerja yang harmonis, Universitas Mataram akan memiliki energi yang cukup untuk bersaing dengan universitas-universitas besar lainnya di Pulau Jawa dalam meraih pendanaan riset internasional maupun kerja sama global. Menuju World Class University: Tantangan dan Peluang Di bawah kepemimpinan Prof. Bambang Hari Kusumo sebelumnya, Unram telah memulai langkah menuju internasionalisasi dengan peningkatan jumlah publikasi ilmiah dan kerja sama luar negeri. Tugas Prof. Sukardi adalah mengakselerasi pencapaian tersebut. Di era industri 4.0 dan menuju 5.0, universitas dituntut untuk tidak hanya mencetak lulusan yang mencari kerja, tetapi juga menciptakan inovator dan wirausahawan yang mampu menciptakan lapangan kerja. Lalu Hardian Irfani mengingatkan bahwa Unram harus mampu mencetak generasi penerus bangsa yang unggul di NTB. Unggul di sini berarti memiliki daya saing global namun tetap memiliki karakter dan kearifan lokal. Tantangan pendidikan tinggi ke depan semakin kompleks dengan adanya kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang menuntut fleksibilitas dan adaptasi cepat dari institusi pendidikan. Selain itu, penguatan sarana dan prasarana riset di Unram menjadi poin penting yang harus diperhatikan oleh kepemimpinan baru. Sebagai mitra kerja Kemendiktisaintek, Komisi X DPR RI berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan anggaran yang mendukung kemajuan universitas-universitas di daerah, termasuk Unram. Namun, pemanfaatan anggaran tersebut harus dibarengi dengan transparansi dan akuntabilitas yang tinggi dari pihak rektorat. Kronologi dan Detail Pelantikan Proses pergantian Rektor Unram ini merupakan bagian dari siklus kepemimpinan yang telah diatur dalam statuta universitas. Setelah melalui serangkaian proses penjaringan di tingkat senat universitas, nama Prof. Sukardi akhirnya ditetapkan untuk memimpin Unram selama empat tahun ke depan. Pelantikan yang dilakukan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi RI (atau yang mewakili) di Jakarta pada 10 Maret 2026 ini menjadi legalitas formal bagi Prof. Sukardi untuk mulai menjalankan tugasnya. Acara pelantikan berlangsung dengan protokol resmi kenegaraan. Selain pidato pelantikan yang menekankan pada transformasi digital dan penguatan riset, kehadiran para pimpinan universitas dari berbagai fakultas menunjukkan dukungan kolektif terhadap nakhoda baru. Setelah pelantikan ini, Prof. Sukardi dijadwalkan akan segera melakukan serah terima jabatan di Mataram dan memulai konsolidasi internal untuk menentukan arah kebijakan strategis dalam 100 hari pertama kepemimpinannya. Harapan Masyarakat Bumi Gora Masyarakat Nusa Tenggara Barat menaruh harapan besar pada pundak Prof. Sukardi. Sebagai institusi kebanggaan, keberhasilan Unram adalah keberhasilan NTB. Keterlibatan aktif universitas dalam memecahkan masalah kekeringan, pengembangan pariwisata berkelanjutan di Mandalika, hingga peningkatan kualitas pendidikan menengah di pelosok desa adalah beberapa hal yang dinantikan hasilnya. Pernyataan tegas dari Lalu Hardian Irfani sebagai wakil rakyat di Senayan menjadi pengingat bahwa publik mengawasi jalannya kepemimpinan di Unram. Universitas Mataram bukan milik segelintir elit akademisi, melainkan milik rakyat yang mendambakan masa depan lebih baik melalui pendidikan. Dengan semangat "guyub" dan fokus pada intelektualitas, Prof. Sukardi diharapkan mampu membawa Unram terbang lebih tinggi, menjaga marwah akademis, dan tetap menjadi mitra strategis pemerintah dalam memajukan daerah. Penutupan rangkaian pelantikan ini menandai dimulainya kerja nyata. Tantangan di depan mata, mulai dari peningkatan peringkat universitas di level Asia hingga memastikan setiap lulusan Unram terserap di dunia kerja atau mampu berdikari, menanti sentuhan tangan dingin Prof. Sukardi. Komitmen untuk menjauhkan kampus dari politik praktis dan memperkuat sinergi lintas sektoral akan menjadi kunci keberhasilan Universitas Mataram dalam periode 2026-2030. Post navigation PTUN Mataram Tolak Gugatan Prof Hamsu Kadryan Terhadap Rektor Unram Terkait Sanksi Etik dan Pencalonan Rektor Prof Sukardi Resmi Pimpin Unram 2026 -2030