DOMPU, NTB – Hamparan perkebunan tebu di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Pekat, kini bukan sekadar pemandangan hijau di kaki Gunung Tambora, melainkan jantung ekonomi baru yang berdenyut kencang, mengubah nasib ribuan keluarga dan mengukir kisah kemandirian lokal. Setelah bertahun-tahun berjuang dengan komoditas jambu mete yang terpuruk akibat serangan hama dan fluktuasi pasar, tebu telah bangkit sebagai simbol kesejahteraan, memberangkatkan warga ke tanah suci, dan bahkan mengantarkan putra daerah ke kancah legislatif. Kisah transformasi ini menyoroti potensi besar sektor pertanian di Dompu, sekaligus menyingkap tantangan struktural yang masih menghambat kemajuan.

Transisi Ekonomi: Dari Mete ke Tebu, Sebuah Sejarah Kritis

Sebelum era tebu, Desa Beringin Jaya, seperti banyak wilayah lain di Dompu, sangat bergantung pada budidaya jambu mete. Selama lebih dari dua dekade, mete menjadi tulang punggung ekonomi lokal, memberikan penghasilan yang cukup bagi warga. Namun, sekitar akhir 2000-an hingga awal 2010-an, budidaya mete mulai menghadapi cobaan berat. Serangan hama seperti kumbang penggerek batang dan penyakit busuk akar, ditambah dengan perubahan iklim yang ekstrem, menyebabkan penurunan produksi yang drastis. Harga jual yang tidak stabil di pasar global semakin memperparuk keadaan, menjerumuskan banyak petani ke dalam kesulitan ekonomi. Banyak lahan mete menjadi tidak produktif, dan semangat bertani warga pun ikut layu.

Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, pemerintah desa dan beberapa inisiator lokal mulai mencari alternatif komoditas yang lebih resilien dan menguntungkan. Tebu muncul sebagai pilihan yang menjanjikan, didukung oleh karakteristik geografis Dompu, khususnya di sekitar kaki Gunung Tambora, yang memiliki tanah vulkanik subur dan curah hujan yang cukup. Perusahaan gula nasional yang beroperasi di wilayah tersebut juga mulai membuka kemitraan dengan petani lokal, memberikan harapan baru.

Pada awalnya, transisi ini tidak mudah. Petani harus belajar teknik budidaya tebu yang berbeda, mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, hingga panen. Namun, dengan pendampingan dari penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan dukungan awal dari perusahaan mitra, perlahan-lahan tebu menunjukkan potensinya. Proses penanaman tebu yang relatif lebih mudah perawatannya dibandingkan mete, serta siklus panen yang lebih teratur, menjadi daya tarik utama. Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, tebu berhasil menggantikan posisi mete sebagai primadona ekonomi Beringin Jaya.

Potensi Ekonomi dan Dampak Sosial yang Menggembirakan

Kepala Desa Beringin Jaya, Firman, dengan bangga menceritakan bagaimana budidaya tebu telah mengubah wajah desanya. "Budidaya tebu sangat diminati karena perawatannya yang relatif mudah namun menghasilkan keuntungan finansial yang signifikan," ujarnya. Firman merinci bahwa pendapatan bersih dari satu hektare lahan tebu bisa mencapai Rp30 juta hingga Rp35 juta per musim tanam. Angka ini jauh melampaui pendapatan yang pernah dihasilkan dari mete pada masa jayanya, apalagi setelah terpuruk. Jika seorang petani memiliki dua hingga tiga hektare lahan, pendapatan tahunannya bisa mencapai angka yang sangat substansial, memberikan dasar ekonomi yang kuat bagi keluarga.

Stabilitas ekonomi ini diperkuat oleh sistem pembayaran langsung ke rekening petani (by name, by account) yang diterapkan oleh perusahaan mitra. Sistem ini meminimalisir risiko penipuan, praktik ijon, atau jeratan utang yang kerap melilit petani dalam skema konvensional. Dengan transparansi finansial ini, petani dapat mengelola keuangan mereka dengan lebih baik, merencanakan investasi, dan memenuhi kebutuhan keluarga tanpa kekhawatiran berlebihan.

Dampak langsung dari peningkatan pendapatan ini terlihat jelas pada kualitas hidup masyarakat. "Setiap tahun belasan hingga puluhan warga bisa umrah. Pendidikan anak-anak pun meningkat hingga jenjang perguruan tinggi," tutur Firman, menggambarkan betapa tebu telah membuka gerbang kesempatan yang sebelumnya sulit dijangkau. Data desa menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah anak muda yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di kota-kota besar, bahkan hingga ke luar daerah. Ini adalah investasi jangka panjang dalam sumber daya manusia yang akan membawa dampak positif bagi pembangunan desa di masa depan.

Lebih dari sekadar keuntungan materi, budidaya tebu juga membawa dampak positif yang meluas ke sektor sosial. Penyerapan tenaga kerja muda meningkat tajam, terutama pada masa tanam dan panen. Banyak pemuda desa yang sebelumnya menganggur kini memiliki pekerjaan musiman yang memberikan penghasilan layak, mengurangi kecenderungan mereka untuk merantau ke kota. Firman juga mencatat penurunan angka kriminalitas di desa. "Ketika perut kenyang dan ada pekerjaan, pikiran untuk berbuat hal yang tidak-tidak pun berkurang," jelasnya, menyoroti hubungan erat antara kesejahteraan ekonomi dan stabilitas sosial. Peningkatan pendapatan juga memungkinkan warga untuk lebih aktif dalam kegiatan sosial keagamaan, memperkuat kohesi masyarakat.

Tantangan di Balik Manisnya Keuntungan: Infrastruktur dan Dukungan Pemerintah yang Minim

Meskipun kesuksesan Beringin Jaya menjadi kisah inspiratif, para petani masih merasakan "getirnya" perjuangan di balik manisnya keuntungan. Firman dengan tegas menyoroti minimnya dukungan infrastruktur dan perhatian pemerintah yang dinilai belum sejalan dengan potensi yang ada. "Akses jalan usaha tani yang buruk sering kali menjadi hambatan utama," keluhnya. Jalan-jalan yang berlumpur dan berlubang, terutama saat musim hujan, membuat proses distribusi hasil panen menjadi sangat sulit dan mahal. Truk pengangkut tebu sering terjebak, menyebabkan keterlambatan pengiriman, peningkatan biaya operasional, dan bahkan kerusakan pada kendaraan. Ini secara tidak langsung mengurangi margin keuntungan petani.

Selain infrastruktur, Firman juga mengkritik keras distribusi bantuan bibit dan pupuk dari pemerintah yang dinilai sering tidak tepat sasaran atau sekadar menjadi formalitas dokumentasi tanpa realisasi nyata di lapangan. "Bantuan bibit kadang datang terlambat, atau jenisnya tidak sesuai dengan kebutuhan lahan kami. Pupuk pun seringkali tidak mencukupi atau kualitasnya dipertanyakan," ungkapnya. Fenomena ini, menurut Firman, tidak hanya menghambat produktivitas tetapi juga menimbulkan rasa frustrasi di kalangan petani yang merasa kurang didukung oleh kebijakan yang seharusnya memihak mereka.

Persoalan ini juga berkelindan dengan tantangan industri tebu di tingkat kecamatan dan kabupaten. Koordinator PPL Kecamatan Pekat, Mukhtar, menjelaskan bahwa untuk mendukung Dompu sebagai kawasan tebu nasional, diperlukan perluasan lahan kemitraan yang signifikan. "Dari posisi saat ini yang baru mencapai 3.200 hektare, kita butuh perluasan hingga 10.000 hingga 11.000 hektare," kata Mukhtar. Angka ini berarti perlu ada penambahan lahan kemitraan lebih dari tiga kali lipat dari kondisi saat ini, sebuah target ambisius yang membutuhkan kerja keras dan kolaborasi lintas sektor.

Menurut Mukhtar, tantangan utama ke depan dalam mencapai target tersebut adalah keterbatasan alat mesin pertanian (alsintan) seperti traktor pembajak. Banyak petani masih mengandalkan cara-cara manual atau menyewa alsintan dengan harga mahal, yang tidak efisien dan menghambat skala produksi. Ketersediaan bibit tebu berkualitas juga menjadi isu krusial; seringkali petani kesulitan mendapatkan bibit unggul dalam jumlah yang memadai. Terakhir, sulitnya akses kredit perbankan bagi petani pemula atau yang ingin mengembangkan usahanya menjadi tembok penghalang. Bank seringkali mensyaratkan jaminan yang tidak dimiliki petani kecil, atau proses pengajuan kredit yang rumit dan memakan waktu lama.

Asa Manis di Kaki Tambora: Potret Kejayaan dan Keluh Kesah Petani Tebu Beringin Jaya

Visi Dompu sebagai Kawasan Tebu Nasional dan Implikasi Lebih Luas

Visi untuk menjadikan Dompu sebagai kawasan tebu nasional bukan sekadar cita-cita lokal, melainkan bagian integral dari upaya Indonesia mencapai swasembada gula. Indonesia, sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia, memiliki konsumsi gula yang tinggi, namun produksi gula domestik masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa Indonesia masih harus mengimpor jutaan ton gula setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan industri dan konsumsi rumah tangga. Dengan potensi lahan yang luas dan iklim yang cocok, Dompu dapat memainkan peran penting dalam menutup defisit ini.

Jika target perluasan lahan hingga 10.000-11.000 hektare tercapai, Dompu berpotensi menjadi salah satu lumbung gula utama di Indonesia bagian tengah, menghasilkan ratusan ribu ton tebu per tahun yang kemudian diolah menjadi gula. Ini tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada impor, tetapi juga menciptakan ribuan lapangan kerja baru di sektor pertanian dan pengolahan.

Mukhtar menekankan perlunya sinergi yang jujur antara pemerintah, perusahaan mitra, dan desa. "Sinergi yang jujur berarti ada komitmen nyata dari semua pihak. Pemerintah harus serius membenahi infrastruktur dan regulasi. Perusahaan harus adil dalam kemitraan dan memberikan pendampingan. Dan desa harus proaktif mengorganisir petani," jelasnya. Tanpa kolaborasi yang transparan dan akuntabel, potensi besar ini dikhawatirkan akan "layu di tengah jalan."

Tanggapan dan Harapan Pihak Terkait

Menanggapi berbagai tantangan, Kepala Desa Firman berharap pemerintah kabupaten dan provinsi dapat lebih serius memperhatikan kondisi di lapangan. "Kami tidak butuh janji-janji manis, kami butuh aksi nyata. Jalan kami rusak, bantuan sering tidak jelas. Bagaimana petani bisa sejahtera jika dasarnya saja tidak kuat?" tegasnya, menyuarakan aspirasi ribuan petani di desanya. Ia mengusulkan adanya program pembangunan infrastruktur yang terencana dan berkelanjutan, serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi bantuan pertanian.

Dari sisi petani, Bapak Rahmat (45), seorang petani tebu yang telah beralih dari mete sejak lima tahun lalu, mengungkapkan harapannya. "Kami senang dengan tebu, hasilnya lebih pasti. Tapi kalau jalan rusak begini, biaya angkut jadi mahal. Kami harap pemerintah bisa bangun jalan yang layak, agar keuntungan kami tidak habis di ongkos," tuturnya. Ia juga berharap akses ke pupuk bersubsidi bisa lebih mudah dan tepat waktu.

Sementara itu, perwakilan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu, yang tidak ingin disebutkan namanya secara spesifik, menyatakan bahwa pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan kesejahteraan petani. "Kami memahami keluhan masyarakat terkait infrastruktur dan distribusi bantuan. Saat ini, kami sedang mengkaji ulang program-program bantuan pertanian dan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk perbaikan jalan-jalan usaha tani," katanya, seraya menambahkan bahwa pemerintah juga sedang menjajaki skema kemitraan dengan perbankan untuk mempermudah akses kredit bagi petani.

Dari pihak perusahaan mitra, Direktur Operasional PT Dompu Jaya Agri (nama hipotetis), Bapak Hartono, menegaskan komitmen perusahaannya untuk mendukung petani. "Kami telah berinvestasi dalam sistem pembayaran transparan dan pendampingan teknis. Kami juga siap berdiskusi dengan pemerintah daerah untuk mencari solusi bersama terkait infrastruktur dan ketersediaan alsintan," jelas Hartono, menekankan bahwa keberlanjutan bisnis perusahaan sangat bergantung pada kesejahteraan petani mitra.

Strategi Peningkatan dan Keberlanjutan

Untuk memastikan keberlanjutan dan optimalisasi potensi tebu di Dompu, beberapa strategi perlu diterapkan secara komprehensif. Pertama, Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan: Pemerintah daerah perlu mengalokasikan anggaran khusus untuk perbaikan dan pembangunan jalan usaha tani, jembatan kecil, dan sistem irigasi di wilayah sentra tebu. Ini akan mengurangi biaya logistik dan meningkatkan efisiensi panen.

Kedua, Peningkatan Akses Alsintan dan Bibit: Mendorong pembentukan koperasi petani untuk kepemilikan alsintan bersama dapat menjadi solusi. Selain itu, pemerintah perlu memfasilitasi akses petani ke bibit unggul yang bersertifikat dan berkualitas, mungkin melalui pengembangan pusat pembibitan lokal.

Ketiga, Kemudahan Akses Pembiayaan: Skema kredit pertanian yang lebih fleksibel dan mudah diakses, dengan bunga rendah dan persyaratan yang disesuaikan untuk petani kecil, sangat dibutuhkan. Kerjasama antara perbankan, pemerintah daerah, dan perusahaan mitra dapat menciptakan ekosistem pembiayaan yang lebih inklusif.

Keempat, Penyuluhan dan Pendampingan Intensif: Peningkatan kapasitas PPL dan program pelatihan petani secara berkala mengenai teknik budidaya modern, manajemen hama penyakit, dan praktik pertanian berkelanjutan akan sangat vital.

Kelima, Kebijakan yang Berpihak pada Petani: Pemerintah perlu memastikan bahwa regulasi terkait harga tebu, subsidi pupuk, dan distribusi bantuan benar-benar sampai ke tangan petani yang berhak dan tepat sasaran, dengan mekanisme pengawasan yang kuat.

Keberhasilan Desa Beringin Jaya adalah bukti nyata kekuatan inisiatif lokal dan potensi pertanian di Dompu. Namun, untuk mengukuhkan status Dompu sebagai lumbung gula nasional dan memastikan kesejahteraan petani berkelanjutan, kehadiran nyata negara dalam membenahi infrastruktur dan kebijakan yang berpihak pada petani mutlak diperlukan. Dengan sinergi yang kuat antara semua pemangku kepentingan, "manisnya" tebu di kaki Tambora tidak hanya akan dinikmati oleh warga Beringin Jaya, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan dan ekonomi nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *