PRAYA – Sebuah operasi pencarian besar-besaran tengah berlangsung di kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKM) Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, menyusul hilangnya seorang warga bernama Mustakim, 40 tahun, sejak Selasa (30/6) lalu. Mustakim, yang diketahui memiliki riwayat sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan masih menjalani pengobatan, pamit kepada istrinya untuk mencari rumput di hutan, namun hingga kini, hampir sepekan kemudian, belum kembali ke rumahnya di Dusun Sintung Tengak. Insiden ini memicu respons cepat dari berbagai elemen, membentuk tim SAR gabungan yang melibatkan berbagai instansi dan masyarakat, berjuang menembus medan hutan yang luas dan menantang. Kronologi Hilangnya Mustakim: Sebuah Catatan Waktu yang Mengkhawatirkan Kisah hilangnya Mustakim bermula pada hari Selasa, 30 Juni 2026, ketika ia meninggalkan kediamannya di Dusun Sintung Tengak. Dengan tujuan mencari rumput pakan ternak di area HKM Desa Karang Sidemen, Mustakim pergi menggunakan sepeda motornya. Kepergiannya ini awalnya dianggap biasa oleh pihak keluarga, mengingat Mustakim sehari-hari berprofesi sebagai petani kebun dan kerap beraktivitas di sekitar hutan. Namun, hari berganti hari, dan Mustakim tak kunjung pulang. Kekhawatiran mulai menyelimuti keluarga pada hari Jumat, 3 Juli, ketika absennya Mustakim menjadi terlalu lama untuk diabaikan. Pada hari Jumat tersebut, pihak keluarga dan masyarakat setempat memulai upaya pencarian awal secara mandiri di sekitar area hutan yang biasa dikunjungi Mustakim. Namun, upaya ini tidak membuahkan hasil. Menyadari kompleksitas dan luasnya area pencarian, serta absennya tanda-tanda keberadaan Mustakim, pihak keluarga kemudian melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang setempat. Menanggapi laporan tersebut, pada hari Sabtu, 4 Juli, tim gabungan yang terdiri dari unsur kepolisian setempat, TNI, dan beberapa warga mulai turun tangan untuk melakukan pencarian yang lebih terorganisir. Pencarian pada hari itu difokuskan pada penyisiran darat di sekitar titik terakhir Mustakim diketahui masuk hutan, namun hasilnya masih nihil. Puncak dari upaya pencarian terjadi pada Senin, 6 Juli, ketika Tim Rescue Kantor SAR Mataram tiba di lokasi. Kedatangan tim SAR yang terlatih ini membawa harapan baru dan metode pencarian yang lebih canggih. Koordinator Lapangan Tim Rescue Kantor SAR Mataram, I Kadek Agus Ariawan, menjelaskan bahwa begitu tiba di lokasi, tim segera melakukan koordinasi dengan Polsek Batukliang Utara dan keluarga korban untuk mendapatkan informasi detail dan merumuskan strategi pencarian yang efektif. Fokus operasi pada hari pertama kedatangan tim SAR ini dilakukan melalui penyisiran darat secara intensif di beberapa sektor yang diidentifikasi sebagai kemungkinan lokasi keberadaan Mustakim. Selain itu, tim juga memanfaatkan teknologi drone thermal, sebuah alat yang krusial untuk memantau area hutan yang sangat luas, terutama dengan kemampuannya mendeteksi perbedaan suhu tubuh di tengah vegetasi yang rapat, bahkan dalam kondisi pencahayaan rendah atau menjelang malam. Namun, hingga pukul 18.00 WITA pada Senin tersebut, setelah berjam-jam melakukan pencarian, tanda-tanda keberadaan Mustakim belum juga ditemukan. Operasi SAR hari pertama pun terpaksa dihentikan sementara dan direncanakan akan dilanjutkan keesokan paginya, menyisakan kekhawatiran yang mendalam bagi keluarga dan seluruh tim pencari. Profil Korban dan Kondisi Kesehatan Jiwa: Faktor Krusial dalam Pencarian Mustakim, yang berusia 40 tahun, adalah seorang petani kebun, profesi yang mengharuskannya sering berinteraksi dengan alam, termasuk hutan. Ia adalah warga Dusun Sintung Tengak, Desa Karang Sidemen, sebuah komunitas yang mungkin sangat bergantung pada sumber daya alam sekitar. Informasi penting yang diungkapkan oleh Kasi Humas Polres Lombok Tengah, IPTU Lalu Brata Kusnadi, adalah bahwa Mustakim memiliki riwayat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan masih dalam masa pengobatan, secara rutin mengonsumsi obat dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Kondisi ODGJ Mustakim menjadi faktor krusial yang harus diperhitungkan dalam operasi pencarian. Individu dengan kondisi ini mungkin memiliki orientasi yang berbeda terhadap lingkungan, kesulitan mengenali arah atau bahaya, atau bahkan cenderung bersembunyi atau menjauhi kontak dengan orang lain. Mereka mungkin tidak merespons panggilan atau upaya komunikasi dari tim pencari, yang secara signifikan meningkatkan kompleksitas dan tantangan dalam menemukan mereka di lingkungan hutan yang luas dan tidak ramah. Pentingnya pengobatan dan kepatuhan terhadap jadwal minum obat bagi ODGJ tidak bisa diremehkan. Tanpa obat yang rutin, kondisi mental seseorang bisa memburuk, menyebabkan disorientasi yang lebih parah, halusinasi, atau perilaku tidak terduga lainnya. Dalam konteks hutan, ini bisa berarti Mustakim mungkin berkeliaran tanpa tujuan, tersesat lebih dalam, atau bahkan mengalami kesulitan fisik tanpa disadari. Pemahaman tentang kondisi Mustakim ini menjadi pedoman bagi tim SAR untuk mengadaptasi strategi pencarian mereka, misalnya dengan mencari tanda-tanda perilaku yang tidak biasa atau lokasi yang mungkin dipilih oleh seseorang yang sedang disorientasi. Mobilisasi Tim Pencarian dan Penyelamatan Terpadu Skala operasi pencarian Mustakim menunjukkan tingkat keseriusan dan koordinasi yang tinggi antarberbagai lembaga. Tim SAR gabungan ini adalah representasi dari sinergi multipihak yang esensial dalam penanganan kasus orang hilang di medan sulit. Unsur-unsur yang terlibat dalam operasi ini mencakup: Tim Rescue Kantor SAR Mataram: Sebagai koordinator utama operasi SAR, tim ini membawa keahlian khusus dalam pencarian dan penyelamatan, termasuk peralatan canggih dan personel terlatih untuk menghadapi berbagai medan. Polres Lombok Tengah dan Polsek Batukliang Utara: Berperan dalam koordinasi awal, pengumpulan informasi dari keluarga dan masyarakat, serta pengamanan area. Koramil 1620-07/Batukliang: Keterlibatan unsur TNI menambah kekuatan personel dan kemampuan navigasi di medan hutan. BPBD Lombok Tengah: Badan Penanggulangan Bencana Daerah ini memberikan dukungan logistik dan keahlian dalam mitigasi bencana dan manajemen krisis. Masyarakat Setempat: Warga lokal memiliki pengetahuan mendalam tentang kondisi geografis hutan, jalur-jalur tikus, dan potensi lokasi yang sering dikunjungi. Keterlibatan mereka sangat vital dalam memandu tim dan memperluas cakupan pencarian. Pihak Terkait Lainnya: Mungkin termasuk sukarelawan, organisasi pecinta alam, atau pihak kesehatan yang dapat memberikan dukungan spesifik. Koordinasi yang baik antarpihak ini sangat penting untuk memastikan efektivitas pencarian. Rapat koordinasi harian dilakukan untuk mengevaluasi hasil pencarian, mengidentifikasi tantangan baru, dan merencanakan strategi untuk hari berikutnya. Setiap informasi yang masuk, sekecil apapun, ditelaah untuk mempersempit area pencarian. Tantangan Lapangan dan Penggunaan Teknologi Drone Thermal Kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKM) Desa Karang Sidemen adalah medan yang menantang. HKM, yang merupakan hutan yang dikelola oleh masyarakat lokal untuk tujuan ekonomi dan konservasi, seringkali memiliki karakteristik yang berbeda dari hutan konservasi murni. Meskipun demikian, HKM tetaplah hutan dengan vegetasi yang lebat, kontur tanah yang bervariasi, dan potensi bahaya alam. Tantangan utama yang dihadapi tim SAR meliputi: Vegetasi Rapat: Hutan tropis yang lebat menghalangi pandangan dan mempersulit pergerakan tim darat. Visibilitas yang rendah mengurangi efektivitas pencarian visual. Topografi Curam dan Berbukit: Area pegunungan atau perbukitan membuat pergerakan menjadi lambat dan melelahkan, meningkatkan risiko kecelakaan bagi tim pencari. Cuaca Tidak Menentu: Meskipun tidak disebutkan secara spesifik, cuaca di daerah tropis bisa berubah dengan cepat, dari terik matahari menjadi hujan deras, yang dapat mengganggu operasi dan menghapus jejak. Luasnya Area Pencarian: Hutan yang luas memerlukan sumber daya dan waktu yang signifikan untuk disisir secara menyeluruh. Tanpa informasi pasti mengenai lokasi terakhir korban, area pencarian bisa menjadi sangat besar. Untuk mengatasi tantangan ini, tim SAR mengandalkan kombinasi metode tradisional dan teknologi modern. Penyisiran darat dilakukan oleh tim yang berpengalaman dalam navigasi hutan, mencari tanda-tanda keberadaan Mustakim seperti jejak kaki, barang pribadi yang mungkin terjatuh, atau gubuk sementara. Sementara itu, teknologi drone thermal menjadi alat yang sangat berharga. Drone ini dilengkapi dengan kamera inframerah yang dapat mendeteksi perbedaan suhu. Dalam konteks pencarian orang hilang di hutan, drone thermal dapat: Mendeteksi Panas Tubuh: Bahkan di balik dedaunan yang rapat atau di kegelapan malam, kamera thermal dapat mengidentifikasi jejak panas yang dipancarkan oleh tubuh manusia. Cakupan Area Luas: Drone dapat dengan cepat memindai area yang luas yang sulit dijangkau oleh tim darat. Efektif di Malam Hari: Kemampuan thermal tidak terpengaruh oleh kegelapan, memungkinkan pencarian dilanjutkan setelah matahari terbenam, waktu yang seringkali krusial dalam kasus orang hilang. Namun, efektivitas drone juga memiliki batasannya, seperti hambatan oleh kanopi hutan yang terlalu rapat atau kondisi lingkungan yang ekstrem. Hingga Senin malam, meskipun teknologi canggih telah digunakan, Mustakim masih belum ditemukan, menunjukkan betapa sulitnya operasi ini. Pernyataan Resmi dari Aparat Keamanan dan SAR: Komitmen Berkelanjutan Pihak berwenang telah memberikan pernyataan resmi yang menegaskan komitmen mereka terhadap pencarian Mustakim. IPTU Lalu Brata Kusnadi, Kasi Humas Polres Lombok Tengah, dalam keterangannya kepada media, membenarkan detail hilangnya Mustakim dan status ODGJ-nya. "Korban ini berangkat ke hutan untuk mencari rumput dan sejak itu tidak kembali. Pencarian sudah dilakukan dari sejak hari Jumat. Kemudian Sabtu kemarin juga petugas gabungan sudah turun melakukan pencarian di sekitar HKM, baik menggunakan drone maupun menyusuri hutan tapi masih nihil," ungkapnya, menggarisbawahi upaya yang telah dilakukan sejak awal. Ia juga menambahkan, "Menurut keterangan saksi, Mustakim ini memiliki riwayat ODGJ dan masih mengonsumsi obat dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ)." Pernyataan ini menegaskan bahwa faktor kesehatan Mustakim menjadi pertimbangan utama dalam strategi pencarian. Sementara itu, Koordinator Lapangan Tim Rescue Kantor SAR Mataram, I Kadek Agus Ariawan, memberikan gambaran operasional yang lebih rinci. "Tim SAR gabungan telah melakukan penyisiran darat dan pengamatan melalui udara dengan drone thermal sejak tiba di lokasi siang tadi. Namun, hingga pukul 18.00 WITA, tanda-tanda keberadaan korban belum ditemukan. Untuk sementara, operasi SAR hari pertama kami hentikan dan akan dilanjutkan esok pagi," jelasnya. Pernyataan ini mencerminkan profesionalisme tim SAR dalam mengelola operasi, termasuk keputusan untuk menghentikan sementara pencarian demi keselamatan tim dan merencanakan strategi lanjutan. Ia juga menekankan bahwa timnya bersama unsur terkait tetap bersiaga di sekitar lokasi kejadian, menunjukkan kesiapan untuk melanjutkan operasi dengan semangat yang sama. Konteks Hutan Kemasyarakatan (HKM) Karang Sidemen: Sebuah Lingkungan yang Penuh Misteri Hutan Kemasyarakatan (HKM) adalah salah satu skema pengelolaan hutan berbasis masyarakat di Indonesia. Tujuannya adalah memberikan hak pengelolaan hutan kepada masyarakat adat atau komunitas lokal, dengan harapan mereka dapat memanfaatkan sumber daya hutan secara lestari sambil menjaga kelestarian ekosistem. HKM Desa Karang Sidemen, seperti banyak HKM lainnya di Nusantara, kemungkinan besar memiliki karakteristik yang unik: Keanekaragaman Hayati: HKM seringkali masih kaya akan flora dan fauna, termasuk satwa liar yang berpotensi berbahaya seperti ular, babi hutan, atau bahkan predator yang lebih besar tergantung pada lokasi spesifiknya. Kehadiran satwa liar ini menambah risiko bagi orang yang tersesat dan juga bagi tim pencari. Jalur Tidak Terpelihara: Berbeda dengan hutan konservasi yang mungkin memiliki jalur pendakian yang jelas, HKM seringkali hanya memiliki jalur-jalur setapak yang dibuat oleh masyarakat untuk aktivitas sehari-hari seperti mencari rumput, kayu bakar, atau berladang. Jalur-jalur ini bisa mudah hilang atau membingungkan bagi orang yang tidak familiar atau sedang disorientasi. Luas dan Terisolasi: Meskipun dikelola masyarakat, sebagian besar HKM tetap merupakan area yang luas dan jauh dari permukiman padat. Keterbatasan akses dan komunikasi dapat memperlambat respons awal dan mempersulit operasi pencarian. Faktor-faktor ini menjadikan HKM Karang Sidemen sebagai lingkungan yang penuh misteri dan tantangan besar bagi operasi pencarian Mustakim. Setiap jejak, setiap suara, dan setiap pergerakan menjadi penting untuk dianalisis oleh tim SAR. Implikasi Lebih Luas dan Edukasi Publik: Pembelajaran dari Insiden Ini Kasus hilangnya Mustakim bukan hanya sekadar insiden orang hilang, tetapi juga membawa implikasi yang lebih luas bagi masyarakat dan pihak berwenang. Ini menjadi sebuah pengingat akan beberapa hal penting: Pentingnya Pengawasan dan Dukungan bagi ODGJ: Kasus ini menyoroti perlunya pengawasan yang lebih ketat dan sistem dukungan yang memadai bagi individu dengan gangguan jiwa, terutama yang masih dalam masa pengobatan. Keluarga dan komunitas memiliki peran vital dalam memastikan kepatuhan minum obat dan meminimalkan risiko mereka tersesat atau mengalami bahaya. Program-program kesehatan jiwa berbasis komunitas perlu diperkuat. Kesiapsiagaan Komunitas Terhadap Bencana dan Kecelakaan: Insiden ini menunjukkan pentingnya sistem pelaporan yang cepat dan respons komunitas yang terkoordinasi. Pengetahuan dasar tentang apa yang harus dilakukan ketika seseorang hilang di hutan, termasuk cara melaporkan kepada pihak berwenang, dapat mempercepat proses pencarian. Kesadaran akan Bahaya Lingkungan Alam: Bagi masyarakat yang tinggal di dekat atau beraktivitas di hutan, penting untuk selalu waspada terhadap potensi bahaya alam. Edukasi tentang navigasi dasar, cara bertahan hidup, atau setidaknya membawa alat komunikasi darurat, dapat menjadi penyelamat. Sinergi Antar Lembaga: Operasi pencarian Mustakim adalah contoh konkret bagaimana sinergi antara SAR, kepolisian, TNI, BPBD, dan masyarakat lokal sangat krusial. Model kerja sama ini perlu terus dikembangkan dan ditingkatkan dalam penanganan berbagai jenis bencana dan insiden. Pemerintah daerah dan organisasi terkait dapat memanfaatkan insiden seperti ini untuk menggalakkan program edukasi publik, misalnya melalui sosialisasi di desa-desa yang berbatasan langsung dengan hutan. Materi edukasi bisa meliputi tips keselamatan saat beraktivitas di hutan, pentingnya melaporkan kasus orang hilang sesegera mungkin, dan bagaimana masyarakat dapat berperan aktif dalam mendukung individu dengan gangguan jiwa. Dukungan Komunitas dan Peran Pencegahan Di tengah upaya pencarian yang tak kenal lelah, dukungan moral dan logistik dari komunitas setempat sangatlah vital. Warga Dusun Sintung Tengak dan Desa Karang Sidemen tidak hanya membantu dalam pencarian fisik, tetapi juga memberikan dukungan kepada keluarga Mustakim yang tengah dilanda kecemasan mendalam. Semangat gotong royong dan kepedulian sosial menjadi pilar utama dalam menghadapi krisis semacam ini. Dalam jangka panjang, peran pencegahan tidak kalah penting. Untuk individu dengan ODGJ, keluarga dapat menerapkan beberapa langkah pencegahan, seperti memastikan mereka selalu membawa identitas diri dan nomor kontak darurat, atau menggunakan alat pelacak sederhana jika memungkinkan dan sesuai. Selain itu, edukasi tentang pentingnya komunikasi yang terbuka antara keluarga dan individu dengan ODGJ, serta pentingnya dukungan psikososial, dapat membantu mencegah insiden serupa di masa depan. Kesimpulan dan Harapan Hilangnya Mustakim adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang menguji ketangguhan dan solidaritas masyarakat Lombok Tengah. Operasi pencarian yang melibatkan berbagai pihak ini merupakan bukti nyata komitmen untuk tidak menyerah dalam menemukan salah satu warganya. Meskipun tantangan di lapangan sangat besar, termasuk kondisi hutan yang sulit dan status kesehatan Mustakim, harapan untuk menemukan Mustakim dalam keadaan selamat terus menyala. Tim gabungan akan melanjutkan pencarian dengan evaluasi dan perencanaan ulang area, berharap setiap sudut hutan dapat terjangkau. Masyarakat luas diimbau untuk terus memberikan dukungan dan informasi yang relevan jika ada petunjuk sekecil apapun, demi Mustakim dapat segera kembali ke pelukan keluarganya. Kisah ini adalah pengingat bahwa dalam menghadapi kesulitan, kebersamaan dan kegigihan adalah kunci. Post navigation Dishub NTB Tegaskan Tak Ada Larangan Resmi Angkutan Online di Mandalika di Tengah Polemik dan Insiden Penganiayaan Sopir Kapolda NTB Jenguk Korban Kebakaran Ponpes di Lombok Tengah, Janji Kawal Restitusi dan Tuntaskan Kasus