Di kaki megahnya Gunung Tambora, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, sebuah revolusi ekonomi senyap namun masif tengah bergulir, mengubah lanskap sosial dan ekonomi Desa Pekat secara fundamental. Tebu, komoditas yang sebelumnya kurang dilirik, kini telah menjadi primadona, membawa gelombang kemakmuran yang terlihat jelas dari deretan rumah permanen berjejer rapi dan kendaraan roda empat yang terparkir di halaman-halaman Dusun Aik Ampat. Pemandangan ini, yang mungkin tidak biasa untuk sebuah desa pertanian, adalah bukti nyata dari keberhasilan petani dalam memanfaatkan potensi manisnya tebu. Transformasi Ekonomi di Lereng Tambora: Dari Jagung Menuju Tebu Selama beberapa dekade, Desa Pekat, seperti banyak wilayah pertanian lainnya di Dompu, sangat bergantung pada budidaya jagung. Jagung telah lama menjadi tulang punggung ekonomi lokal, namun fluktuasi harga yang kerap tidak stabil, biaya produksi yang tinggi, dan kerentanan terhadap perubahan iklim sering kali membatasi potensi pendapatan petani. Namun, dalam kurun waktu lima hingga tujuh tahun terakhir, terjadi pergeseran paradigma yang signifikan. Kepala Desa Pekat, Sahlan, menjelaskan bahwa keputusan kolektif petani untuk beralih ke tebu didasari oleh perhitungan bisnis yang jauh lebih menjanjikan dan efisien. Pergeseran ini bukanlah tanpa alasan kuat. Salah satu faktor utama yang mendorong adopsi tebu secara massal adalah karakteristik panen berulang atau Ratoon Cane. Berbeda dengan jagung yang memerlukan penanaman ulang, pengolahan tanah, dan modal benih baru setiap musim, tebu hanya perlu ditanam sekali dan dapat dipanen berkali-kali melalui sistem keprasan. "Petani telah merasakan langsung manfaatnya di lapangan. Tebu cukup ditanam sekali, lalu bisa dipanen hingga tiga sampai empat kali dari satu kali penanaman. Efisiensi inilah yang menjadi motor penggerak roda ekonomi masyarakat kami," ujar Sahlan dengan nada optimis. Data internal dari kelompok tani setempat menunjukkan bahwa sistem ratoon cane mampu menekan biaya produksi hingga 40-50% dibandingkan dengan budidaya jagung yang intensif. Selain itu, biaya perawatan tebu jauh lebih rendah. Tanaman tebu dikenal lebih tangguh dan adaptif terhadap variasi cuaca ekstrem, termasuk periode kering yang kadang melanda wilayah ini. Kebutuhan airnya, meskipun penting, dapat diatur lebih efisien dibandingkan jagung yang sangat sensitif terhadap kekeringan pada fase kritis pertumbuhannya. Ini berarti petani dapat menghemat pengeluaran untuk pupuk dan pestisida, serta mengurangi kebutuhan tenaga kerja harian. Sebuah studi kasus sederhana di Pekat menunjukkan bahwa pendapatan bersih petani tebu per hektar dapat mencapai Rp 25-35 juta per musim panen (tergantung harga gula dan rendemen), jauh melampaui rata-rata pendapatan bersih dari jagung yang berkisar Rp 10-15 juta per hektar. Dusun Aik Ampat: Kisah Sukses Generasi Ketiga Perantau Perubahan paling dramatis dan kasat mata terlihat jelas di Dusun Aik Ampat. Dusun ini menyimpan cerita historis yang kaya, di mana mayoritas warganya adalah keturunan perantau asal daerah Aik Ampat di Pulau Lombok yang datang puluhan tahun silam. Mereka adalah para pionir yang berjuang membuka lahan di tengah keterbatasan dan tantangan alam yang keras. Memasuki generasi ketiga, kerja keras dan ketekunan mereka kini membuahkan hasil manis yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Dari yang dulunya hidup sederhana dengan rumah-rumah berbahan kayu atau bambu, kini sekitar 99 persen kepala keluarga di Dusun Aik Ampat telah memiliki rumah permanen berdinding kokoh, bahkan beberapa di antaranya dilengkapi dengan fasilitas modern. Kendaraan roda empat, yang dahulu merupakan barang mewah, kini menjadi pemandangan umum. Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah komoditas pertanian dapat menjadi katalisator perubahan sosial ekonomi yang transformatif. Peran Vital Infrastruktur Air: DAM Ombo Tonda sebagai Urat Nadi Keberhasilan budidaya tebu di Desa Pekat tidak bisa dilepaskan dari peran krusial infrastruktur pendukung, khususnya ketersediaan air yang memadai. Keberadaan DAM Ombo Tonda menjadi urat nadi utama bagi pertanian di Desa Pekat dan sekitarnya. Dengan kapasitas irigasi yang mampu mengairi ribuan hektar lahan, DAM ini memastikan pasokan air yang stabil sepanjang tahun. Pasokan air yang konsisten memungkinkan para petani tebu untuk tetap produktif mengelola lahan mereka tanpa perlu khawatir akan ancaman kekeringan yang sering menjadi momok bagi sektor pertanian di wilayah lain. Sebelum adanya DAM Ombo Tonda yang dioperasikan secara optimal, petani seringkali menghadapi risiko gagal panen akibat musim kemarau panjang. Pembangunan dan pemeliharaan DAM ini, yang merupakan investasi besar dari pemerintah, kini terbukti memberikan dividen ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat. Sistem irigasi teknis yang terhubung dari DAM Ombo Tonda memungkinkan distribusi air yang merata, sehingga mendukung pertumbuhan tebu yang optimal dan menjamin kualitas rendemen yang baik. Diversifikasi Pertanian dan Visi Ketahanan Pangan Masa Depan Meskipun tebu tengah menjadi primadona dan pendorong utama kemakmuran, Pemerintah Desa Pekat tidak serta merta meninggalkan komoditas lama atau terjebak dalam monokultur. Desa ini dengan bangga masih memegang predikat sebagai produsen jagung terbesar di tingkat Kecamatan Pekat, menunjukkan kemampuan adaptasi dan manajemen lahan yang baik. Di samping itu, para petani juga mengombinasikan lahan mereka untuk menanam padi, tembakau, sayur-sayuran, hingga tanaman hortikultura. Pendekatan diversifikasi ini merupakan strategi cerdas untuk menjaga ketahanan pangan lokal dan memitigasi risiko ekonomi jika terjadi fluktuasi harga pada satu komoditas tertentu. Melangkah lebih jauh, Pemerintah Desa Pekat kini memanfaatkan momentum kesejahteraan ini untuk memperkenalkan program diversifikasi pangan yang lebih ambisius. Warga mulai didorong dan difasilitasi untuk menanam pohon buah-buahan produktif bernilai jual tinggi seperti durian, manggis, dan rambutan di lahan-lahan kosong atau sebagai tanaman sela. "Kalau sekarang orang mengenal Pekat karena tebu dan jagungnya, ke depan kami bermimpi dan sedang menyiapkan desa ini agar dikenal juga sebagai daerah penghasil buah-buahan premium yang bernilai jual tinggi. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan ekonomi masyarakat kami," tutur Sahlan dengan keyakinan penuh. Visi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga membangun citra Pekat sebagai lumbung pangan yang beragam dan berkelanjutan. Dinas Pertanian Kabupaten Dompu juga menyambut baik inisiatif ini, melihatnya sebagai langkah proaktif dalam mendukung program ketahanan pangan daerah. Tantangan Infrastruktur dan Harapan Kemitraan Strategis Di balik cerita manis keberhasilan, Desa Pekat juga menghadapi sejumlah tantangan yang perlu segera diatasi. Salah satu kendala terbesar saat ini adalah pemeliharaan dan pengembangan jalan logistik pertanian. Meskipun tahun lalu Pemerintah Desa Pekat berhasil membuka empat ruas jalan usaha tani baru demi mempermudah jalur distribusi panen tebu menuju jalan utama, pengerjaan fasilitas pendukung krusial seperti gorong-gorong dan jembatan penghubung kecil masih terhambat oleh keterbatasan anggaran. "Kami sangat membutuhkan gorong-gorong dan jembatan kecil untuk menghubungkan beberapa titik lahan dengan jalan utama. Saat musim hujan, jalan sering terputus dan menyulitkan pengangkutan tebu," keluh salah seorang petani tebu, Bapak Abdul Hamid (48), yang mengelola 3 hektar lahan. Menyusutnya anggaran dana desa dalam beberapa tahun terakhir semakin memperparah kondisi ini, memaksa pemerintah desa untuk lebih selektif dalam alokasi dana. Terkait hal ini, Kepala Desa Sahlan sangat berharap adanya intervensi dan kepedulian berkelanjutan dari pihak korporasi, khususnya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS). PT SMS adalah perusahaan produsen gula yang beroperasi di wilayah tersebut dan secara langsung diuntungkan oleh produksi tebu dari Pekat. "Kami berharap PT SMS dapat mengambil peran lebih besar dalam pembangunan infrastruktur pendukung ini. Ini bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kelancaran pasokan bahan baku mereka," tegas Sahlan. Sejauh ini, hubungan kemitraan bisnis antara petani, perusahaan, pemerintah daerah, dan para wakil rakyat diakui berjalan dengan sangat harmonis, namun peningkatan dukungan CSR diharapkan dapat mempercepat penyelesaian masalah infrastruktur vital ini. Efek Domino: Manisnya Tebu Menjalar ke Wilayah Lain Keberhasilan Desa Pekat dalam budidaya tebu telah memicu efek domino positif yang signifikan ke wilayah sekitarnya. Sejumlah desa lain di Kecamatan Pekat kini dilaporkan mulai masif mengadopsi budidaya tebu sebagai alternatif komoditas unggulan baru, mengikuti jejak sukses Pekat. Desa-desa seperti Nangamiro, Calabai, Sorinomo, Doropeti, Kadindi Barat & Kadindi Timur, serta Beringin Jaya, kini ikut tumbuh menjadi basis hijau perkebunan tebu. Dalam dua tahun terakhir, luas lahan tebu di Kecamatan Pekat diperkirakan telah meningkat hingga 30-40%, menarik ribuan petani baru untuk bergabung dalam industri ini. Didukung dengan karakteristik ketersediaan lahan luas di Pulau Sumbawa yang masih banyak belum tergarap secara optimal, serta pengembangan jaringan irigasi yang terus diperluas oleh pemerintah daerah, Kecamatan Pekat kini resmi bertransformasi menjadi salah satu episentrum pertumbuhan industri tebu paling progresif di Kabupaten Dompu. Pertumbuhan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengangkutan, pengolahan, dan jasa pendukung pertanian. Analisis Ekonomi: Model Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Kisah Desa Pekat adalah studi kasus yang menarik tentang bagaimana strategi pengembangan sektor pertanian hulu yang tepat dapat menjadi lokomotif kesejahteraan masyarakat di hilir. Model yang diterapkan di Pekat menunjukkan bahwa dengan memilih komoditas yang tepat, mengoptimalkan efisiensi produksi (seperti sistem ratoon cane), didukung infrastruktur yang memadai, dan adanya kemitraan yang harmonis antara petani, swasta, dan pemerintah, pembangunan ekonomi pedesaan dapat dipercepat secara signifikan. Implikasi dari keberhasilan ini melampaui batas-batas desa. Ini memberikan pelajaran berharga bagi daerah lain di Indonesia yang masih bergulat dengan masalah kemiskinan dan ketergantungan pada satu komoditas saja. Keberlanjutan budidaya tebu di Pekat juga didukung oleh karakteristik tanaman yang relatif ramah lingkungan, memerlukan input kimia yang lebih sedikit dibandingkan jagung monokultur intensif, dan sistem ratoon yang mengurangi frekuensi pengolahan tanah sehingga berpotensi menjaga kesuburan tanah. Tentu saja, perlu ada pengawasan terhadap potensi risiko monokultur jangka panjang, namun saat ini, manisnya tebu telah membawa harapan baru dan prospek cerah bagi masyarakat di lereng Tambora. Masa depan Desa Pekat dan sekitarnya tampak semakin cerah. Dengan komitmen untuk diversifikasi pangan, penyelesaian masalah infrastruktur, dan penguatan kemitraan strategis, Pekat tidak hanya akan dikenal sebagai penghasil tebu dan jagung, tetapi juga sebagai pusat produksi buah-buahan berkualitas tinggi, menegaskan posisinya sebagai model pembangunan pertanian yang inklusif dan berkelanjutan di Kabupaten Dompu. Post navigation Asa Manis di Kaki Tambora: Potret Kejayaan dan Keluh Kesah Petani Tebu Beringin Jaya Revitalisasi Ekonomi Kaki Tambora: Desa Tambora Merintis Diversifikasi Tebu di Tengah Tantangan Infrastruktur Krusial