GIRI MENANG – Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Jembatan Kembar, yang berlokasi di Lombok Barat, menorehkan prestasi membanggakan dengan terpilih sebagai wakil Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam ajang lomba Adiwiyata tingkat nasional tahun 2026. Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian dalam sebuah kompetisi, melainkan cerminan dari komitmen kuat sekolah dalam menerapkan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS) secara berkelanjutan. Program Adiwiyata sendiri merupakan inisiatif prestisius yang digagas oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan lestari, sekaligus membentuk karakter siswa yang berbudaya lingkungan.

Mengenal Lebih Dekat Program Adiwiyata: Fondasi Pendidikan Lingkungan di Indonesia

Program Adiwiyata, yang berasal dari bahasa Sansekerta "Adi" yang berarti agung, baik, ideal, dan "Wiyata" yang berarti tempat seseorang menimba ilmu, secara harfiah dapat diartikan sebagai tempat yang baik dan ideal untuk menimba ilmu. Program ini diluncurkan pertama kali pada tahun 2006 dan terus berkembang hingga kini menjadi salah satu pilar utama dalam pendidikan karakter berbasis lingkungan di Indonesia. Tujuannya sangat mulia, yaitu untuk mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui tata kelola sekolah yang baik guna mendukung pembangunan berkelanjutan.

Fokus utama Adiwiyata mencakup empat komponen penting: kebijakan berwawasan lingkungan, pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan lingkungan berbasis partisipatif, serta pengelolaan sarana dan prasarana pendukung ramah lingkungan. Sekolah yang mengikuti program ini dituntut untuk mengintegrasikan nilai-nilai lingkungan ke dalam seluruh aspek kehidupan sekolah, mulai dari kebijakan sekolah, proses belajar mengajar, hingga perilaku sehari-hari seluruh warga sekolah. Ini termasuk pengelolaan sampah, efisiensi energi dan air, penanaman dan pemeliharaan pohon, hingga pengembangan inovasi berbasis lingkungan.

Penghargaan Adiwiyata diberikan dalam beberapa tingkatan, dimulai dari Adiwiyata Kabupaten/Kota, Adiwiyata Provinsi, Adiwiyata Nasional, hingga Adiwiyata Mandiri. Setiap tingkatan memiliki kriteria dan standar penilaian yang semakin ketat, mendorong sekolah untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas program PBLHS mereka. Keberhasilan SDN 1 Jembatan Kembar mencapai tingkat nasional menunjukkan bahwa sekolah ini telah melewati serangkaian penilaian yang ketat dan konsisten dalam implementasi program lingkungannya.

Perjalanan SDN 1 Jembatan Kembar Menuju Panggung Nasional

Perjalanan SDN 1 Jembatan Kembar menuju kancah nasional bukanlah hal yang instan, melainkan hasil dari dedikasi panjang dan upaya kolektif seluruh elemen sekolah. Tahapan seleksi dimulai dari tingkat kabupaten/kota, di mana sekolah harus menunjukkan komitmen dan program lingkungan yang terstruktur. Setelah berhasil lolos di tingkat Lombok Barat, sekolah ini kemudian melaju ke tingkat provinsi.

Pada bulan November 2025 lalu, Provinsi NTB menggelar penilaian Adiwiyata tingkat provinsi. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur NTB, SDN 1 Jembatan Kembar Lombok Barat ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh sekolah yang berhasil meraih predikat Sekolah Adiwiyata Provinsi. Enam sekolah lainnya berasal dari Kabupaten Sumbawa, yaitu SDN Selang Sumbawa, SDN Moyo Sumbawa, SDN 14 Sumbawa, SMPN 1 Labuan Badas Sumbawa, SMPN 1 Utan Sumbawa, dan SMPN 1 Sumbawa Besar. Sebuah fakta menarik yang disampaikan oleh Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Dikbud Lombok Barat, Heny Murdianti, adalah bahwa SDN 1 Jembatan Kembar merupakan satu-satunya nominator dari Pulau Lombok yang berhasil lolos ke tingkat nasional. "Bulan ini tim penilai dari kementerian akan turun. Satu sekolah kita, SDN 1 Jembatan Kembar, alhamdulillah mewakili NTB di tingkat pusat," ungkap Heny Murdianti kepada media pada Sabtu (16/5), mengindikasikan bahwa proses penilaian di tingkat nasional akan segera berlangsung.

Penetapan sebagai wakil NTB di tingkat nasional adalah bukti nyata dari keberhasilan sekolah dalam mengimplementasikan Gerakan PBLHS secara komprehensif. Ini juga menunjukkan pengakuan atas upaya keras guru, siswa, komite sekolah, dan dukungan dari masyarakat serta pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang berwawasan lingkungan.

Dukungan Penuh dari Pemerintah Daerah dan Komitmen Sekolah

Keberhasilan SDN 1 Jembatan Kembar tidak terlepas dari dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Heny Murdianti menegaskan bahwa pihaknya sangat bangga dengan pencapaian ini dan akan terus memberikan dukungan yang dibutuhkan agar SDN 1 Jembatan Kembar dapat memberikan yang terbaik di tingkat nasional. "Ini adalah kebanggaan bagi Lombok Barat dan NTB secara keseluruhan. Kami berharap SDN 1 Jembatan Kembar dapat membawa pulang prestasi tertinggi dan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain," tambahnya, menunjukkan optimisme dan dukungan institusional.

Kepala SDN 1 Jembatan Kembar, Dewa Putu Karya, menyatakan kesiapan penuh sekolahnya untuk menghadapi penilaian di tingkat nasional. Baginya, Adiwiyata bukan sekadar perlombaan untuk meraih penghargaan, melainkan sebuah semangat dan komitmen berkelanjutan untuk menghadirkan sekolah yang sehat, nyaman, dan mendidik siswa-siswi agar peduli terhadap kelestarian lingkungan. "Kami siap memberikan yang terbaik. Adiwiyata adalah filosofi hidup kami di sekolah ini, bagaimana kami menciptakan generasi yang mencintai dan menjaga bumi," ujar Dewa Putu Karya dengan penuh keyakinan.

SDN 1 Jakem Wakili NTB di Tingkat Nasional

Inovasi dan Program Lingkungan Unggulan SDN 1 Jembatan Kembar

SDN 1 Jembatan Kembar telah mengimplementasikan berbagai program inovatif yang menjadi tulang punggung keberhasilan mereka. Di antara aspek yang dinilai dalam lomba Adiwiyata adalah program penghijauan sekolah. Di lingkungan sekolah ini, dapat ditemukan beragam jenis tanaman, mulai dari tanaman hias yang memperindah suasana, tanaman obat keluarga (TOGA) yang memiliki nilai edukasi dan manfaat kesehatan, hingga pohon-pohon peneduh yang menciptakan iklim mikro yang sejuk dan nyaman. Program pembibitan tanaman juga menjadi bagian integral, mengajarkan siswa tentang siklus hidup tumbuhan, pentingnya menanam, serta praktik hortikultura sederhana.

Lebih dari sekadar menanam, sekolah ini juga menanamkan nilai-nilai edukasi lingkungan yang bermanfaat bagi siswa melalui berbagai kegiatan praktis. "Ada juga administrasi kelas dan pembelajaran termasuk modul ajar yang bertemakan lingkungan," jelas Dewa Putu Karya. Ini berarti integrasi pendidikan lingkungan tidak hanya bersifat kokurikuler, tetapi juga intrakurikuler, menyentuh langsung materi pelajaran di kelas.

Beberapa tema lingkungan yang diintegrasikan dalam modul ajar dan kegiatan ekstrakurikuler meliputi:

  • Peternakan dan Perikanan: Siswa diajarkan tentang budidaya ikan atau pemeliharaan hewan ternak kecil di lingkungan sekolah, menumbuhkan pemahaman tentang ekosistem dan sumber pangan berkelanjutan.
  • Konservasi Energi: Program penghematan energi melalui penggunaan listrik yang bijak, pemanfaatan cahaya alami, hingga potensi penggunaan energi terbarukan sederhana.
  • Konservasi Air: Edukasi tentang penghematan air, pemanfaatan air hujan, dan pengelolaan air limbah sederhana untuk menyiram tanaman.
  • Inovasi Pengelolaan Sampah: Ini menjadi salah satu poin unggulan. Sekolah memiliki program pemilahan sampah yang ketat (organik, anorganik, B3). Sampah organik diolah menjadi kompos atau pupuk organik yang kemudian digunakan untuk menyuburkan tanaman di sekolah. Penggunaan limbah anorganik juga didorong melalui program daur ulang menjadi barang bernilai seni atau pakai, seperti kerajinan tangan dari botol plastik atau kertas bekas.
  • Keindahan Sekolah: Aspek estetika juga menjadi perhatian. Lingkungan sekolah dirancang agar tidak hanya bersih dan hijau, tetapi juga indah dan nyaman, mendorong siswa merasa betah dan bangga dengan sekolah mereka.

Seluruh program ini didukung oleh administrasi yang tertata rapi, termasuk dokumentasi kegiatan, modul ajar yang relevan, serta bukti-bukti partisipasi aktif dari seluruh warga sekolah. Ini menunjukkan bahwa SDN 1 Jembatan Kembar tidak hanya fokus pada tampilan fisik, tetapi juga pada sistem dan keberlanjutan program.

Dampak Positif dan Reaksi Komunitas: Membangun Generasi Peduli Lingkungan

Keberhasilan SDN 1 Jembatan Kembar dalam program Adiwiyata membawa dampak positif yang luas, melampaui batas-batas fisik sekolah. Pertama dan terpenting, adalah terbentuknya karakter siswa yang peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Anak-anak didik tidak hanya sekadar menghafal teori, tetapi mengaplikasikan langsung prinsip-prinsip pelestarian lingkungan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka belajar tentang pentingnya kebersihan, penghematan sumber daya, dan keberlanjutan ekosistem sejak usia dini.

Para guru dan staf sekolah juga mengalami peningkatan kesadaran dan kapasitas dalam mengintegrasikan pendidikan lingkungan. Mereka menjadi agen perubahan yang aktif, bukan hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga berpotensi membawa pengaruh positif ke komunitas tempat tinggal mereka.

Reaksi dari orang tua dan komunitas sekitar juga sangat positif. Banyak orang tua yang merasa bangga dan melihat perubahan positif pada anak-anak mereka yang kini lebih disiplin dalam membuang sampah, menghemat air dan listrik di rumah, serta memiliki kepedulian yang lebih tinggi terhadap lingkungan sekitar. Keterlibatan orang tua dalam beberapa program sekolah, seperti kegiatan kerja bakti atau pengadaan bibit tanaman, juga semakin meningkat, menciptakan sinergi antara sekolah dan rumah tangga dalam upaya pelestarian lingkungan. Lingkungan sekolah yang bersih, hijau, dan nyaman secara langsung juga menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif, meningkatkan kualitas proses pendidikan secara keseluruhan.

Harapan dan Masa Depan Pendidikan Lingkungan di NTB

Keikutsertaan SDN 1 Jembatan Kembar di ajang Adiwiyata nasional menjadi sebuah momentum penting bagi pendidikan lingkungan di NTB. Harapannya, prestasi ini tidak hanya berakhir pada penghargaan, melainkan menjadi pemicu bagi sekolah-sekolah lain di Lombok Barat dan seluruh NTB untuk mengikuti jejak yang sama. Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa NTB, yang dikenal dengan keindahan alamnya, juga memiliki komitmen kuat dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui jalur pendidikan.

Dampak jangka panjang dari program Adiwiyata adalah terciptanya generasi muda yang memiliki kesadaran ekologis tinggi, mampu berpikir kritis terhadap isu-isu lingkungan, dan bertindak secara bertanggung jawab untuk keberlanjutan bumi. Melalui sekolah-sekolah Adiwiyata seperti SDN 1 Jembatan Kembar, fondasi pembangunan berkelanjutan diletakkan sejak dini, memastikan bahwa sumber daya alam dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Keberhasilan SDN 1 Jembatan Kembar adalah inspirasi bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, praktisi pendidikan, orang tua, hingga masyarakat umum, untuk terus berkolaborasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang ideal dan membentuk karakter bangsa yang peduli terhadap lingkungan hidup. Dengan semangat Adiwiyata, diharapkan NTB akan semakin maju dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *