Kehadiran baliho ucapan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan yang menampilkan Ketua DPD PDI Perjuangan Nusa Tenggara Barat (NTB), H. Rachmat Hidayat, bersama Hj. Putu Selly Andayani, kini menjadi pusat perhatian masyarakat di berbagai titik strategis di Bumi Gora. Pemasangan alat peraga sosialisasi yang masif di tengah suasana menyambut bulan suci tersebut tidak sekadar dibaca sebagai seremonial keagamaan, melainkan sebuah manuver komunikasi politik yang sarat akan makna sosio-kultural dan strategis. Di tengah masyarakat NTB yang dikenal memiliki heterogenitas agama dan budaya yang tinggi, langkah ini mencerminkan upaya konsisten untuk membangun jembatan dialogis antara figur politik dan konstituennya.

Analisis mendalam mengenai fenomena ini menempatkan baliho tersebut dalam spektrum yang lebih luas dari sekadar alat kampanye. Sebagai medium komunikasi, baliho ini menjadi cermin dari watak ideologis PDI Perjuangan yang secara konsisten mengedepankan nilai-nilai nasionalisme religius. Fenomena ini menarik untuk dibedah mengingat NTB merupakan wilayah dengan dinamika politik yang sangat dipengaruhi oleh sentimen keagamaan.

Dimensi Sosio-Kultural dan Komunikasi Politik

Dalam perspektif komunikasi politik, tindakan Rachmat Hidayat memasang baliho Ramadan bukanlah sebuah kebetulan yang berdiri sendiri. Dr. Agus, M.Si., pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, menilai bahwa baliho tersebut berfungsi sebagai medium yang menjembatani jarak antara elite politik dan masyarakat. Dalam masyarakat yang religius seperti NTB, Ramadan telah bertransformasi menjadi sebuah peristiwa sosial yang mendalam. Penggunaan pesan keagamaan dalam ruang publik adalah bahasa universal yang mudah diterima dan efektif dalam membangun kedekatan emosional.

Lebih jauh, Agus memaparkan bahwa langkah ini merupakan bentuk "keteduhan di ruang publik." Dalam konteks politik NTB, di mana polarisasi sering kali menjadi ancaman, pesan yang bersifat inklusif—seperti ucapan Ramadan yang disampaikan oleh seorang tokoh nasionalis—memiliki nilai strategis untuk memecah batasan sektarian. Hal ini sejalan dengan ajaran Bung Karno yang menekankan bahwa seorang pemimpin harus menjadi penyambung aspirasi rakyat yang memahami jiwa dan kultur masyarakatnya, bukan sekadar memaksakan simbol-simbol yang asing atau eksklusif.

Menilik Tradisi Politik Nasionalis di NTB

PDI Perjuangan sebagai partai kader memiliki tradisi panjang dalam merawat hubungan dengan masyarakat melalui kehadiran yang konsisten. Kehadiran Rachmat Hidayat dalam berbagai momentum hari besar keagamaan—baik Islam maupun agama lainnya—menunjukkan praktik pluralisme yang tidak hanya bersifat retoris, melainkan operasional. Data menunjukkan bahwa stabilitas politik di daerah dengan keberagaman tinggi seperti NTB sangat bergantung pada kemampuan aktor politik dalam menempatkan diri sebagai "titik temu" bagi semua kelompok etnis dan golongan.

Dalam pandangan akademis, langkah Rachmat Hidayat yang kerap hadir di perayaan hari besar berbagai agama menunjukkan bahwa ia telah berhasil memosisikan diri sebagai sosok yang melampaui sekat-sekat primodial. Ini adalah manifestasi dari nasionalisme yang tidak bertentangan dengan agama, melainkan justru menggunakan nilai-nilai agama sebagai landasan moral untuk mempersatukan perbedaan dalam ruang kebangsaan yang lebih besar.

Analisis Strategi Branding dan Masa Depan Politik 2029

Kehadiran Hj. Putu Selly Andayani dalam baliho tersebut juga memicu tafsir publik terkait proses branding politik jangka panjang. Meskipun saat ini tidak sedang dalam masa kampanye pemilu yang intens, pengenalan figur melalui ruang publik adalah strategi yang lumrah dalam manajemen partai politik. Mengingat rekam jejak Selly sebagai mantan kandidat Wali Kota Mataram pada Pilkada 2020, publik cenderung membaca ini sebagai langkah awal untuk menjaga eksistensi tokoh-tokoh potensial PDI Perjuangan di mata pemilih.

Rachmat Hidayat dan Selly Andayani Sampaikan Pesan Keberagaman Lewat Baliho Ramadan 

Pengamat politik menilai bahwa partai-partai besar yang telah berakar di NTB seperti PDIP tidak ingin kehilangan momentum. Pemilu 2029, meskipun masih berjarak beberapa tahun, dipandang sebagai proses yang harus dipersiapkan sejak dini. Konsistensi kehadiran di ruang publik, baik melalui baliho, kegiatan sosial, maupun interaksi langsung, adalah kunci untuk membangun top-of-mind awareness di kalangan pemilih. Dalam tradisi PDI Perjuangan, politik bukanlah tentang kontestasi lima tahunan semata, melainkan kerja ideologis yang berkelanjutan untuk menjaga kehadiran partai di tengah rakyat.

Tanggapan Rachmat Hidayat: Antara Nilai Sosial dan Kemanusiaan

Menanggapi berbagai spekulasi dan tafsir publik yang berkembang, H. Rachmat Hidayat menegaskan bahwa niat di balik pemasangan baliho tersebut murni didasarkan pada rasa hormat terhadap nilai-nilai keagamaan. Menurutnya, Ramadan adalah bulan yang sarat akan nilai kesabaran, empati, dan kebersamaan. Nilai-nilai inilah yang menurutnya menjadi perekat bagi masyarakat NTB.

Lebih lanjut, Rachmat mengaitkan semangat Ramadan dengan nilai-nilai kemanusiaan global. Ia merujuk pada pemikiran Bung Karno mengenai Palestina, yang menurutnya bukan hanya masalah geopolitik, melainkan isu kemanusiaan dan keadilan yang mendasar. Baginya, nasionalisme yang dianutnya adalah nasionalisme yang berpihak pada kaum tertindas dan menjunjung tinggi perdamaian.

"Politik adalah kerja nilai yang harus dijalankan terus-menerus. Kami ingin selalu hadir dan berjalan bersama rakyat dengan kemanusiaan dan keadilan sebagai pijakan," ujar Rachmat. Mengenai kehadiran sang istri, ia menegaskan bahwa itu adalah bentuk komitmen keluarga untuk tetap hadir di ruang publik sebagai bagian dari dialog sosial yang sehat. Ia menghargai hak publik untuk memberikan tafsir, karena hal tersebut merupakan bagian dari kedewasaan berdemokrasi.

Implikasi dan Proyeksi ke Depan

Dilihat dari sisi strategis, langkah PDI Perjuangan di NTB ini membawa beberapa implikasi penting bagi lanskap politik lokal:

  1. Penguatan Basis Pemilih Moderat: Dengan menampilkan sosok yang religius namun tetap berpegang pada prinsip nasionalis, PDIP berupaya memperluas basis pemilihnya dari kelompok tradisionalis ke kelompok yang lebih moderat dan nasionalis.
  2. Pemeliharaan Brand Equity: Kehadiran baliho secara terus-menerus memastikan bahwa nama-nama kader utama tetap relevan dalam percakapan publik, yang pada gilirannya akan memudahkan konsolidasi massa saat memasuki tahapan pemilu yang sesungguhnya.
  3. Dialog Inklusif: Dengan menggandeng figur dari latar belakang yang berbeda dalam baliho, PDIP mengirimkan pesan bahwa mereka adalah partai yang inklusif dan terbuka bagi semua elemen masyarakat, termasuk perempuan dan birokrat yang beralih ke jalur politik.

Kesimpulan

Baliho Ramadan yang menghiasi sudut-sudut kota di NTB bukan sekadar dekorasi visual atau pesan selamat yang bersifat sementara. Ia adalah manifestasi dari strategi politik yang memadukan antara nilai-nilai religius lokal dengan ideologi nasionalis yang diusung PDI Perjuangan. Di tengah dinamika politik yang semakin kompetitif, langkah Rachmat Hidayat menunjukkan bahwa keberhasilan seorang politisi tidak hanya diukur dari kemenangan dalam bilik suara, melainkan dari sejauh mana mereka mampu merawat hubungan emosional dan ideologis dengan masyarakat melalui kehadiran yang konsisten.

Seiring berjalannya waktu, efektivitas strategi ini akan diuji oleh sejauh mana pesan kebaikan yang disampaikan dalam baliho tersebut diterjemahkan ke dalam aksi-aksi nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Namun, untuk saat ini, langkah tersebut telah berhasil menempatkan Rachmat Hidayat dan PDI Perjuangan sebagai aktor yang sangat memahami denyut nadi sosial di NTB, menjadikan mereka sebagai bagian integral dari narasi besar kebangsaan yang sedang terus dirawat di Bumi Gora. Politik, bagi mereka, adalah tentang perjuangan panjang untuk menghadirkan keadilan dan kemanusiaan bagi rakyat, bukan sekadar perayaan kekuasaan sesaat.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *