DOMPU, NTB – Pengembangan industri tebu di Pulau Sumbawa bukan sekadar proyek agrikultur biasa, melainkan sebuah lompatan strategis yang berpotensi mengubah struktur ekonomi wilayah tersebut secara fundamental. Dengan karakteristik geografis yang mendukung, Sumbawa berpeluang menjadi "hub" gula baru di Indonesia Timur, sebuah visi yang selaras dengan upaya pemerintah pusat untuk mencapai swasembada gula nasional. Namun, di balik potensi gemilang tersebut, terdapat tantangan signifikan, terutama terkait akses, permodalan, dan keadilan bagi petani di wilayah yang jauh dari pabrik pengolahan. Visi Sumbawa sebagai Sentra Gula Nasional: Potensi Geografis dan Kebutuhan Nasional Pulau Sumbawa, dengan lanskapnya yang luas dan iklim tropis yang kering di beberapa bagian, menawarkan kondisi ideal untuk budidaya tebu. Lahan yang relatif datar, curah hujan yang memadai pada musim tanam, dan intensitas sinar matahari yang tinggi merupakan faktor-faktor kunci yang mendukung pertumbuhan tebu secara optimal. Potensi ini telah lama diidentifikasi sebagai aset strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya dalam memenuhi kebutuhan gula domestik. Indonesia, sebagai salah satu konsumen gula terbesar di dunia, masih mengandalkan impor dalam jumlah signifikan untuk menutupi defisit produksi. Data dari Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa kebutuhan gula nasional terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan industri makanan-minuman. Oleh karena itu, pengembangan sentra-sentra produksi gula baru di luar Pulau Jawa menjadi prioritas utama. Sumbawa, dengan keberadaan pabrik pengolahan seperti PT SMS di Dompu, dipandang memiliki infrastruktur dasar dan ekosistem yang siap untuk dioptimalkan. Visi menjadikan Sumbawa "hub" gula baru di Indonesia Timur bukan hanya retorika, melainkan sebuah rencana konkret untuk mengurangi ketergantungan impor dan menciptakan kemandirian pangan. Kisah Sukses Petani Perintis: Bukti Nyata Potensi Ekonomi Tebu Di tengah minimnya perhatian dan fasilitas yang memadai, kisah sukses dua petani tebu di Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, menjadi bukti nyata potensi ekonomi komoditas ini. Haji Muhammad Nur, salah satu petani perintis, berhasil meningkatkan hasil panen tebu di lahannya secara drastis. Pada tahun 2023, ia memanen sekitar 80 ton tebu. Namun, melalui penerapan praktik budidaya yang lebih baik dan dedikasi, hasil panennya melonjak hingga hampir 200 ton pada tahun 2025. Dengan harga bersih Rp 300.000 per ton, pendapatan kotor Haji Nur dalam sekali panen bisa mencapai angka fantastis, yaitu antara Rp 50-60 juta. Angka ini jauh melampaui pendapatan dari komoditas pertanian tradisional lainnya di wilayah tersebut. "Alhamdulillah, untuk kebutuhan pokok dan biaya sekolah anak bisa tercukupi," ujar Nur dengan rasa syukur. Keberhasilan ini bukan hanya sekadar angka, melainkan cerminan nyata peningkatan kualitas hidup keluarga. Anak-anak Nur kini memiliki kesempatan yang lebih baik dalam pendidikan, dan kebutuhan dasar keluarga terpenuhi dengan lebih layak. Selain Haji Nur, ada pula Amaq Siman, petani lain di Labangka yang juga telah mencapai hasil serupa. Kedua petani ini menjadi "agen perubahan" yang membuktikan bahwa tebu memiliki kapasitas untuk mengubah ekonomi keluarga secara signifikan. Mereka adalah mercusuar harapan bagi petani lain di Labangka, menunjukkan bahwa investasi pada komoditas tebu dapat memberikan imbal hasil yang menguntungkan, bahkan dengan dukungan yang terbatas. Hambatan dan Aspirasi Petani: Jeratan Jarak, Modal, dan Keterbatasan Dukungan Namun, kesuksesan yang dirasakan oleh Haji Nur dan Amaq Siman belum sepenuhnya menular ke petani lainnya di Labangka. Nur mengungkapkan bahwa masih sedikit warga yang tertarik beralih ke tebu, terutama karena kendala logistik dan permodalan. "Pokoknya masalah utamanya karena kan jauh tempatnya dari pabrik PT SMS di Dompu. Jauh, makanya kurang tertarik orang," keluhnya. Jarak tempuh yang jauh dari Labangka, Sumbawa, ke pabrik pengolahan di Dompu, NTB, menciptakan beban biaya transportasi yang tinggi, menggerus margin keuntungan petani secara signifikan. Selama tiga tahun berkecimpung dalam budidaya tebu, bantuan yang diterima Nur dan rekan-rekannya sebatas bibit dan pelatihan budidaya dari pihak pabrik. Meskipun pelatihan ini penting untuk meningkatkan produktivitas, namun dukungan dalam bentuk peralatan tani atau akses ke Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang sesungguhnya sangat dinantikan untuk perluasan lahan, belum juga terealisasi. "Belum ada bantuan kredit. Cuma waktu bayaran, lewat bank BRI," jelas Nur, menggambarkan betapa terbatasnya dukungan permodalan yang mereka terima. Tanpa akses ke modal, petani sulit untuk meningkatkan skala usaha, membeli peralatan modern, atau memperluas area tanam, yang semuanya esensial untuk mencapai keuntungan maksimal. Petani di Labangka, meskipun telah membuktikan potensi tebu, masih harus berjuang terkait dukungan permodalan dan biaya transportasi yang tinggi. Mereka berharap adanya perhatian lebih dari pabrik dan pemerintah, terutama untuk mengatasi kendala jarak dan akses permodalan. Intervensi ini diharapkan dapat menarik lebih banyak petani di Labangka untuk mengembangkan komoditas tebu dan merasakan manfaat ekonominya. Saat ini, Haji Nur fokus pada masa tanam dan berharap tren peningkatan hasil panen dapat terus berlanjut, sebagaimana yang terjadi di musim-musim sebelumnya. Perspektif Penyuluh Pertanian: Menuju Keadilan dan Skala Usaha Optimal Abu Bakar, seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Dompu, juga menggarisbawahi pentingnya melihat lebih dari sekadar angka produktivitas tebu yang melonjak. Ia menekankan perlunya memikirkan aspek keadilan bagi setiap petani, terutama mereka yang lahannya jauh dari pabrik. "Kalau lahannya hanya satu hektare, untuk tanam tebu hasilnya nggak cukup," ujar Abu Bakar, memulai analisisnya yang tajam. Ia membeberkan realitas di balik angka-angka indah pendapatan kotor. Penghasilan Rp 20-30 juta per hektare per tahun, menurutnya, tak akan cukup menopang biaya hidup modern seperti kuliah anak, apalagi jika lahannya terbatas. Biaya hidup yang terus meningkat, kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok lainnya menuntut pendapatan yang lebih stabil dan substansial. "Lahan ideal dan bisa menguntungkan harus lebih dari satu hektare. Jika kurang justru yang ada nanti justru hutang," katanya, menekankan pentingnya skala usaha yang memadai agar budidaya tebu benar-benar menguntungkan dan tidak menjerat petani dalam siklus utang. Harapan terbesar Abu Bakar justru tertuju pada sebuah konsep kebijakan yang revolusioner: subsidi silang angkutan tebu. Di balik layar kesuksesan tebu Dompu, ternyata ada ketimpangan biaya yang menggerogoti keuntungan petani di zona terjauh. Abu Bakar dengan cermat memetakan masalah ini: petani di desa-desa sekitar pabrik, seperti Sorinomo dan Pekat, Kabupaten Dompu, menikmati akses yang mudah dan biaya angkut yang relatif ringan. Sebaliknya, nasib petani di zona luar, seperti wilayah Tambora atau Bima, apalagi Labangka, Sumbawa, sungguh berbeda. "Yang masih mahal memang angkutan transportasinya di zona luar. Angkutan di truknya kan mahal untuk membawa hasil panen ke pabrik," jelasnya. Ongkos logistik yang membengkak itu, menurutnya, bisa menghapus untung dan mematikan minat petani di wilayah pinggiran. Petani yang berada jauh dari pabrik seringkali harus menanggung biaya transportasi yang bisa mencapai 20-30% dari total pendapatan kotor mereka, angka yang sangat signifikan dan membuat usaha mereka menjadi tidak menarik atau bahkan merugi. Oleh karena itu, suara Abu Bakar lantang menyuarakan solusi: "Harapan saya, PT SMS sebaiknya mempertimbangkan untuk memberlakukan subsidi silang aspek angkutan." Mekanismenya sederhana namun berdampak besar: menyeimbangkan beban biaya transportasi antara petani yang dekat dan yang jauh, sehingga semua bisa bernapas lega. Ini bisa dilakukan dengan menetapkan tarif angkut rata-rata atau memberikan subsidi khusus bagi petani di zona jauh, yang biayanya dapat diimbangi dari keuntungan yang lebih besar yang diperoleh dari petani di zona dekat. "Supaya yang jauh-jauh di wilayah Bima, wilayah Tambora sana itu, tidak terlalu rugi lah karena tebu. Karena mereka memikirkan ongkos truknya," tuturnya, penuh harap. Peran Pemerintah dan Implikasi Lebih Luas: Mendukung Ekosistem Industri Tebu yang Inklusif Konsep subsidi silang angkutan tebu yang diusulkan oleh Abu Bakar bukan sekadar wacana. Bagi Abu Bakar, ini adalah kunci untuk memeratakan keberhasilan sektor pertanian tebu, mengubah Dompu bukan hanya menjadi penghasil tebu, tetapi sentra gula yang inklusif, di mana setiap petani, di manapun lokasinya, punya peluang yang sama untuk menjadi petani yang sejahtera. Pemerintah daerah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, memiliki peran krusial dalam mendukung ekosistem industri tebu yang berkeadilan. Ini mencakup pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan yang memadai untuk memangkas waktu dan biaya transportasi. Akses ke pembiayaan, seperti KUR yang disesuaikan dengan siklus tanam tebu, juga harus lebih dipermudah. Selain itu, kebijakan yang mendorong kemitraan yang adil antara pabrik dan petani, serta program pendampingan teknis yang berkelanjutan, akan sangat membantu. Implikasi dari pengembangan industri tebu yang inklusif ini sangat luas. Secara ekonomi, akan terjadi diversifikasi pendapatan masyarakat di Sumbawa, mengurangi ketergantungan pada komoditas lain yang mungkin fluktuatif harganya. Peningkatan pendapatan petani akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya beli masyarakat. Secara sosial, kesejahteraan petani akan meningkat, mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah, dan memperkuat komunitas pedesaan. Bagi ketahanan pangan nasional, Sumbawa akan menjadi pilar penting dalam mencapai swasembada gula, mengurangi tekanan pada neraca perdagangan, dan menjamin pasokan gula yang stabil. Proyeksi Masa Depan dan Harapan Harmoni Berkeadilan Dengan dukungan yang tepat dari semua pihak – petani, pabrik (PT SMS), dan pemerintah – geliat tebu tak hanya akan terdengar dari desa-desa sekitar pabrik, tetapi juga akan menggema dari lereng Tambora hingga wilayah Bima dan Labangka, Sumbawa. Harapan ini menyatu dalam satu harmoni: kemajuan yang berkeadilan. PT SMS, sebagai operator pabrik gula utama di Dompu, memiliki tanggung jawab sosial dan ekonomi untuk merespons aspirasi para petani dan penyuluh. Kemitraan yang kuat dan berkeadilan dengan petani adalah fondasi keberlanjutan bisnis jangka panjang. Dengan mempertimbangkan skema subsidi silang angkutan, atau bentuk dukungan lain yang mengurangi beban petani di zona jauh, pabrik tidak hanya akan memastikan pasokan bahan baku yang stabil, tetapi juga membangun kepercayaan dan loyalitas dari komunitas petani. Masa depan industri tebu di Pulau Sumbawa terlihat cerah, namun hanya jika semua pihak bersinergi untuk mengatasi tantangan yang ada. Investasi pada infrastruktur, akses permodalan yang mudah, dan kebijakan yang berpihak pada keadilan petani adalah kunci untuk membuka potensi penuh Sumbawa sebagai "hub" gula baru. Dengan demikian, Dompu dan Sumbawa dapat menjadi model bagi pengembangan pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan, memastikan bahwa setiap tetes gula yang dihasilkan membawa kemanisan bagi semua pihak, dari lahan hingga ke meja makan. (rl) Post navigation Mengoptimalkan Peran Kepala Desa: Kunci Sukses Swasembada Gula di Dompu dan Tantangan Akses Modal Bank NTB Syariah Tegaskan Komitmen GCG dan Kepatuhan Hukum Terkait Isu di KC Dompu