SELONG – Insiden tragis di Bukit Savana Dandaun, Sembalun, Lombok Timur, yang merenggut nyawa seorang pendaki bernama Hamzanwadi (41), warga Dusun Dasan Montong Sore, Desa Rempung, Kecamatan Pringgasela, pada Sabtu malam (4/7), tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga memicu gelombang kritik tajam dari para pelaku industri pariwisata. Kematian Hamzanwadi yang diduga akibat kelelahan dan sesak napas saat mendaki, menyoroti kelemahan mendasar dalam sistem pengawasan dan regulasi aktivitas pendakian di kawasan perbukitan non-gunung di wilayah tersebut. Para ahli dan penggiat pariwisata mendesak adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas dan tegas untuk mencegah terulangnya musibah serupa di masa depan.

Kronologi Kejadian yang Memilukan

Peristiwa nahas ini bermula pada Sabtu sore, sekitar pukul 16.00 WITA, ketika Hamzanwadi bersama empat orang lainnya, termasuk rekannya Sabri dan tiga anak-anak, melakukan pendaftaran (check-in) di basecamp Savana Dandaun melalui jalur Lendakuta. Rombongan tersebut berencana menikmati keindahan alam perbukitan yang kian populer di kalangan wisatawan.

Namun, beberapa jam setelah memulai pendakian, kondisi Hamzanwadi mulai menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan. Pukul 17.33 WITA, ia sempat menghubungi istrinya, Agus Alfiani, melalui telepon seluler. Dalam percakapan tersebut, Hamzanwadi mengabarkan bahwa ia merasa sangat kelelahan dan mengalami sesak di bagian dada. Sang istri, yang khawatir dengan kondisi suaminya, segera menyarankan agar korban menghentikan pendakian dan kembali ke basecamp. Akan tetapi, Hamzanwadi, yang merasa telah mencapai separuh perjalanan, bersikeras untuk melanjutkan pendakian hingga ke puncak, dengan keyakinan bahwa ia mampu menyelesaikan misinya.

Setibanya di lokasi perkemahan yang dituju, rombongan mulai mendirikan tenda. Kondisi Hamzanwadi justru semakin memburuk. Ia dilaporkan mengalami muntah-muntah. Puncak dari rangkaian kejadian yang tragis ini terjadi setelah salat Magrib. Sabri, rekan pendakiannya, menemukan anak korban menangis di dalam tenda. Ketika diperiksa, Hamzanwadi ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Menyadari situasi darurat, tim evakuasi gabungan segera dibentuk dan dikerahkan. Tim ini terdiri dari Anggota Jaga Piket Polsek Sembalun, Basarnas Pos SAR Kayangan, pengelola Bukit Savana Dandaun, tenaga kesehatan dari Puskesmas Sembalun, serta pihak keluarga korban. Upaya penyelamatan intensif dilakukan untuk membawa Hamzanwadi dari lokasi kejadian menuju basecamp, dengan tujuan akhir untuk segera dilarikan ke Puskesmas Sembalun. Meskipun tim evakuasi telah berupaya sekuat tenaga dan melakukan tindakan medis darurat, nyawa Hamzanwadi tidak dapat diselamatkan. Belakangan, terungkap bahwa korban memiliki riwayat penyakit sesak napas, sebuah fakta yang semakin mempertegas urgensi pemeriksaan kesehatan yang komprehensif bagi para pendaki.

Kritik Pedas terhadap Sistem Pengawasan dan Regulasi

Kematian Hamzanwadi bukan sekadar insiden tunggal, melainkan sebuah alarm yang menggugah kesadaran akan adanya celah besar dalam sistem pengelolaan pariwisata alam, khususnya di area perbukitan yang sedang naik daun. Erwin Hidayat, seorang penggiat dan pemerhati pariwisata di Lombok Timur, melontarkan kritik keras terhadap kurangnya aturan dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang memadai untuk aktivitas pendakian di kawasan perbukitan yang bukan termasuk kategori gunung tinggi.

"Tren pendakian cepat ke wilayah perbukitan saat ini sedang jadi primadona," ujar Erwin Hidayat. "Namun, hal tersebut tidak diimbangi dengan pengawasan keselamatan yang memadai. Pihak Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dan Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rinjani Timur jangan saling lempar tanggung jawab terkait insiden keselamatan pendaki di Bukit Dandaun. Di sinilah diperlukan aturan dan regulasi yang mengikat bagi para pelaku pendakian, baik itu gunung maupun bukit."

Erwin menyoroti bahwa selama ini, pemeriksaan kesehatan bagi pendaki seringkali hanya bersifat formalitas belaka, hanya untuk memenuhi persyaratan administratif. Ia berpendapat bahwa untuk destinasi wisata yang mulai dikenal di kancah internasional seperti Sembalun, pemeriksaan kesehatan seharusnya dilakukan secara riil oleh dokter profesional, bukan sekadar ditandatangani di atas selembar kertas Surat Keterangan Sehat (Suket).

"Selama ini medical check-up hanya tulisan yang tertuang di lembaran kertas saja yang saya lihat, hanya untuk penuhi syarat," cetusnya. "Seharusnya medical check-up dilakukan oleh dokter untuk kunjungan destinasi wisata bertaraf internasional, sehingga keterangan dan pertanggungjawaban hasilnya jelas."

Ia menambahkan, deteksi dini terhadap riwayat penyakit pendaki sangat krusial. Hal ini penting agar pemandu (guide) yang mendampingi di lapangan merasa aman dan memiliki pengetahuan mitigasi yang tepat jika terjadi keadaan darurat. "Ketika terjadi sesuatu terkait kondisi kesehatan tamunya, maka yang harus bertanggung jawab adalah yang tertera tanda tangannya di dalam Suket tersebut. Medical check-up-nya harus profesional, ditangani dokter langsung, dan mencatat semua hasil pemeriksaan secara riil," tegasnya.

Implikasi Luas dan Ajakan untuk Perbaikan

Kematian Hamzanwadi dan kritik yang menyertainya memiliki implikasi yang lebih luas bagi citra pariwisata Sembalun dan Lombok Timur secara keseluruhan. Sembalun telah lama dikenal sebagai gerbang pendakian Gunung Rinjani, sebuah destinasi kelas dunia yang menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya. Namun, munculnya tren pendakian ke destinasi alternatif seperti Bukit Savana Dandaun, yang menawarkan pengalaman alam yang tak kalah memukau, seharusnya disambut dengan peningkatan standar keselamatan, bukan diabaikan.

Pendaki Meninggal di Savana, SOP Dikritik

Erwin Hidayat secara tegas mengajak seluruh pemangku kebijakan, pengelola destinasi wisata, serta masyarakat lokal untuk serius dalam membenahi sistem keselamatan pariwisata. "Mari bersama-sama berbenah untuk pariwisata Sembalun, Lombok Timur, NTB yang mendunia," tandasnya. Ajakan ini merupakan seruan untuk kolaborasi lintas sektor demi menjaga reputasi pariwisata daerah agar tidak tercoreng oleh kelalaian-kelalaian kecil yang diabaikan.

Data Pendukung dan Konteks Latar Belakang

Bukit Savana Dandaun, yang terletak di kawasan Sembalun, Lombok Timur, telah mengalami peningkatan popularitas sebagai destinasi wisata alam dalam beberapa tahun terakhir. Keindahan padang savana yang membentang luas, dikelilingi oleh perbukitan hijau, menawarkan pemandangan eksotis yang menarik perhatian wisatawan, terutama mereka yang mencari alternatif pendakian selain Gunung Rinjani. Fenomena ini sejalan dengan tren global peningkatan minat terhadap ekowisata dan petualangan alam.

Menurut data dari Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), angka kunjungan wisatawan ke Lombok, khususnya ke destinasi seperti Sembalun, terus menunjukkan tren positif sebelum pandemi COVID-19. Kawasan Sembalun sendiri tidak hanya dikenal sebagai titik awal pendakian Rinjani, tetapi juga menawarkan berbagai atraksi wisata lain seperti kebun stroberi, wisata agro, dan pemandangan alam perbukitan yang memukau.

Namun, peningkatan jumlah pengunjung ini tampaknya belum diimbangi dengan pengembangan infrastruktur dan sistem keselamatan yang memadai untuk destinasi non-gunung. Berbeda dengan pendakian Gunung Rinjani yang memiliki regulasi ketat, pengelolaan dan pengawasan aktivitas di perbukitan seperti Savana Dandaun masih terbilang minim. Hal ini menciptakan potensi risiko yang lebih besar, terutama bagi pendaki yang mungkin tidak menyadari atau tidak dipersiapkan dengan baik mengenai kondisi medan dan potensi bahaya.

Tanggapan Resmi dan Tindakan Kepolisian

Menanggapi insiden tersebut, Kapolsek Sembalun, IPTU Lalu Subadri, menyatakan bahwa pihak kepolisian telah melakukan monitoring dan koordinasi intensif dengan pengelola Bukit Savana Dandaun sejak Sabtu malam sekitar pukul 22.00 WITA. Pihaknya telah berupaya maksimal dalam proses evakuasi.

"Peristiwa bermula ketika Hamzanwadi bersama empat orang lainnya melakukan check-in di basecamp Savana Dandaun melalui jalur Lendakuta pada Sabtu sore pukul 16.00 WITA," ujar IPTU Lalu Subadri. "Pada pukul 17.33 WITA, saudara Hamzanwadi sempat menghubungi istrinya untuk mengabarkan bahwa kondisinya mulai kelelahan dan dadanya terasa sesak. Istrinya sudah menyuruh korban untuk kembali ke basecamp, namun korban bersikeras menuntaskan perjalanan hingga ke puncak karena merasa sudah setengah jalan."

Pernyataan ini mengkonfirmasi kronologi yang dilaporkan oleh saksi mata dan keluarga korban, serta menegaskan bahwa peringatan dari pihak keluarga telah diabaikan oleh korban.

Tindakan kepolisian dalam melakukan monitoring dan koordinasi menunjukkan keseriusan dalam penanganan kejadian darurat. Namun, hal ini juga mengindikasikan bahwa peran pencegahan dan regulasi yang lebih kuat dari instansi terkait masih sangat dibutuhkan. Keterlibatan Basarnas, pengelola bukit, dan tenaga kesehatan dalam tim evakuasi gabungan menunjukkan adanya upaya respons cepat ketika musibah terjadi, namun fokus pada pencegahan tetap menjadi kunci utama.

Menuju Pariwisata yang Lebih Aman dan Bertanggung Jawab

Kasus meninggalnya Hamzanwadi di Bukit Savana Dandaun menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pariwisata alam di Lombok Timur, khususnya yang berkaitan dengan aktivitas pendakian di luar kawasan gunung utama.

Beberapa langkah konkret yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  1. Pengembangan SOP Khusus: Merumuskan dan menerapkan SOP yang jelas untuk setiap destinasi pendakian, termasuk perbukitan. SOP ini harus mencakup persyaratan pendaftaran, panduan keselamatan, prosedur evakuasi, dan ketentuan mengenai pemandu.
  2. Peningkatan Kualitas Pemeriksaan Kesehatan: Mewajibkan pemeriksaan kesehatan yang lebih komprehensif dan profesional, melibatkan dokter, terutama untuk destinasi yang berpotensi memiliki risiko kesehatan tertentu. Data riwayat kesehatan pendaki harus dicatat secara akurat dan dapat diakses oleh tim pendukung.
  3. Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu: Memastikan bahwa pemandu yang mendampingi pendaki memiliki kompetensi yang memadai, termasuk pengetahuan tentang mitigasi bencana, pertolongan pertama, dan kondisi medan. Sertifikasi bagi pemandu dapat menjadi langkah awal yang penting.
  4. Kolaborasi Antar Instansi: Memperkuat koordinasi dan kolaborasi antara TNGR, Balai KPH Rinjani Timur, Dinas Pariwisata, Kepolisian, Basarnas, dan pengelola destinasi. Pembagian tanggung jawab yang jelas dan sinergi dalam implementasi kebijakan keselamatan sangat krusial.
  5. Edukasi Publik: Meningkatkan kesadaran masyarakat dan wisatawan mengenai pentingnya keselamatan saat beraktivitas di alam terbuka. Kampanye keselamatan dan informasi mengenai risiko yang mungkin dihadapi perlu digencarkan.
  6. Peninjauan Regulasi Pengelolaan Kawasan: Mengevaluasi dan memperbarui regulasi terkait pengelolaan kawasan perbukitan yang menjadi destinasi wisata baru, memastikan bahwa aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan terintegrasi dengan baik.

Dengan adanya langkah-langkah proaktif dan komitmen bersama dari seluruh pihak, tragedi seperti yang menimpa Hamzanwadi dapat dicegah di masa depan. Pariwisata Sembalun yang mendunia tidak hanya mengandalkan keindahan alamnya, tetapi juga harus didukung oleh standar keselamatan yang tinggi, demi kenyamanan dan keamanan setiap pengunjung yang datang.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *