Lombok Timur menjadi pusat perhatian dalam upaya transformasi pendidikan digital di Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui inisiatif strategis yang dilakukan oleh civitas akademika Universitas Mataram. Sebagai bagian dari komitmen nyata terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi, tim dosen dari Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Mataram (Unram), sukses menyelenggarakan program pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan kompetensi teknologi. Kegiatan yang mengusung tema pengenalan pemrograman melalui pembuatan game edukatif ini diikuti oleh 40 siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38 Lombok Timur pada Senin, 18 Mei 2026. Berlokasi di Desa Suangi, Kecamatan Sakra, pelatihan ini tidak hanya menjadi ajang transfer ilmu, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membangun pola pikir komputasional (computational thinking) bagi generasi muda di wilayah pedesaan. Langkah ini diambil mengingat urgensi literasi digital yang semakin krusial di tengah pesatnya perkembangan teknologi global. Tim pengabdian yang dipimpin oleh para pakar di bidangnya, terdiri dari Tri Maryono Rusadi, Irwansyah, Bulqis Nebulla Syechah, Muhammad Rijal Alfian, dan Marliadi Susanto, membawa misi besar untuk mendemistifikasi anggapan bahwa pemrograman adalah hal yang rumit dan membosankan. Dengan melibatkan mahasiswa aktif dari Program Studi Matematika sebagai pendamping teknis, pelatihan ini menciptakan ekosistem belajar yang kolaboratif dan inklusif, di mana para siswa mendapatkan bimbingan intensif dalam memahami logika dasar di balik aplikasi yang mereka gunakan sehari-hari. Urgensi Literasi Digital di Wilayah Periferal Latar belakang pelaksanaan kegiatan ini berakar pada kesenjangan akses teknologi yang sering kali masih terjadi antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Di Kabupaten Lombok Timur, khususnya di daerah seperti Kecamatan Sakra, potensi intelektual siswa sangat besar, namun paparan terhadap keterampilan teknis tingkat lanjut seperti coding atau pemrograman masih tergolong minim. Universitas Mataram mengidentifikasi bahwa memberikan keterampilan coding sejak dini adalah investasi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia lokal di masa depan. Dalam sambutan pembukaannya, Kepala SRMA 38 Lombok Timur, Ahmad Apandi, S.Pd., menekankan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap perubahan zaman. Ia mengapresiasi kehadiran tim Unram yang bersedia turun langsung ke lapangan. Menurut Apandi, literasi digital bukan lagi sekadar kemampuan menggunakan perangkat lunak perkantoran, melainkan kemampuan untuk berkreasi dan memecahkan masalah menggunakan logika digital. Hal ini sejalan dengan visi pendidikan nasional yang mendorong penguasaan teknologi sebagai pilar utama kemajuan bangsa. Dr. Marwan, selaku Koordinator Program Studi Matematika Unram, menambahkan dimensi akademis dalam sambutannya. Ia menjelaskan bahwa pemrograman memiliki kaitan erat dengan matematika, terutama dalam hal logika, algoritma, dan pemecahan masalah secara terstruktur. Beliau menegaskan bahwa tujuan utama pelatihan ini bukan semata-mata mencetak programmer profesional dalam satu hari, melainkan untuk melatih otak siswa agar terbiasa berpikir sistematis. Kemampuan untuk mengurai masalah kompleks menjadi bagian-bagian kecil yang dapat dikelola (decomposition) adalah inti dari pemrograman yang juga sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Mengenal Scratch: Pintu Gerbang Menuju Dunia Pemrograman Pilihan perangkat lunak dalam pelatihan ini jatuh pada Scratch, sebuah platform pemrograman visual berbasis blok yang dikembangkan oleh MIT Media Lab. Pemilihan Scratch didasarkan pada karakteristiknya yang sangat ramah pemula, terutama bagi siswa tingkat menengah atas yang baru pertama kali bersentuhan dengan bahasa pemrograman. Berbeda dengan bahasa pemrograman konvensional seperti C++, Java, atau Python yang mengharuskan penulisan sintaks yang ketat, Scratch menggunakan logika "drag-and-drop". Siswa diajak untuk menyusun blok-blok perintah seperti menyusun potongan puzzle. Setiap warna blok mewakili kategori fungsi tertentu, seperti gerakan (motion), tampilan (looks), suara (sound), dan kontrol (control). Pendekatan visual ini terbukti sangat efektif dalam menurunkan hambatan psikologis siswa terhadap materi pemrograman yang biasanya dianggap berat. Melalui Scratch, konsep-konsep abstrak dalam pemrograman seperti variabel, perulangan (looping), dan pengkondisian (if-else) dapat divisualisasikan secara langsung melalui gerakan karakter atau sprite di layar monitor. Kronologi dan Metodologi Pelatihan: Dari Teori ke Praktik Mandiri Kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan sesi pengenalan antarmuka (interface) Scratch. Para instruktur memaparkan bagaimana fungsi setiap panel dalam aplikasi tersebut, mulai dari area panggung (stage), daftar karakter, hingga area skrip tempat kode disusun. Setelah sesi teori singkat, pelatihan segera beralih ke metode learning by doing yang menjadi tulang punggung keberhasilan program ini. Tahap pertama praktik adalah pembuatan proyek game "Menangkap Buah". Dalam skenario ini, siswa ditantang untuk membuat logika di mana sebuah mangkuk atau karakter tertentu dapat digerakkan ke kanan dan ke kiri menggunakan tombol panah di keyboard. Di saat yang sama, objek buah harus jatuh dari bagian atas layar secara acak. Di sinilah siswa belajar tentang konsep koordinat X dan Y. Tantangan teknis muncul ketika mereka harus menyusun logika "Collision Detection" atau deteksi tabrakan; jika buah menyentuh mangkuk, maka skor akan bertambah dan buah akan menghilang lalu muncul kembali di posisi atas. Antusiasme siswa memuncak saat mereka memasuki tahap pengembangan game "Labirin". Proyek ini lebih kompleks karena melibatkan logika navigasi dan rintangan. Siswa harus memastikan karakter mereka tidak bisa menembus dinding labirin. Jika karakter menyentuh dinding, ia harus kembali ke titik awal. Logika ini melatih kesabaran dan ketelitian siswa dalam mengatur setiap pixel pergerakan. Tim pendamping dari mahasiswa Matematika Unram tampak sibuk berpindah dari satu meja ke meja lain, memberikan asistensi ketika siswa menemui kendala dalam menyusun alur logika mereka. Analisis Peningkatan Kompetensi dan Evaluasi Proyek Keberhasilan program pengabdian ini tidak hanya diukur dari selesainya proyek game, tetapi juga melalui evaluasi objektif menggunakan metode pre-test dan post-test. Sebelum pelatihan dimulai, mayoritas siswa mengakui bahwa mereka belum pernah mendengar istilah coding atau hanya memahaminya sebagai kegiatan mengetik kode yang rumit. Namun, setelah pelatihan berakhir, data menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman logika algoritma. Berdasarkan hasil evaluasi tim pengabdian, terdapat peningkatan kemampuan sebesar lebih dari 70% dalam hal pemahaman konsep dasar pemrograman visual. Para siswa mampu menjelaskan fungsi dari blok "forever" untuk perulangan yang berkelanjutan dan blok "if-then" untuk logika pengambilan keputusan dalam game. Selain itu, kreativitas siswa juga terasah ketika mereka mulai melakukan modifikasi atau "remixing" terhadap game standar. Ada siswa yang menambahkan efek suara khusus saat mendapatkan skor, mengubah kecepatan jatuhnya buah untuk meningkatkan tingkat kesulitan, hingga mendesain latar belakang labirin yang unik. Kreativitas ini menunjukkan bahwa Scratch telah berhasil memicu rasa ingin tahu (curiosity) yang mendalam. Pelatihan ini membuktikan bahwa ketika teknologi disajikan sebagai alat untuk bermain dan berkreasi, proses belajar menjadi jauh lebih organik dan menyenangkan. Hal ini sangat krusial untuk mempertahankan minat siswa dalam mempelajari bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dampak Jangka Panjang dan Implikasi Sosial bagi Masyarakat Kegiatan pengabdian masyarakat oleh Prodi Matematika Unram ini memiliki implikasi yang lebih luas daripada sekadar pelatihan teknis. Secara sosial, kegiatan ini memperkuat hubungan antara institusi pendidikan tinggi dengan masyarakat di daerah penyangga. Kehadiran akademisi di sekolah-sekolah perdesaan memberikan motivasi moral bagi siswa untuk bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. Dari perspektif ekonomi, penguasaan keterampilan digital adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan di masa depan. Di era ekonomi digital, kemampuan teknis seperti ini membuka peluang bagi pemuda di daerah untuk bekerja secara remote, menjadi wirausaha digital, atau menciptakan solusi teknologi bagi permasalahan di desa mereka sendiri. Pelatihan di SRMA 38 Lombok Timur ini merupakan langkah awal dari perjalanan panjang untuk menciptakan ekosistem digital yang merata di seluruh penjuru Lombok. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa Unram yang terlibat. Mereka belajar bagaimana mengomunikasikan konsep-konsep teknis yang rumit menjadi bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam. Keterampilan komunikasi dan empati sosial ini adalah kompetensi tambahan yang sangat penting bagi mahasiswa sebelum mereka terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya. Menuju Masa Depan: Kolaborasi Berkelanjutan Sebagai penutup dari rangkaian kegiatan di Desa Suangi, tim pengabdian menekankan bahwa pelatihan ini bukanlah akhir, melainkan sebuah permulaan. Universitas Mataram berkomitmen untuk terus memantau perkembangan minat siswa dan membuka peluang kolaborasi lebih lanjut di masa mendatang. Diharapkan, pihak sekolah dapat mengintegrasikan materi pemrograman sederhana ke dalam kurikulum muatan lokal atau kegiatan ekstrakurikuler. Keberhasilan di SRMA 38 Lombok Timur ini diharapkan dapat menjadi pilot project atau model bagi sekolah-sekolah lain di wilayah Nusa Tenggara Barat. Dengan semangat kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan masyarakat, tantangan era transformasi digital tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang emas untuk melahirkan inovator-inovator muda dari jantung Pulau Lombok. Melalui inisiatif seperti ini, Universitas Mataram melalui Program Studi Matematika FMIPA telah menunjukkan peran nyatanya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Transformasi digital bukan hanya tentang pengadaan infrastruktur kabel optik atau perangkat keras, tetapi yang terpenting adalah tentang transformasi pola pikir dan pemberdayaan manusia. Generasi muda di Lombok Timur kini telah memiliki bekal awal untuk tidak hanya menjadi penonton dalam revolusi digital, tetapi menjadi aktor aktif yang mampu mewarnai dunia dengan karya-karya kreatif mereka sendiri. Post navigation Belasan Tahun Tanpa Perbaikan Atap Ruang Kelas SDN 1 Jerowaru Lombok Timur Ambruk dan Mengancam Keselamatan Siswa UNIZAR Menjadi Pusat Inovasi Melalui EcoPower Ideation Showcase 2026 Guna Mendorong Ekonomi Sirkular dan Literasi Keuangan di Nusa Tenggara Barat