SELONG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengkhawatirkan wilayah Nusa Tenggara Barat, kali ini melanda Dusun Dara Kunci, Desa Dara Kunci, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, pada Rabu, 2 September 2026. Peristiwa yang dilaporkan terjadi sekitar pukul 12.37 WITA ini dengan cepat melahap lahan seluas kurang lebih delapan hektare, menimbulkan keprihatinan mendalam di tengah masyarakat dan pihak berwenang. Luasan yang terdampak terbagi menjadi dua area signifikan: sekitar tiga hektare berada di dalam kawasan hutan lindung, sementara lima hektare lainnya berada di luar kawasan hutan, namun tetap berdekatan dengan permukiman warga. Kronologi Kejadian dan Upaya Pemadaman Laporan awal mengenai kobaran api diterima oleh Kepala Resort Polisi Hutan (Kares RPH) Sambelia, Bapak Haeruman, melalui sambungan telepon dari masyarakat setempat. Respons cepat pun segera diambil. Kurang dari 20 menit setelah laporan diterima, tepatnya pada pukul 12.53 WITA, tim gabungan yang terdiri dari personel pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran (Damkarmat) Sambelia, bersama dengan perwakilan dari Koramil 1615-03/Sambelia, Polsek Sambelia, dan jajaran Kecamatan Sambelia, telah tiba di lokasi kejadian. Setibanya di Tempat Kejadian Perkara (TKP), tim pemadam dihadapkan pada kondisi yang cukup menantang. Angin yang bertiup relatif kencang dan vegetasi yang kering akibat musim kemarau panjang menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api. Untuk mengatasi situasi darurat ini, strategi pemadaman dilakukan secara kombinasi. Selain menggunakan satu unit mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan, para petugas dan masyarakat yang turut membantu juga mengandalkan peralatan manual. Berbagai alat seperti parang, sabit, kayu, serta ranting dan dedaunan basah digunakan secara intensif untuk memukul dan memadamkan api. Upaya pencegahan dini juga dilakukan dengan membuat sekat bakar di beberapa titik strategis guna menghambat laju perluasan api ke area yang lebih luas, terutama menuju kawasan permukiman. Perjuangan memadamkan api berlangsung selama beberapa jam. Berkat kerja keras dan koordinasi yang apik antara seluruh elemen yang terlibat, titik api akhirnya berhasil dikuasai dan dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 16.15 WITA. Namun, upaya tidak berhenti sampai di situ. Setelah api utama berhasil dijinakkan, tim pemadam melakukan penyisiran menyeluruh di seluruh area yang terbakar. Tujuannya adalah untuk memastikan tidak ada bara api kecil yang tersisa yang berpotensi kembali menyala dan memicu kebakaran susulan. Sekitar pukul 16.45 WITA, setelah memastikan bahwa seluruh area aman dan api benar-benar padam, seluruh personel meninggalkan lokasi. Pelaku dan Data Teknis Penanganan Dalam penanganan insiden karhutla di Dusun Dara Kunci ini, kolaborasi lintas sektoral menjadi kunci keberhasilan. Personel yang terlibat dalam operasi pemadaman berasal dari berbagai instansi, mencakup anggota Damkarmat Sambelia, personel TNI dan Polri dari unsur Koramil dan Polsek Sambelia, Bhabinkamtibmas yang senantiasa berada di tengah masyarakat, petugas dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah II Rinjani yang memiliki mandat perlindungan kawasan hutan, serta aparat desa setempat yang memiliki pemahaman mendalam tentang kondisi geografis dan sosial masyarakat. Berdasarkan laporan dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops-PB) BPBD Provinsi NTB, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 8 hektare. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa sekitar 3 hektare dari total luasan tersebut merupakan bagian dari kawasan hutan, yang secara ekologis memiliki nilai konservasi tinggi. Sementara itu, 5 hektare sisanya berada di luar kawasan hutan, namun tetap berpotensi menimbulkan dampak luas bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Penyebab pasti dari kebakaran ini hingga berita ini diturunkan belum dapat dipastikan secara definitif. Namun, berdasarkan observasi dan kondisi lapangan, dugaan kuat mengarah pada faktor alamiah yang diperparah oleh aktivitas manusia. Musim kemarau yang telah berlangsung cukup lama menyebabkan vegetasi di wilayah tersebut menjadi sangat kering dan mudah terbakar. Ditambah lagi dengan kondisi angin yang cenderung kencang, api yang mungkin berasal dari percikan kecil dapat dengan cepat menyebar luas. Konteks Latar Belakang dan Data Pendukung Fenomena kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, khususnya di wilayah NTB, bukanlah hal baru. Setiap tahun, terutama saat musim kemarau tiba, wilayah-wilayah dengan vegetasi kering dan potensi angin kencang menjadi rentan terhadap karhutla. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa karhutla di Indonesia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk pembukaan lahan dengan cara dibakar (land clearing) untuk perkebunan atau pertanian, pembakaran sampah yang tidak terkontrol, puntung rokok yang dibuang sembarangan, hingga faktor alamiah seperti sambaran petir di musim kemarau ekstrem. Wilayah Lombok Timur, dengan bentang alam yang beragam mulai dari pesisir hingga pegunungan, memiliki karakteristik geografis yang membuatnya rentan terhadap kebakaran. Kecamatan Sambelia, yang berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, memiliki area hutan yang luas dan kerap menjadi lokasi rawan karhutla. Musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan di NTB, menurut prakiraan BMKG, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kejadian serupa. Tingginya biomassa kering akibat musim kemarau panjang menjadi "bahan bakar" yang siap menyala jika ada pemicu sekecil apa pun. Tanggapan Resmi dan Imbauan BPBD NTB Menyikapi kejadian karhutla di Sambelia, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB telah merilis pernyataan resmi terkait penanganan dan pencegahan. Menurut laporan yang diterima, pascakejadian kebakaran di Dusun Dara Kunci, tidak ada kebutuhan mendesak yang dilaporkan dari pihak terdampak atau tim di lapangan. Kondisi terkini menunjukkan bahwa api telah berhasil dipadamkan sepenuhnya dan situasi telah terkendali. Namun demikian, BPBD NTB tidak lelah untuk terus mengingatkan dan mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Peningkatan kesiapsiagaan ini sangat krusial, terutama selama periode musim kemarau yang masih berlangsung. Imbauan yang disampaikan mencakup beberapa poin penting: Larangan Membakar Lahan: Masyarakat diminta untuk tidak melakukan pembakaran hutan atau lahan, baik untuk tujuan membuka lahan perkebunan maupun pertanian. Metode pembakaran, selain ilegal, juga sangat berisiko tinggi menimbulkan kebakaran yang sulit dikendalikan. Kehati-hatian Terhadap Api: Warga diingatkan untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di area yang kering atau berdekatan dengan vegetasi mudah terbakar. Selain itu, bagi masyarakat yang terpaksa melakukan pembakaran yang diizinkan sesuai ketentuan, seperti pembakaran sisa-sisa pertanian atau kebun, wajib memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi. Pelaporan Dini: Masyarakat diminta untuk segera melaporkan apabila menemukan titik api atau melihat adanya indikasi kebakaran kepada aparat desa terdekat, petugas pemadam kebakaran, kantor BPBD, atau instansi terkait lainnya. Pelaporan yang cepat akan sangat membantu tim pemadam untuk merespons sebelum api membesar dan meluas. Dalam pernyataannya, BPBD NTB menekankan pentingnya kolaborasi dan kesadaran kolektif. "Mari bersama-sama mencegah kebakaran hutan dan lahan serta meningkatkan kepedulian dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi karhutla," demikian kutipan dari imbauan resmi BPBD NTB, yang menegaskan bahwa pencegahan adalah kunci utama dalam menghadapi ancaman karhutla. Dampak dan Implikasi yang Lebih Luas Karhutla, sekecil apapun skalanya, memiliki dampak yang signifikan dan berkelanjutan. Dari segi lingkungan, kebakaran lahan dapat menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan ekosistem, dan degradasi lahan. Tutupan vegetasi yang hilang akibat kebakaran membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, untuk pulih sepenuhnya. Selain itu, emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer dari pembakaran lahan berkontribusi terhadap perubahan iklim global. Bagi masyarakat, dampak karhutla dapat berupa terganggunya aktivitas ekonomi, terutama yang bergantung pada sumber daya alam seperti pertanian dan kehutanan. Kualitas udara yang buruk akibat asap kebakaran dapat menimbulkan masalah kesehatan pernapasan bagi warga, terutama anak-anak dan lansia. Dalam kasus yang lebih parah, kebakaran yang mendekati permukiman dapat mengancam keselamatan jiwa dan harta benda warga. Kejadian di Dusun Dara Kunci, meskipun berhasil dipadamkan, menjadi pengingat penting akan kerentanan wilayah NTB terhadap karhutla. Upaya pencegahan yang dilakukan secara terus-menerus, edukasi masyarakat yang berkelanjutan, serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran ilegal menjadi instrumen penting untuk meminimalisir risiko kejadian serupa di masa mendatang. Koordinasi antarlembaga yang solid dan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat adalah kunci utama dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan bersama. Post navigation Anggota DPR RI Desak Kemensos Beri Bantuan Segera untuk Korban Kebakaran MA Mualimin NW Anjani Polres Lombok Timur Ringkus Tiga Pengedar Uang Palsu Jaringan Jawa Timur, Sita Rp 13,9 Juta