Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Poltekkes Kemenkes Mataram telah mengambil langkah proaktif untuk membekali perempuan di Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, dengan pengetahuan dan keterampilan esensial dalam menghadapi ancaman bencana longsor. Inisiatif ini hadir sebagai respons terhadap kerentanan geografis wilayah tersebut dan hasil pengkajian awal yang menunjukkan rendahnya tingkat kesiapsiagaan di kalangan masyarakat, khususnya perempuan. Melalui program bertajuk “Resiliensi Kesehatan Perempuan dengan Pemberian Edukasi dan Simulasi Kesiapsiagaan Bencana Longsor,” tim pengabdi berhasil meningkatkan kompetensi peserta secara signifikan, baik dari segi pengetahuan maupun keterampilan praktis. Program ini tidak hanya berfokus pada penyelamatan diri, tetapi juga memperkuat peran strategis perempuan dalam menjaga keselamatan keluarga dan komunitasnya saat terjadi bencana. Konteks Geografis dan Kerentanan Bencana Longsor di Lombok Barat Kabupaten Lombok Barat, bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), memiliki topografi yang bervariasi, dari dataran rendah pesisir hingga perbukitan dan pegunungan di bagian utara dan timur. Desa Batu Kumbung, yang terletak di Kecamatan Lingsar, berada di area yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi, terutama longsor. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara nasional dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB menunjukkan bahwa wilayah perbukitan di Lombok memiliki tingkat kerentanan sedang hingga tinggi terhadap longsor, terutama selama musim penghujan dengan intensitas curah hujan yang ekstrem. Faktor-faktor seperti deforestasi, alih fungsi lahan, dan perubahan iklim global turut memperparah risiko bencana ini. Longsor bukan hanya merusak infrastruktur fisik dan lahan pertanian, tetapi juga dapat menyebabkan korban jiwa, trauma psikologis, dan kerugian ekonomi yang besar bagi masyarakat. Dalam konteks ini, kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan. Namun, seringkali informasi dan pelatihan mengenai mitigasi bencana belum merata hingga ke tingkat komunitas, terutama di kalangan kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak. Kondisi inilah yang menjadi landasan bagi Poltekkes Kemenkes Mataram untuk menginisiasi program pemberdayaan di Desa Batu Kumbung. Peran Sentral Perempuan dalam Kesiapsiagaan dan Respons Bencana Dalam masyarakat, perempuan memegang peranan krusial, terutama dalam konteks keluarga dan pengasuhan. Saat bencana melanda, perempuan seringkali menjadi garda terdepan dalam memastikan keselamatan anak-anak, lansia, dan anggota keluarga lainnya. Mereka bertanggung jawab atas perencanaan evakuasi darurat, menyiapkan perlengkapan esensial, serta memberikan dukungan psikososial. Namun, ironisnya, suara dan kebutuhan perempuan seringkali terpinggirkan dalam perencanaan mitigasi bencana. Program yang diusung oleh Poltekkes Kemenkes Mataram ini secara khusus menyasar perempuan karena menyadari posisi strategis tersebut. Hasil pengkajian awal di Desa Batu Kumbung menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan di sana belum memiliki informasi yang memadai atau pengalaman langsung terkait kesiapsiagaan longsor. Banyak yang mengaku belum pernah mendapatkan pelatihan atau simulasi tentang langkah-langkah yang harus diambil saat bencana terjadi. Kesenjangan informasi dan keterampilan ini berpotensi membahayakan keselamatan mereka sendiri dan keluarga saat situasi darurat benar-benar terjadi. Oleh karena itu, memberdayakan perempuan dengan pengetahuan dan keterampilan kesiapsiagaan bencana tidak hanya meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga memperkuat resiliensi seluruh unit keluarga dan komunitas. Inisiatif Komprehensif: "Resiliensi Kesehatan Perempuan" Program pengabdian ini digagas dengan nama lengkap "Resiliensi Kesehatan Perempuan dengan Pemberian Edukasi dan Simulasi Kesiapsiagaan Bencana Longsor di Desa Batu Kumbung Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat." Tim pengabdi dipimpin oleh Hadi Kusuma Atmaja, dengan anggota Sahrir Ramadhan dan Taufiqurrahman, semuanya berasal dari Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Mataram. Kegiatan ini juga melibatkan partisipasi aktif mahasiswa, sebagai bagian integral dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tujuan utama program ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan perempuan dalam menghadapi bencana longsor, sehingga mereka mampu merespons secara cepat, tepat, dan efektif. Dengan demikian, diharapkan dapat meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian yang diakibatkan oleh longsor. Program ini dirancang dengan pendekatan partisipatif dan praktis, memastikan bahwa setiap materi yang disampaikan dapat langsung diaplikasikan oleh peserta dalam kehidupan sehari-hari. Kronologi dan Metodologi Pelaksanaan Program Pelaksanaan program ini mengikuti serangkaian tahapan yang terstruktur untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutan. Kronologi kegiatannya adalah sebagai berikut: Pengkajian Awal (Pre-Intervensi): Sebelum intervensi dimulai, tim melakukan pengukuran awal terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan peserta mengenai kesiapsiagaan bencana longsor. Ini dilakukan melalui kuesioner terstruktur dan observasi awal untuk memetakan kebutuhan dan titik awal kompetensi peserta. Hasilnya mengkonfirmasi dugaan awal bahwa tingkat pemahaman dan kesiapan masih rendah. Pemberian Edukasi Teoritis: Peserta diberikan materi komprehensif mengenai berbagai aspek bencana longsor. Materi meliputi: Pengenalan jenis-jenis longsor dan faktor penyebabnya (curah hujan tinggi, kondisi tanah, lereng). Tanda-tanda awal longsor yang perlu diwaspadai (retakan tanah, pohon miring, mata air baru, tebing rapuh). Langkah-langkah pencegahan dan mitigasi sederhana di tingkat rumah tangga dan komunitas. Prosedur evakuasi yang aman dan jalur evakuasi. Penyusunan tas siaga bencana (emergency kit) yang berisi dokumen penting, obat-obatan, makanan, air, dan perlengkapan pribadi. Pentingnya komunikasi dan koordinasi dengan pihak keluarga dan aparat desa. Demonstrasi dan Simulasi Praktis: Setelah sesi teori, tim pengabdi melakukan demonstrasi langkah-langkah kesiapsiagaan menggunakan daftar periksa (checklist) atau Standar Operasional Prosedur (SOP) yang mudah dipahami. Misalnya, cara mengamankan diri, titik kumpul evakuasi, dan penggunaan alat sederhana untuk pertolongan pertama. Selanjutnya, peserta diajak untuk berpartisipasi dalam simulasi skenario bencana longsor, mempraktikkan langkah-langkah evakuasi dan respons darurat. Praktik Mandiri dengan Pendampingan: Peserta diberikan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung keterampilan yang telah diajarkan. Misalnya, menyusun tas siaga bencana mereka sendiri, mengidentifikasi jalur evakuasi di lingkungan sekitar, atau melakukan simulasi evakuasi kecil di rumah masing-masing, dengan pendampingan dan umpan balik dari tim pengabdi. Evaluasi Pasca-Intervensi: Setelah seluruh rangkaian edukasi dan simulasi selesai, dilakukan pengukuran kembali terhadap pengetahuan dan keterampilan peserta menggunakan instrumen yang sama dengan pengukuran awal. Tujuannya adalah untuk mengukur perubahan dan peningkatan kompetensi yang terjadi. Peningkatan Kompetensi yang Terukur dan Signifikan Hasil evaluasi pasca-intervensi menunjukkan dampak yang sangat positif dan terukur dari program ini. Peningkatan kompetensi peserta terlihat jelas pada dua domain utama: pengetahuan dan keterampilan. Peningkatan Pengetahuan: Sebelum intervensi, rata-rata skor pengetahuan peserta berada di angka 8,67 dari skor maksimum 20. Ini menunjukkan tingkat pemahaman yang masih dasar. Namun, setelah mengikuti edukasi dan simulasi, rata-rata skor meningkat drastis menjadi 16,20. Artinya, terjadi peningkatan sebesar 7,53 poin. Secara proporsional, peningkatan ini mencerminkan lonjakan dari 43,3 persen menjadi 81,0 persen dari skor maksimum. Angka ini mengindikasikan bahwa peserta telah memperoleh pemahaman yang jauh lebih komprehensif mengenai aspek-aspek penting dalam kesiapsiagaan bencana longsor. Peningkatan Keterampilan: Pada aspek keterampilan, rata-rata skor peserta sebelum kegiatan tercatat 6,27 dari skor maksimum 15. Angka ini mencerminkan minimnya pengalaman praktis. Setelah mengikuti serangkaian edukasi, demonstrasi, simulasi, dan praktik, rata-rata skor keterampilan meningkat menjadi 12,97. Ini berarti terjadi peningkatan sebesar 6,70 poin. Secara proporsional, keterampilan peserta meningkat dari 41,8 persen menjadi 86,4 persen dari skor maksimum. Peningkatan ini membuktikan bahwa pendekatan yang menggabungkan teori dengan praktik langsung sangat efektif dalam membangun kemampuan aplikatif. Data ini secara konkret memperlihatkan bahwa pembelajaran yang mengintegrasikan teori dan praktik mampu menghasilkan perubahan positif pada dua domain kompetensi secara bersamaan. Peserta tidak hanya memahami "apa" yang harus dilakukan, tetapi juga "bagaimana" melakukannya secara terstruktur dan tepat saat bencana terjadi. Pernyataan dan Reaksi dari Pihak Terkait Hadi Kusuma Atmaja, Ketua Tim Pengabdi, menekankan pentingnya penguatan kapasitas perempuan dalam membangun ketangguhan keluarga menghadapi bencana. "Kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan mengetahui informasi tentang bencana. Masyarakat perlu memiliki keterampilan untuk merespons secara tepat ketika situasi darurat benar-benar terjadi. Perempuan memiliki peran strategis karena mereka berada sangat dekat dengan keluarga dan lingkungan komunitas," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan filosofi di balik program, yang melihat perempuan sebagai pilar utama dalam sistem mitigasi bencana di tingkat mikro. Salah seorang peserta, Ibu Rohani (52), mengungkapkan rasa syukurnya atas program ini. "Dulu saya cuma panik kalau dengar hujan deras terus-terusan, apalagi kalau malam. Sekarang, saya jadi tahu apa yang harus saya lakukan, bagaimana menyiapkan tas siaga, dan kemana harus lari dengan anak-anak. Rasanya lebih tenang dan siap," katanya dengan nada lega. Testimoni serupa juga datang dari peserta lain, Ibu Aminah (38), yang menyatakan, "Pelatihan ini bukan cuma teori, tapi langsung praktik. Jadi lebih mudah ingat dan bisa saya ajarkan lagi ke tetangga dan keluarga di rumah." Pemerintah Desa Batu Kumbung juga menyambut baik inisiatif ini. Kepala Desa Batu Kumbung, Bapak I Ketut Astawa, menyampaikan apresiasinya. "Kami sangat berterima kasih kepada Poltekkes Kemenkes Mataram. Program ini sangat membantu masyarakat kami, khususnya ibu-ibu, dalam menghadapi ancaman longsor yang memang ada di desa kami. Kami berharap kerja sama ini bisa terus berlanjut dan hasilnya bisa dirasakan oleh seluruh warga," tutur Bapak Astawa, menegaskan komitmen pemerintah desa untuk mendukung program semacam ini. Visi Keberlanjutan dan Peran Agen Perubahan Keberlanjutan program menjadi salah satu fokus utama tim pengabdi. Selain edukasi dan simulasi, program ini juga menghasilkan sebuah modul simulasi kesiapsiagaan bencana untuk perempuan. Modul ini dirancang sebagai media pembelajaran komunitas yang dapat digunakan secara mandiri oleh masyarakat atau pemerintah desa untuk pelatihan berkelanjutan. Kehadiran modul ini diharapkan dapat menjadi sumber daya yang berharga, memungkinkan penyegaran materi dan replikasi simulasi di masa mendatang. Lebih dari itu, tim pengabdi mendorong agar perempuan di Desa Batu Kumbung tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga berkembang sebagai agen perubahan berbasis komunitas. Pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka peroleh diharapkan dapat diteruskan kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat di lingkungan masing-masing. Dengan demikian, efek dari program ini akan berlipat ganda, menciptakan jejaring kesiapsiagaan yang lebih luas dan kuat di seluruh desa. Kolaborasi Pentahelix untuk Ketangguhan Komunitas Kolaborasi antara perguruan tinggi (Poltekkes Kemenkes Mataram) dan pemerintah desa (Pemerintah Desa Batu Kumbung) merupakan contoh nyata dari pendekatan pentahelix dalam penanggulangan bencana, yang melibatkan akademisi, pemerintah, masyarakat, swasta, dan media. Keterlibatan pemerintah desa sebagai mitra kunci sangat penting untuk memastikan keberlanjutan program. Pemerintah desa diharapkan dapat memfasilitasi penyegaran pengetahuan secara berkala, mengadakan simulasi ulang berbasis dusun, menguatkan kelompok-kelompok perempuan, serta memanfaatkan modul dan daftar periksa yang telah dihasilkan dalam pembelajaran masyarakat. Dengan adanya dukungan dari pemerintah desa, program ini memiliki potensi besar untuk menjadi model yang berkelanjutan. Hal ini juga sejalan dengan upaya nasional untuk membangun desa tangguh bencana, di mana inisiatif dari bawah (grassroots) dan dukungan dari berbagai pihak menjadi sangat esensial. Implikasi Lebih Luas dan Replikasi Model Bagi Poltekkes Kemenkes Mataram, kegiatan ini merupakan bagian dari kontribusi nyata perguruan tinggi dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap bencana. Pendekatan promotif (mempromosikan kesehatan dan keselamatan), preventif (mencegah dampak buruk bencana), edukatif (memberikan pendidikan), dan berbasis pemberdayaan (menguatkan kapasitas masyarakat) menjadi landasan filosofi program ini. Ke depan, model edukasi dan simulasi yang telah terbukti efektif ini diharapkan dapat dikembangkan dan direplikasi pada wilayah lain di Nusa Tenggara Barat yang memiliki risiko bencana serupa. Banyak desa di NTB yang juga rentan terhadap longsor dan bencana hidrometeorologi lainnya. Dengan mengadopsi dan menyesuaikan model ini, lebih banyak komunitas dapat diberdayakan, sehingga secara kolektif meningkatkan kapasitas daerah dalam menghadapi tantangan bencana alam. Ini juga akan menjadi investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia yang lebih tangguh dan berdaya saing di tengah ancaman perubahan iklim global. Pada akhirnya, esensi dari program ini tercermin dalam moto yang diusung: "Dari desa, kesiapsiagaan dibangun. Dari perempuan, ketangguhan keluarga diperkuat." Moto ini bukan hanya slogan, melainkan sebuah visi nyata untuk menciptakan masyarakat yang lebih aman, mandiri, dan berdaya dalam menghadapi segala bentuk ancaman bencana, dimulai dari unit terkecil yaitu keluarga, dan digerakkan oleh kekuatan perempuan. Post navigation Pemkab Lombok Barat Tegaskan Eksekusi Aset STIE-AMM Tetap Berjalan di Tengah Sorotan Publik dan Pengawasan KPK