Mataram menjadi saksi langkah ambisius Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam menata kekuatan politiknya di wilayah Nusa Tenggara Barat. Sabtu, 2 Mei 2026, suasana Ballroom salah satu hotel di Mataram dipenuhi oleh ratusan kader yang mengenakan seragam kebanggaan partai berlogo gajah tersebut. Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) DPW PSI NTB bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah deklarasi kesiapan partai menghadapi kontestasi elektoral lima tahunan, dengan fokus utama pada penguatan akar rumput dan konsolidasi struktur hingga tingkat dusun. Kehadiran Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, dalam acara tersebut memberikan suntikan moral sekaligus penegasan arah kebijakan DPP PSI. Dalam agenda yang juga menjadi momen pelantikan pengurus DPW PSI NTB yang baru, Kaesang secara lugas menekankan bahwa eksistensi partai politik di era modern tidak bisa hanya mengandalkan popularitas figur di level nasional. Menurutnya, mesin partai yang sesungguhnya berada pada keberadaan kader yang aktif dan dikenal masyarakat di tingkat tapak. Strategi Akar Rumput: Membangun Struktur dari Desa ke Dusun Instruksi Kaesang Pangarep dalam Rakorwil tersebut sangat spesifik. Ia menyoroti pentingnya pembentukan struktur partai yang menyeluruh, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga ke level desa dan dusun. Baginya, hambatan dalam pembentukan struktur harus diselesaikan secara berjenjang dan transparan. Dukungan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) akan difokuskan untuk memfasilitasi percepatan ini agar PSI memiliki jangkauan yang luas dalam menyerap aspirasi masyarakat NTB. Langkah ini merupakan bagian dari evaluasi pasca-Pemilu 2024, di mana banyak partai politik baru atau partai menengah yang kesulitan menjangkau basis massa di wilayah pedesaan karena keterbatasan struktur. Dengan target Pemilu 2029 yang semakin dekat, PSI NTB kini bekerja dengan ritme yang lebih cepat untuk memastikan setiap ranting partai memiliki daya tawar dan relevansi bagi warga setempat. Target Ambisius PSI NTB: Merebut Kursi di Senayan dan DPRD Provinsi Ketua DPW PSI NTB, Lalu Budi Suryata, memaparkan peta jalan (roadmap) politik yang cukup berani dalam Rakorwil tersebut. PSI NTB menetapkan target elektoral yang signifikan, yakni mengamankan dua kursi DPR RI untuk periode 2029-2034. Pembagian basis suara yang direncanakan adalah satu kursi dari Daerah Pemilihan Pulau Lombok dan satu kursi dari Daerah Pemilihan Pulau Sumbawa. Selain target nasional, PSI NTB juga menargetkan peningkatan jumlah kursi di DPRD Provinsi NTB secara drastis. Tidak hanya sekadar menambah jumlah kursi, Budi Suryata menegaskan bahwa PSI menargetkan kadernya mampu mengisi posisi strategis, yakni pimpinan dewan. Hal ini menunjukkan kepercayaan diri partai setelah melihat perkembangan struktur di lapangan. Berdasarkan data internal partai yang disampaikan dalam forum tersebut, struktur tingkat kecamatan di NTB sudah mencapai angka hampir seratus persen. Sementara itu, pembentukan struktur tingkat desa sedang dalam tahap perampungan. Kesiapan infrastruktur organisasi ini menjadi fondasi utama bagi PSI untuk menjadi partai yang "diperhitungkan" di kancah politik NTB. Efek Domino Bergabungnya Tokoh-Tokoh Pengaruh NTB Salah satu sorotan utama dalam Rakorwil tersebut adalah bergabungnya sejumlah tokoh masyarakat, tokoh adat, hingga mantan legislator ke dalam barisan PSI. Momentum ini ditandai dengan prosesi penyematan jaket PSI kepada beberapa nama besar di kancah politik lokal. Nama-nama tersebut di antaranya adalah H. Rais Ishak, A.A. Ketut Agung Oka Kartha Wirya, H. Lalu Mahdarain, Drs. H. Gaziamansyuri, TGH. Ahmad Mustanir, Multazam, serta I Gede Wenten. Bergabungnya para tokoh ini memberikan implikasi strategis. Secara sosiologis, tokoh-tokoh ini membawa basis massa tradisional dan loyalitas dari kelompok masyarakat yang sebelumnya mungkin belum terjamah oleh narasi politik PSI. Dengan latar belakang yang beragam, mulai dari tokoh agama hingga praktisi politik senior, PSI NTB tampak ingin mengubah citra partai yang sebelumnya hanya dianggap sebagai partai anak muda perkotaan, menjadi partai yang lebih inklusif dan merangkul semua elemen masyarakat di NTB. Analisis Implikasi Politik: Tantangan dan Peluang 2029 Langkah yang diambil PSI NTB saat ini mencerminkan tren politik "akomodatif" yang sedang dilakukan oleh partai-partai di luar parlemen untuk menembus ambang batas parlemen (parliamentary threshold) pada pemilu mendatang. Dengan menggabungkan kekuatan struktur yang sistematis dan figur-figur yang memiliki rekam jejak publik, PSI sedang mencoba membangun ekosistem politik yang kuat di NTB. Namun, tantangan bagi PSI tidaklah ringan. Wilayah NTB dikenal memiliki peta politik yang sangat cair, namun tetap dipengaruhi oleh afiliasi ormas keagamaan dan tokoh adat yang kuat. PSI harus mampu membuktikan bahwa narasi "Solidaritas" yang diusung partai dapat beradaptasi dengan budaya lokal masyarakat Lombok dan Sumbawa yang sangat kental. Jika ditinjau dari garis waktu politik, tahun 2026 adalah periode krusial bagi partai untuk melakukan konsolidasi. Pengalaman dari Pemilu 2024 menunjukkan bahwa partai yang terlambat melakukan penguatan struktur di tingkat desa cenderung kehilangan momentum saat masa kampanye dimulai. Dengan menyelesaikan pembentukan struktur di tahun 2026, PSI NTB memiliki waktu dua tahun (2027-2028) untuk melakukan penetrasi isu dan pengenalan calon legislatif potensial ke masyarakat. Konteks Historis dan Harapan Publik Kehadiran PSI di NTB merupakan bagian dari upaya partai nasional untuk memperluas cakupan wilayah pendukung di luar Pulau Jawa. NTB sebagai provinsi dengan karakteristik pemilih yang dinamis, menawarkan peluang sekaligus tantangan bagi partai nasional. Keberhasilan PSI nantinya akan bergantung pada sejauh mana kader-kader baru yang bergabung mampu menerjemahkan program kerja DPP menjadi aksi nyata yang solutif bagi permasalahan di NTB, seperti sektor pertanian, pariwisata, dan pendidikan. Pernyataan Kaesang Pangarep mengenai pentingnya kehadiran kader di tengah masyarakat adalah kunci. Masyarakat NTB cenderung memberikan apresiasi kepada partai atau tokoh yang hadir saat mereka membutuhkan, bukan sekadar hadir saat musim kampanye. Jika struktur yang sedang dibangun PSI benar-benar mampu berfungsi sebagai kanal aspirasi, maka target untuk meraih kursi di DPR RI dan DPRD Provinsi bukanlah sesuatu yang mustahil. Menuju Pemilu 2029: Ujian Soliditas Partai Rakorwil DPW PSI NTB ini menandai dimulainya babak baru bagi partai pimpinan Kaesang Pangarep di wilayah NTB. Dengan perpaduan antara manajemen organisasi yang rapi dan dukungan tokoh-tokoh berpengaruh, PSI sedang menempatkan dirinya sebagai salah satu kuda hitam yang patut diwaspadai oleh partai-partai lama. Keberhasilan atau kegagalan strategi ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi pengurus di tingkat DPW dalam menjaga semangat kader di akar rumput. Jika momentum pelantikan dan bergabungnya tokoh-tokoh baru ini dapat dikelola dengan baik dan tidak sekadar menjadi seremonial belaka, maka PSI NTB berpotensi mengubah lanskap politik NTB secara signifikan pada tahun 2029. Sebagai penutup, seluruh jajaran pengurus dari tingkat DPW hingga DPC kini memiliki tugas berat untuk membuktikan bahwa struktur yang mereka bangun bukan sekadar daftar nama di atas kertas, melainkan mesin politik yang mampu menggerakkan pemilih. Publik kini menanti langkah konkret dari PSI NTB dalam mengawal isu-isu daerah dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan di NTB sebelum masa kampanye sesungguhnya dimulai. (rl/tim) Post navigation Menakar Peluang Figur Muda dalam Bursa Ketua DPD Partai Demokrat NTB di Tengah Dinamika Politik Kontemporer Konflik Internal PPP NTB Memanas Ketua DPW Muzihir Resmi Copot Muhammad Akri dari Jabatan Strategis di DPRD