DOMPU – Desa Soritatanga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, kini bukan lagi desa yang dikenal dengan hamparan ladang jagung kering. Dalam beberapa tahun terakhir, sebuah transformasi ekonomi yang dramatis telah mengubah lanskap desa ini secara fundamental, menggantikan dominasi jagung dengan hijaunya pucuk tebu yang melambai ditiup angin. Perubahan ini bukan sekadar pergantian komoditas pertanian, melainkan sebuah revolusi ekonomi mikro yang didorong oleh kegigihan komunitas dan kepemimpinan desa yang visioner, menawarkan harapan baru bagi ratusan keluarga petani di bawah bayang-bayang Gunung Tambora.

Krisis Jagung dan Titik Balik Perekonomian Lokal

Pergeseran besar-besaran ini berakar dari pengalaman pahit yang mendalam yang dialami para petani jagung di Dompu. Pada medio 2024 hingga 2025, sektor pertanian jagung yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian lokal mengalami pukulan telak. Harga jagung di pasaran anjlok drastis, jauh di bawah biaya produksi, memupus harapan ribuan petani. Data dari Kementerian Pertanian saat itu menunjukkan fluktuasi harga jagung nasional yang tidak stabil, seringkali dipicu oleh kelebihan pasokan di tingkat lokal tanpa diimbangi oleh kapasitas serapan industri yang memadai, ditambah lagi dengan tantangan kebijakan impor yang kerap membanjiri pasar domestik.

Situasi tersebut menyebabkan petani terjerat utang pupuk dan bibit. Banyak dari mereka yang telah mengambil kredit dari lembaga keuangan atau pengecer pupuk, mendapati diri mereka tidak mampu membayar kembali karena hasil panen yang tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan. Keadaan ini menciptakan iklim keputusasaan dan kekhawatiran akan masa depan ekonomi keluarga mereka. Janji-janji manis tentang stabilitas harga dan dukungan pemerintah untuk komoditas jagung seolah menguap, menyisakan tumpukan hasil panen yang tak laku atau dihargai sangat rendah.

Di tengah-tengah krisis yang melanda, Kepala Desa Soritatanga, Merafudin, tampil sebagai sosok yang proaktif dan visioner. Ia tidak hanya mendengarkan keluhan warganya tetapi juga bergerak mencari solusi konkret. Merafudin melihat bahwa ketergantungan pada satu komoditas, terutama yang rentan terhadap fluktuasi pasar global dan kebijakan domestik, sangat berbahaya. Oleh karena itu, ia mulai memperkenalkan tebu sebagai alternatif yang tidak hanya menjanjikan stabilitas harga tetapi juga keberlanjutan produksi jangka panjang.

Visi Merafudin: Jembatan Menuju Tebu yang Menjanjikan

Merafudin memahami bahwa perubahan membutuhkan bukti nyata dan keyakinan. Ia tidak memaksakan warganya untuk beralih, melainkan secara persuasif menyajikan data dan potensi yang dimiliki tebu. "Tanpa harus dipaksa, ternyata masyarakat mulai berpikir sendiri untuk beralih ke tebu. Mereka melihat perbedaan nyata: tebu menawarkan kepastian," ujar Merafudin saat ditemui tim media baru-baru ini, dengan sorot mata penuh optimisme.

Salah satu argumen paling kuat yang disajikan Merafudin adalah efisiensi produksi tebu dibandingkan jagung. Tebu, dengan siklus panen yang bisa mencapai lima tahun dari satu kali tanam, menawarkan pengurangan signifikan dalam biaya operasional tahunan. Berbeda dengan jagung yang menuntut penanaman ulang setiap musim, lengkap dengan biaya pengolahan lahan, bibit, dan pupuk yang tinggi, tebu hanya membutuhkan satu kali masa tanam awal untuk dapat dipanen hingga lima kali (lima tahun) dengan perawatan yang tepat. Ini berarti petani dapat menghemat biaya bibit dan pengolahan lahan setiap tahunnya, yang merupakan komponen biaya terbesar dalam pertanian jagung.

Model kemitraan dengan perusahaan pabrik gula menjadi kunci sukses transisi ini. Pabrik gula tidak hanya bertindak sebagai pembeli tunggal (off-taker) tetapi juga memberikan dukungan dalam bentuk bibit unggul, pendampingan teknis, serta akses permodalan. Melalui pola kemitraan ini, masyarakat diberikan kedaulatan penuh untuk mengelola lahan mereka sendiri. Mereka adalah pemilik tebu, bukan buruh. "Masyarakat merasa memiliki. Mereka menanam, merawat, dan menjaga tebu dengan rasa tanggung jawab seperti merawat kebun pribadi. Itulah kunci sukses kemitraan ini," tambah Merafudin, menjelaskan filosofi di balik keberhasilan program ini. Kemitraan ini memastikan bahwa petani memiliki kepastian pasar dengan harga yang stabil, sebuah jaminan yang sangat mereka rindukan selama era jagung.

Dampak Ekonomi yang Mengubah Wajah Desa

Dampak ekonomi dari "demam tebu" ini bukan sekadar angka di atas kertas; perubahannya terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari warga. Dusun Karyasari, salah satu bagian dari Desa Soritatanga, menjadi saksi bisu transformasi ini. Warga asli maupun pendatang dari Lombok yang sebelumnya menghadapi kesulitan ekonomi, kini mulai menikmati hasil yang signifikan.

"Jujur, saya kaget. Ada warga yang sebelumnya kesulitan transportasi, kini sudah mampu membeli sepeda motor baru, bahkan mobil pikap seharga puluhan juta dari hasil panen tebu," ungkap Merafudin dengan nada bangga, menceritakan kisah sukses yang menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kisah-kisah semacam ini menyebar cepat dari mulut ke mulut, memicu antusiasme dan minat yang lebih besar di kalangan petani lain. Bahkan, salah satu Kepala Dusun di wilayahnya dilaporkan mampu meraup pendapatan hingga ratusan juta rupiah per tahun dari komoditas ini, sebuah angka yang sulit dibayangkan pada era pertanian jagung.

Keberhasilan para warganya juga memotivasi Merafudin untuk turun langsung. Ia kini mengelola dua hektare lahan tebu dan berencana menambah luasannya menjadi lima hektare. Partisipasi langsung Kepala Desa ini bukan hanya sebagai bentuk dukungan, tetapi juga sebagai bukti nyata kepercayaan terhadap potensi ekonomi tebu. Peningkatan pendapatan ini tidak hanya meningkatkan taraf hidup individu, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian desa secara keseluruhan. Terjadi peningkatan daya beli masyarakat yang berimbas pada pertumbuhan usaha kecil dan menengah, serta peningkatan transaksi di pasar lokal. Ini menciptakan efek berganda yang positif, dari peningkatan kualitas gizi keluarga hingga kemampuan untuk menyekolahkan anak-anak ke jenjang yang lebih tinggi.

Transformasi Soritatanga, Dari Keresahan Petani Jagung Menjadi Hamparan Tebu Nasional

Dompu sebagai Pusat Tebu Nasional: Peluang dan Tantangan Baru

Keberhasilan di Soritatanga dan desa-desa sekitarnya menarik perhatian pemerintah pusat, yang kemudian menetapkan Dompu sebagai salah satu "kawasan tebu nasional." Penetapan ini membawa implikasi besar, termasuk potensi dukungan infrastruktur dari pemerintah pusat, alokasi dana khusus untuk pengembangan tebu, serta prioritas dalam kebijakan pertanian nasional. Hal ini semakin memperkuat posisi tebu sebagai komoditas strategis bagi Dompu.

Transformasi ini ternyata menular ke desa-desa tetangga di Kecamatan Pekat. Data terbaru menunjukkan lonjakan luas lahan tebu yang sangat signifikan: Desa Sorinomo: 1.700 Hektare; Desa Beringin Jaya: 1.200 Hektare; Desa Pekat: 700 Hektare; Desa Nangakara: 500 Hektare; Desa Karombo: 500 Hektare; dan Desa Kadindi: 450 Hektare. Total luas lahan tebu di Kecamatan Pekat kini mencapai ribuan hektare, menunjukkan adopsi yang masif dan cepat.

Peningkatan luas lahan ini diiringi dengan peningkatan produktivitas. Laporan menunjukkan bahwa produktivitas tebu di wilayah ini meningkat hingga dua kali lipat dibanding komoditas sebelumnya, baik dari segi kuantitas hasil maupun nilai ekonomi. Dukungan insentif dari pabrik gula, seperti pembelian dengan harga yang kompetitif dan bonus berdasarkan kualitas tebu, semakin memperkuat posisi tebu sebagai tulang punggung baru perekonomian masyarakat.

Namun, jalan menuju kemakmuran tidak selalu mulus. Seiring dengan meluasnya lahan tebu dan status Dompu sebagai kawasan tebu nasional, tantangan baru muncul, terutama terkait gangguan hewan ternak. Di wilayah perbatasan area peternakan, tanaman tebu kerap rusak karena masuknya sapi atau kerbau milik warga lain yang dilepasliarkan. "Ini bukan faktor alam, tapi kelalaian manusia. Kadang pagar dirusak sengaja agar ternak masuk. Ini bisa memicu konflik horizontal antarwarga," tegas sang Kades dengan prihatin.

Menyikapi hal ini, Merafudin berperan sebagai diplomat desa. Ia aktif berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan pemerintah kecamatan untuk memastikan komunikasi antarpeternak dan petani tebu tetap terjaga guna menghindari pertikaian fisik. Solusi jangka panjang sedang diupayakan, termasuk sosialisasi tentang pentingnya pengelolaan ternak yang bertanggung jawab dan kemungkinan pembangunan pagar permanen di area-area rawan konflik.

Keberlanjutan dan Harapan Masa Depan

Bagi Merafudin, tebu bukan sekadar komoditas pertanian; ia adalah "kendaraan" untuk masa depan anak-anak desa. Ia bermimpi dari hasil manisnya tebu, akan lahir generasi baru dari Soritatanga yang bisa mengenyam pendidikan tinggi, hingga menjadi anggota TNI atau Polri. Ini adalah visi yang melampaui urusan ekonomi semata, menyentuh aspek sosial dan pengembangan sumber daya manusia. Dengan pendapatan yang lebih stabil dan tinggi, orang tua kini memiliki kemampuan finansial untuk menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke jenjang yang lebih tinggi, memutus rantai kemiskinan yang mungkin telah berlangsung selama beberapa generasi.

"Perusahaan membawa misi kesejahteraan, dan tugas kita adalah menjaganya bersama. Jika tidak ada hasil, tidak mungkin petani berbondong-bondong beralih ke tebu," pungkas Merafudin, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan pihak swasta untuk menjaga keberlanjutan program ini. Kemitraan yang solid dan saling menguntungkan adalah fondasi untuk memastikan bahwa "revolusi manis" ini terus berlanjut dan memberikan manfaat maksimal bagi semua pihak.

Analisis: Antara Manisnya Hasil dan Pahitnya Tantangan

Keberhasilan Desa Soritatanga dalam mentransformasi ekonominya dari jagung ke tebu adalah studi kasus yang menarik tentang resiliensi masyarakat dan kepemimpinan adaptif. Faktor kunci keberhasilan meliputi: pertama, kepemimpinan visioner Merafudin yang mampu membaca tanda-tanda pasar dan menawarkan solusi konkret; kedua, inisiatif dan kemauan petani untuk beradaptasi dan mencoba komoditas baru; ketiga, model kemitraan yang kuat dengan pabrik gula yang menyediakan kepastian pasar, bibit, dan pendampingan; dan keempat, karakteristik tebu itu sendiri yang menawarkan stabilitas dan efisiensi produksi jangka panjang.

Namun, keberhasilan ini juga menyimpan potensi tantangan. Ketergantungan pada satu komoditas, meskipun saat ini menjanjikan, bisa menjadi pedang bermata dua jika pasar gula global bergejolak di masa depan. Diversifikasi produk turunan tebu atau pengembangan industri pengolahan lokal bisa menjadi langkah mitigasi risiko. Selain itu, masalah gangguan hewan ternak menunjukkan adanya friksi sosial yang perlu terus dikelola dengan bijak. Konflik antarwarga, jika tidak ditangani dengan serius, dapat merusak iklim kondusif yang telah terbangun. Aspek lingkungan juga perlu diperhatikan, seperti pengelolaan air dan kesuburan tanah dalam jangka panjang akibat monokultur tebu.

Di bawah kaki Gunung Tambora yang megah, wajah Desa Soritatanga kini telah berubah. Tebu bukan lagi sekadar tanaman industri; ia adalah simbol kedaulatan ekonomi, penawar luka lama, dan harapan baru yang tumbuh subur di bumi Dompu. Kisah Soritatanga adalah inspirasi bagi daerah lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan membangun ekonomi pedesaan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *