Mataram – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) secara proaktif meluncurkan program rehabilitasi ekosistem pesisir melalui penanaman 3.000 bibit mangrove di kawasan Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Inisiatif ini merupakan bagian dari rencana besar penanaman total 5.000 bibit mangrove, yang tidak hanya bertujuan memulihkan kelestarian lingkungan pesisir, tetapi juga secara strategis mendorong pengembangan potensi ekowisata di area yang berdekatan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lombok FTP-2 Sambelia. Langkah ini menegaskan komitmen PLN dalam menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang selaras dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), serta berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-14 tentang ekosistem laut. Langkah Awal Rehabilitasi dan Pengembangan Ekowisata Penanaman bibit mangrove tahap awal ini difokuskan di sekitar badan Sungai Padak Guar, melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat dan berbagai pemangku kepentingan terkait. Keberhasilan penanaman 3.000 bibit ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan target 5.000 bibit yang telah dicanangkan. Lebih dari sekadar penanaman, program ini juga mencakup rencana lanjutan untuk penataan kawasan wisata mangrove, sebuah langkah krusial untuk mengoptimalkan potensi ekowisata Padak Guar yang selama ini belum tergarap secara maksimal. Kepala Dusun Padak Guar, Riyan Pebriyansah, menyambut baik inisiatif PLN ini. Beliau mengungkapkan bahwa kawasan mangrove di desanya memiliki potensi alam yang luar biasa untuk dijadikan destinasi wisata menarik. Namun, realisasi potensi tersebut terkendala oleh keterbatasan anggaran yang dihadapi oleh masyarakat dan pemerintah desa. "Kami bersyukur ada program ini. Kawasan mangrove di sini sebenarnya punya potensi untuk wisata, tetapi selama ini kurang diperhatikan karena keterbatasan biaya. Dengan adanya bantuan PLN, kami berharap kawasan ini bisa kembali terawat dan dimanfaatkan masyarakat," ujar Riyan dengan penuh harap. Program rehabilitasi mangrove ini memiliki dua dimensi manfaat utama. Pertama, aspek ekologis. Pemulihan ekosistem mangrove diharapkan dapat mengembalikan fungsi vitalnya sebagai benteng pertahanan alami terhadap abrasi pantai dan gelombang laut yang kuat, serta menjaga keseimbangan ekosistem pesisir yang rentan. Kedua, dimensi sosial-ekonomi. Melalui penataan kawasan menjadi ekowisata, diharapkan tercipta peluang ekonomi baru bagi masyarakat Padak Guar, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Kolaborasi Lintas Sektor untuk Keberlanjutan Keberhasilan dan keberlanjutan program ini sangat bergantung pada sinergi antar berbagai pihak. Pelaksanaan program ini menjadi bukti nyata kolaborasi yang kuat antara PLN UIP Nusra dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTB, para praktisi dan ahli lingkungan yang kredibel, kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang berdedikasi, perangkat desa yang responsif, serta seluruh elemen masyarakat Padak Guar. Kolaborasi yang erat ini menjadi kunci untuk memastikan bahwa upaya rehabilitasi dan pengelolaan kawasan mangrove dapat berjalan efektif dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Assistant Manager Komunikasi dan TJSL PT PLN (Persero) UIP Nusra, Riyan Dharma Putra, menegaskan bahwa komitmen PLN tidak berhenti pada tahap penanaman bibit. "Selain penanaman bibit, ke depan kami juga merencanakan penataan kawasan wisata mangrove yang dapat dikelola dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Harapannya, rehabilitasi lingkungan ini dapat berjalan beriringan dengan pengembangan potensi wisata dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Padak Guar," jelas Riyan. Pernyataan ini menggarisbawahi pendekatan holistik PLN dalam program TJSL-nya, yang tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi lokal. Implementasi TJSL dan Prinsip ESG PLN General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, RDW. Manurung, menjelaskan bahwa program penanaman mangrove ini merupakan wujud nyata implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN di wilayah operasinya, khususnya di sekitar area pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan. "PLN memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan di sekitar area pembangunan. Program ini kami jalankan selaras dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), dengan fokus pada keberlanjutan dan manfaat nyata bagi masyarakat," ujar Manurung. Lebih lanjut, Manurung menekankan bahwa rehabilitasi mangrove ini juga merupakan kontribusi PLN terhadap tujuan global, khususnya Sustainable Development Goals (SDGs) ke-14 yang berfokus pada konservasi dan pemanfaatan sumber daya laut dan maritim secara berkelanjutan. "Harapannya, kawasan mangrove Desa Padak Guar dapat kembali hidup sebagai destinasi ekowisata dan menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat," pungkas Manurung. Potensi Ekowisata Padak Guar: Dari Kerusakan Menuju Pemulihan Kawasan mangrove di Desa Padak Guar, secara geografis, memiliki karakteristik yang mendukung pengembangan ekowisata. Hutan mangrove yang lebat dapat menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna, menawarkan pengalaman alam yang unik bagi pengunjung. Keberadaan sungai yang mengalir melalui kawasan ini juga membuka potensi aktivitas wisata seperti susur sungai atau pengamatan burung. Secara historis, kawasan mangrove di banyak wilayah pesisir Indonesia mengalami degradasi akibat berbagai faktor, termasuk aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan, perubahan iklim, dan minimnya perhatian terhadap upaya rehabilitasi. Desa Padak Guar, seperti banyak desa pesisir lainnya, kemungkinan pernah mengalami tantangan serupa. Program yang diinisiasi oleh PLN ini menjadi titik balik krusial untuk membalikkan tren negatif tersebut. Dampak dan Implikasi Jangka Panjang Pembangunan jembatan sebagai jalur akses wisata di kawasan mangrove Desa Padak Guar, seperti yang terilustrasikan dalam foto pendukung, menjadi salah satu elemen penting dalam rencana pengembangan ekowisata. Jembatan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana mobilitas bagi pengunjung, tetapi juga dapat menjadi platform observasi yang memungkinkan wisatawan menikmati keindahan mangrove dari dekat tanpa merusak ekosistem. Implikasi dari program ini melampaui sekadar penanaman pohon. Rehabilitasi mangrove berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim dengan menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar. Selain itu, hutan mangrove yang sehat berperan penting dalam menjaga kualitas air, melindungi keanekaragaman hayati laut, dan mendukung mata pencaharian nelayan lokal yang bergantung pada ekosistem pesisir yang sehat. Pengembangan ekowisata di Padak Guar berpotensi menciptakan multiplier effect bagi perekonomian lokal. Pendapatan dari sektor pariwisata dapat membuka peluang usaha baru, seperti penyediaan akomodasi, kuliner khas, cinderamata, serta jasa pemandu wisata. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam diversifikasi ekonomi dan pengurangan ketergantungan pada sektor yang rentan terhadap fluktuasi pasar. Tantangan dan Prospek ke Depan Meskipun prospeknya cerah, pengembangan ekowisata mangrove di Padak Guar tentu akan menghadapi berbagai tantangan. Pengelolaan yang berkelanjutan membutuhkan komitmen jangka panjang dari semua pihak, termasuk pemeliharaan infrastruktur, promosi destinasi, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam industri pariwisata. Edukasi kepada pengunjung mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan juga menjadi krusial untuk mencegah dampak negatif pariwisata. PLN UIP Nusra, melalui program TJSL ini, telah meletakkan dasar yang kuat bagi pemulihan ekosistem dan pengembangan potensi ekonomi lokal. Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah, masyarakat, dan para ahli, kawasan mangrove Padak Guar memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi destinasi ekowisata yang membanggakan, memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Lombok Timur. Langkah ini menjadi contoh inspiratif bagaimana kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah dapat menghasilkan dampak positif yang berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat. Post navigation YBM PLN UIP Nusra Salurkan Bantuan Sembako dan Perlengkapan Ibadah untuk Korban Kebakaran Dusun Sade, Lombok Tengah Dedikasi Tanpa Batas: PLN Tembus Arus Laut dan Gelombang Tinggi Demi Terangi Pulau Terluar Salura