Hamparan hijau kebun tebu di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, kini bukan sekadar pemandangan, melainkan jantung denyut ekonomi yang baru bagi masyarakat di kaki megahnya Gunung Tambora. Transformasi ini menandai babak baru setelah keterpurukan komoditas jambu mete yang sempat menjadi andalan, digantikan oleh tebu yang kini menjadi simbol kesejahteraan, bahkan mampu mengantarkan warga ke tanah suci dan menopang pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Namun, di balik manisnya janji tebu, terdapat tantangan infrastruktur dan sinkronisasi kebijakan yang krusial untuk memastikan keberlanjutan dan pencapaian visi Dompu sebagai kawasan tebu nasional.

Pergeseran Paradigma Ekonomi: Dari Jambu Mete ke Emas Hijau Tebu

Sejarah pertanian di Beringin Jaya, seperti banyak wilayah lain di sekitar lereng Gunung Tambora, telah lama didominasi oleh tanaman perkebunan. Selama bertahun-tahun, jambu mete (Anacardium occidentale) menjadi primadona, menjanjikan pendapatan yang stabil bagi petani lokal dan menjadi tulang punggung perekonomian desa. Iklim tropis yang kering dan jenis tanah di wilayah Dompu, khususnya di sekitar kaki Tambora, memang sangat cocok untuk budidaya jambu mete. Namun, sekitar satu dekade terakhir, sektor jambu mete mulai menghadapi cobaan berat yang mengancam keberlanjutan mata pencarian petani. Serangan hama dan penyakit yang meluas, seperti penggerek batang dan penyakit busuk akar, ditambah dengan fluktuasi harga pasar global yang tidak menentu, secara perlahan menggerus keuntungan dan semangat petani. Data dari Dinas Pertanian Provinsi NTB menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam produksi dan luas areal tanam jambu mete di beberapa wilayah, termasuk Dompu, pada periode 2010-2015, yang memicu petani untuk mencari alternatif komoditas yang lebih menjanjikan dan resilient terhadap berbagai tantangan.

Dalam kondisi tersebut, tebu (Saccharum officinarum) muncul sebagai penyelamat dan pendorong revitalisasi ekonomi. Tanaman ini menawarkan prospek yang cerah dengan karakteristik yang relatif tahan banting terhadap perubahan iklim dan serangan hama tertentu yang berbeda dari jambu mete, serta memiliki pasar yang stabil karena kebutuhan gula nasional yang terus meningkat. Pasar yang terjamin ini datang melalui kemitraan dengan pabrik gula yang beroperasi di wilayah tersebut atau di provinsi tetangga. Kepala Desa Beringin Jaya, Firman, menjelaskan bahwa budidaya tebu menarik minat besar petani karena perawatannya yang relatif mudah dibandingkan dengan komoditas sebelumnya. "Tebu tidak membutuhkan perhatian seintensif jambu mete, terutama dalam hal pengendalian hama yang mematikan. Hasilnya pun jauh lebih menjanjikan dan stabil," ungkap Firman, menggambarkan optimisme yang kini melingkupi desanya. Pergeseran ini bukan hanya tentang perubahan tanaman, tetapi juga tentang adaptasi strategis petani dalam menghadapi dinamika pasar dan lingkungan pertanian.

Potensi Ekonomi dan Dampak Sosial yang Menggembirakan

Secara finansial, tebu telah membuktikan diri sebagai penggerak ekonomi yang kuat di Beringin Jaya. Petani dilaporkan mampu meraih pendapatan bersih antara Rp30 juta hingga Rp35 juta per hektare dalam satu siklus tanam, yang umumnya berlangsung selama 10-12 bulan. Angka ini merupakan peningkatan signifikan dibandingkan dengan pendapatan dari jambu mete pada masa-masa sulitnya, dan memberikan daya dorong ekonomi yang substansial bagi rumah tangga petani. Rata-rata produktivitas tebu di wilayah ini berkisar antara 60-80 ton per hektare, dengan harga jual yang relatif stabil karena adanya sistem kemitraan dengan pabrik gula yang menjamin penyerapan hasil panen.

Kunci utama stabilitas ekonomi warga terletak pada sistem pembayaran yang diterapkan, yaitu langsung ke rekening petani (by name, by account). Sistem ini telah terbukti sangat efektif dalam meminimalisir praktik rentenir atau perantara yang sering menjerat petani dalam lilitan utang dengan bunga tinggi. Dengan pembayaran langsung, petani mendapatkan kepastian bahwa setiap rupiah hasil panen langsung masuk ke kantong mereka, memungkinkan pengelolaan keuangan yang lebih mandiri dan terencana. "Sistem ini memberikan rasa aman bagi petani. Kami tidak perlu khawatir lagi dengan tengkulak yang memotong harga atau rentenir yang mencekik," ujar seorang petani yang kini telah merasakan manfaatnya.

Asa Manis di Kaki Tambora: Potret Kejayaan dan Keluh Kesah Petani Tebu Beringin Jaya

Dampak domino dari peningkatan pendapatan ini terasa di berbagai lini kehidupan sosial desa. Firman dengan bangga menyatakan, "Setiap tahun, belasan hingga puluhan warga dari desa kami bisa menunaikan ibadah umrah. Ini adalah impian yang sebelumnya sulit terwujud dan kini menjadi kenyataan bagi banyak keluarga." Selain itu, pendidikan anak-anak juga mengalami peningkatan drastis. Banyak keluarga yang kini mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang perguruan tinggi, baik di Dompu maupun di kota-kota besar lainnya, membuka gerbang masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda Beringin Jaya. Data informal dari perangkat desa menunjukkan adanya peningkatan partisipasi pendidikan tinggi dari desa tersebut, yang sebelumnya sangat minim, hanya mengandalkan beasiswa atau bantuan.

Lebih jauh, keberhasilan budidaya tebu juga berdampak positif pada dinamika sosial desa. Penyerapan tenaga kerja muda di sektor pertanian tebu, mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga panen, telah mengurangi angka pengangguran secara signifikan. Dengan adanya mata pencarian yang stabil dan harapan ekonomi yang membaik, angka kriminalitas di desa pun dilaporkan menurun secara signifikan. Hal ini mencerminkan bagaimana stabilitas ekonomi dapat menjadi fondasi bagi keamanan dan ketertiban sosial di tingkat komunitas, menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan produktif.

Jeritan Petani di Tengah Manisnya Janji: Minimnya Infrastruktur dan Dukungan Pemerintah

Meski tebu telah membawa "emas hijau" bagi Beringin Jaya, para petani masih merasakan kepahitan akibat minimnya perhatian terhadap infrastruktur dasar dan efektivitas bantuan pemerintah. Salah satu keluhan utama yang paling mendesak adalah kondisi jalan usaha tani yang sangat buruk. Akses jalan yang rusak parah, penuh lubang, berlumpur saat musim hujan, dan berdebu saat kemarau, seringkali menghambat proses distribusi hasil panen. Truk pengangkut tebu kesulitan menjangkau area perkebunan, atau jika bisa, akan memakan waktu tempuh yang lebih lama dan biaya operasional yang jauh lebih tinggi. "Kami sering harus membayar ongkos transportasi yang lebih mahal karena kondisi jalan yang tidak layak. Ini secara langsung mengurangi keuntungan bersih kami dan kadang menyebabkan keterlambatan pengiriman ke pabrik," keluh seorang petani setempat yang enggan disebutkan namanya, menggambarkan dilema yang dihadapi setiap musim panen. Kondisi jalan yang buruk juga berpotensi menyebabkan kerusakan pada tebu yang diangkut, mengurangi kualitas dan nilai jual.

Firman juga melontarkan kritik keras terhadap mekanisme distribusi bantuan bibit dan pupuk dari pemerintah. Menurutnya, bantuan seringkali tidak tepat sasaran atau hanya sekadar menjadi formalitas dokumentasi tanpa realisasi nyata di lapangan. "Bantuan bibit atau pupuk seringkali datang tidak sesuai dengan kebutuhan jenis tanah atau jadwal tanam. Kadang ada, tapi jumlahnya tidak memadai untuk seluruh petani. Lebih parah lagi, seringkali hanya berupa laporan di atas kertas tanpa sampai ke tangan petani yang benar-benar membutuhkan atau yang memang berhak menerimanya," tegas Firman, menyoroti inefisiensi, kurangnya data akurat, dan potensi penyimpangan dalam program bantuan pemerintah. Masalah ini bukan hanya merugikan petani secara langsung dalam hal peningkatan produktivitas, tetapi juga menghambat modernisasi pertanian tebu dan menciptakan ketidakpercayaan terhadap program pemerintah.

Visi Dompu sebagai Lumbung Gula Nasional: Tantangan Perluasan dan Modernisasi

Cita-cita menjadikan Dompu sebagai kawasan tebu nasional, yang selaras dengan program swasembada gula pemerintah pusat, menghadapi tantangan besar yang tidak bisa dianggap remeh. Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Pekat, Mukhtar, mengungkapkan bahwa untuk mencapai target tersebut, diperlukan perluasan lahan kemitraan tebu secara masif. Dari posisi saat ini yang baru mencapai sekitar 3.200 hektare, Dompu diharapkan mampu memperluas areal tanam hingga 10.000-11.000 hektare. Perluasan ini merupakan langkah ambisius yang membutuhkan perencanaan matang, mulai dari identifikasi lahan potensial yang belum tergarap optimal, penyiapan infrastruktur pendukung, hingga edukasi dan pendampingan bagi petani baru yang akan bergabung dalam kemitraan.

Mukhtar merinci beberapa tantangan krusial yang harus diatasi untuk mewujudkan visi ini:

  1. Keterbatasan Alat Mesin Pertanian (Alsintan): Modernisasi pertanian tebu sangat bergantung pada ketersediaan Alsintan, terutama traktor pembajak untuk pengolahan lahan yang efisien. Saat ini, jumlah Alsintan yang tersedia di tingkat petani dan kelompok tani masih sangat terbatas. Petani seringkali harus antre panjang atau menyewa dengan harga mahal dari pihak swasta, yang berdampak pada jadwal tanam yang tidak serentak dan peningkatan biaya produksi. Kebutuhan akan Alsintan tidak hanya sebatas traktor untuk pengolahan tanah awal, tetapi juga mesin tanam, mesin pemupuk, hingga mesin panen untuk skala yang lebih besar, mengingat lahan yang akan diperluas. Data Kementerian Pertanian pada tahun 2022 menunjukkan rasio Alsintan per hektare lahan pertanian di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara maju, yang menghambat percepatan tanam dan panen.
  2. Ketersediaan Bibit Unggul: Bibit tebu yang berkualitas, bersertifikat, dan sesuai dengan karakteristik lahan lokal adalah fondasi bagi produktivitas yang tinggi dan ketahanan terhadap penyakit. Saat ini, petani masih menghadapi kendala dalam mendapatkan pasokan bibit unggul yang memadai baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Keterbatasan sentra pembibitan, masalah distribusi, dan kurangnya riset pengembangan varietas yang adaptif terhadap kondisi lokal Dompu menjadi hambatan serius. Program pengadaan bibit yang efektif, tepat waktu, dan tepat sasaran sangat dibutuhkan, mungkin melalui kerja sama dengan lembaga penelitian seperti Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas).
  3. Akses Kredit Perbankan: Petani pemula atau mereka yang ingin memperluas usahanya seringkali kesulitan mengakses kredit perbankan. Bank umumnya memerlukan agunan yang memadai dan riwayat kredit yang baik, yang tidak dimiliki oleh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *