Langkah besar dalam penguatan sinergi akademik di sektor pariwisata nasional kembali tercipta melalui pertemuan strategis antara dua institusi pendidikan tinggi pariwisata terkemuka di Indonesia. Program Pascasarjana Institut Pariwisata dan Bisnis (IPB) Internasional Bali secara resmi melakukan kunjungan kerja ke Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pertemuan yang berlangsung di Praya, Lombok Tengah ini menjadi tonggak awal penjajakan kerja sama formal yang akan dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU) untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia, riset terapan, dan pengembangan destinasi berkelanjutan di kedua wilayah. Delegasi dari Bali dipimpin langsung oleh Direktur Pascasarjana S2 & S3 IPB Internasional, Prof. Dr. Made Budiarsa, didampingi oleh Ketua Program Studi S2, Dr. Herny Susanti. Rombongan ini membawa kekuatan akademik yang signifikan, terdiri dari empat dosen pendamping serta 26 mahasiswa dari jenjang Magister (S2) dan Doktor (S3). Kehadiran mereka disambut oleh manajemen dan sivitas akademika Poltekpar Lombok dengan semangat kolaborasi yang tinggi, mengingat kedua institusi memiliki peran vital dalam menyuplai tenaga kerja profesional dan inovasi kebijakan di sektor pariwisata Indonesia Timur. Penguatan Tiga Pilar Kolaborasi Akademik Dalam diskusi awal yang dilakukan, kedua belah pihak sepakat bahwa tantangan industri pariwisata pascapandemi memerlukan pendekatan yang lebih adaptif dan saintifik. Oleh karena itu, kolaborasi yang tengah digodok ini akan difokuskan pada tiga pilar utama pembangunan akademik. Pertama adalah pertukaran keahlian (expertise exchange), di mana dosen dan praktisi dari kedua institusi dapat saling berbagi pengetahuan mengenai tata kelola destinasi, mengingat Bali memiliki pengalaman panjang dalam pariwisata budaya sementara Lombok tengah berkembang pesat dengan pariwisata olahraga dan kawasan ekonomi khusus. Pilar kedua mencakup peningkatan mutu kurikulum. Dengan dinamika pasar global yang terus berubah, kurikulum pendidikan tinggi pariwisata harus mampu menjawab kebutuhan industri akan tenaga kerja yang memiliki kemampuan manajerial sekaligus pemahaman mendalam tentang keberlanjutan. Pilar ketiga adalah kolaborasi riset nasional. Prof. Dr. Made Budiarsa menekankan bahwa penelitian pariwisata ke depan tidak boleh hanya berhenti di rak perpustakaan, melainkan harus berbasis pada kearifan lokal (local wisdom) yang dapat diimplementasikan secara praktis. "Kami memiliki visi untuk menghasilkan data mentah yang diolah melalui metodologi yang kuat, sehingga menjadi sesuatu yang aplikatif. Inovasi produk pariwisata harus lahir dari riset yang mendalam agar dapat dikembangkan bersama oleh akademisi dan pelaku industri," ujar Prof. Budiarsa dalam keterangannya. Implementasi Lapangan: Riset Terapan di Kecamatan Narmada Sebagai bukti nyata dari komitmen kolaborasi ini, tim Pascasarjana IPB Internasional tidak hanya melakukan kunjungan seremonial, tetapi langsung menerjunkan mahasiswanya untuk melakukan pengabdian masyarakat dan riset lapangan di Kabupaten Lombok Barat, tepatnya di Kecamatan Narmada. Wilayah ini dipilih karena karakteristiknya yang unik sebagai pusat air dan budaya di Lombok, yang memiliki potensi besar namun memerlukan sentuhan perencanaan strategis. Mahasiswa Program Magister (S2) Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata difokuskan untuk menyusun Master Plan berkelanjutan di Desa Wisata Sedau. Fokus mereka adalah memetakan potensi alam dan menyinkronkannya dengan perlindungan lingkungan agar pertumbuhan wisatawan tidak merusak ekosistem lokal. Sementara itu, mahasiswa Program Doktor (S3) Bisnis Terapan Pariwisata melakukan kajian mendalam mengenai tata kelola bisnis mandiri di Desa Wisata Batu Kumbung. Fokus riset S3 ini adalah pada aspek manajerial dan skalabilitas bisnis desa, agar badan usaha milik desa (BUMDes) di sektor pariwisata dapat beroperasi secara profesional dan kompetitif. Langkah ini sejalan dengan program pemerintah pusat yang mendorong desa wisata sebagai ujung tombak pemulihan ekonomi nasional. Dengan hadirnya para peneliti level magister dan doktor, diharapkan desa-desa wisata di Lombok memiliki basis data yang kuat untuk mengajukan pendanaan maupun menarik investor di masa depan. Pendekatan Penta-Helix dan Keterlibatan Industri Salah satu poin krusial dalam penjajakan kerja sama ini adalah penerapan strategi penta-helix, yang melibatkan lima unsur utama: akademisi, industri, komunitas, pemerintah, dan media. Dalam kunjungan ini, IPB Internasional juga menggandeng mitra strategis industri seperti Mandalika International Festival (MIF) dan entitas "Kurnia Indonesia Senyum Indah". Sirajuddin, Direktur Mandalika International Festival yang juga merupakan mahasiswa program S3 di IPB Internasional Bali, memberikan perspektif industri dalam kolaborasi ini. Menurutnya, pengembangan destinasi pariwisata di NTB, khususnya di sekitar kawasan Mandalika dan desa-desa penyangganya, tidak boleh bersifat eksklusif. "Pendekatan penta-helix memastikan bahwa masyarakat bukan hanya menjadi penonton, tetapi aktor utama yang merasakan dampak ekonomi langsung. Setiap objek wisata harus mampu memenuhi empat pilar kebutuhan wisatawan: something to see (sesuatu untuk dilihat), something to do (sesuatu untuk dilakukan), something to buy (sesuatu untuk dibeli), dan something to eat (sesuatu untuk dimakan)," jelas Sirajuddin. Ia menambahkan bahwa riset yang dilakukan mahasiswa S2 dan S3 akan sangat membantu dalam mengidentifikasi kekurangan di kedua desa tersebut agar standar Quality Tourism dapat tercapai. Konteks Latar Belakang: Mengapa Sinergi Bali-Lombok Sangat Penting? Secara geografis dan ekonomi, Bali dan Lombok adalah dua pilar utama pariwisata Indonesia dalam program "Bali Baru". Bali, dengan reputasi globalnya, memiliki kematangan dalam hal sistem pendidikan pariwisata dan infrastruktur industri. Di sisi lain, Lombok tengah mengalami transformasi besar dengan adanya Sirkuit Internasional Mandalika dan statusnya sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP). Data menunjukkan bahwa arus wisatawan dari Bali ke Lombok terus meningkat, baik melalui jalur udara maupun laut. Sinergi antara IPB Internasional (swasta terkemuka di Bali) dan Poltekpar Lombok (negeri di bawah Kemenparekraf) menunjukkan adanya keinginan untuk menghapus sekat antara institusi negeri dan swasta demi kepentingan nasional. Kerja sama ini diharapkan dapat menciptakan standarisasi pelayanan (service excellence) yang setara antara Bali dan Lombok, sehingga wisatawan mendapatkan pengalaman yang konsisten saat berkunjung ke koridor pariwisata Indonesia bagian tengah. Garis Waktu dan Rencana Masa Depan Kunjungan yang berlangsung di bulan Mei ini merupakan tahap awal dari rangkaian kerja sama jangka panjang. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kedua institusi tengah merampangkan draf dokumen MoU yang mencakup poin-poin teknis mengenai pertukaran mahasiswa (student exchange) dan kolaborasi jurnal ilmiah. Widodo, perwakilan mahasiswa S3 IPB Internasional, mengusulkan agar implementasi MoU nantinya mencakup program pertukaran pelajar yang intensif antara Poltekpar Lombok dan IPB Internasional. Hal ini bertujuan agar mahasiswa di Lombok dapat menyerap budaya kerja pariwisata Bali yang sudah mapan, sementara mahasiswa Bali dapat mempelajari tantangan pengembangan destinasi baru di Lombok. Menutup rangkaian agenda tersebut, Prof. Dr. Made Budiarsa menyampaikan apresiasi yang mendalam atas sambutan hangat dari pimpinan Poltekpar Lombok. Sebagai tindak lanjut, pihak IPB Internasional telah melayangkan undangan resmi bagi jajaran manajemen Poltekpar Lombok untuk melakukan kunjungan balasan ke kampus mereka di Denpasar, Bali. Kunjungan balasan tersebut nantinya akan menjadi momentum penandatanganan resmi dokumen MoU serta perumusan rencana aksi (action plan) tahunan. Analisis Implikasi dan Dampak Luas Secara analitis, kolaborasi ini memiliki implikasi signifikan bagi peta pendidikan pariwisata di Indonesia. Pertama, ini memperkuat posisi riset terapan sebagai landasan pembangunan kebijakan pariwisata daerah. Dengan keterlibatan mahasiswa pascasarjana, desa wisata di Lombok mendapatkan konsultasi gratis level ahli yang jika dinilai secara komersial akan sangat mahal. Kedua, sinergi ini mendukung visi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Dengan fokus pada "Quality Tourism", kedua institusi ini berkomitmen untuk beralih dari sekadar mengejar kuantitas kunjungan wisatawan menuju peningkatan lama tinggal (length of stay) dan besaran pengeluaran wisatawan (spending) yang memberikan dampak lebih besar pada kesejahteraan lokal. Ketiga, kolaborasi ini memperkuat jejaring alumni dan profesional pariwisata di wilayah Indonesia Tengah. Mahasiswa S3 yang terlibat dalam proyek ini rata-rata adalah para praktisi dan pengambil kebijakan di instansi masing-masing, sehingga kerja sama ini secara otomatis memperluas jejaring bisnis dan birokrasi yang mendukung kemajuan industri pariwisata secara nasional. Dengan semangat kebersamaan ini, IPB Internasional Bali dan Poltekpar Lombok optimistis dapat mencetak sumber daya manusia pariwisata yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga tangguh dalam menghadapi tantangan industri yang kian kompleks di masa depan. Pariwisata Indonesia yang lebih tangguh, inklusif, dan berkualitas kini bukan lagi sekadar visi, melainkan sebuah misi yang tengah dijalankan melalui kerja nyata antar-perguruan tinggi. Post navigation PW ISNU NTB Resmi Dilantik: Sinergi Intelektual Nahdliyin Menuju Visi NTB Makmur Mendunia dan Indonesia Emas 2045 Transformasi Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal: Riset Strategis Pascasarjana IPB Internasional Bali di Desa Wisata Lombok