DOMPU, NTB – Sebuah inisiatif luar biasa telah mengubah lanskap pendidikan dan kesadaran maritim di Pelabuhan Calabai, Desa Calabai, Kecamatan Pekat, Dompu. Kapal Polisi XXI-2014 milik Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB) bertransformasi menjadi perpustakaan terapung yang inovatif, menyambut kedatangan ratusan siswa-siswi dari SMPN 01 Pekat pada Jumat, 7 November 2025. Kegiatan ini bukan sekadar upaya meningkatkan minat baca, melainkan sebuah misi komprehensif untuk menanamkan kecintaan terhadap laut, pemahaman akan pentingnya menjaga ekosistem maritim, serta pengenalan lebih dekat terhadap tugas dan fungsi kepolisian perairan di kalangan generasi muda yang tinggal di wilayah pesisir.

Latar Belakang dan Urgensi Inisiatif Perpustakaan Terapung

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki tantangan unik dalam pemerataan akses pendidikan, khususnya di daerah-daerah terpencil dan pesisir. Keterbatasan infrastruktur, jangkauan geografis, dan sumber daya seringkali menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mendapatkan pengalaman belajar yang beragam dan relevan dengan lingkungan sekitar mereka. Di sisi lain, wilayah pesisir dan laut adalah jantung kehidupan masyarakat, sumber mata pencaharian, dan penopang ekosistem global. Namun, kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan maritim masih perlu ditingkatkan, terutama di kalangan generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa.

Melihat kondisi ini, Ditpolairud Polda NTB mengambil langkah proaktif dengan meluncurkan program perpustakaan terapung. Inisiatif ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyedia buku, tetapi juga sebagai platform edukasi interaktif yang membawa pengetahuan langsung ke tengah masyarakat pesisir. Pemilihan kapal polisi sebagai medium perpustakaan terapung juga memiliki makna simbolis yang mendalam: mendekatkan institusi Polri kepada masyarakat, mengubah persepsi menjadi pelindung dan pengayom yang turut serta dalam pembangunan sumber daya manusia, serta menunjukkan komitmen Polri dalam upaya pemberdayaan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan lingkungan.

Kabupaten Dompu, khususnya Kecamatan Pekat dengan desa pesisir Calabai, merupakan salah satu wilayah yang sangat bergantung pada sektor maritim. Kehidupan masyarakatnya erat kaitannya dengan laut, mulai dari nelayan, budidaya, hingga pariwisata bahari. Oleh karena itu, edukasi maritim dan lingkungan sejak dini menjadi krusial untuk memastikan keberlanjutan hidup dan kesejahteraan masyarakat di masa depan. Program perpustakaan terapung ini hadir sebagai solusi kreatif untuk menjembatani kesenjangan akses pendidikan dan menumbuhkan kesadaran ekologis secara langsung di habitat mereka.

Kronologi dan Ragam Aktivitas Edukasi

Persiapan untuk kegiatan perpustakaan terapung ini telah dilakukan beberapa waktu sebelumnya, melibatkan koordinasi antara Ditpolairud Polda NTB, Satpolairud Polres Dompu, dan pihak sekolah SMPN 01 Pekat. Pemilihan tanggal 7 November 2025, yang jatuh pada hari Jumat, dipilih agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar reguler dan memungkinkan partisipasi penuh dari siswa dan guru.

Kehadiran Perpustakaan Terapung Ditpolairud Polda NTB dan Satpolairud Polres Dompu Memukau Siswa SMPN 01 Pekat

Pada hari pelaksanaan, suasana di Pelabuhan Calabai telah dipenuhi antusiasme sejak pagi hari. Kapal Polisi XXI-2014, yang sehari-hari bertugas menjaga keamanan perairan, telah dihias sedemikian rupa dan disiapkan dengan berbagai koleksi buku, poster edukasi, serta alat peraga yang relevan dengan dunia maritim. Para personel Ditpolairud Polda NTB dan Satpolairud Polres Dompu, dengan seragam lengkap, menyambut kedatangan rombongan siswa-siswi SMPN 01 Pekat dengan hangat.

Kegiatan diawali dengan sambutan singkat dan pengarahan dari Komandan Kapal Polisi XXI-2014, Aipda Metusalak Dollu, SE., yang akrab disapa Capt. Metus. Ia menjelaskan tujuan dari kegiatan ini dan mengajak para siswa untuk memanfaatkan kesempatan langka ini sebaik-baiknya. Setelah itu, para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk memudahkan interaksi dan pembelajaran.

Rangkaian aktivitas yang dirancang sangat komprehensif, jauh melampaui sekadar membaca buku:

  1. Sesi Membaca dan Diskusi Buku: Di dalam kapal, koleksi buku yang beragam telah disediakan, mencakup cerita petualangan laut, buku pengetahuan tentang biota laut, geografi maritim, sejarah pelayaran, hingga isu-isu lingkungan. Para siswa diberi waktu untuk memilih buku yang menarik minat mereka dan membacanya. Setelah itu, sesi diskusi interaktif dipandu oleh personel Polairud, di mana siswa diajak berbagi apa yang mereka pelajari dan mengajukan pertanyaan.
  2. Pengenalan Tugas Polisi Perairan: Para personel Polairud menjelaskan secara rinci tugas dan tanggung jawab mereka dalam menjaga keamanan dan ketertiban di perairan. Mereka memperkenalkan berbagai peralatan yang digunakan, seperti teropong, alat komunikasi, dan perlengkapan selam, serta menjelaskan bagaimana alat-alat tersebut mendukung operasi SAR (Search and Rescue), penegakan hukum, dan pengawasan sumber daya laut.
  3. Workshop Keselamatan dan Navigasi Laut: Ini merupakan salah satu sesi paling menarik. Siswa diajarkan tentang pentingnya alat keselamatan seperti pelampung dan cara menggunakannya dengan benar. Mereka juga diberikan pemahaman dasar tentang navigasi kapal, membaca peta laut, dan pentingnya rambu-rambu maritim. Beberapa siswa bahkan diberi kesempatan untuk mencoba memegang kemudi kapal (dalam keadaan tidak berlayar) di bawah pengawasan ketat, memberikan pengalaman langsung yang tak terlupakan.
  4. Edukasi Lingkungan Pesisir dan Laut: Sesi ini berfokus pada pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pantai dan laut. Personel Polairud menjelaskan dampak buruk sampah plastik terhadap ekosistem laut dan biota di dalamnya. Mereka juga mengajak siswa untuk berpartisipasi aktif dalam gerakan kebersihan pantai dan mengkampanyekan gaya hidup minim sampah. Materi ini disajikan dengan visual menarik dan contoh-contoh nyata yang mudah dipahami oleh anak-anak.

Selama kegiatan berlangsung, keceriaan dan antusiasme terpancar jelas dari wajah para siswa. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba setiap aktivitas dengan penuh semangat. Interaksi antara siswa dan personel Polairud berjalan sangat akrab, memecah sekat formalitas antara aparat penegak hukum dan masyarakat.

Tanggapan dan Harapan dari Pihak Terkait

Inisiatif perpustakaan terapung ini mendapatkan sambutan positif dari berbagai pihak, menegaskan pentingnya program semacam ini.

Kombes Pol Boyke FS Samola, S.I.K., M.H., selaku Direktur Polairud Polda NTB, menyampaikan dukungannya yang tak terbatas terhadap program ini. "Kegiatan perpustakaan terapung ini adalah salah satu wujud nyata komitmen kami, Ditpolairud Polda NTB, untuk tidak hanya menjaga keamanan perairan, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia dan pelestarian lingkungan," ujar Kombes Boyke. Ia berharap bahwa melalui kegiatan ini, generasi muda, khususnya di wilayah pesisir, dapat menumbuhkan kecintaan yang mendalam terhadap laut dan lingkungan maritim. "Laut adalah masa depan kita. Dengan pemahaman dan kepedulian sejak dini, kita berharap akan lahir generasi pelindung laut yang berpengetahuan dan bertanggung jawab," tambahnya, menekankan visi jangka panjang dari program tersebut.

Aipda Metusalak Dollu, SE., atau Capt. Metus, Komandan Kapal Polisi XXI-2014, yang memimpin langsung jalannya kegiatan, juga memberikan motivasi yang kuat kepada para siswa. "Pengetahuan adalah sumber kekuatan. Dengan pengetahuan, kita bisa memahami dunia, melindungi diri, dan menjaga lingkungan kita. Kalian adalah harapan bangsa, calon-calon pemimpin dan penjaga laut di masa depan," serunya, disambut tepuk tangan meriah dari para siswa. Ia menekankan bahwa laut menawarkan banyak potensi, mulai dari sumber daya alam hingga peluang karier, dan pengetahuan adalah kunci untuk membuka potensi tersebut secara berkelanjutan.

Kehadiran Perpustakaan Terapung Ditpolairud Polda NTB dan Satpolairud Polres Dompu Memukau Siswa SMPN 01 Pekat

Ibu Zupari, S.Pd, Kepala Sekolah SMPN 01 Pekat, mengungkapkan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada Polri, khususnya Ditpolairud Polda NTB dan Satpolairud Polres Dompu. "Kami sangat berterima kasih kepada Bapak dan Ibu Polisi yang telah menghadirkan pengalaman belajar yang tak terlupakan bagi anak-anak kami. Ini bukan hanya tentang membaca buku, tetapi juga membuka cakrawala pengetahuan mereka tentang dunia maritim, keselamatan, dan lingkungan dari perspektif yang sangat berbeda dan menarik," kata Ibu Zupari dengan mata berbinar. Ia menambahkan bahwa kegiatan semacam ini sangat efektif dalam memotivasi siswa untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar mereka dan mungkin menginspirasi beberapa di antaranya untuk mengejar karir di bidang kelautan atau penegakan hukum maritim. "Kegembiraan terpancar dari wajah para siswa yang antusias. Mereka berharap bahwa kegiatan inspiratif ini akan terus dilaksanakan dan menjadi agenda rutin," lanjutnya, menyampaikan aspirasi dari seluruh warga sekolah.

Data Pendukung dan Analisis Implikasi Jangka Panjang

Program perpustakaan terapung ini memiliki implikasi yang luas dan mendalam, didukung oleh data dan fakta mengenai kondisi pendidikan dan lingkungan di Indonesia:

  1. Peningkatan Literasi dan Minat Baca: Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tingkat literasi di beberapa daerah terpencil masih menjadi tantangan. Inisiatif seperti perpustakaan terapung ini dapat secara signifikan meningkatkan akses terhadap bahan bacaan dan memicu minat baca, yang merupakan fondasi penting bagi peningkatan kualitas pendidikan.
  2. Penguatan Pendidikan Karakter dan Wawasan Maritim: Sebagai negara maritim, penting bagi generasi muda Indonesia untuk memiliki "literasi maritim" yang kuat, yaitu pemahaman tentang laut, sumber dayanya, tantangan, dan peluang yang ditawarkannya. Kegiatan ini memberikan pembelajaran kontekstual yang tidak bisa didapatkan di dalam kelas. Pengenalan langsung terhadap tugas Polairud juga dapat menumbuhkan rasa hormat terhadap hukum dan aparat negara.
  3. Peningkatan Kesadaran Lingkungan: Isu sampah plastik di laut menjadi ancaman serius bagi ekosistem maritim Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia merupakan salah satu penyumbang sampah plastik terbesar ke laut. Edukasi langsung di atas kapal polisi tentang dampak sampah dan cara menanggulanginya akan lebih efektif menanamkan kesadaran dan perilaku ramah lingkungan pada anak-anak. Mereka menjadi agen perubahan di komunitas masing-masing.
  4. Membangun Citra Positif Institusi Polri: Program seperti ini sangat efektif dalam membangun jembatan antara Polri dan masyarakat, khususnya generasi muda. Polisi tidak hanya dilihat sebagai penegak hukum yang menakutkan, tetapi juga sebagai sahabat, pendidik, dan pelindung yang peduli terhadap kesejahteraan dan masa depan masyarakat. Ini merupakan bagian dari strategi "Polri Presisi" (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan) yang mengedepankan pelayanan dan kedekatan dengan masyarakat.
  5. Pemberdayaan Komunitas Pesisir: Dengan fokus pada komunitas pesisir yang seringkali terpinggirkan, inisiatif ini menunjukkan perhatian terhadap pemerataan pembangunan. Memberikan akses pendidikan dan pengetahuan baru adalah bentuk pemberdayaan yang esensial untuk meningkatkan kualitas hidup dan kapasitas masyarakat di wilayah tersebut.

Program perpustakaan terapung ini bukan sekadar kegiatan sesaat. Ini adalah investasi masa depan yang strategis. Dengan menanamkan nilai-nilai cinta laut, tanggung jawab lingkungan, dan semangat belajar pada generasi muda, Ditpolairud Polda NTB telah mengambil langkah nyata untuk menciptakan agen-agen perubahan yang akan menjaga kelestarian bumi dan lautan di masa mendatang.

Dampak dan Harapan Ke Depan

Dampak langsung dari kegiatan ini sudah terlihat dari antusiasme siswa dan apresiasi dari pihak sekolah. Secara jangka panjang, diharapkan para siswa yang telah mengikuti program ini akan menjadi duta-duta lingkungan di lingkungan mereka, menyebarkan kesadaran tentang pentingnya menjaga laut dan pantai dari polusi. Mereka juga diharapkan dapat menjadi generasi yang lebih melek maritim, memahami potensi dan tantangan laut, serta mungkin tertarik untuk berkarir di sektor kelautan dan perikanan, atau bahkan bergabung dengan kepolisian perairan di masa depan.

Keberhasilan inisiatif di Dompu ini dapat menjadi model percontohan bagi wilayah lain di Nusa Tenggara Barat, bahkan di seluruh Indonesia. Kolaborasi antara institusi penegak hukum, lembaga pendidikan, dan komunitas lokal sangat penting untuk memperluas jangkauan program serupa. Dengan dukungan yang berkelanjutan dan inovasi dalam pelaksanaannya, perpustakaan terapung bisa menjadi pilar penting dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia yang didukung oleh sumber daya manusia unggul dan berwawasan lingkungan.

Semoga inisiatif brilian dari Ditpolairud Polda NTB dan Satpolairud Polres Dompu ini dapat menginspirasi banyak pihak untuk melakukan hal serupa, menciptakan gelombang perubahan positif yang berkelanjutan bagi lingkungan, pendidikan, dan masyarakat luas. Langkah kecil ini adalah awal dari perjalanan panjang menuju masa depan maritim yang lebih cerah dan lestari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *