Program Pascasarjana Institut Pariwisata dan Bisnis (IPB) Internasional Bali melakukan langkah strategis dalam pengembangan sektor pariwisata nasional melalui rangkaian kunjungan riset lapangan dan pengabdian masyarakat di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Agenda akademik yang berlangsung pada akhir Mei 2026 ini dirancang untuk membedah tata kelola bisnis pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada profitabilitas, tetapi juga kemandirian ekonomi lokal yang berkelanjutan. Dipimpin langsung oleh Direktur Pascasarjana S2 & S3 IPB Internasional, Prof. Dr. Made Budiarsa, serta didampingi oleh Ketua Program Studi S2, Dr. Herny Susanti, rombongan yang terdiri dari mahasiswa Program Doktor (S3) Bisnis Terapan Pariwisata ini berupaya menyinergikan teori akademik dengan realitas lapangan guna menciptakan inovasi yang aplikatif bagi masyarakat lokal.

Langkah ini diambil di tengah pergeseran paradigma pariwisata global yang kini lebih menekankan pada aspek kualitas (Quality Tourism) dibandingkan kuantitas. Pulau Lombok, dengan statusnya sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), dipilih karena memiliki kompleksitas dan keragaman potensi yang unik, mulai dari wisata alam, budaya, hingga wisata olahraga skala internasional. Fokus utama riset ini diarahkan pada bagaimana desa wisata mampu mengelola asetnya secara mandiri tanpa kehilangan jati diri budayanya.

Eksplorasi Potensi Desa Wisata Batu Kumbung dan Sedau

Pada Sabtu, 23 Mei 2026, tim riset memfokuskan observasi di Desa Wisata Batu Kumbung yang terletak di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat. Wilayah ini dikenal memiliki karakteristik agraris yang kuat dan sistem pengairan tradisional yang masih terjaga. Mahasiswa Program S3 membedah berbagai elemen daya tarik desa, mulai dari lanskap alam yang asri, situs-situs bersejarah, hingga kesiapan masyarakat dalam menyelenggarakan ajang budaya lokal. Lingsar sendiri secara historis merupakan wilayah yang melambangkan harmoni antarumat beragama di Lombok, yang menjadi nilai tambah signifikan dalam narasi pemasaran pariwisata.

Sehari sebelumnya, pada Jumat, 22 Mei 2026, kegiatan serupa dilaksanakan di Desa Wisata Sedau. Di lokasi ini, tim peneliti mengevaluasi integrasi antara keindahan alam bendungan dengan aktivitas ekonomi kreatif masyarakat setempat. Perjalanan riset kemudian dilanjutkan ke Taman Narmada, sebuah cagar budaya yang merupakan replika Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak yang dibangun oleh Raja Mataram Lombok pada tahun 1727. Kunjungan ke situs sejarah ini bertujuan untuk memahami bagaimana manajemen warisan budaya dapat dikonversi menjadi daya tarik wisata edukasi yang berkelanjutan.

Profesor Made Budiarsa menekankan bahwa esensi dari pendidikan doktor terapan adalah kemampuan untuk menghasilkan solusi nyata bagi industri. Menurutnya, riset lapangan bukan sekadar pemenuhan syarat akademis, melainkan proses penggalian data mentah yang akan diolah menjadi model bisnis baru. "Tujuan utama kami adalah mencetak doktor-doktor yang memiliki karakteristik kearifan lokal (local wisdom), khususnya yang bersentuhan langsung dengan budaya dan alam. Kami ingin memastikan bahwa inovasi yang lahir dari IPB Internasional dapat diterapkan dan memberikan dampak ekonomi yang terukur bagi desa-desa wisata di Indonesia," tegas Prof. Budiarsa.

Mahasiswa Doktor Terapan IPB Internasional Bedah Potensi Tersembunyi Batu Kumbung Lombok

Analisis Tantangan Infrastruktur dan Fasilitas Dasar

Meskipun memiliki potensi yang luar biasa, hasil evaluasi lapangan menunjukkan adanya sejumlah celah yang perlu segera dibenahi agar target pariwisata berkualitas dapat tercapai. Dr. Herny Susanti, Ketua Program S2 IPB Internasional, memberikan catatan kritis terkait pemenuhan kebutuhan dasar wisatawan di destinasi-destinasi tersebut. Berdasarkan temuan tim, aksesibilitas menuju titik-titik wisata tertentu masih memerlukan perbaikan signifikan. Kondisi jalan yang sempit atau rusak di beberapa titik dapat menjadi hambatan bagi kenyamanan wisatawan.

Selain akses jalan, ketersediaan fasilitas sanitasi seperti toilet umum yang standar dan higienis masih sangat minim di area publik desa wisata. Hal ini merupakan aspek krusial mengingat standar kesehatan dan kebersihan (CHSE) menjadi parameter utama wisatawan pasca-pandemi. Tim juga mencatat belum adanya fasilitas homestay yang terstandarisasi serta ketersediaan pos singgah (rest area) di sepanjang jalur penjelajahan atau trekking. Padahal, keberadaan pos singgah sangat penting untuk meningkatkan durasi kunjungan dan pengeluaran wisatawan di desa tersebut.

Minimnya infrastruktur pendukung ini dinilai dapat menghambat pertumbuhan ekonomi desa. Tanpa fasilitas yang memadai, wisatawan cenderung hanya melakukan kunjungan singkat (short visit) tanpa melakukan transaksi ekonomi yang berarti. Oleh karena itu, rekomendasi riset ini nantinya akan mencakup strategi pembangunan fasilitas berbasis komunitas yang ramah lingkungan, agar tidak merusak ekosistem asli desa.

Strategi "Hallmark Event" dan Kolaborasi Penta-Helix

Menjawab tantangan tersebut, Sirajuddin, mahasiswa S3 IPB Internasional yang juga menjabat sebagai Direktur Mandalika International Festival (MIF), mengusulkan pendekatan strategis melalui penyelenggaraan Hallmark Event. Menurut Sirajuddin, sebuah desa wisata harus memiliki acara ikonik yang mampu menjadi magnet kunjungan tahunan. Ia menekankan pentingnya strategi kolaborasi penta-helix yang melibatkan lima unsur utama: akademisi, sektor bisnis, komunitas lokal, pemerintah, dan media.

Dalam analisisnya, Sirajuddin memaparkan bahwa pengembangan destinasi harus memenuhi enam unsur utama pengalaman wisatawan: something to see (sesuatu untuk dilihat), to do (untuk dilakukan), to learn (untuk dipelajari), to buy (untuk dibeli), to eat (untuk dimakan), dan to drink (untuk diminum). Saat ini, Desa Batu Kumbung dan Sedau dinilai sudah memiliki aspek to see dan to do yang baik, namun aspek to learn dan to buy masih perlu diperkuat melalui kurasi produk UMKM dan lokakarya budaya.

Sebagai langkah konkret, pihak MIF berkolaborasi dengan Kurnia Indonesia, IPB Internasional Bali, dan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok untuk merancang acara besar berbasis budaya Sasak. "Kami sedang mempersiapkan sebuah event ikonik yang akan mengangkat identitas lokal ke level internasional. Pilihannya saat ini mengerucut pada nama Batu Kumbung Festival (BKF) atau Bali Ungguh Festival (BUF)," ujar Sirajuddin, yang juga merupakan Vice President Asia Pacific Institute For Events Management (APIEM) UK. Rencana ini mendapat dukungan penuh dari tokoh masyarakat Sasak, H. Mundir, serta perangkat desa setempat yang siap menyediakan lahan dan sumber daya manusia.

Mahasiswa Doktor Terapan IPB Internasional Bedah Potensi Tersembunyi Batu Kumbung Lombok

Integrasi Mega-Event dan Manajemen Wisata Olahraga

Rangkaian riset pascasarjana ini tidak hanya berhenti di level desa. Tim juga melakukan kunjungan khusus ke kantor Mandalika Grand Prix Association (MGPA) di kawasan Kuta Mandalika. Kunjungan ini bertujuan untuk mendalami manajemen wisata berbasis mega-event olahraga berskala internasional seperti MotoGP dan World Superbike (WSBK).

Keterlibatan mahasiswa doktor dalam mengkaji manajemen MGPA bertujuan untuk menciptakan sinergi antara mega-event dengan pariwisata pedesaan. Harapannya, wisatawan yang datang untuk menonton balapan di Sirkuit Mandalika dapat diarahkan untuk mengunjungi desa-desa wisata seperti Batu Kumbung atau Sedau sebagai bagian dari paket wisata terintegrasi. Analisis ini sangat penting untuk memastikan bahwa keberadaan proyek strategis nasional seperti Mandalika memberikan tetesan ekonomi (trickle-down effect) hingga ke pelosok desa di Lombok Barat.

Widodo Marmer, salah satu mahasiswa S3 yang ikut dalam rombongan, menilai bahwa kekayaan sejarah dan alam di Lombok Barat adalah modal sosial yang tidak ternilai harganya. Ia berpendapat bahwa hasil analisis dari riset ini akan dituangkan dalam sebuah rekomendasi kebijakan pariwisata yang komprehensif. "Kami akan menyusun sebuah dokumen yang berisi strategi pencapaian Quality Tourism. Fokusnya adalah pada penguatan master plan desa wisata agar pembangunan di masa depan memiliki arah yang jelas dan tidak sporadis," ungkapnya.

Keberlanjutan dan Kerja Sama Antar-Lembaga

Sebagai tindak lanjut dari kunjungan ini, IPB Internasional Bali berkomitmen untuk menjalin kerja sama jangka panjang dengan berbagai pemangku kepentingan di Nusa Tenggara Barat. Salah satu poin penting yang dibahas adalah program pertukaran pelajar dan kolaborasi riset antara Poltekpar Lombok dengan IPB Internasional Bali. Kerja sama ini diharapkan dapat menciptakan pertukaran pengetahuan (knowledge sharing) yang dinamis antara dua institusi pendidikan pariwisata terkemuka di Indonesia.

Selain itu, kolaborasi berkelanjutan dengan Mandalika International Festival (MIF) akan menjadi jembatan bagi desa-desa wisata di Lombok untuk mendapatkan akses ke pasar internasional. Dengan menghadirkan berbagai event berskala global, desa wisata diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama dalam rantai pasok pariwisata.

Secara keseluruhan, inisiatif yang dilakukan oleh Program Pascasarjana IPB Internasional ini menunjukkan bahwa dunia akademik memiliki peran krusial dalam melakukan intervensi positif terhadap pengembangan daerah. Melalui riset yang berbasis pada fakta lapangan dan kebutuhan masyarakat, visi untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi pariwisata kelas dunia yang tetap memegang teguh nilai-nilai budaya dan kearifan lokal dapat segera terwujud. Keberhasilan transformasi ini nantinya akan diukur dari seberapa besar peningkatan kesejahteraan masyarakat desa dan seberapa baik ekosistem alam serta budaya mereka dapat terjaga untuk generasi mendatang.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *