Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR) secara resmi menjadi pusat perhatian dalam pengembangan inovasi berkelanjutan setelah sukses menyelenggarakan EcoPower Ideation Showcase 2026 di Aula Abdurrahim, Mataram, pada Jumat (5/6/2026). Acara ini merupakan puncak dari rangkaian program "EcoPower Lombok" yang telah berlangsung intensif selama delapan bulan, yang bertujuan untuk mencetak generasi muda Nusa Tenggara Barat (NTB) yang melek finansial dan berorientasi pada pelestarian lingkungan melalui model ekonomi sirkular. Dengan tema "Empowering Sustainable Futures Through Financial Literacy and the Circular Economy," kegiatan ini tidak hanya sekadar ajang kompetisi ide bisnis, tetapi juga menjadi manifestasi nyata dari kolaborasi lintas sektor antara akademisi, organisasi non-profit, dan sektor swasta. Program ini merupakan inisiatif kolaboratif yang melibatkan Solve Education!, Yayasan Allianz Peduli, Nusa Tenggara for Nusantara (NTN) Foundation, dan UNIZAR sebagai mitra perguruan tinggi. Melalui sinergi ini, para peserta dibekali dengan berbagai keterampilan praktis yang relevan dengan tantangan ekonomi global saat ini, mulai dari manajemen keuangan pribadi hingga strategi pengembangan bisnis yang ramah lingkungan. Kehadiran program ini di NTB dianggap sangat relevan mengingat provinsi tersebut tengah gencar mempromosikan pariwisata berkelanjutan dan pengelolaan sampah yang terintegrasi melalui program-program daerah. Kronologi dan Perjalanan Program EcoPower Lombok Perjalanan panjang EcoPower Lombok dimulai pada Oktober 2025. Selama periode delapan bulan, para peserta yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, hingga kelompok penyandang disabilitas, melewati berbagai tahapan kurasi dan pembinaan yang ketat. Tahap awal dimulai dengan pendaftaran dan seleksi terbuka bagi pemuda di seluruh penjuru Lombok yang memiliki minat pada isu lingkungan dan kewirausahaan sosial. Setelah tahap seleksi, peserta diwajibkan mengikuti serangkaian webinar edukatif yang menghadirkan pakar di bidang ekonomi sirkular dan literasi keuangan. Tidak berhenti di sana, aspek teknologi turut diintegrasikan melalui penggunaan platform pembelajaran digital berbasis kecerdasan buatan, Edbot.ai, dari Solve Education!. Platform ini memungkinkan peserta untuk belajar secara mandiri dengan tantangan-tantangan digital yang dirancang untuk mengasah logika bisnis dan pemahaman keberlanjutan mereka. Memasuki fase pertengahan, para peserta mendapatkan sesi mentoring intensif. Dalam fase ini, ide-ide mentah mulai dipoles menjadi rencana bisnis yang lebih konkret. Para mentor yang berasal dari kalangan praktisi bisnis dan akademisi membantu peserta dalam memetakan potensi pasar, menghitung biaya produksi, hingga memformulasikan dampak sosial dari bisnis yang mereka usulkan. Dari ratusan pendaftar awal, terpilihlah 15 finalis terbaik yang berhak tampil di panggung EcoPower Ideation Showcase 2026 untuk mempresentasikan solusi inovatif mereka di hadapan dewan juri. Inovasi Lokal Berbasis Ekonomi Sirkular Dalam sesi presentasi final, 15 finalis memaparkan gagasan yang beragam namun tetap berakar pada kearifan lokal dan prinsip keberlanjutan. Ekonomi sirkular menjadi benang merah dari seluruh presentasi, di mana limbah atau sumber daya yang tidak terpakai diubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Beberapa inovasi yang menarik perhatian juri dan hadirin antara lain adalah pemanfaatan limbah kelapa menjadi Briket Arang Tempurung Kelapa, yang diproyeksikan sebagai alternatif energi bersih untuk kebutuhan rumah tangga dan industri kecil di Lombok. Selain itu, terdapat proyek Minyak Kemiri Asli Bayan yang berusaha mengangkat potensi hasil bumi dari Lombok Utara dengan kemasan dan strategi pemasaran modern. Di sektor pendidikan dan lingkungan, muncul ide Kompos Literasi, sebuah model pengelolaan sampah organik yang dipadukan dengan program edukasi membaca bagi anak-anak. Inovasi lain yang tidak kalah menarik meliputi Self Watering Pot yang memanfaatkan prinsip kapilaritas untuk efisiensi air, Eco Orange yang mengolah limbah kulit jeruk, hingga Danboo Crafts dan Eco Crystal Bracelet yang mengubah material sisa menjadi aksesori estetis. Kehadiran peserta dari kalangan penyandang disabilitas menambah dimensi inklusivitas dalam ajang ini. Partisipasi mereka membuktikan bahwa inovasi dan kepedulian terhadap lingkungan adalah milik semua orang tanpa terkecuali. Proyek seperti Fun Learning Center dan Sweetie Hampers menunjukkan bagaimana pemberdayaan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan misi sosial untuk menciptakan masyarakat yang lebih setara. Dukungan Kelembagaan dan Visi Keberlanjutan Rektor UNIZAR, Dr. Ir. Muh. Ansyar, M.P., dalam sambutannya menekankan bahwa peran universitas saat ini tidak boleh terbatas pada pengajaran di ruang kelas. Menurutnya, UNIZAR harus menjadi inkubator bagi solusi-solusi nyata yang dibutuhkan oleh masyarakat NTB. Beliau menyatakan bahwa EcoPower Ideation Showcase 2026 adalah tonggak penting bagi universitas dalam memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan di daerah. "Alhamdulillah, hari ini mungkin menjadi titik akhir dari rangkaian kegiatan formal ini. Namun, ini bukanlah akhir dari perjalanan para peserta. Justru, ini adalah awal bagi mereka untuk mengimplementasikan karya mereka di tengah masyarakat. Kami di UNIZAR berkomitmen untuk terus mendukung semangat kolaboratif ini demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik," ujar Dr. Muh. Ansyar. Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi antar lembaga adalah kunci utama, di mana bekerja bersama lebih bermakna daripada sekadar bekerja secara paralel di bidang masing-masing. Senada dengan Rektor UNIZAR, Co-Founder Nusa Tenggara for Nusantara Foundation, Eliyan Umamy, memberikan apresiasi tinggi terhadap daya tahan para peserta. Mengikuti program selama delapan bulan bukanlah hal yang mudah bagi anak muda di tengah kesibukan akademik lainnya. Eliyan melihat bahwa para finalis bukan sekadar mengejar kemenangan kompetisi, melainkan memiliki keresahan yang jujur terhadap permasalahan di lingkungan sekitar mereka dan berupaya menyelesaikannya dengan cara yang cerdas. Peran Literasi Keuangan dan Teknologi dalam Pemberdayaan Pentingnya literasi keuangan sebagai fondasi bisnis berkelanjutan ditekankan oleh Ketua Yayasan Allianz Peduli, Ni Made Daryanti. Dalam konteks ekonomi sirkular, pemahaman tentang arus kas, efisiensi biaya, dan manajemen risiko menjadi sangat krusial agar unit usaha yang didirikan tidak hanya berdampak secara ekologis tetapi juga sehat secara finansial. Yayasan Allianz Peduli melihat program ini sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan dalam menciptakan resiliensi ekonomi di tingkat akar rumput. "Kami bangga melihat transformasi para peserta. Dari yang awalnya mungkin hanya memiliki ide sederhana, kini mereka mampu mempresentasikan model bisnis yang memiliki perhitungan matang. Kami berharap proses belajar ini menjadi modal berharga bagi masa depan mereka," tutur Ni Made Daryanti. Di sisi lain, Talitha Amalia selaku Co-Founder Solve Education! menyoroti pentingnya karakter dan adaptasi teknologi. Melalui penggunaan Edbot.ai, peserta diajak untuk akrab dengan teknologi tanpa kehilangan esensi kemanusiaan. Talitha mengingatkan bahwa di era kecerdasan buatan (AI), nilai-nilai seperti empati, integritas, dan visi sosial adalah hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin. "AI tidak memiliki mimpi atau harapan. Yang akan bertahan di masa depan adalah mereka yang mampu mengombinasikan kecanggihan teknologi dengan idealisme untuk memberikan kontribusi nyata bagi sesama. EcoPower adalah ruang di mana kepemimpinan dan pola pikir tersebut dibentuk," jelas Talitha. Analisis Implikasi dan Dampak Jangka Panjang bagi NTB Penyelenggaraan EcoPower Ideation Showcase 2026 di Mataram membawa implikasi strategis bagi perkembangan ekosistem kewirausahaan sosial di NTB. Secara ekonomi, ide-ide bisnis yang lahir dari program ini berpotensi membuka lapangan kerja baru berbasis komunitas. Misalnya, pengembangan briket arang atau minyak kemiri dapat menyerap tenaga kerja lokal dan meningkatkan pendapatan petani di daerah pelosok seperti Bayan. Secara lingkungan, fokus pada ekonomi sirkular sangat mendukung target pemerintah daerah NTB dalam mencapai "Zero Waste". Dengan mengubah persepsi masyarakat dari "membuang sampah" menjadi "mengelola sumber daya," beban tempat pemrosesan akhir (TPA) dapat dikurangi secara signifikan. Selain itu, penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran memberikan model baru bagi pendidikan luar sekolah di NTB yang lebih fleksibel dan aksesibel bagi semua kalangan, termasuk kelompok rentan. Dampak jangka panjang yang diharapkan adalah terciptanya jejaring inovator muda di Lombok yang saling mendukung. Jejaring ini akan menjadi modal sosial yang kuat dalam menghadapi tantangan krisis iklim dan ketimpangan ekonomi di masa depan. Keberhasilan kolaborasi antara UNIZAR, Allianz, Solve Education!, dan NTN Foundation ini juga diharapkan dapat menjadi cetak biru (blueprint) bagi program serupa di wilayah lain di Indonesia, di mana sektor pendidikan dan swasta bersatu untuk mendorong aksi iklim dan inklusi keuangan secara simultan. Dengan berakhirnya acara showcase ini, mata kini tertuju pada bagaimana para finalis akan merealisasikan ide-ide mereka. Dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan masyarakat sangat diperlukan agar tunas-tunas inovasi dari EcoPower Lombok ini dapat tumbuh menjadi pohon industri hijau yang kuat, yang mampu memayungi masa depan ekonomi Nusa Tenggara Barat. Post navigation Transformasi Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal: Riset Strategis Pascasarjana IPB Internasional Bali di Desa Wisata Lombok Barat