Prestasi membanggakan kembali diukir oleh dunia pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Barat melalui pencapaian gemilang tim mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR) Mataram dalam ajang kompetisi inovasi tingkat nasional. Dua mahasiswi berbakat, Ni Komang Devika Lantari yang sedang menempuh studi di Semester 6 dan Sang Ayu Putu Sollene Abilita dari Semester 4, berhasil menyabet Medali Perunggu pada ajang Idea Festival 5 yang diselenggarakan di lingkungan IPB University, Bogor. Inovasi yang mereka usung berfokus pada solusi preventif dan deteksi dini terhadap penyakit Tuberkulosis (TB), sebuah masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi beban berat bagi sistem kesehatan di Indonesia.

Penghargaan prestisius ini diraih dalam Kategori Kesehatan setelah melalui proses seleksi dan presentasi yang ketat di hadapan dewan juri ahli. Di bawah bimbingan dosen pembimbing Suci Nirmala, tim FK UNIZAR memperkenalkan sebuah purwarupa teknologi mutakhir yang mereka beri nama "TuberaSweat: Gelang Pintar sebagai Alat Deteksi TB Menuju Indonesia Emas 2045". Keberhasilan ini tidak hanya membuktikan kualitas riset mahasiswa UNIZAR di kancah nasional, tetapi juga menunjukkan kepedulian akademisi muda terhadap isu-isu krusial dalam pembangunan kesehatan nasional.

Urgensi Inovasi TuberaSweat dalam Konteks Beban Tuberkulosis Nasional

Latar belakang lahirnya inovasi TuberaSweat berakar dari realitas epidemiologis yang cukup memprihatinkan di Indonesia. Tuberkulosis tetap menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat penyakit menular di tanah air. Berdasarkan data dari Global TB Report yang dirilis oleh World Health Organization (WHO), Indonesia secara konsisten menempati posisi kedua dengan beban kasus TB tertinggi di dunia, hanya berada di bawah India. Meskipun pemerintah telah meluncurkan berbagai program eliminasi TB, tantangan utama yang sering dihadapi adalah rendahnya angka penemuan kasus (case detection rate) akibat keengganan masyarakat melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan serta stigma yang masih melekat pada penyakit ini.

Ni Komang Devika Lantari, selaku ketua tim, menjelaskan bahwa inovasi mereka dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara deteksi dini dan aksesibilitas alat kesehatan. "Indonesia masih berada di peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TB. Kami melihat ada peluang besar untuk menghadirkan inovasi yang mendukung efektivitas pencegahan. TuberaSweat hadir sebagai solusi skrining yang non-invasif, mudah digunakan, dan dapat dijangkau oleh masyarakat luas," ungkapnya dalam keterangan resmi pasca-kompetisi.

Secara teknis, TuberaSweat bekerja dengan memanfaatkan sensor biosensor yang terintegrasi pada sebuah gelang pintar. Alat ini dirancang untuk mendeteksi biomarker atau indikator kimiawi tertentu yang dikeluarkan oleh tubuh melalui keringat. Pendekatan ini dinilai sangat revolusioner karena selama ini diagnosis TB umumnya bergantung pada pemeriksaan dahak (sputum) atau rontgen dada yang memerlukan peralatan laboratorium yang kompleks dan seringkali membuat pasien merasa tidak nyaman. Dengan memanfaatkan keringat sebagai media deteksi, TuberaSweat menawarkan cara skrining yang lebih ramah bagi pengguna tanpa harus melalui prosedur medis yang menakutkan.

Kronologi dan Dinamika Kompetisi Idea Festival 5

Ajang Idea Festival 5 merupakan platform kompetisi bergengsi yang diinisiasi oleh Sentosa Foundation bekerja sama dengan Bogor Science Club (BSC) IPB. Acara puncak kompetisi ini berlangsung selama dua hari, yakni pada tanggal 6 hingga 7 Juni 2026, bertempat di Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University. Kompetisi ini mengusung misi untuk menjaring ide-ide kreatif dan solutif dari mahasiswa di seluruh Indonesia guna mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

Perjalanan tim FK UNIZAR dimulai dari tahap pengajuan proposal ide yang bersaing dengan ratusan tim dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia. Setelah dinyatakan lolos ke babak final, Devika dan Sang Ayu harus mempresentasikan detail teknis, analisis pasar, hingga implikasi kesehatan dari TuberaSweat di hadapan panel juri yang terdiri dari akademisi dan praktisi industri kesehatan.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta tidak hanya berkompetisi, tetapi juga dilibatkan dalam berbagai sesi diskusi dan berbagi pengetahuan. Idea Festival 5 dirancang sebagai ruang kolaboratif yang mempertemukan mahasiswa dari beragam latar belakang disiplin ilmu, mulai dari kedokteran, teknik, farmasi, hingga manajemen dan sosial-humaniora. Hal ini memberikan perspektif baru bagi tim UNIZAR mengenai pentingnya kolaborasi interdisipliner dalam mengembangkan sebuah produk teknologi kesehatan.

"Kami belajar bahwa sebagai mahasiswa kedokteran, kami tidak bisa berjalan sendiri dalam menciptakan solusi teknologi. Inovasi akan menjadi jauh lebih kuat dan aplikatif jika dikembangkan melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu, seperti menggabungkan ilmu medis dengan keahlian teknik sensor dan manajemen data," ujar Sang Ayu Putu Sollene Abilita menambahkan pengalaman berharganya selama di Bogor.

Analisis Fakta: Tuberkulosis dan Target Eliminasi 2030

Untuk memahami signifikansi dari inovasi TuberaSweat, penting untuk meninjau data terkini mengenai situasi TB di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat bahwa estimasi jumlah kasus TB di tanah air mencapai lebih dari 1.000.000 kasus per tahun. Namun, jumlah kasus yang berhasil ditemukan dan diobati secara resmi seringkali masih di bawah target, meninggalkan ratusan ribu kasus "hilang" yang berpotensi terus menularkan bakteri Mycobacterium tuberculosis di tengah masyarakat.

Mahasiswa FK UNIZAR Sabet Medali Perunggu pada Idea Festival 5

Terdapat tiga kendala utama dalam eliminasi TB di Indonesia:

  1. Skrining yang Masif: Diperlukan alat yang praktis untuk melakukan skrining massal di daerah-daerah terpencil yang minim fasilitas laboratorium.
  2. Kepatuhan Pasien: Proses diagnosis yang lama seringkali membuat pasien kehilangan motivasi untuk melanjutkan pemeriksaan.
  3. Stigma Sosial: Banyak orang takut memeriksakan diri ke rumah sakit karena khawatir dicap sebagai penderita penyakit menular.

Di sinilah TuberaSweat memiliki potensi dampak yang besar. Sebagai alat berbentuk wearable device (perangkat yang dapat dikenakan), TuberaSweat dapat digunakan secara mandiri atau dalam program pemantauan kesehatan komunitas. Jika gelang ini mendeteksi adanya indikator awal TB pada keringat seseorang, sistem dapat memberikan peringatan dini kepada pengguna untuk segera melakukan konfirmasi medis lebih lanjut. Hal ini sejalan dengan strategi nasional "TOSS TB" (Temukan Obati Sampai Sembuh) yang dicanangkan pemerintah.

Pemanfaatan teknologi sensor dalam deteksi penyakit melalui keringat sendiri merupakan bidang penelitian yang sedang berkembang pesat di tingkat global. Keringat mengandung berbagai molekul organik dan elektrolit yang mencerminkan kondisi fisiologis tubuh. Keberhasilan mahasiswa FK UNIZAR dalam mengadaptasi konsep ini ke dalam masalah spesifik TB menunjukkan ketajaman analisis mereka dalam memilih teknologi yang tepat guna untuk masalah lokal dengan standar global.

Dukungan Institusional dan Peran Pendidikan Kedokteran

Keberhasilan tim ini juga mencerminkan efektivitas pola pembinaan mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar. Sebagai salah satu institusi pendidikan kedokteran swasta terkemuka di wilayah Timur Indonesia, UNIZAR terus mendorong mahasiswanya untuk tidak hanya mumpuni secara klinis, tetapi juga memiliki jiwa inovatif dan kemampuan riset yang mumpuni.

Dosen pembimbing, Suci Nirmala, berperan krusial dalam mengarahkan metodologi penelitian dan memastikan bahwa ide yang diajukan memiliki landasan ilmiah yang kuat. Dukungan dari pihak fakultas dan universitas dalam hal pendanaan keberangkatan serta penyediaan fasilitas diskusi menjadi faktor pendukung yang tidak terpisahkan dari kemenangan ini. Hal ini membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan menjadi penghalang bagi mahasiswa di daerah untuk berprestasi dan bersaing dengan mahasiswa dari universitas-universitas besar di Pulau Jawa.

Pihak universitas menyatakan bahwa prestasi ini merupakan kado bagi civitas akademika UNIZAR dan diharapkan dapat memicu semangat mahasiswa lain untuk terus berkarya. Inovasi TuberaSweat ini rencananya akan terus dikembangkan lebih lanjut melalui tahapan riset yang lebih mendalam, termasuk potensi uji validasi klinis untuk membandingkan tingkat akurasinya dengan metode diagnosis standar emas (gold standard) saat ini.

Implikasi Luas dan Harapan Menuju Indonesia Emas 2045

Visi Indonesia Emas 2045 menuntut sumber daya manusia yang sehat dan produktif. Penyakit kronis menular seperti TB merupakan ancaman nyata bagi produktivitas nasional karena umumnya menyerang kelompok usia produktif. Jika inovasi seperti TuberaSweat dapat diproduksi secara massal dan diintegrasikan ke dalam ekosistem kesehatan digital nasional, maka Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk mencapai target eliminasi TB pada tahun 2030, lebih cepat dari target 2045.

Dampak jangka panjang dari pengembangan teknologi ini mencakup beberapa aspek:

  • Aspek Ekonomi: Pengurangan beban biaya pengobatan jangka panjang akibat deteksi dini yang mencegah kasus menjadi parah atau menjadi TB Resisten Obat (MDR-TB).
  • Aspek Sosial: Mengurangi stigma melalui penggunaan alat deteksi yang tampak seperti aksesori gaya hidup sehari-hari (gelang pintar).
  • Aspek Teknologi: Mendorong kemandirian bangsa dalam penyediaan alat kesehatan (alkes) dalam negeri, sehingga mengurangi ketergantungan pada impor teknologi medis.

Keberhasilan Ni Komang Devika Lantari dan Sang Ayu Putu Sollene Abilita di ajang Idea Festival 5 adalah pengingat bahwa solusi untuk masalah bangsa seringkali datang dari bangku kuliah. Mahasiswa kedokteran masa kini dituntut untuk menjadi "Long-Life Learner" dan "Innovator" yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Medali perunggu yang dibawa pulang ke Mataram ini bukan sekadar pajangan di lemari prestasi, melainkan simbol harapan bahwa masa depan kesehatan Indonesia berada di tangan generasi yang cerdas, peduli, dan berani berinovasi.

Dengan terus berkembangnya ekosistem riset di universitas seperti UNIZAR, diharapkan muncul lebih banyak "TuberaSweat" lain yang mampu menjawab berbagai tantangan kesehatan di masa depan. Perjalanan menuju Indonesia yang bebas dari Tuberkulosis memang masih panjang dan terjal, namun langkah kecil melalui inovasi teknologi yang dilakukan oleh mahasiswa ini telah memberikan cahaya terang bagi upaya penanggulangan penyakit menular di Indonesia. Prestasi ini juga menjadi bukti nyata bahwa semangat kolaborasi dan dedikasi dalam ilmu pengetahuan dapat menghasilkan karya yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *