BIMA – Lima awak Kapal Motor Nelayan (KMN) Putri Novi berhasil diselamatkan dari insiden kecelakaan laut yang terjadi di perairan Gili Banta–Toro Mangeata, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, pada Jumat dini hari, 19 Juni 2026. Kesigapan personel Satuan Polisi Perairan dan Udara (Sat Polairud) Polres Bima, bersama petugas Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) serta masyarakat nelayan setempat, menjadi kunci keberhasilan operasi evakuasi yang berlangsung dramatis di tengah kegelapan malam dan kondisi laut yang bergejolak. Kronologi Insiden dan Upaya Penyelamatan Dramatis Peristiwa nahas ini bermula saat KMN Putri Novi yang berlayar dari Ngalili, Nusa Tenggara Timur (NTT), menuju Pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, menghadapi situasi pelik di perairan yang dikenal memiliki arus kuat dan kondisi cuaca yang tidak menentu. Informasi awal yang diterima pihak kepolisian menyebutkan bahwa kapal tersebut kehilangan kendali saat melintasi kawasan Takat Tanjung Toro Mangeata. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda NTB, Kombes Pol. Mohammad Kholid, S.I.K., menjelaskan secara rinci kronologi kejadian. Menurutnya, insiden terjadi pada dini hari ketika kapal sedang dalam perjalanan. “Kondisi pasang surut yang cukup tinggi, ditambah dengan arus laut yang sangat kuat di kawasan Takat Tanjung Toro Mangeata, menyebabkan kapal terseret. Upaya untuk mengendalikan kapal tampaknya tidak membuahkan hasil optimal, dan akhirnya kapal tersebut kandas di kawasan karang,” ujar Kombes Kholid dalam keterangan resminya. Begitu informasi mengenai insiden ini diterima, tim gabungan tidak menunggu lama. Sat Polairud Polres Bima, yang merupakan garda terdepan dalam penegakan hukum dan pengawasan di wilayah perairan, segera berkoordinasi dengan petugas PSDKP dan meminta bantuan dari nelayan setempat yang memiliki pengetahuan mendalam tentang medan perairan tersebut. Peralatan navigasi dan pencarian yang memadai, serta pengalaman para nelayan lokal, menjadi modal penting dalam upaya penyelamatan. “Mendapat laporan adanya kapal yang mengalami kesulitan, personel Sat Polairud Polres Bima bersama petugas PSDKP dan nelayan setempat langsung bergerak cepat menuju lokasi yang dilaporkan. Prioritas utama adalah memastikan keselamatan seluruh awak kapal,” tegas Kombes Kholid. Proses evakuasi berlangsung dalam kondisi yang penuh tantangan. Kegelapan malam, ombak yang masih cukup tinggi, serta risiko kandasnya kapal evakuasi di area karang menjadi faktor yang harus dihadapi oleh tim penyelamat. Namun, dengan semangat kemanusiaan dan profesionalisme, tim gabungan berhasil mencapai lokasi KMN Putri Novi yang kandas. Setelah memastikan kondisi kapal dan para awaknya, tim penyelamat segera melakukan prosedur evakuasi. Dengan hati-hati, kelima awak kapal yang berada di atas KMN Putri Novi satu per satu dipindahkan ke kapal yang lebih aman. Syukurlah, seluruh proses evakuasi berjalan lancar tanpa ada kendala berarti. Kelima kru berhasil diamankan dan dibawa menuju Pelabuhan Sape dalam keadaan selamat. “Alhamdulillah, berkat kerja keras dan sinergi seluruh pihak, kelima kru kapal berhasil dievakuasi dengan selamat dan dalam kondisi sehat. Mereka semua merupakan warga Desa Soro, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima,” ungkap Kombes Kholid dengan nada lega. Latar Belakang Perairan Gili Banta dan Tantangan Pelayaran Perairan Gili Banta, yang terletak di antara Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok, merupakan salah satu jalur pelayaran penting bagi nelayan dan kapal-kapal yang beraktivitas di wilayah perairan Nusa Tenggara Barat. Namun, kawasan ini juga dikenal memiliki karakteristik geografis dan hidrologis yang menantang. Arus laut yang kuat, seringkali dipengaruhi oleh pasang surut yang signifikan, serta keberadaan gugusan karang yang dangkal di beberapa titik, menjadikannya area yang membutuhkan kewaspadaan tinggi bagi para pelaut. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar seringkali mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi dan angin kencang di wilayah perairan Nusa Tenggara, termasuk area sekitar Gili Banta, terutama pada musim-musim tertentu. Kondisi cuaca yang berubah cepat dapat memperparah situasi, meningkatkan risiko kecelakaan laut seperti yang dialami KMN Putri Novi. KMN Putri Novi sendiri merupakan kapal motor nelayan yang umum digunakan oleh masyarakat pesisir untuk kegiatan penangkapan ikan. Kapal jenis ini biasanya berukuran sedang dan dirancang untuk pelayaran jarak dekat hingga menengah. Namun, seperti kapal nelayan pada umumnya, keselamatan mereka sangat bergantung pada kondisi laut, kemampuan navigasi nakhoda, serta kelayakan teknis kapal itu sendiri. Berlayar dari NTT menuju Bima merupakan perjalanan yang cukup memakan waktu dan melintasi perairan yang cukup luas, sehingga faktor keselamatan menjadi krusial. Sinergi Aparat dan Masyarakat: Pilar Keamanan Laut Keberhasilan evakuasi KMN Putri Novi menjadi bukti nyata betapa pentingnya sinergi antara aparat penegak hukum, instansi terkait pemerintah, dan masyarakat. Sat Polairud Polres Bima, sebagai ujung tombak pengamanan perairan, memainkan peran sentral dalam merespons cepat setiap insiden. Dukungan dari PSDKP, yang memiliki mandat untuk pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan, turut memperkuat kapasitas penanganan. Namun, yang tidak kalah penting adalah peran serta aktif masyarakat nelayan. Mereka tidak hanya menjadi pelapor awal, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam operasi penyelamatan. Pengetahuan lokal mereka tentang kondisi laut, arus, dan titik-titik berbahaya seringkali menjadi informasi yang tidak ternilai harganya bagi tim penyelamat. Keterlibatan nelayan dalam operasi ini juga menunjukkan rasa solidaritas dan kepedulian sosial yang tinggi di antara komunitas pesisir. “Sinergi yang terjalin antara Kepolisian, PSDKP, dan masyarakat nelayan dalam menangani situasi darurat seperti ini sangatlah penting. Ini menunjukkan bahwa kita bisa bekerja sama untuk menciptakan keamanan dan keselamatan di wilayah perairan kita,” ujar Kombes Kholid. Implikasi dan Imbauan Keselamatan Pelayaran Insiden KMN Putri Novi ini kembali mengingatkan seluruh pihak, terutama para pelaku pelayaran dan nelayan, akan pentingnya mengutamakan keselamatan. Aktivitas di laut, sekecil apapun, selalu mengandung risiko, dan risiko tersebut dapat diminimalisir dengan persiapan yang matang dan kewaspadaan yang tinggi. Beberapa faktor krusial yang perlu diperhatikan antara lain: Pemantauan Cuaca: Sebelum melakukan pelayaran, sangat penting untuk selalu memantau prakiraan cuaca dari sumber yang terpercaya, seperti BMKG. Informasi mengenai potensi angin kencang, gelombang tinggi, dan perubahan cuaca mendadak harus menjadi pertimbangan utama dalam memutuskan untuk berlayar atau menunda perjalanan. Kelayakan Kapal: Memastikan kondisi kapal dalam keadaan laik jalan adalah kewajiban. Pemeriksaan rutin terhadap mesin, sistem kemudi, peralatan keselamatan (sekoci, pelampung, alat komunikasi), dan integritas lambung kapal sangat vital untuk mencegah kecelakaan teknis. Pengetahuan Medan dan Keterampilan Nakhoda: Nakhoda dan awak kapal harus memiliki pemahaman yang baik tentang medan pelayaran yang akan dilalui, termasuk arus, kedalaman, dan potensi bahaya. Keterampilan navigasi yang baik dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat dalam situasi darurat juga sangat menentukan. Perlengkapan Keselamatan: Seluruh awak kapal wajib mengenakan alat keselamatan yang sesuai, terutama saat beraktivitas di dek atau saat cuaca buruk. Ketersediaan dan fungsi alat komunikasi seperti radio VHF atau telepon satelit juga penting untuk melaporkan keadaan darurat. Menyikapi berbagai insiden yang mungkin terjadi di perairan, Polda NTB melalui Kabid Humasnya, Kombes Pol. Mohammad Kholid, S.I.K., kembali menegaskan imbauannya kepada seluruh nelayan dan pengguna transportasi laut. “Kami mengimbau kepada seluruh nelayan dan para pengguna transportasi laut agar senantiasa mengutamakan keselamatan pelayaran. Pastikan kondisi kapal dalam keadaan prima dan laik berlayar. Jangan pernah abaikan pemantauan perkembangan cuaca sebelum melakukan perjalanan laut. Keselamatan adalah hal yang paling utama,” tegas Kombes Kholid. Peristiwa ini diharapkan menjadi pembelajaran berharga bagi semua pihak. Dengan kesadaran kolektif akan pentingnya keselamatan dan kerja sama yang solid, potensi kecelakaan laut di wilayah perairan NTB dapat diminimalisir, serta memastikan aktivitas kelautan dan perikanan dapat berjalan dengan aman dan produktif. Post navigation Satuan Brimob Polda NTB Gelar Aksi Donor Darah dalam Rangka Hari Bhayangkara ke-80, Perkuat Sinergi dan Kepedulian Sosial di Bima